Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Nyoman Sulistiana

Mahasiswa di Institut Teknologi Telkom angkatan 2008 yang berasal dari Denpasar, Bali. Beberapa kali mengirim selengkapnya

Nonton Sex Show di Patpong Yuks! (2)

REP | 23 December 2009 | 01:51 Dibaca: 4966   Komentar: 20   2

Patpong

Patpong Show live in Bangkok

Hari ini saya melanjutkan perjalanan wisata ke Ayutthaya, World Heritage Site-nya Thailand. Ayutthaya merupakan ibu kota kerajaan kuno Thailand. Saya sempat menaiki gajah untuk mengelilingi kota tua ini. Beranjak dari Ayutthaya, saya menuju Pattaya. Pattaya menyediakan keindahan pantai berkelas dunia. Saya sampai di Pattaya saat siang hari, waktu yang tepat untuk menikmati seafood Pattaya yang terkenal. Setelah menikmati seafood, saya memetik buah anggur di kebun anggur yang juga tersedia disana. Sangat segar anggurnya, apalagi karena memetik sendiri.

Ayutthaya dan Pattaya memang menyenangkan. Sore harinya, saya di transfer kembali ke Oriental Bangkok sekitar jam 6-an. Saya pun mandi dan makan malam di restoran hotel. Karena melihat masih ada waktu yang cukup untuk melakukan perjalanan, saya memutuskan untuk pergi sendiri tanpa pemandu dan menggunakan taksi. Pilihan kunjungan saya saat itu adalah Silom, Patpong.

Patpong merupakan distrik entertainment di Bangkok. Banyak fasilitas pendukungnya. Saat saya disana, saya melihat- lihat pasar malam Patpong yang banyak sekali menjual barang- barang murah (entah asli atau palsu), mirip sekali dengan Pasar Kreneng di Denpasar. Di pinggir jalannya saya juga melihat banyak bar berderetan, diantaranya: Agogo, Discos, dan Escorts. Jalannya juga sangat ramai dengan wisatawan, terutama wisatawan yang bule- bule. Saya sama sekali tidak tertarik memasuki bar- barnya, karena saya bukan peminum. Saya juga tahu kadar- kadar dari pelbagai jenis minuman karena sempat mempelajari pengetahuan minuman bersama ayah saya yang seorang bartender senior di hotel berbintang lima di Nusa Dua.

Oya, yang tak kalah penting adalah banyaknya waria disisni yang menawarkan pelbagai jasa. Misalnya, jasa seks komersial atau pun mengajak seseorang untuk menjadi waria dengan slogan yang tertulis di kaosnya “Make Me a Woman.” Thailand, selain terkenal dengan wisata budayanya, disini juga dilegalkan pariwisata seksnya. Maka, tidaklah heran jika sampai saat ini, negeri gajah putih menjadi negara pariwisata terbesar di Asia.

Penasaran dengan penampilan sex show disini, saya pun berkeliling areal Patpong untuk melihat- lihat lokasi yang mengadakan pertunjukkannya. Dan saya pun menemukannya, entah dimana yang jelas masih di kawasan Silom, Patpong. Tiket masuknya sangat mahal, banyak juga turis yang menonton. Karena tiketnya terlalu mahal, saya pun membatalkan untuk menonton langsung show-nya. Namun, dari luar saya masih bisa sedikit menonton, saya menonton lewat sebuah bar kecil dekat lokasi pemesanan tiket.

Oke, janganlah berpikiran negatif seputar sex show yang dipertunjukkan untuk orang dewasa secara komersial disini. Ternyata show-nya hanyalah tarian khas yang unik dengan gaya- gaya pengetahuan seksual yang ada. Show ini adalah sebuah edukasi yang mendidik. Sama sekali tidak ada adegan pornografi. Yang ada hanyalah edukasi seksual yang diperagakan dalam bentuk tarian. Para penari memulai show-nya dengan berderetan membawa lilin, dan ada penari khusus yang memperagakan secara simbolis mengenai edukasi seks. Mungkin Patpong bukan tempat yang pas untuk saya, tapi karena rasa penasaranlah yang mampu melangkahkan kaki ini untuk kesana.

Kurang lebih begitulah pengalaman yang saya dapatkan saat berkeliling Bangkok. Pengalaman yang sangat menyenangkan dan tak terlupakan. Jam saya sudah menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat. Ini artinya saya harus bergegas mempersiapkan barang- barang dari Oriental Bangkok untuk check out dan di transfer ke Bandara Suvarnabhumi. Pesawat saya akan berangkat pada pagi hari. Thai Airways Internasional pun kembali menjemput saya untuk mengantarkan pulang ke Denpasar. Sampai jumpa lagi Bangkok, Kota Para Malaikat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hati-Hati Meletakkan Foto Rahasia di …

Pical Gadi | | 02 September 2014 | 15:36

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Plus Minus kalau Birokrat yang Jadi …

Shendy Adam | | 02 September 2014 | 10:03

Mereka Sedang Latihan Perang …

Arimbi Bimoseno | | 02 September 2014 | 10:15

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 7 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 9 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengenal dan Mengenang IH Doko, Pahlawan …

Blasius Mengkaka | 8 jam lalu

Kenormalan yang Abnormal …

Sofiatri Tito Hiday... | 8 jam lalu

Aku Akan Pulang …

Dias | 8 jam lalu

Terpenuhikah Hak Kami, Hak Anak Indonesia? …

Syifa Aslamiyah | 8 jam lalu

UUD 1945 Tak Sama dengan Jakarta …

Adinda Agustaulima ... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: