Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Joko Hendarto

Warga negara yang terus ingin belajar, dari Sumba NTT sekarang merantau ke Jakarta

Sari Laut, Coto yang Diasuh, dan Sop Saudara…

HL | 17 December 2009 | 10:14 Dibaca: 894   Komentar: 9   1

Kemarin sore, dari kantor, karena saking laparnya saya singgah makan di sebuah warung sari laut kaki lima di BTP, Makassar. Disebut warung, juga mungkin tidak tepat ya, karena tidak permanen. Dengan meja, bangku, gerobak dan penggorengan. Terpal dan kain pembatas, umumnya berwarna hijau kekuningan dengan gambar-gambar ikan, kepiting, cumi, lele, ayam dan bebek. Biasanya mereka muncul selepas maghrib. Saya suka makan ditempat ini karena rasanya kok lebih cocok dilidah saya yang ndeso dari pada makan di KFC atau yang lainnya.

Nah, nama warung sari laut itulah yang kadang-kadang membuat saya penasaran. Namanya sari laut, tapi banyak warung semacam ini yang menunya cuma ayam dan tempe saja. Tak ada sama sekali hewan-hewan dari laut. Ayam dan tempe kan jauh sekali dari laut. Pilihan masakannya cuma digoreng dan makannya pun dicocol-cocol dengan sambel. Ada beberapa  tempat yang ayamnya bisa dibakar. Dan uniknya hampir semua warung sejenis ini menggunakan kata sari  laut, walaupun jualannya cuma ayam dan tempe itu tadi, tinggal nambahi nama mas-mas yang jadi pemilik dibelakangnya. Jadinya seperti Warung Sari Laut Mas Joko Lamongan, Warung Sari Laut Mas Hadi Blitar…..Kalau kita seksama memperhatikan gambar-gambar binatang yang berbaris dikain pembatas warung, harusnya jadi aneh, masak bebek dan ayam bisa seketika jadi sekelompok hewan laut. Hehehe. Atau ada juga yang sudah tidak ada gambar ayam dan bebeknya, nama warung dan gambar hewan sudah benar tapi tetap saja menunya cuma ayam.

Di seberang jalan dari tempat saya makan, ada keramaian yang lain. Banyak orang yang singgah makan coto Makassar. Coto Makassar ini kuliner khas Makassar, semacam sop daging yang tidak dimasak bersamaan dengan kuahnya. Daging, usus, hati, paru, limpa, jantung direbus tersendiri. Bisa dari sapi atau kuda. Ini mungkin makanan yang paling komplit karena hampir semua bagian sapi atu kuda dapat dijadikan  bahan tanpa ada yang terbuang. Sementara kuahnya dimasak tersendiri. Kita bisa memesan tersendiri bagian yang kita suka, misalnya saya suka hati limpa, dan penjualnya akan mencampur-campurnya lalu menambahkan kuah. Dimakannya tidak dengan nasi tapi umumnya dengan ketupat.

Bagi orang Makassar atau bukan orang Makassar namun tinggal di Makassar seperti saya, coto sudah bisa dikatakan makanan wajib minimal sekali sepekan. Orang –orang disini percaya bahwa masakan ini juga bisa jadi semacam obat. Makanya ada istilah “garring coto”. Garring dalam bahasa Makassar artinya sakit. Jadi kalau ada yang agak kurang bersemangat, loyo biasanya orang menyebut, lagi “garring coto”. Obatnya ya makan coto.

Tapi yang menarik bagi saya dari warung coto ini adalah namanya. Selalu disertai kata asuhan. Misalnya Warung Coto Makassar Asuhan Daeng Taba, Warung Coto Makassar Asuhan Daeng Sangkala’…..dan seterusnya. Pilihannya adalah kata asuhan bukan masakan. Asuhan kan biasa kita gunakan untuk mengasuh anak. Tapi disini yang diasuh malah coto Makassar.

Satu lagi masakan yang mempunyai nama menarik. Sop Saudara, bayangkan disini saudara sendiri bisa di sop. Hehehehe. Tapi tentu bukan itu maksudnya. Sop saudara, saya belum berhasil menemukan mengapa makanan enak itu dinamakan demikian. Sop ini biasanya dari daging sapi dengan campuran perkedel kentang dan saya tidak tahu yang lainnya. Maaf saya belum pernah jadi tukang masak sop saudara soalnya. Biasanya dijual di warung-warung berlabel warung pangkep. Pasangannya ikan bolu  bakar. Biasanya sih dimakan dengan sambal kacang.

Tapi kok malah pusing-pusing menceritakan makanan ya. Pokoknya kalau anda ke Makassar, petunjuknya kalau mau cari makanan laut jangan cari di warung sari laut, kadang-kadang tak ada hewan lautnya, jangan lupa mencoba coto yang diasuh dengan sangat baik itu dan jangan takut makan sop saudara karena pastinya itu bukan saudara anda yang disop.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Menanti Doraemon Menjadi Nyata …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 December 2014 | 11:36

Admin Kompasiana ‘Tertangkap …

Harja Saputra | | 22 December 2014 | 12:45

Mengintip Bali Orchid Garden …

Benny Rhamdani | | 22 December 2014 | 09:36

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 4 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 13 jam lalu

Waspada Komplotan Penipu Mengaku dari …

Fey Down | 14 jam lalu

Dear, Bapak Jonru… …

Wagiman Rahardjo | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: