Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Edi Tempos

saya lahir di sumatera selatan, pernah tinggal di jambi. Lalu sekarang berada di jakarta.

Asuh di Lorong Geylang, PSK Indonesia Nomor 2 Termurah di Singapura

HL | 01 June 2010 | 07:33 Dibaca: 10712   Komentar: 8   1

Ilustrasi/Admin (shutterstock)

Ilustrasi/Admin (shutterstock)

Wisatawan yang datang ke Singapura,- sebelum ada Casino, adalah wisata shopping. Khususnya ibu-ibu yang memiliki uang. Rasanya kurang pas, kalau belum berbelanja tas bermerk di Archid Road,- atau pusat-pusat perbelanjaan di Negeri yang kini dipimpin oleh putra Lee Kuan yeu ini. Disamping sebagai kota bisnis,- Negeri ini adalah kota transit. Dari Bandara internasional,- pelabuhan laut internasional, dan pusat transaksi ekonomi yang memiliki peraturan perundang-undang bisnis secara internasional,- tidak setiap pergantian pemimpin, pergantian parlemen,- lantas aturannya berubah. Birokrasi import/eksport barang yang singgah untuk transit tidak berbelit-belit.

Saya memilih tinggal di sekitar Geylang. Dengan pertimbangan dikawasan inilah,- hotel kelas melati yang memiliki harga yang pas buat kantong saya. Meskipun saya harus berjuang melawan godaan-godaan syahwat,- karena Geylang dikenal lokasi prostitusi legal dan ilegal.

Saya tanya kepada kepada supir taksi, bagaimana untuk membedahkan yang legal dan ilegal. Supir taksi sambil menunjuk, kepinggir jalan di lorong 8,- “ini… yang tegak tegak di jalan, tak ada lisensi” Selanjutnya supir taksi Comport menjelaskan yang lega,-l dia ada dalam bilik-bilik, tidak berdiri di jalan dan perempuannya memiliki lisensi untuk bekerja.***

Sepertinya tidak pas,- kalau saya menjadikan supir taksi untuk menjadi sumber penulisan ini. akhirnya saya putuskan untuk mengamati sendiri kehidupan malam di sekitar Geylang Road.  Kiri fan kanan jalan Geylang dibagi lorong-lorong, Kiri jalan Geylang adalah lorong dengan nomor genap,- sementara sebelah kanan jalah adalah lorong bernomor ganjil.  saya menyelusuri jalan nomor genap, dari lorong 6, disini sepertinya para wanita penghibur lebih banyak datang dari Indonesia, sepertinya mereka adalah Wanita penghibur yang pemberani. Mereka menyeberang dari Batam, lalu berdiri di pinggir lorong 6 ini untuk mencari dan mengumpulkan dollar Singapura. Tarif kencang per 30 menit psk yang berasal dari Indonesia ini berkisar 40 sampai 60 Dollar Singapura.

Sementara di lorong 8, berdiri wanita berkulit putih, berasal dari China,- diujung lorong mulai bercampur, antara China, Indonesia dan Philipina.

Dilorong 8 ini saya mulai mengamati seekor Asuh,- sepertinya mengalami Obesitas,- saya melihat sang asuh (Bahasa jawa untuk sebutan anjing) sedang menemani temannya lagi minum bir. Cerita Asuh Obesitas ini sudah terlalu gemuk. Dia enggan untuk berdiri, kakinya seperti tidak mampuh menahan badannya besar. Mata sang Asuh menatap tajam bersahabat,- untuk mengatakan dia sudah sangatlah lelah,- melihat manusia-manusia yang berlalu di depannya.  Seperti musim Asuh birahi di kampung. Lidah sang asuh menjulur keluar,- mulutnya sedikit terbuka,- seakan ingin mengatakan,- itu di depan ada wanita china, cantik putih… mungkin seperti saya…, haha,- seakan sang anjing memberi isyarat hati-hati di Geylang lorong 8 ini , banyak kemungkinan bisa terjadi. ***

Peta lorong Geylang

Saya melanjutkan perjalanan kaki menyelusuri lorong 10,12,14,16 dan lorong 18 yang menurutku memiliki persamaan,- dimuara lorong selalu ada kedaikedai kopi, yang mentediakan minuman beralkohol, minuman dan makanan china, melayu, dan terakhir makanan India. Hanya di lorong 18 saya sedikit terkesan karena disini jalan-jalan yang termaran,- tidak tampak wanita-wanita berdiri dipinggir jalan,- hanya beberapa jangket, saya sebut saja jangket,- karena para lelaki yang menjadi gaet untuk mengajak para peselancar di loronf 18 ini akan ditawar wanita penghibur,- yang umumnya berkebangsaan Tailand. Dengan gaya khasnya para jangket,- bisa membaca berarsal dari mana calon pembelinya, dan sudah pasti bisa berbahasa sesuai dengan orang yang di temui. Mula-mula mereka mengira saya adalah dari Philiphina,- karena postur tubuh saya mereka yakini sebagai orang philiphine, dia menyapa saya dalam bahasa Tagalog,- beraksen china.  Lalu saya diam saja, mereka melancarkan bahasa Tailand Tog-tog .. hahaha saya juga tidak mengerti bahasa negeri kaos merah itu. Mungkin sang jangket tidak mengirah saya bisa berbahasa China,- karena saya memiliki kumis. Kebanyakan pria china tidak berkumis,- akhirnya mereka menggunakan bahasa melayu,- masih dalam aksen china. Sambil mempersilakan saya masuk kedalam,- untuk melihat show room. Yang didalamnya bersusun wanita memakai baju ketat, sedikit terbuka,- dan memasang nomornya tepat di belahan dadanya. Sang jangket menerang ini dan semua dilorong 18 ini adalah tempat yang mayoritasnya orang Tailand. Tarif kencang 40 dolar per 30 menit, lewat 5 menit dihitung kencang 2 kali 30 menit artinya harus membayar 40 dolar dikali 2. Melihat saya dingin saja, sang jangket menawarkan dan memperkenalkan para wanita penghiburnya,- yang tersusun dalam sown room,- dengan sorotan lampu terang. Disini yang pakai nomor 3 digit,- semua bisa mandi kucing. Yang2 digit itu baru. Saya tidak mengejar lebih jauh baru disini,- tapi sebelumnya mungkin sudah lama di Jakarta. Setelah pihak Imigrasi Indonesia memperketat pengawasan,- mereka di rolling ke Singapura. Atau mereka juga sebelum di Singapura,- bekerja sulu di China, Di Malaysia, di pholiphina ? Saya takut untuk berterus terang. Tapi saya menunjukan isyarat saya tidak tertarik. Dan bergerak keluar ruangan.

Dari lorong 18 saya menelusuri jalan tembusan ke lorong 20, disini saya melihat banyak sekali wanita berkulit hitam, dan memakai pakaian Sari. Semacam pakaian khas Wanita India dan Pakistan,- wanita wanita berbaju Sari sepertinya dia tidak perduli dengan saya,- tidak mencoba menggoda saya,- mungkin dia sudah tahu dan terbiasa bahwa lelaki Asean tidak terlalu menyukai yang berkulit gelap. Mereka sepertinya lebih senang menggoda lelaki yang sejenis dengan neraga asalnya,- disamping memiliki persamaan bahasa, dan tentu persamaan lainnya.  Konon Tarif Wanita  India ini adalah termurah di Geylang, dan nomor 2 termurah disini wanita-wanita yang berasal dari Indonesia.

Asuh di lorong Geylang, tidak menggonggong walau ada saingan pencari mangsa.  untuk mengamati kehidupan, pernak pernik di geylang. Disini ada hotel murah dan bahkan termurah di Singapura. Tapi siapkan anda tinggal disekitar prostitusi ? Aneka wanita pekerjaan seks komersial beroperasi disini. Dari Jawa,- dari Tailand,- China, India, Usbek dan banyak lagi.

Setelah capek pusing pusing,- putar putar di lorong Geylang,- yang jadi perhatian saya tetap anjing-anjing atau bahasa jawa disebut Asuh,- kebanyakan, anjing disini semua Obesitasa dan malas menggonggong. Dia tidak perduli dengan pera pencari mangsa yang lalu lalang disana.

Saya mulai menyadari sedikit perbedaan antara lorong-lorong di Geylang dengan pusat-pusat prostitusi di Indonesia, sepertinya dari warna musik. Di Geylang kita tidak akan menemukan musik dangdut,- seperti di Gang Dolly Surabaya, atau seperti di Kali Jodoh Jakarta, Atau seperti Sunan Kuning di Semarang, dan banyak tempat-tempat prostitusi di Indonesia yang merak dengan musik dangdut.

Lokalisasi disudut manapun, memiliki persamaan para penghibur,- menghisap rokok (Dengan rokok ditangan seperti kata Iwan fals dalam lagu doa pengobral dosa), memiliki sifat agresif untuk menarik dan menggandeng lelaki. Untuk segera Chek inn. Oke saya tidak ingin sok tahu soal dunia satu ini,- jika anda ingin mencari hotel yang bertarif murah datanglah ke Geylang. Pertanyaannya siapkan anda tinggal dan nginap dengan lokasi prostitusi ?

Maaf untuk pembacaku yang wanita,- ini fakta.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 5 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 7 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 8 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 9 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: