Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Amk Affandi

awalnya membaca, kemudian menulis, beranjak ke perbuatan. seorang yang ingin berbagi. coretanku di amk-affandi.com

Si(ndoro) dan Si(sumbing)

OPINI | 26 April 2010 | 03:17 Dibaca: 837   Komentar: 25   3

koleksi pribadi

koleksi pribadi

www.denieksukarya.com/photo_library/

www.denieksukarya.com/photo_library/

Sebelum transportasi sesemarak seperti sekarang ini, saya hanya nyaris ditemani 2 + 1 sahabat yang setiap pagi selalu memberi kabar. 2 adalah dua buah gunung Sindoro dan Sumbing. Mereka berdua dengan setia selalu memberi tanda, kapan saya harus angkat kaki ke sekolah. Adapun 1 adalah gunung Petarangan yang terletak tepat disisi utara desaku. Gungun Petarangan ini tidak mungki saya lupakan, karena dari sanalah terlahir cikal bakal nenek moyangku. Sekitar 20 km sebelah barat Dieng, atau 30 menit bila ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Sekelumit cerita asal mula gunung Sindoro dan Sumbing. Alkisah, hiduplah sepasang suami istri yang ditemani oleh dua orang anak laki-laki. Mereka hidup sebagai seorang petani, yang hidupnya selaras dengan ritme alam pedesaan. Pagi diawali dengan mencangkul, bercocok tanam. Siang, selepas sepenggalah sianr matahari, istirahat sejenak. Sore menjelang, tiba saatnya untuk pulang ke rumah. Demikian roda dinamika kehidupan setiap hari, nyaris tanpa perubahan. Akan halnya kedua anaknya, mereka selalu bertengkar sepanjang hari. Perilaku anak-anak yang sebenarnya hampir kita jumpai dalam setiap keluarga.

Karena mereka berdua selalu terlibat dalam pertengkaran, suatu ketika, kesabaran sang ayah melebihi batas. Akhirnya anak yang kedua terkena pukulan tangan ayah, mengakibatkan bibirnya robek (dalam bahasa setempat disebut “sumbing”). Hingga kini kedua anak tersebut diabadikan sebagai nama gunung Si(ndoro) dan si(sumbing). Ndoro adalah julukan kepada seseorang karena sikap santun, bijaksana dan selalu melindungi. Adapun sumbing diberikan kepada anak yang nomor dua karena tingkahnya. Gunung sumbing bila dilihat dari sisi timur atau barat akan terlihat bagian tengah robek, melengkung ke bawah.

Kisah Sindoro dan Sumbing tidak ada bedanya dengan legenda-legenda lain. Sangkuriang, Roro Jonggrang, Roro Kidul, Banyuwangi dll. KIsah-kisah itu ternyata memiliki nilai jual. Orang tak akan tertarik berkunjung ke Tangkuban Perahu, bila tak mendengar cerita Sangkuriang. Siswa tak akan melakukan tour manakala tidak membaca kisah heroik orang-orang terdahulu dengan keterbatasan teknologi tapi mampu mewujudkan sebauah candi Borobudur yang fenomenal.

Tour tak sekedar wisata belaka, namun juga mengenal lebih dekat tentang budaya setempat. Disanalah kita bisa berinteraksi dengan manusia lain lewat perbedaan adat, bahasa, perilaku dan juga hasil karya. Dari interaksi tradisi inilah, mestinya dimanfaatkan oleh pemerintah setempat untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain.

Gairah otonomi daerah telah disambut antusias oleh pemerintah daerah. Lereng gunung Sumbing dan Sindoro telah menjadi obyek wisata. Sisi barat Sindoro merupakan area perkebunan teh yang telah dikelola sejak jaman Belanda. Saat ini, perusahaan teh, tidak saja memproduksi hasil teh yang berkualitas, namun lokasi perkebunan juga dimanfaatkan untuk wisata keluarga. Bagi yang suka wista ke daerah dingin, perkebunan teh “Tambi” menawarkan sejumlah paket wisata. Adapun belahan sisi timur, merupakan lahan tanah yang subur untuk tembakau. Salah satu perusahaan rokok yang terkenal, disuplai dari lereng sindoro.

Puncak gunung Sumbing, telah lama menjadi daerah tujuan wisata, terutama bagi pecinta olah raga naik gunung. Hari yang dipastikan cukup ramai adalah menjelang 1 Muharram dan 17 Agustus. Dengan menyusur lewat kaki sebelah utara yang cukup landai, puncak sumbing menawarkan dahaga pelancong. Masyarakat setempat menjadi semakin bergairah menyambut turis lokal khususnya.

tourism-joglosmart.blogspot.com

tourism-joglosmart.blogspot.com

Menjadikan tempat sebagai tujuan wisata yang nyaman bukan perkara yang mudah. Fasilitas yang memenuhi standar, sarana yang dapat memberikan kebutuhan pengunjung, transportasi yang mudah adalah factor yang menentukan. Mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) jauh lebih penting. Bagaimana ber-tatakrama, membiasakan pola hidup sehat, menciptakan tradisi kebersihan, santun dalam setiap pelayanan, dan menumpas habis premanisme.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Transjakarta vs Kopaja AC, Pengguna Jasa …

Firda Puri Agustine | | 31 October 2014 | 12:36

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | | 30 October 2014 | 22:57

Juru Masak Rimba Papua Ini Pernah Melayani …

Eko Sulistyanto | | 31 October 2014 | 11:39

Green Bay dan Red Island Beach, Dua Pesona …

Endah Lestariati | | 31 October 2014 | 11:47

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 5 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 5 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 5 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 6 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Mendaki Gunung Merapi Tanpa Harus Cuti …

Mcnugraha | 8 jam lalu

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | 8 jam lalu

KIS Adaptasi KJS atau Plagiat JKN …

Aden Rendang Sp | 8 jam lalu

Demokrasi Pasar Loak …

Budhi Wiryawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: