Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Jajang R Kawentar

pembina Komunitas Sastra Lembah Serelo Kabupaten Lahat Sumatera Selatan

Penjelajahan Sejarah di Bukit Besak Merapi Selatan

REP | 22 March 2010 | 05:04 Dibaca: 789   Komentar: 8   2

Angin dingin terus menerpa tubuh yang bermandikan keringat, memompa semangat para penjelajah Bukit Besak Merapi Selatan. Awan mendung memayungi terik matahari terasa sejuk mengiringi sekitar 20 siswa-siswa SMA N 1 Merapi Selatan Kabupaten Lahat, mereka merupakan anggota Pramuka dan Komunitas Sastra Serelo Lahat yang melakukan penjelajahan sejarah dan budaya ke Bukit Besak di Kecamatan Merapi Selatan tidak jauh dari sekolah tersebut. Berada tidak jauh dari areal Bukit Serelo yang merupakan ikon Bumi Seganti Setungguan.

Bukit Besak menyimpan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia saat melawan penjajah dan terdapat legenda Batu Putri yang di bawah Batu Putri tersebut terdapat Gua. Diyakini gua tersebut pernah digunakan warga untuk bersembunyi. Legenda Batu Putri Ini berawal dari kisah seorang putri yang sedang bersedih duduk termenung tiba-tiba seekor anjing piaraannya yang setia menemaninya menggagahi putri tersebut maka dikutuklah mereka menjadi batu, demikian cerita yang berkembang di Merapi Selatan.

Gua Putri yang terdapat di bawah batu putri ini memiliki beberapa ruangan yang tersusun karena proses alam, bukan karena bentukan manusia. Mungkin saja orang yang pernah tinggal menyempurnakan bentuknya. Antara ruang yang satu dan yang lainnya saling berhubungan, meskipun sebagian ruang hanya bisa dimasuki dengan cara merayap.

Para penjelajah tidak sanggup memasuki seluruh ruangan karena beberapa ruangan sudah ditempati banyak kelelawar bersarang. Bau kelelawar dan kotorannya itu membuat tidak tahan, pusing dan mual. Disamping itu harus menggunakan alat yang memadai untuk memasuki ruangan-ruangan yang gelap. Kemungkinan ada binatang lain, yang berbahaya.

Bila dilihat dari posisinya Batu Putri itu berada di tepi Bukit Besak menjulang, batu itu bertumpuk seperti adegan sedang bersenggama. Menurut salah seorang warga bahwa batu Putri ini biarpun kelihatannya hanya menempel sedikit tetapi tidak pernah bergeser meskipun ada gempa. Sehingga tampak unik bila di pandang dari arah lembah bukit.

Selain Batu Putri ada juga Gua Madun berada di bawah sebelum menuju Gua Putri. Dari Gua Madun ke Gua Putri menempuh jarak satu jam perjalanan. Gua inilah yang menjadi tujuan penjelajahan sejarah dan budaya selain menuju ke puncak Bukit Besar.

Di puncak Bukit Besar kita bisa melihat kota Lahat, Muara Enim, Tanjung Enim dan perkampungan-perkampungan, bahkan tampak Gunung Dempo yang berada di Pagaralam. Kalau saja Bukit Besar ini dijadikan tempat wisata alam tentu sangat menakjubkan karena keindahannya tidak kalah dengan daerah lain, yang menjadi tjuan wisata alam di Indonesia.

Pejelajahan Sejarah dan Budaya ini  ditemani 3 guru pembimbing dan pemandu dari warga setempat. Sebelumnya mereka sudah menginap semalam di Desa Tanjung Beringin. Perjalanan dimulai hari Minggu beberapa waktu lalu sekitar pukul 8.00 WIB dimulai dengan doa bersama. Kegiatan ini selain sebagai refreshing, kegiatan pramuka dan untuk lebih mencintai alam juga budaya lokal, ujar Jayadi SPd salah satu Guru yang pemimpin perjalanan ini yang juga sebagai guru sejarah..

Perjalanan menuju Gua Madun, Gua Putri dan puncak Bukit Besak,  sebelumnya melewati rerimbunan hutan hujan tropis yang lembab, serta padang rumput yang luas membentang serta udara yang segar. Wilayah ini merupakan hutan lindung dengan perbukitan batu, konon banyak mengandung batubara di kaki Bukit Besak ini. Pohon-pohon yang tinggi dan banyak terdapat macam-macam binatang di dalamnya. Menurut warga setempat Tiwi (35), bahwa di hutan ini masih terdapat banyak jenis hewan misalnya,  Beruang Madu, Kijang, Rusa, Ayam Hutan, Kambing Hutan dan Macan Akar.

Salah seorang penjelajah menunjukkan kotoran Macan Hutan di dekat batu besar yang bisa digunakan untuk berteduh atau berlindung. Kami juga menemukan jejak babi hutan.

“Terkadang jejak hewan liar ini terlihat saat menuju perbukitan, tapi tidak pernah mengganggu penduduk,” ujarnya. Masyarakat Kecamatan Merapi Selatan juga menjaga alam sekitarnya.

Gua Madun merupakan peninggalan masa revolusi 1945, menuju ke Gua tersebut memakan waktu sekitar satu jam dari desa dengan berjalan kaki. Sementara jarak Desa Tanjung Beringin sendiri dari Kota Lahat kurang lebih 40 Km. Gua perjuangan ini tempat bersembunyinya para Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan penduduk di masa penjajahan Jepang, dan sekaligus tempat pengintaian musuh yang paling aman karena letaknya yang tinggi diatas Bukit Besak.

Madun nama orang yang pertama menemukan Gua tersebut, sehingga gua tersebut disebut Gua Madun, menurut cerita penduduk setempat. Gua yang ada di Bukit Besak ini bukan gua yang dibuat oleh manusia tetapi karena terjadi proses alam. Batu-batu yang jatuh dari puncak bukit membentuk ruang-ruang dan bisa digunakan sebagai tempat untuk berteduh serta beristirahat.

Besar Gua Madun memiliki panjang  sekitar 6 meter dan lebarnya sekitar 4 meter, tinggi Gua ini bervariasi saat memasukinya tinggi maksimal sekitar 5 meter mengikuti kontur batu yang menutupinya, menurut penjelasan Jayadi.

Siswa Kelas XI IPS 2, Aprianto, kami senang dengan acara penjelajahan ini, Gua Madun ini sangat unik. “ Dari mulut gua ini terdapat aliran air yang membelah gua, airnya segar dan bening kami bangga bisa ke tempat ini,” kata Aprianto.

Sementara Yumiani, siswi kelas X.1 mengatakan, bahwa pemandangan di sini indah, tugas kami nantinya menceritakan apa saja yang kami peroleh dari kegiatan ini. “Kalau tempat kami ni jadi obyek wisata tentu sangat bagus, selain bukit Besak, Gua Madun, Gua Putri serta Bukit Serelo masih banyak keunikan dari Merapi Selatan ini. Disini juga banyak sekali legenda masyarakat yang bisa di gali,” ucap Yusmiani.

Terlihat antusiame siswa-siswi mengikuti penjelajahan, diharapkan dapat memberi nilai positif dan mengambil manfaat dari perjalanan ini, kata Isman SPd Kepala Sekolah SMA N 1 Merapi Selatan.

“Bukankah dengan kegitan ini banyak pelajaran yang bisa diambil, misalnya pelajaran Bahasa Indonesia meraka dapat membuat karangan Deskripsi dari kegiatannya. Dari segi sejarah mereka lebih mengenal budaya local dan nilai-nilai budi pekerti untuk mencintai lingkungan dan tanah air,” jelas Isman. Jelas kegiatan ini memacu mereka untuk lebih giat lagi belajar di sekolah dan lebih bertanggung jawab menjaga alamnya, tambahnya. ***)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 10 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 11 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 11 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 11 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: