Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Hans Rangkat

Hanya punya 100 kata...!!

Antara Abu Dhabi dan Jakarta (Etihad..???)

HL | 02 June 2010 | 21:01 Dibaca: 1922   Komentar: 16   1

Tampak depan pintu terminal keberangkatan khusus Etihad Airways Abu Dhabi International Airport

Tampak depan pintu terminal keberangkatan khusus Etihad Airways Abu Dhabi International Airport

“Which terminal…., Pare..??” tegur sopir yang asli Pakistan ini memecah kesunyian saat taksi yang kutumpangi telah masuk areal bandara. Langsung saja kubilang ke terminal keberangkatan Etihad Airways.

“Pare” adalah panggilan akrab untuk laki-laki asal Filipina. Mungkin karena susah bagi mereka untuk membedakan wajah Filipina dan wajah Indonesia yang memang hampir tidak ada bedanya. Terus kalaupun mereka tahu aku berasal dari Indonesia, apakah mereka akan memanggilku dengan panggilan Mas, Bang, Kang, ataupun Cak? Rasanya belum ada deh orang asing yang memanggilku seperti itu.

Waktu hampir menunjukkan jam 22.30 malam saat taksi merapat di pelataran parkir terminal Abu Dhabi International Airport. Meskipun baru menginjakkan kaki di depan pintu terminal keberangkatan rasanya bayangan Indonesia sudah di pelupuk mata. Seolah-olah Indonesia ada di balik pintu keberangkatan itu. Padahal masih ribuan kilometer lagi yang harus ditempuh dengan penerbangan sekitar delapan jam lebih. Rasa kangen akan negeri tercinta selalu membuncah di dada. Apalagi disaat-saat kepulangan ke tanah air sudah dekat. Memang benar kata orang tak ada tempat terindah kecuali di negeri sendiri, setidaknya itulah yang kualami dan kurasakan meskipun telah tiga tahun lebih terdampar mencari peruntungan di Abu Dhabi.

Beberapa langkah menjelang pintu masuk terminal, di sebelah kanan pintu kulihat beberapa orang asyik mengepulkan asap rokok. Yah, ini adalah tempat favorit bagi perokok sebelum masuk ke dalam pintu utama bandara. Soalnya begitu masuk bandara agak susah mencari tempat untuk merokok. Kulihat jam masih terlalu dini untuk check in, karena pesawat yang ke Jakarta nantinya baru akan boarding sekitar jam 01.45. Artinya masih ada banyak waktu untuk berhembus ria dengan asap rokok. Dengan langkah tegap sempurna langsung aja belok kiri bergabung dengan mereka untuk memberi andil polusi udara melalui sebatang dua batang rokok.

Bagiku merokok bukan hanya sekedar wujud untuk memberikan andil dan sumbangsih bagi polusi dunia, tapi juga merupakan ajang silaturahmi. Mau buktinya? Setelah bergabung dengan mereka di smoking area itu, aku langsung terlibat perbincangan akrab dengan dua orang diantara mereka yang ternyata adalah arek Malang.

Masuk ke barisan antrian untuk check in tidak perlu berlama-lama antri, karena ada banyak counter check in yang melayani semua penerbangan Etihad ke semua tujuan. Pelayanannya cepat dan sama sekali tidak ruwet. Asal semua dokumen lengkap dan bagasi tidak over weight, lima menit berikutnya kita sudah bisa di proses ke step selanjutnya yaitu pemeriksaan imigrasi.

Dengan senyum yang menawan dan merontokkan iman, petugas cewek counter check in yang berwajah Asia ini memanggilku untuk datang menghadap ke counternya. Tebakanku petugas cewek pasti Filipina.

“Magandang gabi Pare…, na kung saan kayo ay pumunta…?”  (“Selamat sore kawan, anda mau pergi kemana…?” bahasa tagalong)

Ternyata benar dia orang Filipina, dengan logat Tagalog kentalnya dia mulai menyapa.

“Ooppss…. Sorry, I thought you are Filipino…” terkejut dia saat kutunjukkan paspor warna hijau berlogo burung Garuda. Lalu dengan sedikit perbincangan sambil tanya ini itu, beres juga proses check in.

Jam 1.30 proses boarding sudah dimulai. Suasananya meriah dan semarak di gate nomor 35, atau bisa dikatakan sedikit heboh ketika pengumuman boarding diumumkan lewat pengeras suara. Mayoritas penumpang yang adalah perempuan semakin menambah meriah suasana. Barisan boarding segera terbentuk rapih. Wajah sumringah dan berseri semakin terpancar dari wajah-wajah TKW para pahlawan devisa ini. Sempat berbincang sebelumnya dengan seorang TKW asal Indramayu. Yang telah menjadi TKW sebagai baby sitter di UAE lebih dari empat tahun. Dan selama itu si mbak belum pernah pulang ke Indonesia untuk menjenguk orang tua, anak dan suaminya. Sungguh perempuan ini adalah pahlawan sejati, pahlawan bagi keluarganya, dan pahlawan devisa bagi negerinya.

Keriuhan dan kemeriahan suasana terus berlanjut sampai di dalam pesawat. Dari yang sibuk mencari tempat duduk, sampai yang berusaha menaruh barang bawaan yang seabreg-abreg ke dalam bagasi di dalam cabin penumpang. Maklum yang namanya orang pulang kampung selalu harus direpotkan dengan segala macam barang bawaan, apalagi yang memang sudah bertahun-tahun tidak pulang ke tanah kelahiran. Rute penerbangan Abu Dhabi ke Jakarta termasuk rute yang menjadi andalan bagi Etihad Airways, karena penerbangannya yang selalu ramai. Karena tidak hanya penumpang yang berasal dari Abu Dhabi yang memanfaatkan rute ini, tapi juga penumpang transit dari Arab Saudi, Oman, Qatar dan beberapa Negara di timur tengah.

Penerbangan Abu Dhabi ke Jakarta adalah perjalanan panjang sekitar delapan jam lebih. Semua sibuk dengan urusan dan kerjaannya masing-masing. Ada yang sibuk mengutak-atik channel pada layar touch screen di depan tempat duduknya, ada yang berbincang dengan teman sebelahnya, tapi sebagian besar memilih tidur dan pergi kedalam alam mimpinya masing-masing. Aku pun lebih memilih untuk tidur setelah menamatkan satu film nasional Get Married-nya Nirina Zubir yang cukup membuat diri ini senyum-senyum sendiri. Baru terbangun lagi setelah waktunya pembagian makanan dibagikan.

Proses landing di Soekarno-Hatta berlangsung mulus. Dengan satu sentuhan yang lembut roda Etihad menyentuh bumi Pertiwi. Puji syukur atas tuhan terucap dari mulut-mulut penumpang yang sebelumnya terlihat sedikit tegang menghadapi proses landing ini. Maklum, di dunia penerbangan salah satu critical time adalah saat-saat dimana pesawat akan melakukan take off dan landing. Dan sekarang semuanya telah dilewati dengan sempurna.

Bahkan karena gembiranya, ada beberapa orang yang bersorak dan bertepuk tangan dari barisan kabin penumpang sebelah belakang. Setelah sekian tahun mereka meninggalkan tanah air, kini saatnya mereka untuk bersuka cita berkumpul kembali dengan keluarga. Bersorak dan bertepuk tangan kan juga tidak dilarang didalam perarturan penumpang yang melakukan penerbangan. Yang dilarang adalah ketika beberapa diantara mereka ada yang sudah melepaskan ikatan sabuk pengaman dan berdiri untuk menurunkan barang dari dalam bagasi di dalam kabin penumpang, padahal pesawat belum berhenti dengan sempurna.

Begitu pintu pesawat dibuka, langsung kaki-kaki serentak melangkah tegap, secepat dan selebar mungkin. Target utama adalah untuk secepatnya mencapai pintu imigrasi. Karena terlambat beberapa menit saja, tentu barisan antrian di pintu imigrasi akan memanjang layaknya ular naga. Sepanjang perjalanan ke pintu imigrasi suasana khas Indonesia mulai terasa. Beberapa petugas cleaning service berusaha menawarkan sim card atau kartu pra bayar.

Aku kurang beruntung, karena di pintu imigrasi ternyata antrian telah memanjang. Mungkin ada beberapa penerbangan yang waktu kedatangannya hampir bersamaan dengan pesawat yang kutumpangi. Sekali lagi, khas Indonesia kembali terasa. Setiap ada antrian, pastilah sangat panjang. Dan yang lebih menyebalkan karena tidak semua counter imigrasi bekerja melayani penumpang. Ada sekitar dua atau tiga counter yang tutup, kenapa sih mereka tidak memaksimalkan pelayanan terutama di saat-saat sibuk seperti ini.

Setelah keluar dari lobby bandara kedatangan, aku masih harus menunggu beberapa saat. Karena keluarga yang akan menjemput masih terjebak kemacetan di tol dalam kota. Tidak bisa diprediksikan akan berapa lama mereka akan tiba.

Satu jam menunggu telah banyak yang ku dapatkan selama penantian ini. Orang datang silih berganti, dari sopir taksi, tukang semir sepatu, penjual jam dengan merek-merek terkenal, penjual minyak wangi, sampai penjual obat kuat tak henti-henti datang menyambangi….

Selanjutnya di hari-hari kedepannya akan semakin banyak lagi keunikan-keunikan yang bikin kangen yang cuma bisa aku jumpai di negeri tercinta ini. Makan lesehan dipinggir jalan sambil diiringi music kecrek-kecrek pengamen cilik jalanan, suara sumbang yang membentak-bentak dari pembaca puisi jalanan, adu mulut dengan petugas parkir karena uang kembalian yang kurang, nongkrong di ujung gang atau pos ronda sambil minum bandrek ditemani kueh putu atau singkong goreng, suara tok-tok penjual mie dorong yang memecah kesunyian malam…..

Ahh… Indonesia dan Jakarta memang selalu bikin kangen dengan segala hiruk pikuk dan tingkah polah orang-orang yang hidup didalamnya. Semua suasana ini akan dapat aku nikmati selama dua pekan semenjak kedatanganku hari ini. Selanjutnya untuk dua atau tiga bulan berikutnya akan kembali lagi ke rytme rutinitas yang seolah-olah siklus yang begitu terskema, begitu teratur, dan begitu……monoton…!!!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 10 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 11 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 12 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: