Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dian Kelana

Ilmu tidak didapatkan disekolah, tapi pada kemauan belajar. dan Tuhan tidak akan mengubah nasib kamu, selengkapnya

Duri 3 X 24 Jam

OPINI | 11 January 2010 | 12:40 Dibaca: 179   Komentar: 0   0

Duri 3 X 24 jam

Minggu, 27 September 2009

Ini adalah hari pertamaku di Duri.

Alarm telpon genggam membangunkan aku pukul 04.00. Ini adalah malam pertamaku dirumah keluarga  Indra, suami dari keponakannku Iza beserta anak-anaknya.

Sebagaimana biasa, aku bangun dan bersiap untuk mandi. Mendekati kamar mandi yang berdampingan dengan garasi, bau durian menyergap hidungku. Aku lalu menoleh kearah datangnya bau itu. Aku tersenyum kecil, rupanya  disaat aku sudah tidak kuat menahan kantuk semalam, mereka rupanya meneruskan acaranya dengan pesta durian. Beberapa buah durian masih tergolek disamping kulit-kulit yang sudah terbelah dengan isi kosong. Biji-biji durian menumpuk diatas kertas koran bekas.

Selesai mandi, aku shalat sunat fajar. Aku ingat waktu subuh di Duri lebih lambat beberapa menit dari waktu shalat subuh Jakarta. Menunggu subuh datang, aku keluar kamar menuju ruang tamu yang sekaligus ruang kerjanya Indra dan Iza. Aku melihat buku-buku perpustakaan pribadi anak tertua mereka Dolla, yang tidak ikut dibawanya ke Padang. Buku agama, buku-buku tentang komputer dan beberapa buku lain yang karena beraneka ragamnya, tak semuanya teringat olehku. Aku mengambil salah satu buku itu, kisah sekitar orang-orang sufi, yang berpusat pada Nasrudin Hoya, karangan A. Mustafa Bisri.

Sambil tiduran di kamar aku membaca buku itu sambil senyum-senyum sendiri. Karena kisah-kisah  pendek yang ditampilkan disana memang mengandung humor. Baru membaca beberapa cerita aku mendengar azan subuh dari masjid. Suaranya memang tidak seramai azan subuh di masjid-masjid Jakarta yang saling berdekatan. Tapi azan subuh yang terdengar saat itu lebih menyentuh dan terdengar lebih khidmat. Sebenarnya aku ingin pergi ke masjid dimana azan itu berkumandang, sebagaimana biasanya di Jakarta, aku shalat subuh kemasjid yang tidak jauh dari rumahku. Tapi aku belum tahu masjid itu ada dimana, karena aku orang baru disini. Dan aku tak mau mengganggu ketenangan istirahat mereka, untuk sekadar menunjukkan dimana masjid terdekat berada.

Selesai shalat subuh, aku melanjutkan membaca. Satu persatu aku dengar keluarga Indra dan Iza mulai bangun.

Setelah capek membaca, aku bangun dan pergi keruangan keluarga. Rupanya semua sudah pada bangun.  Aku lihat Indra sudah nongkrong didepan komputer. Iza keluar naik motor, mungkin kepasar bisikku dalam hati. Aku lalu menonton berita pagi dari televisi.

Kira-kira setengah jam Iza kembali, dia membawa bungkusan plastik lalu membuka dan mengeluarkan isinya di ruangan keluarga. Lima bungkus lontong sayur dengan pecel beserta telor. Wow, sarapan pagi yang unik yang belum pernah kutemukan sebelumnya.

Kami sarapan bersama.

“Hari ini kita berlebaran dulu ketempat famili yang ada disini…” Indra membuka pembicaraan.

“Ya, nggak apa-apa, mamak ikut saja…” jawabku. Mamak adalah panggilan keponakan kepada paman di Minangkabau.

Iza juga menawarkan durian yang masih tersimpan di garasi, namun karena tekanan darahku saat ini masih cenderung meninggi. Aku terpaksa menolak tawarannya, walau dalam hati sebenarnya aku juga ingin untuk mencicipinya. Aku tak ingin terserang stroke, seperti yang pernah dialami temanku beberapa tahun yang lalu. Pulang lebaran pas musim durian. Tanpa memikirkan kondisi fisik dan kesehatannya kurang bagus, dinikmatinya buah durian itu sepuasnya. Stroke menyerang, pupuslah masa liburan yang indah dikampung halaman.

Aku juga ingin mengenal saudara atau famili kami yang ada disini. Disamping yang sudah aku kenal, namun sudah lama tak bertemu. Aku juga ingin tahu, mungkin ada diantara mereka yang belum kukenal sama sekali.  Maklum aku sudah merantau empat puluh tahun lebih, sejak aku masih kelas enam sekolah dasar.

Walaupun lebaran sudah berlalu seminggu, tapi karena Indra sekeluarga pulang kampung berlebaran, sekaligus juga mempertunangkan putra pertama mereka Dolla Indra, tiga hari setelah hari raya Idul Fitri. Baru saat itulah mereka sempat berlebaran kekerabat yang ada di Duri.

Aku sangat ingin bertemu dengan keponakanku Muhammad Dafris, sibungsu adik Iza. Telah lebih lima belas tahu kami tak bertemu, semenjak dia pulang dari Jakarta pertengahan sembilan puluhan, setelah hampir setahun tinggal bersamaku.

Tapi keinginanku itu rupanya tak terkabul, karena Dafris tidak berada di Duri. Dia bekerja diperusahaan kontraktor Chevron, sebagai field manager yang lapangannya berada dekat Pakanbaru. Aku coba menghubungi melalui nomor telpon genggamnya yang diberikan oleh Daniel, aku mendapatkan nada sambung, namun tak pernah ada jawaban. Kuulangi beberapa kali pada waktu yang berbeda, pagi, siang maupun malam. Tetap tak ada jawaban. Iza menghiburku dengan mengatakan mungkin karena dia mandah, telpon genggamnya ditinggal di kamar kontainernya. Karena dilarang membawa telepon genggam ke lapangan dekat rig atau anjungan yang sedang melakukan pengeboran minyak, untuk mencegah kebakaran bila seandainya terjadi kebocoran gas atau blow up dari sumur yang sedang dibor.

Aku memahami argumen yang dikatakan Iza. Karena aku pernah berada di situasi yang sama, mengabadikan rig beserta karyawan yang sedang melakukan pengeboran disalah satu ladang minyak, di Jene, Sumatera Selatan. Dalam melakukan pemotretan aku tidak perbolehkan memakai lampu kilat. Karena berpotensi menyebabkan kebakaran, bila seandainya terjadi kebocoran gas.

Aku memang kecewa tidak sempat bertemu dengan keponakanku itu. Karena  dia bekerja dengan pengaturan shift 14/7, empatbelas hari bekerja dilokasi pengeboran dan tujuh hari libur. Kedatanganku tidak tepat waktu!.

Tapi kekecewaanku sedikit terobati, ketika aku menelpon Is Putra keponakanku yang lain, anak bungsu dari kakakku yang paling tua, Yuslinar. yang saat itu juga merantau dan bekerja di Duri. Dia mengatakan akan datang mengunjungiku, sekaligus juga berlebaran dengan keluarga Indra dan Iza.

Karena ada suatu keperluan. Indra dan Iza pergi meninggalkan kami, aku, Icha dan Daniel yang memperpanjang masa istirahatnya, tidur lagi.

Setelah mereka semua pergi, Icha mengajakku main congkak, sayang buahnya ada yang kurang. Sehingga terpaksa ada lubang yang dikosongkan. Aku jadi senyum sendiri, kakek yang sudah ubanan main congkak bersama cucu kelas dua SD.

Selagi kami main congkak kami mendengar suara anak kecil di halaman. Icha lalu bangun dan berjalan kedepan, aku menyusul. Rupanya ada anak tetangga yang sedang bermain dibawah pohon seri, Icha ikut bergabung.

Setelah beberapa saat melihat mereka bermain, aku kembali masuk rumah.

Didalam rumah yang sepi, mataku menyapu seluruh ruangan tamu yang merangkap juga sebagai kantor. Disebelah kiri ruangan agak keujung dan lebih dekat dengan lemari buku, terdapat meja dengan seperangkat komputer diatasnya  dengan monitor yang menghadap ketengah ruangan.

Diujung ruangan yang dibatasi dinding kamar Daniel, disudut sebelah kiri, berdiri sebuah lemari buku dalam posisi serong. Didalamnya tersusun rapi arsip-arsip perusahaan. Berbagi tempat dengan buku-buku perpustakaan pribadi Dolla, yang tidak ikut dibawa ke Padang. Disebelah lemari, terdapat sebuah aquarium yang cukup besar berisi seekor ikan Arwana.

Didinding sebelah belakang aquarium, tergantung tangkai pancing bermacam ukuran, berebut tempat dengan berbagai macam sertifikat, yang mayoritas atas nama Dolla. Pajangan sertifikat itu menyambung kedinding samping ruang keluarga, aku tak menghitung berapa jumlahnya. Tapi perkiraanku puluhan sertifikat dari berbagai macam lembaga pendidikan, kursus, seminar dan lain-lainnya. Dibandingkan dengan aku? Ah, tak usahlah. Kalah jauh, tak ada apa-apanya. Aku hanya punya satu ijazah sekolah dasar dari Payakumbuh, satu sertifikat kursus dasar elektronik di PLTKI Padang, dan dua sertifikat seminar fotografi di Jakarta. Keciiiiiiilll……….

Setelah selesai memandangi  sertifikat yang bergelantungan didinding, aku kembali kehalamam menonton Icha asyik bermain bersama temannya.

Jam sepuluh lewat beberapa menit Is datang bersama istrinya Evi dan anak yang masih balita. Kedatangannya saat itu juga sekalian berlebaran dengan keluarga Indra. Berselang beberapa menit, Indra dan Iza juga kembali. Sekitar satu jam kami mengobrol, mengenai keadaan masing-masing.

Setelah is pulang, kamipun berangkat berlebaran mengunjungi famili yang tinggal di Duri. Yang pertama kami kunjungi adalah bidan tempat Aisyah di lahirkan. Karena pagi itu Aisyah sering batuk dan suhu badannya agak naik. Bila Aisyah sakit Iza selalu membawanya ke bidan tersebut. Karena merasa cocok dengan pengobatan yang diberikannya. Karena sudah seminggu berada di kampung aku tak pernah melakukan pengecekan terhadap tekanan darahku, akupun ikut nebeng mengukur tekanan darahku. Hasilnya 120/90.

Aku tak begitu ingat, berapa orang kerabat yang kami kunjungi saat itu. Namun ada satu kejutan untukku. Aku bertemu dengan saudara tiri kakakku. Namanya Yursal, anak ayah tiriku dengan istrinya yang lain. Pertemuan yang tak terduga, karena memang aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Karena kampungku dengan kampungnya berbeda.

Pertemuan itu membuka kembali jejak keluarga kami yang sempat hilang, atau malah tak kuketahui sama sekali. Usia kami berbeda tak begitu jauh, hanya beberapa tahun. Saat ini dia bekerja di Chevron, yang dulu bernama Caltex. Dengan masa kerja yang cukup lama. Banyak hal yang ingin ku tanyakan saat itu. Namun sayang, waktu kami tak begitu banyak. Namun pertemuan itu telah membuka tabir yang selama ini masih tertutup bagiku. Maklum, aku pergi merantau disaat aku masih sekolah dasar. Dimana saat itu, masih banyak famili di kampung yang belum begitu jelas bagiku bagaimana hubungan kekeluargaannya dengan keluarga kami.

Selepas magrib kami kedatangan tamu. Ujang adiknya Indra beserta istri dan anaknya Andre. Mereka juga baru kembali, setelah berlebaran di kampung. Sebenarnya perantauan mereka bukanlah Duri, melainkan di salah satu kota menjelang Medan Sumatera Utara. Tapi mereka singgah dulu di Duri, setelah berangkat dari kampung beserta rombongan keluarga lainnya yang sama-sama ke Duri. Dari Duri Ujang dan keluarganya tinggal menyambung dua pertiga perjalanannya lagi menuju Medan.

***

Senin, 28 September 2009.

Hari kerja dimulai.

Setelah libur panjang lebaran ditambah acara pertunangan Dolla, disertai kebingungan menghadapi hari pernikahannya yang bertepatan dengan hari wisuda Daniel. Hari Senin pagi ini semuanya hilang tak berbekas. Semuanya sibuk, Indra, Iza, konsentrasi pada pekerjaan. Bisnis tak bisa menunggu, pekerjaan tak bisa ditunda. Handphone tak jauh dari telinga, perintah pun berkumandang. Semua harus siap ditempat dan laksanakan tugas masing-masing. Iza bolak-balik depan-belakang, sambil menyiapkan sarapan dibantu istri Ujang, dan menyuarakan komando lapangan. Indra lebih tenang, menatap monitor komputer memperhatikan jadwal tugas dan lokasi kerja dan hal-hal lain yang berurusan dengan kerja lapangan.

Sekitar jam 06.30 Wat, salah seorang pegawai dan juga tangan kanan Indra dan Iza sebagai koordinator pekerja dilapangan, yang masih punya hubungan kekeluargaan dengan kami datang dengan motornya. Setelah bertegur sapa dengan kami, dia mendekati komputer, melihat jadwal kerja hari itu, membuat catatan dan setelah itu pamit berangkat kelapangan, dengan membawa mobil Mitsubishi Colt L300 milik perusahaan.

Aku hanyut dalam lamunanku, rasa bangga meresap dalam hati. Melihat bagaimana mereka berdua sibuk mengelola bisnis mereka dan membagi tugas sesuai dengan kemampuan dan porsinya masing-masing. Bisnis yang dimulai dari bawah, dari titik nol. Namun berkat do’a yang terucap dalam setiap langkah dan ibadah mereka, ketekunan, keyakinan dan kerja keras mereka dibawah sengatan teriknya matahari yang membakar bumi ditengah ladang minyak Chevron, mereka merangkak naik mengejar kesuksesan. Mereka juga tidak menafikan dukungan keluarga dalam usaha mereka itu, terutama Yursal dan tentu dari anak-anak mereka; Dolla, Daniel, Dinny dan sikecil Aisyah Putri.

Melihat kesibukan mereka, aku berusaha untuk tahu diri, dengan tidak terlalu banyak bertanya hal-hal yang tidak perlu. Walau dalam hati begitu banyak yang terpendam. Satu bisikan haluspun terletup: dari sinikah gerangan batang terandam itu akan terbangkitkan? Khayalanku makin menerawang jauh. Menelusuri wajah-wajah dari kakak-kakakku dengan keluarganya masing-masing. Disana aku melihat, belum satupun diantaranya yang pantas dan setara, apalagi aku.

Panggilan  Iza dan disusul Indra mengajak sarapan pagi, membuyarkan lamunanku. Sarapan kami ditingkahi si kecil Aisyah yang di panggil Icha yang pagi itu agak sedikit rewel, karena pakaian seragam sekolahnya tidak ditemukan. Si kecil yang cantik kelas dua sekolah dasar, yang tidak mau berangkat kesekolah kalau tidak berbusana muslim. Rok panjang semata kaki, kemeja tangan panjang serta kerudung penutup kepala. Juga akan marah kalau musik yang di putar di mobil ditukar dengan lagu yang bukan qasidah. Subhanallah…. Adakah Hidayah itu telah turun kepada si kecil Icha?.

Selesai sarapan, mereka berangkat ketempat tugas masing-masing. Iza Naik motor Honda, meluncur ke kantor kontraktor utama mereka. Indra dengan Avanza langsung menuju lapangan. Daniel dengan Mio nya juga segera meninggalkan rumah. Tinggallah aku dengan si kecil Icha, yang absen sekolah gara-gara baju seragamnya ketinggalan di kampung. Serta Ujang sekeluarga

Sebelum berangkat meninggalkan kami ,Indra berpesan: “Nanti siang kita pergi kelapangan mak!”

“Ya, mamak juga juga sudah rindu menghirup aroma ladang minyak…” jawabku.

Menjelang jam 11.00 Indra pulang. Setelah mengobrol sebentar dengan kami, Indra lalu menuju komputer dan menyalakannya.

Indra lalu memanggil aku dan mempersilakan aku melihat foto proyek-proyek yang sudah selesai dan yang sedang dikerjakan perusahaannya. Foto-foto yang tak asing lagi bagiku. Ladang minyak, pipa-pipa berbagai ukuran yang membentang puluhan, bahkan ratusan kilometer. Rig operation, pompa Lufkin, Christmas tree, tanki-tanki raksasa penampungan sementara di stasiun pengumpul, seismic survey dan lain-lain.

Yang menarik perhatianku saat itu bukanlah oil field operation dengan segala macam bentuknya, melainkan justru foto-foto Indra di tempat pemancingan. Sungai yang luas dan tenang, perahu-perahu yang bersileweran, serta pemandangan indah yang menyentuh mata fotografiku. Dan akupun tak sanggup menahan tanganku yang gatal, untuk memberikan sedikit sentuhan diatas foto-foto yang indah itu. Dan jadilah: Kasih ibu tak mengenal medan, Ketika senja menjelang, dan satu foto yang tak perlu lagi aku ragukan keindahannya: Jalan Panjang Kehidupan. Aku lupa siapa yang memberi judul foto ini: Dolla, Daniel atau Indra sendiri. Namun kesan dramatic yang ditimbulkan foto ini begitu dalam. Foto ini sebenarnya sederhana bahkan out of focus. Yaitu ketika Indra berjalan sambil berpegangan tangan dengan  Icha melintasi sebuah jembatan ketika mereka pergi memancing. Namun timing, komposisi suasana senja dengan matahari yang menjelang tenggelam, dan Indra serta Icha yang hanya terlihat siluetnya, terlihat begitu indah dan dramatis. Hanya sedikit yang menggangu, yaitu pantulan cahaya matahari dipagar jembatan sebelah kanan, agak sedikit mengganggu konsentrasi kita ketika melihat foto secara keseluruhan.

Selagi asyik menikmati foto-foto dokumentasi Indra dan keluarga, Indra mengingatkan aku bahwa kami jadi pergi ke lapangan.

Setelah shalat zuhur dan makan siang, kami; Indra, Iza, Ujang dan aku berangkat, kelokasi proyek mereka. Aku dan Ujang diberi pakaian dinas lapangan, kemeja panjang, sepatu dan helm keselamatan.

Kami memakai Avanza, Indra mengemudi, Iza jadi co pilot di depan. Ujang dan aku dibelakang mereka.

Memasuki gerbang Duri Oil Field, kami diperiksa petugas security. Agak ketat memang, tapi harus diingat. Ini adalah proyek jutaan bahkan mungkin milyaran dollar, bung!

Setelah melewati securities check point. Kami langsung menuju proyek yang sedang di kerjaan perusaan Indra. Kami melewati tengah padang yang sepi manusia. Yang kelihatan dominan adalah pompa angguk Lufkin berselang seling dengan pompa angguk buatan lokal BUKAKA, berserakan ditengah padang. Ada yang berhadap-hadapan, ada yang beradu punggung dan ada juga yang berdiri sejajar, menandakan begitu besarnya cadangan minyak di perut bumi Duri Oil Field ini. Begitu juga pipa-pipa minyak berbagai ukuran membujur sepanjang jalan yang kami lewati. Jalanan yang lebar namun sepi,  sebenarnya memancing emosi untukmenekan pedal gas lebih dalam agar cepat sampai ditujuan. Namun jangan pernah berfikir untuk melakukan itu!. System pengintai GPRS akan melaporkan kecepatan kendaraan anda ke traffic management. Setiap kendaraan yang masuk wilayah ini, tidak akan pernah lolos dari pengintaian mereka. Bila anda melanggar, sangsi dan hukuman telah menunggu anda. Mulai peringatan ringan, hinga ke peringatan berat. Dimana kendaraan anda, atau bahkan anda sendiri dilarang masuk ke lokasi proyek tersebut. Jadi cangan coba-coba untuk melewati batas kecepatan yang telah ditentukan dalam bentuk rambu-rambu dijalanan tersebut.

Dalam perjalanan menuju lokasi proyeknya Indra, kami sempat bertemu beberapa pekerja yang sedang asyik menikmati makan siang mereka. Duduk berlindung dibawah pohon atau dibalik bayang-bayang mobil operasional mereka. Menghindari teriknya panas matahari yang membakar bumi.  Tapi kami tak merasakan panas itu. Karena pendingin ruangan mobil Indra masih bekerja cukup baik, menyejukkan ruangan mobil Avanza yang kami tumpangi.

Kami sampai di lokasi proyek yang dikerjakan perusahaan Indra dan Iza. Pekerjaannya yaitu melapisi pipa-pipa minyak dengan pelat pelindung panas yang dilapisi dengan bahan khusus tahan panas. Rupanya mereka sudah selesai makan siangnya, dan telah kembali bekerja lagi. Indra berbicara dengan mereka, kemudian lalu mengajak salah seorang diantaranya naik ke mobil kami.

Kami meneruskan perjalanan. Aku tak menghitung berapa kali tadi kami memutar dan berbelok kekiri maupun kekanan, tapi yakinlah bila anda sendirian disini tanpa teman yang mengerti situasi lingkungan, mungkin anda bisa masuk lokasi ini, namun anda takkan bisa keluar dengan mudah!

Setelah berjalan kira-kira sepuluh menit, kami sampai di lokasi proyek Indra yang lain. Pekerja yang ikut dengan kami tadi turun disini, setelah berbicara sebentar dengan Indra serta Iza, dia berjalan menuju pipa minyak yang menjadi obyek pekerjaannya.

Kami meneruskan perjalanan lagi, sesekali kami berpapasan dengan truk yang membawa peralatan kerja di sekitar ladang minyak ini. Sementara di kanan maupun dikiri jalan yang kami lewati, pompa Lufkin maupun Bukaka tak pernah berhenti mengangguk, menyedot emas hitam dari perut bumi Duri, siang malam non stop tak pernah mogok apalagi minta cuti! Kecuali bila nanti minyak-minyak yang disedotnya itu telah kering!

Aku tak tahu berapa lama kami berjalan, karena pikiranku melayang jauh, kesekitar tahun 1972. Ketika aku merantau ke Dumai, yang saat itu masih kota kecamatan. Disana terdapat kilang minyak Pertamina Putri 7. Disana terdapat tanki-tanki raksasa bertebaran di area puluhan hektar. Tempat dikumpulkannya minyak yang disalurkan dengan pipa raksasa yang melebihi sepelukan orang dewasa dari ladang minyak Duri, Minas, Rumbai dan lain-lainnya.

Untuk menampung karyawannya yang ribuan orang, pertamina membangun komplek perumahan bagi mereka di Bukit Datuk, sementara Chevron yang waktu itu masih bernama Caltex, membangun komplek perumahan di Bukit Jin.

Bersama teman aku sering pergi mandi kesungai Dumai. Setelah mandi kami sering duduk-duduk maupun  berjalan diatas pipa minyak raksasa itu. Ketika berjalan diatas pipa itu kami sering berpapasan dengan penduduk asli sana, yang kami sering menyebutnya orang Sakai. Keadaan mereka sangat sederhana, tinggal dipondok-pondok kayu bersama keluarganya, sering kami lihat mereka itu membawa kayu bakar.  Saat itu aku berfikir, inilah yang sering disebut oleh orang tua kami: Ayam hidup dilumbung padi mati kelaparan.

Mereka berjalan diatas pipa yang mengalirkan minyak yang disedot dari perut bumi mereka, namun mereka hidup dalam kemiskinan.

Mobil yang dikemudikan Indra berbelok masuk kesebuah lapangan. Aku melihat sebuah pompa angguk disana, tapi ukurannya kecil. Mungkin hanya sepertiga dari pompa Lufkin yang saat itu beroperasi.

“Ini adalah sumur produksi pertama di Duri Field, mak…!” Kata Indra sambil memarkir mobil. Aku lalu melihatnya dari balik kaca mobil. “Ooh, ya?” jawabku. Kami turun dari mobil, kecuali Iza.

Aku mendekati pompa angguk itu, melihat konstruksinya sambil berdecak kagum. “Alat ini telah menancapkan sejarah di Duri Field ini”, bisikku dalam hati. Indra lalu mengambil fotoku dengan kamera telepon genggamnya. Aku lalu mendekati papan history board yang ada dipinggir lapangan. Terbacalah: DURI FIELD DISCOVERY WELL. SUMUR MINYAK PERTAMA DI DURI FIELD. Dan dibawahnya pada baris ketiga tertulis  5R - 74A ini adalah kode lokasi sumur sewaktu dilakukan pengeboran.  Kode ini bisa seperti ini karena bisa saja pengeboran yang dilakukan di Duri Field ada di beberapa tempat atau sumur sekaligus pada saat itu, dan bisa juga lokasi ini adalah sumur pengeboran yang kesekian kalinya, setelah yang sebelumnya sumur yang lainnya kosong.

Dibawahnya tertulis lagi:

LOCATION MADE/PENENTUAN LOKASI 1938/1940.

DRILLING/PENGEBORAN 27-12-1940/08-03-1941.

DEPTH/KEDALAMAN 1600 FEET (512 METER)

Dua tahun lamanya dibutuhkan waktu untuk menentukan lokasi pengeboran ini. Dan itu dimulai dari Seismic Survey, yang prosesnya dilakukan dengan mengebor tanah sedalam 60 feet (20 meter)di beberapa tempat, dengan jarak masing sekitar 20 sampai 30 meter. Lalu kedalam lubang yang dibor tadi dimasukkan bahan peledak khusus, lalu di ledakkan satu persatu berurutan. Getaran yang ditimbulkan oleh ledakan didalam bumi ini direkam dengan mesin Seismograft. Dari hasil analisa rekaman seismograft inilah, para insinyur geologi menentukan  apakah didalam perut bumi tempat dilakukannya seismic survey  ini terdapat kandungan minyak, gas alam atau bahan mineral lainnya. Disini juga akan ditentukan sebalah mana Rig dipasang dan pengeboran akan dilakukan.

Dari data diatas kita juga mengetahui lamanya proses pengeboran sedalam 512 meter memakan waktu 2 bulan lebih. Namunada sedikit data yang kurang lengkap disana, yaitu berapa total produksi dari sumur 5R-74A ini. Serta kapan tanggal terakhir kali berproduksinya. Kecuali sumur yang berada didalam perut bumi ini begitu luas dan dalam. Jadi mungkin saja sumur ini sebenarnya saat ini masih berproduksi, tapi dari pompa Lufkin  yang lain yang lebih kuat dan pipa yang tertanam lebih dalam disekitar sana. Ini bisa saja terjadi, melihat rapatnya jarak antara pompa yang satu dengan yang lainnya di Duri field ini.

Selesai melihat lokasi sumur produksi pertama lapangan minyak Duri ini, kami berbalik arah menuju jalan pulang.

Keluar dari lapangan minyak Duri, kami menuju kantor kotraktor utama Indra. Sampai disana Iza turun, sepeda motor Hondanya masih parkir disana. Kami meneruskan perjalan, menuju jalan Hang Tuah, tidak berapa lama Indra masuk kehalaman ruko yang ada disana.

“Lapar kita mak, cari makanan dulu…” kata Indra.

Aku dan Ujang hanya manggut-manggut, tanda setuju. Kami keluar dari mobil dan lalu masuk sebuah restoran. Cukup banyak pilihan makanan disana, tapi kami kembali memilih soto Padang.

Selesai makan, kami menuju Pokok Jengkol. Mencari  loket  bus yang menuju Medan, untuk membeli tiket buat Ujang sekeluarga. Kami menemukan loketnya. Tapi sayang tidak ada bis yang berangkat malam itu. Kami kembali ke jalan Hang Tuah, aku turun di depan Masjid Arafah yang luas. Sementara Indra dan Ujang meneruskan perjalanan mencari tiket bus.

Aku masuk ke masjid Arafah, berwudhuk dan kemudian shalat Ashar. Selesai shalat aku melihat-lihat interior masjid yang luas itu. Sayang lampu-lampunya saat itu belum dinyalakan, sehingga kelihatan agak temaram. Aku berjalan keluar masjid, diluar kelihatan agak sedikit mendung. Aku duduk diteras menunggu Indra, sambil melihat-lihat lingkungan disekitar pekarangan masjid. Namu ada yang sangat di sesalkan saat itu, aku mencium aroma kotoran kucing. Ketika aku perhatikan, rupanya halaman masjid yang berpasir merupakan tempat yang disukai kucing untuk membuang kotorannya. Aku menghindar dengan berjalan menuju pintu gerbang masjid, namun aroma itu tetap tercium. Karena aku melihat gumpalan-gumpalan itu teronggok dibeberapa tempat diatas pasir putih halaman masjid itu.

Kira-kira setengah jam berselang, Indra datang bersama Ujang. Rupanya Ujang sudah mendapatkan tiketnya, kamipun langsung pulang ke jalan Jawa.

Sampai dirumah, kami dapatkan Iza sudah lebih dulu tiba. Tak lama setelah itu, menyusul Wat dengan L300nya. Ketika hendak pulang kerumahnya Wat mengajak aku, setelah berfikir sejenak dan minta pendapat Indra dan Iza, aku akhirnya ikut.

Keluar rumah kami melihat awan hitam bergelantungan diatas kota Duri. Satu-satu gerimisnya mulai turun dan menetes di tanganku. Benar saja, baru saja kami sampai di Simpang Padang, hujan mulai turun. Wat menanyakan padaku mau berteduh atau terus, aku menyuruhnya terus. Hujan turun semakin lebat. Aku merunduk sambil berpangku tangan, menahan dingin. Lebatnya hujan membuat pakaian kami basah semua. Tapi kami terus berjalan, karena sudah tanggung untuk berteduh. Azan Magribpun mulai terdengar berkumandang. Mendekati setengah tujuh kami sampai dirumah Wat. Istri Wat,  Yulia Vitria mengambilkan kain sarung untukku. Kami benar-benar basah kuyup. Watpun menyerahkan sebuah kaos polo untukku.

Selesai shalat Magrib nasi terhidang, kamipun makan, Wat, Yulia istrinya serta mertua dan adik mertua Wat, dan satu orang lagi, sepupu laki-laki Yulia.

Karena hujan lebat tak kunjung berhenti, aku terpaksa menginap disana.

Selasa, 29 September 2009

Hari Terakhir…

Kebiasaanku bangun jam empat pagi, tak bisa hilang, begitu juga pagi itu dirumah Wat. Aku bangun dan terus ke kamar mandi.

Kamar mandi itu tak mempunyai bak penampungan air. Yang ada ember plastik besar namun kosong. Aku melihat kedinding, disana ada kran air. Sebelah atasnya terdapat shower. Aku lalu memutar kran, tak ada air keluar. Sementara sesuatu didalam diriku ada yang ingin meninggalkan tempatnya, untuk menghirup udara bebas. Aku lalu kembali kekamar, berputar-putar sambil meringis.

Aku kembali keluar kamar, berputar-putar sebentar, lalu menyalakan lampu ruang makan. Aku berjalan ke dapur, ditengah dapur aku melihat ada pipa berdiri menembus keloteng. Aku pikir ini pasti pipa untuk menaikkan air kebak penampungan diatas atap. Aku mencoba mencari saklar lampu, untuk menerangi dapur. Tapi aku tak menemukannya. Akhirnya dengan hanya dengan mengandalkan cahaya yang datang dari ruang makan. Aku mencari  dan mengikuti  kemana arah pipa air yang berada ditengah dapur ini. Benar saja, begitu aku menemukan ujung pipa air itu aku langsung melihat pompa air listrik disamping pipa. Aku lalu mencari kemana arah kabel listrik pompa air ini, rupanya stekernya tergantung dekat stop kontak yang tergantung di dekat  rak piring.

Aku lalu menusukkan steker kedalam stop kontak, dan terdengarlah suara mesin pompa air menyala. Dan dari kamar mandi juga terdengar air mengalir keluar dari kran yang sudah terbuka. Aku lalu membalikkan badan untuk kembali keruang makan dan terus kekamar mandi. Baru saja aku selesai membalikkan tubuh, aku terkejut dan berdiri terpaku. Di pintu dapur aku melihat sesosok tubuh berdiri memandangku. Badannya besar dan rambutnya terurai. Cahaya lampu yang datang dari ruang makan di belakangnya, membuat penampilannya jadi siluet. Sehingga aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Rupanya dia juga terkejut melihat aku. Setelah rasa kagetku hilang barulah aku tahu yang berdiri disana adalah eteknya Yulia, yang orangnya memang agak beperawakan gemuk.

“Ambo lah dari tadi pulo jago lai, tapi dek ambo baru duo hari disiko, jadi alun tau baa caro maiduikkan masin pompa…” dia membuka pembicaraan.

Rupanya dari tadi dia memperhatikan apa yang aku kerjakan, tanpa aku ketahui, karena aku membelakang kearahnya.

“Ambo tadi mancaliak pipa nan tagak di tangah dapua tu, ambo pikia itu pipa aia, makonyo ambo caliak, mungkin ado pompa disiko, ruponya iyo…” jawabku sambil menuju ruang makan, dan terus kekamar mandi. Ketika aku melewatinya dekat pintu dapur, rupanya dia memang tidak pakai kerudung. Sehingga rambutnya berantakan sehabis bangun tidur. Dan itulah yang membuat aku terkejut dan menimbulkan sedikit rasa takut.

Selesai urusan di kamar mandi, aku shalat subuh. Selesai shalat, aku kembali memakai baju yang basah kena hujan semalam. Kemejanya sudah kering kena kipas angin semalaman, cuma celananya yang masih agak lembab.  Aku kembali keluar kamar, pergi ke ruang makan. Kulihat lampu dapur sudah menyala. Rupanya tuan rumah sudah pada bangun.

Jam 06.15 kami sudah selesai minum pagi, kemudian aku dan Wat berpamitan dan meluncur ke jalan Jawa.

Ketika sampai dirumah Indra, aku tak melihat Ujang beserta istri dan anaknya. Rupanya dia sudah berangkat tadi malam, ditengah guyuran hujan lebat yang membasahi kota duri.

Aku sudah menyampaikan pada Indra maupun Iza, bahwa aku akan kembali ke kampung hari ini. Mereka menyarankan padaku agar naik bus travel saja, sebagaimana biasanya Dolla, Daniel dan Dinny berangkat kuliah ke Padang, kecuali kalau mereka ingin mengendarai sepeda motor sendiri. Aku menerima usulan mereka, karena tentu mereka lebih berpengalaman dariku untuk urusan ini.

Setelah Wat pergi berangkat kelapangan dengan L300nya, aku masuk kamar dimana aku menempatkan tas berisi pakaian salinanku. Mengambil sepasang yang bersih dan mengganti pakaianku yang basah kena hujan semalam. Aku lalu kekamar mandi dan memasukkan pakaianku kotor itu kedalam mesin cuci, dan langsung mencucinya.

Selesai mencuci pakaian dan menjemurnya di tali jemuran di belakan rumah, aku merasakan kepalaku pusing. Apakah tekanan darahku naik lagi? Bisikku dalam hati. Aku lalu menyampaikan hal itu kepada Iza. Iza lalu menyuruh Daniel mengantarkan aku ke dokter langganan mereka.

Daniel dan aku naik Mio berboncengan. Ketika sampai ditempat yang dituju, rupanya dokter yang ingin kami temui masih cuti lebaran, dan belum kembali dari liburannya. Daniel lalu mengantarkan aku ke klinik yang ada di Simpang Padang, Klinik Tambusai.

Kami masuk, mendaftar dan menunggu antrian. Kulihat dikiri kananku, ada dua pasien sedang menunggu pemeriksaan.

Sambil menunggu giliran pemeriksaan, aku dan Daniel ngobrol. Selagi asyik bicara, Daniel lalu menunjuk salah seorang petugas klinik  dengan lirikan matanya, dan mengatakan padaku itu adalah mantan pacarnya, yang telah menikah dengan orang lain. Aku lalu melihat nyonya muda yang memakai jilbab putih itu. Cantik juga, tapi nampaknya dia menahan diri untuk tidak melirik apalagi melihat kepada kami.

Namaku dipanggil, aku lalu berjalan keruang pemeriksaan. Setelah sampai aku masuk.

Dibalik meja praktek aku melihat sesosok dokter laki-laki dengan badan tegap, berjenggot dan memakai pici haji. Aku teringat dengan salah seorang teman blogerku di Kompasiana, namanya  Wijayakusuma, yang lebih akrab dipanggil dengan OmJay, sementara dokter ini bernama Yudi Rianto.  Aku mengucapkan assalum’alaikum dan menjabat tangannya. Sesuai prosedur standar, wawancara singkat risalah penyakit, ditambah dengan sudut pandang penyakit dengan pendekatan agama, tekanan darahkupun diperiksa.

Benar saja, tekanan darahku naik jadi 140/100, inilah membuat kepalaku mandangak dan rasa pusing. Aku lalu diberi resep obat plus sedikit dialog lagi. Setelah keluar dari ruang praktek, menyerahkan resep dibagian obat, menunggu lagi sekitar lima belas menit sambil ngobrol dan  sesekali melirik mantan Daniel, kamipun keluar dari klinik setelah menerima obat.

Dari Simpang Padang, kami pergir ke Kayangan. Aku ingin menemui anak sepupuku yang telah dua puluh tahun lebih tak bertemu, Erlinda Hartati. Yang kuketahui merantau di Duri bersama suaminya.

Berbekal nomor telpon genggamnya, Daniel dan aku meluncur ke jalan Kayangan. Dekat sebuah bengkel motor kami menanyakan alamat Linda, jawaban yang kami dapatkan; tak ada yang tahu.

Aku lalu menelpon ke nomor yang tersimpan di telpon genggamku. Gagal, nomornya tidak aktif! Aku lalu menelpon ke kampung, adiknya Linda Ed memberikan nomor Linda yang lain ketika dihubungi juga tidak aktif. Ketika dihubungi lagi Ed memberikan nomor adiknya, Yanto yang sedang berada di Pakanbaru. Dari Yanto barulah didapatkan nomor telpon Linda aktif. Namun ketika dihubungi tak ada jawaban. Kembali Yanto dihubungi, dia lalu memberikan nomor ibunya Ernida, kakak sepupuku. Barulah terjalin komunikasi. Rupanya kak Ida demikian nama panggilan sepupuku itu, saat itu sedang berada di Duri. Menunggu kelahiran cucunya, anak Linda yang saat itu telah memasuki bulannya.

Dari kak Ida kami mendapatkan alamat rumah Linda, jalan Mandiri 2. Rupanya jalan mandiri ini terletak diujung jalan Kayangan, sekitar satu kilometer lagi dari bengkel motor tempat kami berhenti.

Sampai di jalan Mandiri 2, karena kak Ida tidak memberikan nomor rumahnya, kami bertanya di warung yang tidak berapa jauh dari persimpangan. Pemilik warung, lalu menunjuk rumah yang halamannya penuh terisi bibit kelapa sawit berusia 7 bulan, dan siap di tanam diperkebunan, persis di seberang jalan di depan warungnya.

Kami lalu menuju rumah yang ditunjuk, melalui samping halaman yang tersisa karena dipenuhi bibit kelapa sawit.

Baru saja kami sampai di depan rumah, kak Ida berdiri menunggu di depan pintu. Rupanya dia melihat kami datang melalui kaca jendela rumahnya. Setelah besalaman kami masuk, didalam yang ada hanya kak Ida dengan salah seorang cucunya, anak Linda. Kak Ida mengatakan Linda sedang kerumah sakit, melakukan pemeriksaan rutin.

Tak lama menunggu, Erlinda pulang dengan mengendarai motornya. Itulah pertemuan aku dengan dia setelah berpisah selama dua puluh tahun lebih. Erlinda yang dulu kutinggalkan pergi merantau masih SD, kini telah menjadi seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak dan seorang lagi dalam kandungan. Kami tak bertemu dengan suami Erlinda, Sutan Mudo yang saat itu pergi bekerja .

Setelah mengobrol panjang, tentang perjalanan hidup masing-masing, shalat zhuhur dan ditutup dengan makan siang, kami kembali pulang ke jalan Jawa.

Sampai dirumah aku membenahi pakaianku, juga yang tadi pagi kucuci dan telah kering, melipatnya dan memasukkan kedalam tas, bersiap kembali ke kampung dan “mudik” ke Jakarta.

Lewat jam tujuh malam, ditengah turunnya hujan lebat. Mobil travel  yang dipesan Iza datang menjemput. Sebelum aku naik mobil Iza mnyelipkan “bekal” ketanganku. Dengan perasaan agak canggung aku menerimanya disertai ucapan terima kasih, dan memasukkannya kedalam kantong. Kami bersalaman, Indra, Iza, Daniel dan sikecil Aisyah.

Berlalunya mobil travel Mitsubishi Colt L300, dari pekarangan rumah keluarga Indra dan Iza. Berakhir pulalah pengembaraanku 3 x 24 jam di Duri, Riau. Mencari dan bersua dengan keluarga yang bertahun-tahun tak pernah bertemu. Bahkan dengan yang belum pernah bertemu sama sekali sebelumnya.

Aku pergi meninggalkan mereka semua dengan kesan yang tak bakal terlupakan…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 15 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 16 jam lalu

Australia Siaga Penuh …

Tjiptadinata Effend... | 16 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 18 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34


Subscribe and Follow Kompasiana: