Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Mariska Lubis

Baru saja menyelesaikan buku “Wahai Pemimpin Bangsa!! Belajar Dari Seks, Dong!!!” yang diterbitkan oleh Grasindo selengkapnya

Transeksual

OPINI | 23 September 2009 | 00:26 Dibaca: 3827   Komentar: 18   1

Gay

Pria Transeksual (Illustrasi)

DI suatu sore, di akhir musim panas, saya memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar sebelum masuk kerja. Selain karena cuacanya cerah, saya juga sedang suntuk karena semalam mengerjakan sebuah essay “berat” yang harus segera diserahkan ke dosen.

Tepat di Darling Harbour, sebuah dermaga di depan Sydney Opera House, saya turun dari bus yang saya tumpangi. Saya melihat ada bangku yang kosong. Duduk dulu, ah! Lumayan bisa lihat-lihat pemandangan sambil berkhayal yang nggak-nggak. Namanya juga di Darling, boleh dong mikirin “Si Darling”.

Sedang asyik-asyiknya berkhayal, tiba-tiba di kejauhan tampak segerombolan pria berpakaian cowboy, lengkap dengan topi dan sepatu boots-nya. Badannya tinggi-tinggi, besar-besar, dan sepertinya berperut six pack semua. Pasti ganteng-ganteng, dong! Seksi lagi! Asyiiiiik! Hokinya saya! Lagi suntuk dapat pemandangan bagus. Tunggu mereka lewat, ah….

Tak sabar saya menanti mereka lewat. Ingin segera bisa menikmati dengan lebih jelas lagi. Sudah sampai berkhayal macam-macam segala. Kali ini bukan “si Darling lagi”. Hehehe…

Wuissss! Cuit-cuit…! Benar saja! Mereka ganteng-ganteng, bow! Weleh-weleh… sampai bingung cari yang paling ganteng!

Mereka pun terus berjalan di depan saya. Tidak mungkinlah mata saya ini berkedip. Siapa yang mau kehilangan satu detik pun momen indah seperti ini? Depan belakang harus sama-sama dinikmati…. hihihi… sampai kemudian….

Haaaahhhhhhh!!!! Amit-amit, deh!!!! Pantat celana mereka bolong semua!!! Ada yang kelihatan celana G-string-nya pula! Aduuuhhh biyung! Kenapa mereka…??? Sayang…!!!

Ternyata mereka adalah segerombolan gay, entah dari negara mana, yang sedang berwisata ke kota Sydney. Memang setiap bulan Februari, kota Sydney menjadi ajang berkumpulnya seluruh komunitas gay, lesbian, dan transeksual seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Mereka berkumpul untuk berpesta bersama yang puncaknya adalah Mardi Gras, biasa diadakan di akhir bulan pada tanggal 27 atau 28. Sebuah parade festival yang luar biasa meriahnya dan diisi dengan parade mobil hias, tari-tarian, dan berbagai pertunjukkan “menarik” dan “berbeda” lainnya. Kylie Minoque pun sering ada di sana. Kota Sydney biasanya menjadi penuh sesak dan terlalu banyak pemandangan “tak umum” berkeliaran di sekitar kota.

Pernah saya melihat seorang transeksual yang mengenakan baju suster jalan-jalan di trotoar, sambil menenteng rantai yang diikatkan ke leher seorang pria yang hanya mengenakan celana super mini dan super ketat warna merah plus sepatu boots dengan warna senada. Persis kayak orang bawa anjing yang baru keluar dari salon! Ada juga serombongan lesbian berkeliling kota dengan menggunakan motor Harley tanpa menggunakan Bra. Hanya pakai celana dalam saja! G-string! Warna kulit pula! Pemandangan sedap bagi kaum pria yang haus akan “keterbukaan” dan “kepolosan”. Ada lagi orang-orang yang dipenuhi piercing, jalan-jalan hanya menggunakan jaket. Kalau kita minta mereka buka jaketnya, mereka akan dengan senang hati memperlihatkan seluruh piercing di tubuhnya itu, termasuk yang ada di alat vital mereka. Mereka memang tidak mengenakan apa-apa, alias bugil. Segala tindik, anting, dan rantai yang mereka kenakan adalah busana mereka. Gila banget, deh, pokoknya! Terlalu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Saya juga pernah iseng meminta salah satu dari mereka, seorang perempuan muda yang penampilannya cukup menarik, untuk memperlihatkan semua tindikan di tubuhnya termasuk yang ada di bawah sana. Ya ampun! Mau tahu jumlah anting yang ada di labia kiri dan labia kanan kemaluannya? Ada empat belas, say! Dirantai bersilangan ke kiri ke kanan, seperti tali sepatu saja. Ujungnya digembok lagi! Repot banget, deh, kalau mau…. Hehehe…

Saya kemudian buru-buru melangkah ke tempat saya bekerja. Saya kebetulan bekerja di sebuah toko pakaian khusus bagi kaum gay, lesbian, dan transeksual yang terletak di Oxford Street; salah satu jalan utama di kota itu yang dikenal sebagai markasnya para pecinta sesame jenis. Saya memang sengaja bekerja di sana. Selain gajinya lumayan, AUS $20 per jam saat itu, lokasinya tidak jauh dari apartemen dan kampus, terus mendapatkan banyak teman dan pengalaman pula. Dan yang terpenting, saya jadi bisa mendalami lebih jauh kehidupan orang-orang itu. Saya ingin bisa lebih mengerti mereka. Kan, katanya kalau mau benar-benar tahu, harus sekalian terjun ke lapangan! ‘Tul, nggak?!

Sudah ada tiga orang teman gay sekaligus pelanggan setia yang menanti. Mereka ingin berbelanja baju untuk pesta besar nanti malam. Saya segera memilihkan baju seragam untuk mereka. Short ketat perak menyala, blus transparan perak blink-blink, sepatu boots selutut perak kinclong berhak 12 cm, dengan aksesori topi ala Janet Jackson. Mereka pun sibuk berkaca. Kocak! Lebih heboh dari perempuan! Bolak-balik, mondar-mandir, pose sana, pose ini. Angkat tangan, jongkok bebas, berputar depan, goyang ke kiri, goyang lagi ke kanan. Wah, seru! Tapi kemudian mereka memutuskan untuk tidak memakai yang itu, mereka lebih memilih yang serba emas. Lebih meriah, katanya. Terserahlah! Pening kalau dipikirin.

Ada banyak sekali cerita sedih di balik segala kemeriahan suasana pesta dan gemerlap serta hingar-bingarnya kehidupan mereka. Tak sedikit di antara mereka yang memang sepertinya sudah ditakdirkan untuk seperti itu. Transeksual sejati misalnya. Berbeda dengan transeksual yang hanya berpura-pura menjadi transeksual karena tuntutan ekonomi dan atau hanya ingin mencari sensasi saja. Jika kita meneliti lebih jauh kandungan hormon yang ada di dalam tubuh mereka, jumlah progresteronnya jauh lebih tinggi daripada yang seharusnya ada di dalam tubuh mereka. Sedangkan hormon testosteronnya bisa dibilang terlalu sedikit untuk bisa menjadi pria sejati. Ukuran penis mereka pun rata-rata jauh lebih kecil dari yang bisa disebut normal. Banyak di antara mereka yang berkata, “Memangnya saya mau jadi seperti ini? Tetapi kalau saya sudah dari lahirnya begini, mau apa lagi? Daripada mati gantung diri, lebih baik saya menikmati “perbedaan” ini tanpa harus ada rasa sedih ataupun penyesalan. No worries, mate! I am just enjoying my life!” Berat, euy!

Tak sedikit juga diantara para gay ini yang bercerita bahwa mereka jadi tidak bisa dengan lawan jenis karena sudah tahu enaknya berhubungan intim dengan sesama jenis duluan. Karena memang menurut ilmu kedokteran, syaraf rangsangan dan titik pusat kepuasan bisa disentuh lewat “jalur belakang” juga. Kasarnya, depan belakang sama saja.

Ada yang korban pelecehan seksual, ada juga yang karena iseng mencoba-coba. Pengalaman pertama biasanya mereka alami saat masih anak-anak atau pun remaja belia. Bagi saya, ini sangat menyedihkan mengingat mereka sebenarnya adalah “korban”. Ya, kalau yang memperkosa mereka ádalah seorang gay juga, mungkin masih masuk di akal, tetapi justru kebanyakan ádalah justru orang-orang yang mengaku “normal” di depan umum. Jahat kalau menurut saya. Malah ada yang “dikerjai” oleh paman dan abang kandungnya sendiri. Sedangkan untuk yang iseng mencoba, menurut saya akibat kurangnya pengetahuan tentang seks yang baik dan benar. Seharusnya ada yang memberitahukannya kepada mereka.

Dari pergaulan dengan manusia-manusia spesial ini, saya mendapatkan sebuah masukan yang sungguh berarti dalam hidup saya. Istilah “Don’t judge the book by its cover” benar-benar terbukti. Saya tidak pernah punya hak untuk menilai seseorang. Kalau tidak suka, ya sudah. Menghindar saja. Tidak perlu menghujat ataupun menghina. Bayangkan bila kita berada di posisi yang sama dengan mereka. Biar bagaimanapun juga mereka adalah makhluk ciptaan Tuhan. Mana mungkin, sih, Tuhan menciptakan sesuatu tanpa ada maksud di balik semua itu? Dosa atau tidak dosa, hanya Yang Maha Kuasalah yang berhak menentukan. Yang kita bisa lakukan hanyalah menjaga diri kita sendiri dan orang-orang lain yang kita sayangi agar terhindar dari semua itu serta mensyukuri atas semua rahmat, anugerah, dan rezeki yang telah diberikan-Nya. Hmmmm….

Oh ya, satu lagi. Kalau hendak jalan-jalan ke sana, lebih baik pikirkan masak-masak waktu yang paling tepat, ya!.(asa)

Salam Kompasiana, MARISKA LUBIS.

Kunjungi Kami di: www.mariskalubis.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Ternyata Gak Gampang Ya, Pak Jokowi …

Heno Bharata | 11 jam lalu

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 12 jam lalu

Invasi Tahu Gejrot …

Teberatu | 13 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 15 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Inggris tanpa Raya, Nasib istilah …

Adie Sachs | 8 jam lalu

Kupangku Kasihku (MDK) #1 …

Pietro Netti | 8 jam lalu

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | 8 jam lalu

Metode Baru Pilkada(sung) …

Muksalmina Mta | 9 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Kisah Penemuan Serum …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: