Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Rustan Ambo Asse

Lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin makassar,sekarang bertugas sebagai dokter Gigi PTT di provinsi Kalimantan selengkapnya

Pesona Desa Warabal: Ketika Senja dan Matahari Terbit

REP | 23 February 2010 | 03:19 via Mobile Web Dibaca: 248   Komentar: 7   2

Waktu telah membimbing setiap hari menuju peraduan, matahari akan berselimutkan warna-warna jingga di ufuk barat, awan di langit akan berarak-arakan dengan bentuk mirip negeri lain maha indah. Senja yang pelangi.

Aku duduk pada sebongkah batu, memandang lekat dan taksim pada pasir putih yang bertebaran. Persis seperti beberapa keindahan kecil yang terlupakan oleh manusia, dan hanya bisa diingat dan disyukuri jika duduk sendirian, kontemplasi dan mencoba memahami, siapa dan untuk apa aku alhir ke bumi?

Desiran ombak sebuah desa kecil, gubuk-gubuk penduduk berjejer dengan bentuk yang sama, kecil mungil dengan tiang-tiang miring. Sebagian rumah yang dihuni oleh beberapa di antara mereka yang beruntung memiliki bentuk yang berbeda, rumah bangunan batu yang sederhana, tapi sudah sangat mewah jika dibandingkan dengan gubuk tadi.

Kami harus menambatkan speedboath itu, puskesmas keliling ini harus kami jalani dengan menginap disetiap desa yang menjemput kami dengan senja dan malam yang mEnghampiri. Sebuah petualangan yang tak terlupakan.

Penduduk desa biasanya akan berdatangan di sore hari, mereka yang nelayan akan bersileweran di pantai, sementara para petani ladang akan kasak-kusuk kembali dari kebun-kebun mereka, memikul sagu. Makanan khas bagi masyarakat kepulauan Aru maluku.

Aku menikmati pantai, pohon-pohon kelapa di sisi kanan desa warabal menjulang berselang-seling, memamerkan dedaunannya yang bergoyang indah di terpa angin sore.

Para nelayan bergegas berdatangan, mereka menenteng hasil laut berupa kepiting dan ikan-ikan laut. Setelah seharian menggantung budidaya rumput laut di beberap tempat, tentunya dengan arus yang tepat agar rumput laut itu akan tumbuh mekar dan lebat. Mencari ikan hanya selingan dari pekerjaan utama ini.

Malam sebentar lagi tiba, seorang penduduk tersenyum dan berujar, sore ini memang indah di pantai, tapi kesunyian dan keindahan pagi hari menjelang matahari terbit tak kalah fenomenalnya. Kala itu matahari akan beringsut dari peraduan dan keluar dengan segar dari ufuk timur, bola merah jingga itu akan memantul di air laut yang tenang, menghangatkan hamparan pasir putih membentang karena air laut telah surut sejak subuh.

Pohon-pohon kelapa itu akan melepaskan embun-embun yang membasahi, takjub menerima kehangatan matahari yang hangat pada setiap juluran dedaunannya yang hijau menghijau.

ketika malam itu, beberapa saat penduduk yang kelelahan melepaskan penat dengan cara berkumpul di serambi rumah-rumah, anak-anak akan naik sepeda dan saling kejar di bawah terpaan bulan.

Bagi sebagian penduduk akan menawarkan kepada kami harga sejinjing dendeng rusa, ikan kering dan tanduk rusa yang unik dan antik.
beberapa lampu jalan yang bersumber dari listrik tenaga surya menerangi dengan redup.

Desiran ombak pantai dibelakang rumah penduduk tempat kami menginap senantiasa berkata, jangan lupa jemput keindahanku lepas subuh nanti.

Tubuh kami yang kelelahan selama berkeliling ke pulau desa-desa mengantar tidur kami dengan nyenyak. Kami terlelap begitu cepat. Bertemu dengan sketsa dan serpihan kisah-kisah mimpi yang tak beraturan. Yang ketika pagi telah tiba, mimpi itu akan sulit dirajut menjadi kisah yang utuh.

………….desa Warabal, kepulauan Aru
Maluku. Pukul 05.30 WIT

Air dingin menjadi hangat ketika menjelma menjadi wudhu di subuh hari. Hidup ini betapa sempurnanya!

Aku telah membuktikan bahwa, desa warabal lebih indah di pagi hari.

Dan benar adanya. Pasir putih membentang. Masih basah dan bisa ditelusuri dengan kaki telanjang.

Awan perawan hari ini begitu tipis menutup langit, berpelukan dengan udara yang begitu bersih dan segar, mendesir dan berhembus menerpa wajah-wajah kami yang baru terjaga.

Kami berlari-lari, bermain pasir, dan memotret sana-sani.

Hamparan laut mulai dari bibir pantai begitu tenang, mendapat pantulan matahari semakin memperlihatkan permukaan laut seperti kaca-kaca indah. Bening dan menakjubkan.

Sementara itu cerita pohon kelapa itu, kenyataannya tak hanya mempertontonkan daunya yang hijau menghijau, atau embun jernih yang menguap. Tapi julangan pohon-pohon itu berselang-selang. Yang jika diperhatikan dengan seksama maka di situ terdapat keindahan yang unik.

Sebuah kombinasi keindahan pantai yang unik, benar-benar indah.

………..( di tahun 2009, sekitar oktober)

Salam kompasiana

Tags: wisata

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 8 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 9 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 10 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Photo-Photo: “Manusia Berebut Makan …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kisruh di DPR: Jangan Hanya Menyalahkan, …

Kawar Brahmana | 8 jam lalu

Saran Prof Yusril Ihza Mahendra Kepada …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Korupsi yang Meracuni Indonesia …

Cynthia Yulistin | 8 jam lalu

MA Pasti Segera Bebas, Karena Kemuliaan …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: