Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Amk Affandi

awalnya membaca, kemudian menulis, beranjak ke perbuatan. seorang yang ingin berbagi. coretanku di amk-affandi.com

Si(ndoro) dan Si(sumbing)

OPINI | 26 April 2010 | 03:17 Dibaca: 841   Komentar: 25   3

koleksi pribadi

koleksi pribadi

www.denieksukarya.com/photo_library/

www.denieksukarya.com/photo_library/

Sebelum transportasi sesemarak seperti sekarang ini, saya hanya nyaris ditemani 2 + 1 sahabat yang setiap pagi selalu memberi kabar. 2 adalah dua buah gunung Sindoro dan Sumbing. Mereka berdua dengan setia selalu memberi tanda, kapan saya harus angkat kaki ke sekolah. Adapun 1 adalah gunung Petarangan yang terletak tepat disisi utara desaku. Gungun Petarangan ini tidak mungki saya lupakan, karena dari sanalah terlahir cikal bakal nenek moyangku. Sekitar 20 km sebelah barat Dieng, atau 30 menit bila ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Sekelumit cerita asal mula gunung Sindoro dan Sumbing. Alkisah, hiduplah sepasang suami istri yang ditemani oleh dua orang anak laki-laki. Mereka hidup sebagai seorang petani, yang hidupnya selaras dengan ritme alam pedesaan. Pagi diawali dengan mencangkul, bercocok tanam. Siang, selepas sepenggalah sianr matahari, istirahat sejenak. Sore menjelang, tiba saatnya untuk pulang ke rumah. Demikian roda dinamika kehidupan setiap hari, nyaris tanpa perubahan. Akan halnya kedua anaknya, mereka selalu bertengkar sepanjang hari. Perilaku anak-anak yang sebenarnya hampir kita jumpai dalam setiap keluarga.

Karena mereka berdua selalu terlibat dalam pertengkaran, suatu ketika, kesabaran sang ayah melebihi batas. Akhirnya anak yang kedua terkena pukulan tangan ayah, mengakibatkan bibirnya robek (dalam bahasa setempat disebut “sumbing”). Hingga kini kedua anak tersebut diabadikan sebagai nama gunung Si(ndoro) dan si(sumbing). Ndoro adalah julukan kepada seseorang karena sikap santun, bijaksana dan selalu melindungi. Adapun sumbing diberikan kepada anak yang nomor dua karena tingkahnya. Gunung sumbing bila dilihat dari sisi timur atau barat akan terlihat bagian tengah robek, melengkung ke bawah.

Kisah Sindoro dan Sumbing tidak ada bedanya dengan legenda-legenda lain. Sangkuriang, Roro Jonggrang, Roro Kidul, Banyuwangi dll. KIsah-kisah itu ternyata memiliki nilai jual. Orang tak akan tertarik berkunjung ke Tangkuban Perahu, bila tak mendengar cerita Sangkuriang. Siswa tak akan melakukan tour manakala tidak membaca kisah heroik orang-orang terdahulu dengan keterbatasan teknologi tapi mampu mewujudkan sebauah candi Borobudur yang fenomenal.

Tour tak sekedar wisata belaka, namun juga mengenal lebih dekat tentang budaya setempat. Disanalah kita bisa berinteraksi dengan manusia lain lewat perbedaan adat, bahasa, perilaku dan juga hasil karya. Dari interaksi tradisi inilah, mestinya dimanfaatkan oleh pemerintah setempat untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain.

Gairah otonomi daerah telah disambut antusias oleh pemerintah daerah. Lereng gunung Sumbing dan Sindoro telah menjadi obyek wisata. Sisi barat Sindoro merupakan area perkebunan teh yang telah dikelola sejak jaman Belanda. Saat ini, perusahaan teh, tidak saja memproduksi hasil teh yang berkualitas, namun lokasi perkebunan juga dimanfaatkan untuk wisata keluarga. Bagi yang suka wista ke daerah dingin, perkebunan teh “Tambi” menawarkan sejumlah paket wisata. Adapun belahan sisi timur, merupakan lahan tanah yang subur untuk tembakau. Salah satu perusahaan rokok yang terkenal, disuplai dari lereng sindoro.

Puncak gunung Sumbing, telah lama menjadi daerah tujuan wisata, terutama bagi pecinta olah raga naik gunung. Hari yang dipastikan cukup ramai adalah menjelang 1 Muharram dan 17 Agustus. Dengan menyusur lewat kaki sebelah utara yang cukup landai, puncak sumbing menawarkan dahaga pelancong. Masyarakat setempat menjadi semakin bergairah menyambut turis lokal khususnya.

tourism-joglosmart.blogspot.com

tourism-joglosmart.blogspot.com

Menjadikan tempat sebagai tujuan wisata yang nyaman bukan perkara yang mudah. Fasilitas yang memenuhi standar, sarana yang dapat memberikan kebutuhan pengunjung, transportasi yang mudah adalah factor yang menentukan. Mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) jauh lebih penting. Bagaimana ber-tatakrama, membiasakan pola hidup sehat, menciptakan tradisi kebersihan, santun dalam setiap pelayanan, dan menumpas habis premanisme.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 13 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 15 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 16 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 17 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Malaysia Juga Naikan Harga BBM …

Sowi Muhammad | 8 jam lalu

Salam Kompasianival Saudara …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Menulis bagi Guru, Itu Keniscayaan …

Indria Salim | 9 jam lalu

Gerdema, Mentari Indonesia Dari Ufuk Desa …

Emanuel Dapa Loka | 9 jam lalu

Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan …

Herman Wahyudhi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: