Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Imranrusli

Penulis dan jurnalis sejak 1986, kini mengelola blog pribadi tanahabangblokminfo.wordpress.com

Meninjau Maninjau

OPINI | 10 February 2010 | 18:33 Dibaca: 1099   Komentar: 3   0

Turis dari Belanda setiap tahun menyempatkan diri berenang di Danau Maninjau, meski gempa telah meluluhlantakkan kawasan wisata tersebut.

Turis dari Belanda setiap tahun menyempatkan diri berenang di Danau Maninjau, meski gempa telah meluluhlantakkan kawasan wisata tersebut.

Danau Maninjau, di Kabupaten Agam, adalah salah satu obyek wisata andalan Provinsi Sumatera Barat, tentunya sebelum gempa 7,9 SR meluluhlantakkan kawasan itu pada 30 September tahun lalu. Kalau Mentawai punya obyek wisata surfing (selancar) terbaik di dunia, maka Maninjau punya lokasi paragliding (terbang layang) yang juga terbaik di dunia. Ketinggiannya hanya 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl), tapi para penerbang bisa melambung sampai setinggi 1.700 mdpl, dari pagi sampai sore. Sepuasnya!

Danau Maninjau tergolong danau purba. Ahli-ahli geologi mengatakan danau atau kaldera–danau kawah yang berasal dari letusan gunung berapi–tersebut terbentuk dari letusan besar yang terjadi berulang kali jutaan tahun silam. Tak heran kalau ukurannya besar sekali, meski yang diisi air tak sampai sepersepuluhnya, yakni sepanjang 16,5 kilometer dan selebar 7 kilometer.

Kedalamannya tergolong ‘menyeramkan’ untuk sebuah danau yakni mencapai 500 meter di bagian terdalam. Kelebihan lainnya, dinding-dinding tebing di sekelilingnya sangat terjal—sampai 90 derajat—dengan vegetasi yang masih sangat rapat. Sangat beda dengan Danau Singkarak, di Kabupaten Solok, tau Danau Toba di Sumatera Utara yang perbukitannya rata-rata gundululul…

Dari Kota Padang, Danau Maninjau bisa dicapai lewat dua jalan. Pertama lewat Lubuak Aluang, Pariaman, Tiku, Lubuak Basuang, Muko-muko, Maninjau. Jaraknya 140 kilometer. Kondisi jalan bagus beraspal hotmix. Tak banyak tanjakan dan tikungan tajam. Jalur kedua lewat Lubuak Aluang, Sicincin, Kayu Tanam, Padangpanjang, Padang Lua, Matua, Ambun Pagi, Kelok 44, Maninjau. Jaraknya 109 kilometer, dengan banyak tanjakan dan tikungan tajam. Namun keduanya menyajikan view (pemandangan) yang luar biasa. Misalnya, laguna—genangan air tawar di tepi pantai atau di antara batu karang–cantik di Pantai Mutiara, Tiku, Kabupaten Agam atau lembah dan air terjun spektakuler di Lembah Anai, Kabupaten Tanah Data.

Banyak pilihan transportasi ke sana. Misalnya dengan menyewa mobil, mulai dari Rp350.000 per hari, termasuk supir tapi di luar BBM. Atau naik kendaraan umum dari Padang ke Lubuak Basuang yang berangkat mulai pagi dari depan Minang Plaza, Aie Tawa, seperti Harmoni, Harmonis, atau Dagang Pesisir dengan tarif per orang Rp25.000. Dari Lubuak Basuang, naik angkot lagi ke Maninjau, Rp14.000 per orang.

Tak usah kuatir dengan tempat bermalam, terdapat 21 unit hotel dan homestay di sekitar danau. Dari yang bertarif Rp800 ribu semalam, sampai Rp50 ribu. Yang terkenal di antaranya adalah Hotel Maninjau Indah (dekat pasar Maninjau) tarif Rp150 ribu – Rp800 ribu, Hotel Tan Dirih (Aie Angek) Rp150.000 per malam (tersedia 8 kamar double bed lengkap dengan bathtub dan air panas dinginnya, televisi indovision terbatas, bar mini di luar, kipas angin), Hotel Pasir Panjang (Gasang) Rp150 ribu – Rp600 ribu, Hotel Nuansa Maninjau (Ambun Pagi) Rp350 ribu – Rp1.200.000.

Sedangkan homestay, apapun namanya, rata-rata Rp50 ribu semalam. Saya sendiri suka menginap, di Hotel Tan Dirih, karena ada ada Budi dan Eri yang setia menemani. Eri terutama adalah pemandu tracking yang sangat dipercayai oleh turis mancanegara karena pengetahuannya yang luas dan mendalam tentang Maninjau. Lagipula, hotelnya langsung berbatasan dengan danau dan bersih.

Tan Dirih juga punya semacam bungalow yang memiliki tujuh (7) kamar dengan bathtub dan kran air panas air dingin di dalamnya. Ranjangnya antik dengan kelambu gaya putri-putri raja. Juga tersedia ruang tamu yang luas dan dapur bagi yang suka memasak dan beranda di belakang untuk ngeteh sore sambil makan peyek rinuak Maninjau yang terkenal. Tarifnya cuma Rp1,5 juta semalam (lho kok jadi promosi?). Itulah saking puasnya dengan pelayanan mereka, tanpa disadari ya memuji deh.

Homestay yang paling disukai turis asing terdapat di bawah Puncak Lawang, kalau tidak salah namanya Zal Homestay. Tak ada fasilitas listrik di di situ, hanya lampu teplok atau lilin. Masak dengan kayu bakar atau bara tempurung bakar. Sementara anak-anak sekolah suka Beach Homestay, yang satu kamarnya bisa diisi tujuh (7) orang, muraaaah, hebooooo.

Legenda
Masyarakat setempat percaya Danau Maninjau tercipta karena luka hati sepasang kekasih yang dituduh berzina oleh keluarga yang mereka cintai, yakni Putri Rasani dan Giran. Keduanya dituduh kakak-kakak Sani–Bujang Sambilan—berzina gara-gara Giran kepergok sedang melepaskan lintah dari betis Sani. Untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah keduanya melompat ke dalam kawah Gunung Tinjau. Hasilnya gunung tersebut meletus dan lambat laun berubah menjadi danau yang indah, seindah cinta keduanya, sementara Bujang Sambilan dikutuk menjadi sembilan (9) ekor ikan besar yang bertugas menjaga danau sampai kiamat tiba. Rasain!

Sedangkan nagari-nagari di selingkaran danau dinamai dengan nama mereka bersebelas, seperti Tanjung Sani, Sigiran, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Pandan, dan seterusnya. Seluruh nagari tersebut bisa kita kunjungi, karena terletak di tepi danau yang sudah terhubung satu sama lain dengan jalan aspal yang cukup mulus. Jadi Anda bisa mengitari danau seluas 115,5 meter persegi tersebut dari Maninjau sampai ke Maninjau lagi sepanjang 47 kilometer. Bisa pakai mobil, sepeda motor atau sepeda. Untuk yang dua terakhir banyak yang menyewakan, cukup dengan Rp50 ribu dan Rp10 ribu anda sudah boleh menggunakan kendaraan tersebut untuk 12 jam ke depan. Turis asing lebih suka naik sepeda atau sepeda motor matic.

Seluruh bagian Maninjau bisa dikatakan menarik, tapi semua tergantung selera. Bagi yang suka hiking dan tracking mungkin jalan terjal berbatu dan ditutupi semak belukar di Sakura Hill lebih menarik, apalagi ada air terjun 6 tingkat pula. Wow. Kalau ingin ke sini Anda harus ke Pasar Ahad dulu, lalu naik ke Desa Data Monti, terus Sakura Hill, Data Kociak, Data Buayan, dan keluar di Puncak Lawang.

Kawasan ini ibarat Kelok 44 belum jadi, jadi belum diaspal dan dirapikan. Anda hanya bisa jatuh tunggang langgang ke jurang di bawah dan mungkin sulit ditemukan lagi, kalau tak hati-hati melangkah. Dari Sakura Hill Anda bisa menikmati view Danau Maninjau dari sisi Timur yang jarang dijamah. Dulu ada gazebo untuk para wisatawan yang ingin menikmati matahari terbit atau terbenam, serta harimau atau beruang sesekali. Kini gazebonya hilang, inyiak balang (harimau)-nya juga.

Bagi yang menyukai jalan-jalan biasa, mandi air panas; mendaki dan menuruni Kelok 44 sambil memberi makan puluhan monyet; memantau Maninjau atau membeli berbagai cindera mata serta buah labu dari dan di Ambun Pagi; bersepeda keliling danau; makan kacang goreng di Matua, duduk-duduk di Puncak Lawang, mencicipi palai (pepes), rakik (peyek) dan pergedel rinuak (teri khas Maninjau), serta goreng bada dan rebus pensi (kerang) di tepi danau; memancing dan berenang di danau; bersampan atau naik kapal; makan ikan bakar di restoran sepanjang sungai di Batang Antokan; mencicipi durian; atau berkunjung ke rumah Buya Hamka, Nur St Iskandar, Hj, Rangkayo Rasuna Said, M Natsir atau sekitar 200 unit rumah tua peninggalan kolonial Belanda dan lain-lain semacam itu mungkin menarik.

Bagi yang tertarik dengan kemewahan bisa minum kopi di lounge Hotel Nuansa Maninjau. Dengan uang Rp100 ribu per orang Anda sudah bisa menikmati sesaat gaya orang-orang kaya minum kopi sambil makan cemilan.

Budaya
Sementara yang gila nonton atraksi budaya, banyak juga pilihan. Ada kesenian tambua tassa (tambur tassa) dan pupuik batang padi (terompet batang padi). Pencak silat serta indang pun tersedia. Juga acara perkawinan, qatam qur’an, khitanan atau pengangkatan penghulu. Kalau kebetulan ketemu acara-acara budaya ini, Anda bisa kenyang dijamu makan gratis oleh penduduk setempat yang ramahnya tak ketulungan. Umumnya momen-momen budaya ini bisa Anda temui di Nagari Paninjauan, sekitar 7 kilometer dari Nagari Maninjau.

Bagi penikmat air tebu atau makan kolak, tak ada salahnya melihat-lihat pembuatan saka tabu (gula tebu) di Lawang dan sekitarnya. Di sini, rata-rata penduduk memiliki kebun tebu sendiri, minimal sehektar. Mereka juga membuat gula tebu sendiri. Pertama dengan cara tradisional, yakni menggunakan tenaga kerbau untuk memeras tebu. Kedua cara modern, yaitu dengan menggunakan mesin-mesin penggiling. Apapun kesan Anda, perlu diketahui bahwa seluruh air tebu yang dijual orang di Padang, Bukittinggi, Pekanbaru, bahkan juga Jambi didatangkan dari Lawang. Katanya manisnya lain, persis gadis-gadis Maninjau (huuu sok tahu).

Penggemar wisata religi dijamin akan senang dengan koleksi mesjid dan surau Maninjau. Dari yang tua-dibangun tahun 1889—sampai yang terbaru—dibangun tahun 2001—terdapat di sini. Dari tepi jalan, sampai ke perbukitan, penuh dengan mesjid, sehingga bisa dikatakan Maninjau itu adalah negeri seribu mesjid.

Untuk makan minum tak perlu kuatir. Ada yang sedikit mewah seperti Hotel Nuansa Maninjau atau Water Front Restaurant. Butuh dana sekitar Rp25 ribu – Rp100 ribu dan Anda bisa makan sambil menikmati view Danau Maninjau dari atas awan atau dari permukaan. Kalau beruntung, Anda bisa ‘ketemu’ dengan jari-jari matahari yang sedang menembus ketebalan awan, atau kelompok ikan dalam formasi renang tertentu dan manuver tertentu, meliuk-liuk dengan cepat tapi teratur di air. Tak semua rumah makan di Maninjau mahal, banyak juga yang murah, misalnya RM Dinda, Bunda atau Samba Lado. Cukup Rp10 ribu – Rp20 ribu Anda sudah bisa makan goreng bada atau nila, asam pedas atau gulai kuning nila, dan cincang kambing.

Tapi, bagi saya, yang enak itu makan bersama Rajo Bintang—rajanya pariwisata Sumbar—di hotelnya: Maninjau Indah. Hanya dengan bada goreng balado, tempe goreng dan gulai sayur lobak Cina atau nangka muda, mertua pun tak terlihat lagi saking lezatnya (lagi pula saya memang tak suka ngeliat mertua, apalagi kalau lagi makan he he). Di hotel ini, kalau lebih dari sembilan (9) kamarnya terisi akan diadakan main kim, itu permainan angka yang diiringi dengan musik-musik riang.

Tapi jangan kaget dengan keramba ikan. Di Danau Maninjau saat ini memang marak keramba ikan, terdapat sekitar 16.000 unit keramba dengan jutaan ekor ikan nila. Untuk pakannya saja dihabiskan Rp10 milyar sehari! (Katanya sih). Setiap sore puluhan truk membawa ratusan ton ikan dari Danau Maninjau ke Padang, Bukittinggi, Riau, Jambi, Kepulauan Riau dan Sumut. Ikan bakar yang Anda makan di restoran-restoran dan rumah makan di kota-kota dan provinsi itu, dengan harga yang rata-rata selangit, umumnya didatangkan dari Maninjau.

Memang, terlalu banyak keramba membuat wajah Maninjau sedikit kacau dan kualitas airnya merosot, karena pakan yang tak habis dimakan mengendap di dasar danau, lalu menjadi racun yang mematikan—bagi ikan-ikan terutama (buktinya akhir tahun lalu Rp108 milyar lenyap gara-gara jutaan ekor ikan di situ tewas), namun bagaimana lagi, tetap saja banyak yang mandi-mandi atau main perahu di danau tersebut. Apalagi ada kapal yang bisa disewa Rp300 ribu per jam dan berkapasitas 30 orang menunggu di danau.

Masih banyak hal menarik di Maninjau, yang bisa Anda nikmati kalau datang langsung ke sana. Ya Iya lah, masa iya dong!

Cat: Kini kondisi Maninjau sungguh amburadul. Sebagian besar warga masih tingal di tenda karena hampir seluruh bukit yang mengelilingi Maninjau longsor, sebaghian lagi tinggal di keramba, agar bisa lari dengan perahu ke tengah danau jika longsor melanda. Pedihnya, kita tak bisa bicara wisata saat ini, kecuali kalau musibah orang dianggap punya aspek entertainmen dan leisure.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 9 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 10 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 10 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 10 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: