Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Beny Akumo

Seorang in-house Lawyer: itu saja, tidak lebih

Wisata Lampung

OPINI | 03 February 2010 | 06:36 Dibaca: 831   Komentar: 8   1

L

ampung, sang bumi ruwa jurai, lahir dan besar di propinsi paling ujung sebelah selatan dari pulau Sumatera adalah bukan kemauan saya – karena kalau boleh minta sama Sing Mbaurekso Pemilik Alam Semesta ini, mungkin saya minta dilahirkan di Paris atau di Viena saja, biar hidung saya mancung, kulit putih, digandrungi para wanita dari wilayah Asia hehe … tapi karena saya dilarang atau lebih tepatnya tidak bisa minta-minta, maka lahirlah saya dan besarlah saya di Kota Bandar Lampung itu – sang bumi ruwa jurai, bumi yang melimpah ruah (mungkin itu arti kasarnya). Apakah saya mensyukuri itu? Jawabannya jelas, PASTI dan sangat, sangat mensyukuri.

Letak geografis Propinsi Lampung sebenarnya sangat strategis, sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera dengan deretan bukit barisan yang menjadi punggung yang sangat kokoh melingkar di sepanjang “badan” dari Propinsi Lampung ini, dan dengan pantai-pantai nya yang sangat elok dan indah menyelimuti sepanjang badan pulau sumatera ujung bagian selatan.

Mau wisata apa di lampung? Semua ada, wisata pulau? Di sekujur pinggiran laut ada, sebut saja Pulau Sembesi yang nyaris dekat dengan Pulau Krakatau (anak) dan Pulau Rakata (bapak nya pulau Krakatau). Ada pulau-pulau lain bertaburan, termasuk salah satunya pulau milik Ibu (Ratu) Artalita Suryani (Ratu apa? Ya nggak tau deh), sampai masuk ke teluk lampung nya pun banyak terdapat pulau-pulau dengan airnya yang masih jernih.

Ada cerita sedikit mengenai Pulau Krakatau ini, waktu itu saya masih Mahasiswa semester akhir di Fakultas Hukum Universitas Lampung (sekitar tahun 1992–1993), propinsi ini saat itu sedang getol-getolnya mempertontonkan / menjajakan wisata Pulau Krakatau dengan sebutan Festival Karakatau (yang saya ikuti adalah Festival Krakatau II), nah acaranya dimulai dengan “napak tilas” yang di mulai dari Pendopo Kantor Bupati Lampung Selatan, menuju Gunung di Kalianda, melewati tempat wisata Way Belerang (dalam bahasa lampung way artinya air), terus turun ke desa terujung yang akan menyeberangkan seluruh rombongan peserta Festival Krakatau II ke Pulau Sembesi – Pulau terdekat dengan Pulau Krakatau. Setelah bermalam di desa terujung itu, dan sekali lagi bermalam di Pulau Sembesi kami seluruh rombongan di berangkatkan dan diseberangkan oleh Kapal milik Angkatan Laut Republik Indonesia untuk bersandar di Pulau Karakatau itu (Pulau Rakata tidak bisa disandar, karena pantainya sangat terjal). (Perlu diingat juga, sebelum ada kegiatan Festival Krakatau ini, boleh dikatakan tidak ada atau tidak banyak orang yang datang berkunjung ke Pulau Krakatau) Di mulai dengan kegiatan mendaki Pulau Krakatau atau tepatnya Gunung Krakatau yang sudah mulai aktif, melihat kepundannya, kemudian turun kembali ke Kapal “Perang” itu untuk segera kembali ke desa terujung (Untuk Festival Krakatau I, tidak memakai Kapal besar, para pesertanya hanya diantar oleh kapal motor – kapal motor dengan jumlah banyak yang masing-masing kapal motor itu hanya muat 15-an orang saja, dan saat itu banyak yang mabok laut, maka dari itu untuk Festival Krakatau II ini dipakailah Kapal Besar – Kapal Perang, dan seingat saya, setelah Festival Krakatau II Kapal tidak sandar lagi ke Pulau Krakatau, hanya mengitari Pulau tersebut dengan Ferry).

Pulau Krakatau adalah Pulau yang berbentuk gunung, jadi tidak ada pantai yang landai, kecuali pantai yang langsung curam menuju laut dalam. Namun apa yang terjadi? Setelah kami semua masuk ke lambung Kapal, dimana Kapal Perang ini hanya menyandarkan “sedikit” saja hidung nya di pantai tersebut guna “menumpahkan” dan “menelan” kembali isinya (para peserta festival Krakatau), tapi hampir selama 5 jam kapal tidak bisa “lepas” dari “cubitan” Pulau Krakatau di hidung Kapal Perang ini. Aneh … sangat aneh, sampai buritan kapal melenggok ke kanan, ke kiri, begitu berulang-ulang dengan tenaga penuh di lontarkan dari seluruh mesin-mesin kapal itu, namun tetap saja Pulau Krakatau ini “tidak mau” melepaskan kami semua dalam satu kapal perang itu.

Banyak rekan-rekan peserta Festival Krakatau yang sudah mulai kehabisan air minum (karena udara sangat panas, ditambah kapal perang terbuka begitu) dan juga kehabisan makanan, walhasil kami semua di suguhi makanan “tentara” havermoot … dan mulailah semua peserta panik, ada apa ini? Kenapa “cuma nempelin” hidung kapal di Pulau ini tidak bisa “lepas”? wah, pasti sudah ada yang sudah ngomong jorok nih di Pulau ini waktu tadi peserta naik ke atas (memang kami semua sudah di wanti-wanti oleh “Penjaga” Pulau yang tinggal di Pulau Sembesi untuk tidak berbicara kata-kata yang menjurus ke arah pornografi) nah, siapa hayo yang tadi ngomong jorok? “ayo ngaku…” lainnya ngomong “ayo minta maaf” begitu kalimat-kalimat tersebut saling berseliweran di seluruh lambung kapal, membuat kami semua sudah mulai terlihat pucat – tapi siapa juga yang mau ngaku? Bisa berabe, bisa-bisa di suruh tinggal sendirian di Pulau Krakatau ini wiiihhh … mendingan nggak ngaku deh … bisa-bisa nanti di daftarkan menjadi “warga tetap” Pulau Krakatau “tanpa penghuni” ini dan dibuatkan KTP oleh “penghuni lawas” nya, waaaaaa … tapi gimana caranya supaya bisa lepas dari “cengkeraman” Pulau ini?

Bwaaahhhh … mungkin juga “para penghuni” nya kaget kok ada “mainan” nyundul-nyundul pulau tempat “tinggal” mereka? Akhirnya nggak mau di lepas, atau “para penghuni” tersebut tidak nyaman tiba-tiba diinjak-injak oleh banyak orang tanpa permisi, bahkan mungkin malah ada yang “ngencingi rumahnya” dan ada yang “ngomong jorok” … walah …

Setelah lebih dari 5 Jam kapal terseok-seok hampir kehabisan bahan bakar mencoba lepas dari “cubitan” pulau ini, maka datanglah satu kapal motor dari arah pulau sembesi yang ternyata ditumpangi oleh “kuncen” / penjaga pulau ini dengan membawa 1 (satu) ekor Kambing berwarna hitam legam, dan setelah sampai di ujung hidung Kapal Perang dipotongnyalah kambing hitam tersebut dengan darahnya di kucurkan ke air laut, dan setelah “upacara kecil” itu selesai, lepaslah Kapal Perang itu dari “cubitan nakal” Pulau Krakatau (atau para penghuninya?) itu. Fiuuuuuhhhhhhh …. akhirnya “Ibu i am coming homeeee …” (sayang sekali saya tidak punya photo-photo nya saat saya dan teman-teman mengikuti Festival Krakatau II itu, mungkin ada, tapi di simpan oleh Kelompok Mahasiswa Hukum Sayangi Alam / MAHUSA Universitas Lampung)

Moral of story: Kambing hitam legam sama ayam hitam legam pantesan harga nya lebih mahal ya? Hehe …

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa yang Kau Dapat dari Kompasianival 2014 …

Hendi Setiawan | | 22 November 2014 | 22:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


Subscribe and Follow Kompasiana: