Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Riva Fauziah

http://kompasiana.com/rivafauziah Mulai Gabung di #kompasiana kemarin 12 November 2009. Saya Lahir : Cianjur Selatan (sukanagara), selengkapnya

Ayam Pelung Cianjur

REP | 12 November 2009 | 17:12 Dibaca: 5026   Komentar: 14   3

Ayam Pelung Cianjur-RivaFiles

Foto : Ayam Pelung Cianjur-RivaFiles

Ayam Pelung merupakan salah satu plasma nutfah ternak asli Indonesia. Dilaporkan oleh Subandi dan Abdurrachim tahun 1984 (dalam Mengenal Ternak Indonesia: Ternak Unggas), bahwa ayam Pelung ditemukan di desa Bumi Kasih, Jambu Dipa, Songgom dan Tegal Lega, yang terletak di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dipelihara masyarakat utamanya untuk suara jago yang khas. Populasi pada tahun 1994) sekitar 5-6 ribu ekor dan berkembang mencapai kurang lebih 40 ribu ekor pada tahun 2003)

Dari informasi yang dikumpulkan oleh HIPPAPI (Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Indonesia) tahun 1993 mengemukakan sebuah legenda, yang tentunya bagi kita boleh percaya atau tidak, bahwa konon seorang tokoh bernama Haji Bustomi (Alm.) alias Bapak Guru Karta, seorang penduduk Kampung Cicariang, desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur menceritrakan bahwa ayam Pelung sudah dipelihara dan dikembangkan sejak tahun 1850 oleh seorang Kiai bernama H. Djarkasih alias Mama Acih (Alm.). Ia, penduduk desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang, menemukan seekor anak ayam jantan besar, tinggi dan turundul (berbulu jarang). Ayam tersebut kemudian dipelihara dengan baik. Ayam tersebut tumbuh dengan pesat dan berkokok dengan suara besar, panjang dan berirama. Pada waktu orang kagum dengan ayam tersebut, maka dinamakan dengan Pelung. Sejak itu ayam tersebut mulai berkembang dan secara alami terseleksi oleh masyarakat peminatnya.

Keterengan lain yang juga datang dari daerah yang sama dijelaskan oleh seorang penduduk bernama Nambeng, yang menurut ceritranya bahwa sekitar tahun 1940, seorang bernama H. Kosim bertamu kepada gurunya Mama Ajengan Gudang. Ia melihat seekor ayam betina yang sedang mengasuh anak-anak ayam dan diantaranya ada satu ekor yang bentuk badannya berbeda dengan yang lainnya, besar, tinggi dan trundul. Ia kemudian membelinya dan dikembangkannya di Warungkondang. Ayam tersebut yang jantan berkokok dengan suara besar, panjang dan merdu.

Kedua ceritra tersebut secara ilmiah tentunya dapat saja terjadi mengingat banyak sekali berbagai variasi genetik ayam hutan yang ada di P. Jawa ini dan salah satunya adalah ayam Pelung, yang mempunyai ciri khas, yang disekuai penduduk, sehingga secara alami ayam-ayam tersebut terseleksi sampai sekarang.

Ayam Pelung pada umumnya dipelihara secara intensif sederhana oleh para peternak dalam jumlah terbatas untuk tujuan mendapatkan ayam-ayam jantan. Jenis pakan yang diberikan sangat berbeda dari satu peternak ke peternak lain. Pakan jadi komersial dikombinasikan dengan bahan-bahan pakan lokal seperti dedak padi, belut, dan/atau siput. Program vaksinasi tetelo (ND=Newcastle Desease) dilaksanakan secara teratur 3) dan pencegahan penyakit dilaksanakan semaksimal mungkin tergantung pengetahuan dan ketersediaan dana.

Program pemberian pakan sementara ini kelihatannya belum mengikuti standar kebutuhan ayam Pelung, tetapi kelihatannya masih memadai dengan berbagai pengalaman para peternak. Pemberian pakan dengan ransum pertumbuhan umur 0-8 minggu dengan ransum mengandung 20% protein kasar, umur 8-20 minggu dengan ransum mengandung 16 % protein kasar dengan kandungan energi sekitar 2850 kkal/kg, yang kemudian diikuti dengan ransum dewasa petelur ras yang mengandung 17 % protein memberikan suatu gambaran maksimal produktifitas4).

Dinas Peternakan Kabupaten Cianjur sejak tahun 1978 , dalam upaya mempertahankan plasma nutfah ayam Pelung, setiap tahun selalu melaksanakan kontes suara ayam Pelung, karena dipertimbangkan bahwa ayam pelung merupakan aset asli Kabupaten Cianjur. Bahkan pada tahun 1978 didirikan pusat pembibitan ayam pelung di Cipadang, Kecamatan Warung Kondang5). Terakhir, proyek demplot ayam pelung juga dilaksanakan di Kec. Warungkondang pada tahun 2000.

BERTERNAK dan Budidaya ayam pelung cukup menjanjikan untung. Sepasang ayam yang masih kecil, berumur satu bulan bisa laku antara Rp 40.000 sampai Rp 50.000, berusia dua bulan Rp 75.000 sampai Rp 100.000, tiga bulan hingga enam bulan Rp 100.000 sampai Rp 300.000. Ketika menginjak umur tujuh bulan, saat ayam mulai berkokok dijual per ekor antara Rp 100.000 sampai Rp 400.000. Dan, lebih dewasa lagi, kalau suaranya bagus bisa laku Rp 1 juta/ ekor.

Cuma saja merawatnya yang harus ulet, karena ayam butuh perhatian dalam  erawatannya. Misalnya, makanannya juga harus disesuaikan tingkat perkembangan si pelung. Pada ayam pelung berusia sehari sampai dengan satu minggu, sebaiknya diberi makan menir dengan jumlah 18 gram per ekor setiap hari. Untuk yang berumur lebih dari satu minggu diberikan dedak mulai dari 25 gram per ekor setiap hari. Setelah itu sesuai perkembangan usianya, makanannya bisa ditambah sampai 127 gram per ekor setiap hari.

Ayam pelung jantan dewasa yang sudah bersuara mengalun dan indah, makanannya diberi campuran dedak halus, ditambah dengan gabah, nasi setengah matang, katak kecil dicincang, ikan kecil atau belut serta pisang. Sementara pakan jadi buatan pabrik dapat diberikan sesuai tingkatan umur. Namun pakan buatan pabrik tidak baik diberikan untuk ayam pelung jantan yang sudah berkokok merdu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: