Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Purnawan Kristanto

Purnawan adalah seorang praktisi komunikasi, penulis buku, penggemar fotografi, berkecimpung di kegiatan sosial, kemanusiaan dan selengkapnya

Petuah dari Goa Gajah

HL | 29 January 2010 | 19:00 Dibaca: 1154   Komentar: 1   1

Berkunjung ke goa Gajah saya mendapat pelajaran baru: Agama Hindu yang berkembang di Bali ternyata berbeda dengan agama Hindu di India. Agama Hindu yang dipraktikkan di Bali merupakan muara interaksi dinamis antara agama Hindu dengan kepercayaan asli Bali dan agama Budha.

GoaGajah

Kunjungan ke goa Gajah sebenarnya bersifat spontan. Saat itu saya bersama keluarga sedang beristirahat setelah mengunjungi Monkey Forrest di Ubud. Iseng-iseng,  saya membuka peta wisata dan menemukan sebuah tempat wisata menarik. Lokasinya cukup dekat dari tempat kami, yaitu goa Gajah. Saya menawarkan ke anggota rombongan saya dan mereka setuju. Dua dekade yang lalu, saya sebenarnya pernah ke sana dalam rangka study tour SMA. Akan tetapi tidak banyak kenangan saya akan tempat ini.

Untuk masuk wisatawan harus membayar enam ribu rupiah [Mulanya kami tidak menerima karcis masuk, tapi saya mendesak memintanya. Ini perlu supaya uang yang kami bayarkan benar-benar masuk ke kas pemerintah. Juga untuk bukti asuransi].

Karena tempat ini disakralkan maka wisatawan yang menggunakan celana pendek atau rok mini sebatas atas lutut wajib membebatkan kain yang panjang. Sementara bagi yang mengenakan rok atau celana panjang, cukup melilitkan selendang kain di pinggangnya. Selain itu ada aturan bahwa perempuan yang sedang menstruasi juga sebaiknya tidak masuk.

Kami menuruni tangga setengah memutar sebelum sampai pada halaman utama. Pada sisi kiri halaman, terserak artefak batu-batu candi yang sengaja dikumpulkan dalam satu tempat itu. Pada tengah halaman terdapat sebuah petirtaan atau kolam air yang terbagi menjadi dua bilik. Ini adalah kolam pemandian umum. Kaum laki-lai mandi di bilik kanan, kaum perempuan di bilik kiri. Pada setiap bilik terdapat tiga patung perempuan yang mengendong tempayan. Air mengalir melalui tempayan ini, tumpah ke kolam air yang dihuni oleh ikan mas

Petirtaan

Petirtaan

Arsitektur pemandian kuno ini mirip dengan pemandian “Belahan” di Jawa Timur. Pemandian ini dibangun oleh Erlangga, raja Mataram kuno yang berkuasa pada abad ke-10 M.  Maka diperkirakan bahwa goa Gajah ini dibangun antara abad ke-9 s/d 13 pada masa pemerintahan Majapahit. Salah satu informasi penting pada petirtaan di Jawa Timur ini adalah inskripsi pada tembok yang berbunyi: “Udayana Gempeng “yang artinya “Udayana sedang mabuk cinta.” Udayana adalah raja yang sangat terkenal di Bali, yang berkuasa pada abad ke-11. Ahli sejarah menduga Udayana sedang kasmaran terhadap putri Mahendradatta dari Jawa Timur. Mereka akhirnya menikah dan bersama-sama memerintah di Bali. Sang putri meninggal lebih dulu dan dimakamkan di Burwan.
Petirtaan yang berada di bawah pohon kapas yang besar ini semula terkubur dalam tanah ketika ditemukan. Pada tahun 1954 dimulai penggalian yang dipimpin oleh Krijgsman sehingga ditemukan bentuknya seperti yang sekarang ini.

Objek utama adalah gua buatan manusia, berupa ornamen wajah raksasa yang diukirkan pada sebuah tebing batu kapur. Dari kejauhan, ornamen ini mirip dengan gajah yang sedang menganga. Mungkin itu sebabnya disebut goa Gajah. Legenda setempat menceritakan bahwa ornamen pada batu ini diukir dengan tangan telanjang oleh Kebo Iwa hanya dalam semalam! Dia adalah seorang perdana menteri kerajaan yang sakti.

Teori lain mengatakan bahwa nama goa Gajah berasal dari nama “Lwa Gajah”, nama sebuah pertapaan Budha.  Nama goa Gajah tercantum dalam naskah Negarakertagama yang disusun oleh mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam naskah tertulis bahwa raja Majapahit memiliki tempat pertapaan di lereng gunung yang disebut “Lwa Gajah”. Kata “Lwa” atau “Loh” berarti sungai, sehingga mengindikasikan bahwa pertapaan ini bertempat di sungai Gajah (Petanu).

Pendapat lain mengatakan bahwa nama goa Gajah berasal dari patung Ganesha yang ditemukan di dalam goa. Ganesha adalah anak dewa Siwa yang bertubuh manusia tapi berkepala gajah.

Di depan pintu goa, jika kita cermati, terlihat ukiran berbagai makhluk yang berusaha menjauh dari mulut raksasa yang sedang menganga. Seolah mereka takut dicaplok oleh raksasa ini. Ada yang menafsirkan bahwa makhluk raksasa ini adalah symbol kematian. Tempat ini biasa digunakan sebagai bertapa. Dengan masuk ke dalam goa ini diperlambangkan bahwa orang tersebut memasuki nuansa alam kematian yang serba gelap.

Lorong dalam goa berbentuk huruf “T”. Setiap ujung lorong membentuk bilik-bilik. Pada bilik kiri terdapat patung Ganesha. Sementara pada bilik kanan merupakan altar untuk lingga, yaitu lambang alat kelamin dewa Siwa.

Keluar dari goa, kita akan melihat patung perempuan yang tersimpan dalam pondok kayu. Perempuan ini bernama Men Brayut, seorang tokoh terkenal dalam cerita rakyat Bali yang ditulis oleh seorang Budha bernama Hariti. Men Brayut adalah isteri Pan Brayat, seorang petani miskin yang memiliki 18 anak. Setiap anak memiliki watak masing-masing: 4 anak yang alim, 4 anak yang suka seni, 4 anak yang urakan, 4 anak yang berpikiran agak dewasa dan 2 anak masih kecil. Namun mereka tidak saling toleran terhadap saudara, hingga sering bertengkar [Dalam bahasa Jawa, "brayut" atau "brayat" berarti "keluarga dengan banyak anak"].

Melalui perjuangan Men Brayut, akhirnya mereka dapat hidup rukun. Caranya dengan memadukan keunikan masing-masing anak sehingga menghasilkan karya yang bermanfaat. Tampaknya terselip pesan pentingnya penghrormatan “pluralitas” di dalam kisah legenda ini. Perbedaan dalam kepercayaan,–entah itu Hindu, Budha atau kepercayaan asli–, dapat menjadi sumber konflik tapi juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk bekerja sama dalam karya kemanusiaan.

Pesan tentang pluralitas ini semakin kuat dengan adanya papan penunju ke Pura Patung Budha di sebelah timur goa ini. Apakah Anda melihat adanya “keganjilan” di sini? Pura adalah tempat ibadah bagi umat Hindu, sementara patung Budha jelas berkaitan dengan umat Budha. Lalu mengapa dinamakan “Pura Patung Budha”?

Batu Candi?

Karena penasaran, saya menuruni tangga setapak yang berujung di sebuah sungai. Ada jembatan kuno yang masih dapat dilewati. Saya melihat bongkahan-bongkahan batu besar yang berserakan di dasar sungai. Saat diamati, ada jejak-jejak tangan manusia pada batu besar yang telah berlumut itu. Saya melihat pahatan setengah jadi yang membentuk menara pagoda atau warga setempat menyebutnya meru. Jika dilihat dari langgamnya, pahatan ini lebih mirip dengan agama Budha. Ini jelas sebuah peninggalan arkeologis. Mengapa batu-batu ini tergeletak begitu saja di sana? Bisa jadi, batu-batu itu adalah proyek umat Budha yang tidak pernah diselesaikan karena keburu diambil alih oleh umat Hindu. Bisa jadi proyek yang tidak pernah diselesaikan karena bencana alam. Atau mungkin ada penyebab lain. Entahlah, saya tidak tahu dengan pasti.

Batu Candi?

Batu Candi?

Setelah melewati jembatan, saya lalu berjalan mendaki menuju sebuah pura sederhana. Ada satu petapa tua yang siap mendoakan wisatawan. Rasa penasaran saya terjawab sudah. Petapa ini berdoa di depan patung Budha, yang bentuknya mirip dengan patung Budha di candi Borobudur, namun tanpa kepala. Rasa penasaran yang satu sudah hilang, muncul rasa penasaran yang lain. Mengapa petapa Hindu itu

bersembahyang di depan patung Budha? Apakah ini wujud dari sinkritisme agama Siwa Budha? Apa ini merupakan bentuk penghormatan umat Hindu terhadap agama Budha yang lebih dulu menggunakan tempat itu? Entahlah.

***

Ada berbagai pertanyaan yang masih menggantung selepas kunjungan ke goa Gajah. Meski begitu, saya mendapatkan hikmah indah dari perkunjungan ini. Keputusan untuk memahat tebing bukit batu untuk menjadi sebuah goa pertapaan hanya bisa dibuat oleh orang atau sekelompok masyarakat yang berani bermimpi besar. Tidak hanya bermimpi, tapi juga bangun dari pembaringannya dan menyingsingkan lengan itu untuk mewujudkannya. Dengan teknologi yang masih sederhana, mereka tentu menghadapi tantangan yang tidak mudah. Dibutuhkan stamina yang kuat dan tekad yang menyala-nyala untuk menancapkan pahat kepada bongkahan batu-batu keras itu. Dibutuhkan inspirasi yang tak ada habisnya untuk membangkitkan lagi pengharapan saat melihat seolah-olah tidak ada kemajuan yang berarti dalam pekerjaan mereka. Tanpa adanya semangat itu, mereka akan mudah menjadi loyo dan menyerah.

Belajar dari goa Gajah ini, spiritualitas keagamaan ternyata dapat menjadi sumber semangat umatnya untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang besar. Jika saat ini Anda telah mendapat mandat dari Allah untuk melakukan pekerjaan yang besar, belajarlah dari pembuatan goa Gajah ini. Kalau mereka bisa, Anda pun bisa.

Video saya tentang Goa Gajah dapat dilihat di sini

:lihat video

Tulisan ini merupakan seri dari catatan perjalanan saya ke Bali tanggal 7-11 Januari 2010. Untuk tulisan yang lainnya, silakan klik:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 7 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Jangan Bikin Stress Suami, Apalagi Suami …

Ifani | 12 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: