Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Hendriansah

Seorang karyawan, hadir didunia melalui Pulau Sumatera, berkembang di Jogja, dan sekarang mencari nafkah di selengkapnya

Kota Atas dan Kota Bawah (Hidup di Semarang Part II)

OPINI | 10 February 2010 | 06:09 Dibaca: 1158   Komentar: 0   1

Melanjutkan tulisan sebelumnya

Kota Semarang di Mata Warga Barunya (Hidup di Semarang Part I)

….

Setiap orang yang pernah tinggal di Semarang pasti mengenal istilah Kota Atas dan Kota Bawah. Ya, Semarang memiliki keunikan tersendiri mengenai kondisi Geografisnya. Satu kota yang sama memiliki dua perbedaan suhu, dengan jarak yang relatif dekat, serta memiliki kelebihan di tiap-tiap bagian kota tersebut.

Istilah Kota Atas dan Kota Bawah

titik A dan B semarang atas dan bawah

titik A dan B semarang atas dan bawah

Entah sejak kapan penggunaan istilah “Kota Atas” dan “Kota Bawah”, tapi menurut seorang warga Semarang yang sudah 30 tahun tinggal di Semarang, istilah itu mulai sering digunakan sejak perumahan Banyumanik dibangun pada tahun 1975, kurang lebih 17 km dari pusat kota Semarang.

Seiring dengan makin berkembangnya kawasan tersebut, seperti Gombel, Tembalang, dan Banyumanik itu sendiri, seakan-akan tercipta suatu kawasan “kota” tersendiri yang mampu mandiri dan terpisah dari Pusat Kota.

Dan karena kawasan tersebut terletak didataran tinggi bagian selatan Semarang, maka disebutlah “Kota Atas”, sedangkan kota yang telah lama berdiri sebelumnya dipesisir laut jawa disebut “Kota Bawah”

Kota Bawah

Tidak ada batas pasti yang manakah kota bawah itu dan garis mana saja yang meliputi kota atas, tetapi warga semarang dapat dengan cepat menentukan bahwa Kota Bawah merupakan denyut nadi kota Semarang dimana disana terdapat Pusat Pemerintahan, Rumah Sakit Umum Daerah, Perkantoran, Stasiun, Bandara, hingga sekolah-sekolah tingkat menengah.

Kawasan jalan Pahwalan, salah satu jalan menuju kota atas atau kota bawah

Kawasan jalan Pahwalan, salah satu jalan menuju kota atas atau kota bawah

Kota Bawah memiliki kontur tanah yang datar seperti kota-kota yang sebelumnya saya tinggali. Berhawa panas, dan dekat dengan bibir pantai (walaupun beberapa sudah tidak berbentuk pantai seperti yang kita ketahui).

Di Kota Bawah terdapat sebuah kawasan Kota Tua (atau kota lama) yang dulunya merupakan Fort City milik Belanda. Mall-mall dan gedung-gedung tinggi berdiri di kota bawah, denyut hiruk pikuk kota besar pada umumnya terjadi disini.

Istilah “Banjir” yang sering melekat pada kota Semarang umumnya terjadi di kota bawah dan pada lokasi-lokasi tertentu. Ini mungkin salah satu faktor masyarakat Semarang mulai melakukan ekspansi ke bagian atas kota.

Kota Atas

Berbanding terbalik dengan kota bawah, kota atas memiliki kontur berbukit-bukit dengan ketinggian rata-rata 200 m dpl (diatas permukaan laut) menjadikannya berhawa lebih sejuk. Hanya saja, untuk masyarakat harus mempersiapkan kendaraan yang lebih tangguh untuk menelusuri jalan-jalan di Kota atas ini, terkadang kemiringan hingga 45 derajat.

Taman Tabanas di kota atas

Taman Tabanas di kota atas

Kota atas didominasi oleh perumahan, kampus, hingga hotel-hotel dan restoran yang menyajikan pemandangan kota bawah. Banyak masyarakat kota Semarang yang tinggal di kota atas dan bekerja di kota bawah, mengakibatkan terjadi kemacetan pada beberapa titik menuju kota atas atau sebaliknya pada jam-jam tertentu.

Tempat-tempat indah yang seharusnya dapat menjadi daya tarik wisata kota Semarang banyak terdapat dikota atas, sayangnya belum dikelola dengan baik. Seperti kawasan gombel, wilayah sekaran yang menurut saya sangat menarik untuk dijadikan tempat penghilang penat setelah bekerja seharian di kota bawah.

————-

Unik, itulah yang dapat saya sematkan untuk Kota Semarang dengan pembagian wilayah berdasarkan kondisi ini. Disaat kota-kota lain hanya memiliki satu jenis suhu dan iklim, Semarang memiliki keduanya.

Gambar diambil dari sini dan sini

Tags: semarang

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Real Madrid Lengkapi Koleksi Gelar 2014 …

Choirul Huda | | 21 December 2014 | 04:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 20 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 22 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 23 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 23 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 20 December 2014 07:59


Subscribe and Follow Kompasiana: