Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Hans Rangkat

Hanya punya 100 kata...!!

Bis Malam itu… Antara Cilegon dan Yogyakarta…

REP | 04 June 2010 | 02:48 Dibaca: 5149   Komentar: 12   3

Terinspirasi dari cerita seorang teman yang baru saja melakukan perjalanan darat yang panjang dari Medan menuju Jakarta menggunakan bis AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), sontak ingatanku kembali teringat ke sekitar tahun 95-an sewaktu masih jadi anak kost di kota industri Cilegon. Saat itu angkutan udara masih terbilang sesuatu yang mewah. Bukan saja harga tiketnya yang luar biasa mahal jika dibandingkan tiket bus antar kota. Juga pilihan pesawat pun belum begitu banyak seperti sekarang. Karena kondisi tersebut, untuk urusan mudik atau berpergian ke kota lain pun pilihannya selalu jatuh pada bis antar kota, atau sesekali menggunakan kereta api.

Pengen lagi ngerasain perjalanan ke Yogya dengan bis-bis kayak gini

Pengen lagi ngerasain perjalanan ke Yogya dengan bis-bis kayak gini

Ada satu cerita lucu atau bisa juga dibilang tragis saat melakukan perjalanan ke Yogyakarta dari Cilegon menggunakan bis PO. Putra Remaja. Dari Cilegon bis berangkat sekitar jam 14.30 sore dengan kondisi penumpang yang tidak terlalu banyak. Jadi ada banyak kursi yang kosong. Kebetulan kursi disebelahku juga kosong dengan posisi kira-kira  tiga baris dari belakang pak sopir. Aku yakin sampai ke Yogyakarta nanti jumlah penumpang tidak akan bertambah, setahuku waktu itu bis ini tidak pernah menaikkan penumpang di jalan. Jika ketahuan menaikkan penumpang di jalan, maka bisa tamat lah karir si sopir di perusahaan ini. Setidaknya begitulah cerita temanku mas Yatno yang asli Yogya yang memang pelanggan setia bis ini.

Setelah beberapa jam bis berjalan, aku mulai rebahan memanfaatkan kursi sebelah yang kosong. Dengan tubuh ditekuk sedikit, jadilah perjalanan menuju alam mimpi pun dimulai. Apalagi ada fasilitas tambahan berupa selimut dan bantal kecil, maklum bis nya kelas executive…. hehehehe. Mana bis nya wangi dan bersih banget. Ada toilet yang lumayan bersih, cuma smoking area aja yang belum ada. Eh kalo nggak salah dulu juga kita dikasih snack kotak plus minuman A**a gelas deh kayaknya.

Agak maleman dikit, lupa jamnya, bis berhenti untuk memberikan kesempatan penumpang beristirahat dan makan malam. Kalau nggak salah rumah makan di daerah Waleri or Pamanukan gitu… Lupa namanya, pokoknya rumah makannya lumayan gede, karena aku lihat ada banyak bis-bis antar kota lainnya yang juga beristirahat disitu. Tempat parkir hampir penuh oleh bis-bis gede.  Jadilah kita  istirahat makan malam disini.

Kurang dari satu jam kemudian, melalui pengeras suara diumumkan bahwa bis yang kutumpangi akan segera melanjutkan perjalanan lagi, dan seluruh penumpang dipersilahkan untuk menaiki bis nya lagi.

“Para penumpang bis PO. Putra Remaja no…. dari Cilegon tujuan Yogyakarta dipersilahkan menaiki bis anda kembali….. Periksa kembali semua barang bawaan anda jangan sampai tertinggal…. Terimakasih, semoga selamat sampai tujuan…. dan sampai jumpa lagi…”

kira-kira begitu deh pengumumannya, hehehehe… Kalimat ini selalu diulang-ulang oleh petugas tiap kali ada bis yang mau berangkat. Tinggal mengganti nama bis dan tujuannya aja. Nice dan easy job…..

Kayak gini deh kira-kira bayangannya rumah makan yang disinggahi bis-bis antar kota

Kayak gini deh kira-kira bayangannya rumah makan yang disinggahi bis-bis antar kota

Pas  balik lagi ketempat duduk semula, kulihat ada seorang bapak berseragam aparat keamanan yang sudah duduk dengan santainya. Tanpa rasa bersalah dan dengan wajah yang innocent banget si bapak malah menduduki semua kursi itu seolah-olah tidak memberikan ruang bagiku untuk ikutan duduk.

Aku jadi serba salah, mau dibilangin takut si bapak tersinggung. Tapi kalo nggak dibilangin si bapak ini nggak akan beranjak dari tempat duduknya. Apa karena dia merasa sebagai aparat negara sehingga seenaknya mengambil tempat duduk orang? Ah… perduli amat, mau dia aparat atau apalah, yang penting hak-ku sebagai si empunya kursi harus kudapatkan kembali. Ini kan bis umum, memangnya bis negara….. Aku udah bayar untuk ini, jangan mentang-mentang aparat negara bisa begitu pikirku. Padahal nyaliku udah ciut bo….

“Bapak permisi…., ini tempat duduk saya” duh, udah sopan banget deh pokoknya bilangin si bapak. Tapi si bapak tetap aja kekeuh, malah bilang gini… “Saya dari berangkat tadi sudah duduk disini dik…, cari aja tempat duduk yang lain, tuh banyak yang kosong…!!”

“Bapak yakin..?? kayaknya saya deh pak yang duduk disini…” masih mencoba nego dengan si bapak, orang aku yakin bener itu adalah tempat dudukku. Lagian dari berangkat pertama tadi aku nggak melihat ada bapak berpakaian aparat yang ikut sebagai penumpang di bis ini. “Tuh buku TTS ku juga ada dibangku ini…” lanjutku sambil menunjuk buku Teka-Teki Silang yang selalu kubawa-bawa buat iseng selama perjalanan. Jaman dulu kan cuma TTS buat hiburan dijalan, soalnya hand phone  buat ber-sms ria or maen game kan cuma buat orang yang berduit waktu itu, hehehehe….

“Nih… ambil aja bukunya dik…” gitu deh katanya enteng. Akhirnya sambil ngedumel (dalam hati sih ngedumelnya…., soalnya nggak bakalan berani kalo ngomong, soalnya yang dihadapin aparat sih,…) aku cari lagi tempat di belakang diiringi pandangan aneh penumpang-penumpang lain. Aku nggak sadar waktu itu kenapa semua mata memandangku (or memandang si bapak aparat??) dengan pandangan aneh. Beruntung ada tempat yang kosong buat selonjoran lagi. Tapi tetap aja hati ini nggak rela…. nggak rela….nggak rela deh pokoknya.

Sebelum bis mulai berjalan  si kenek bus sempat berkeliling menghitung jumlah penumpangnya, takut ada yang ketinggalan. Saat si kenek datang kearahku, aku sempat berbisik pada si kenek perihal bapak aparat itu sambil menunjukkan tiket ku bahwa kursi yang diduduki si bapak aparat adalah kepunyaanku. Juga aku nggak yakin si bapak aparat itu adalah bagian dari penumpang bis ini.  Si kenek pun berusaha mendatangi si bapak, terlibat perbincangan sebentar disana. Tapi lagi-lagi si bapak tetap kekeuh bahwa kursi itu adalah tempat duduknya. Si kenek sempat menanyakan tiket kepada si bapak, dan si bapak sibuk merogoh kantongnya, tapi tiket tidak ditemukan. Dicari didompet pun juga nggak ada, mungkin dia lupa naruhnya dimana. Akhirnya pak sopir pun turun tangan, setelah terjadi perdebatan cukup alot akhirnya si bapak aparat bisa diungsikan ke tempat yang lain. Akupun kembali lagi ke singgasanaku semula. Hehehehe… biar bagaimanapun kebenaran akan berpihak. Salut sama crew PO. Putra Remaja yang bertugas waktu itu.

Dan perjalanan pun dilanjutkan setelah si kenek memastikan jumlah penumpang sudah sesuai dengan jumlah waktu berangkat dari Cilegon tadi. Tapi suweerr…. hati ini jadi nggak tenang, takut si bapak tadi marah dan emosi. Bisa gawat nih, apalagi yang dihadapi adalah aparat. Ada rasa sesal dihati, kenapa aku nggak mengalah aja sih?? Toh masih banyak tempat duduk yang kosong. Tapi sudahlah, ini sudah terjadi. Lagian sebagai aparat keamanan aku yakin dia bisa menerima ini, tugas aparat keamanan kan adalah untuk mengayomi dan melindungi rakyat. Pikirku menghibur diri.

Malam sudah larut, akupun berusaha melupakan kejadian ini dan bersiap-siap untuk berangkat kealam mimpi lagi. Beberapa orang  masih menyempatkan menonton film jadul video melalui layar tv 14″ yang dipasang dibagian depan. Belum sampai sepuluh menit perjalanan tiba-tiba bis berhenti agak mendadak setelah sebelumnya bis disusul oleh bis lain. Dan bis yang menyusul itu juga berhenti tepat didepan bis yang kutumpangi. Ada apa gerangan? Dalam keremangan malam kulihat bis yang menyusul tadi adalah  bis PO. Lorena atau apalah gitu, yang jelas warnanya putih sama ijo. Ah, paling sesama sopir bis sedang ada perlu, begitu pikirku. Kulihat juga si kenek bis sempat membuka pintu dan turun dari bis.

Bis malam, berangkat sore nyampe besok pagi...

Bis malam, berangkat sore nyampe besok pagi…

Bis malam, makan pun ditengah malam

Ini nih baru Rosalia Indah

Beberapa saat kemudian lampu didalam bis dinyalakan, seketika suasana berubah jadi terang benderang. Diikuti dengan naiknya seorang ibu-ibu yang pindah dari bis yang menyusul tadi. Rupanya si ibu ini adalah penumpang bis ini yang ketinggalan, sewaktu bis berangkat dari rumah makan tadi, si ibu ini sedang di dalam toilet. Lalu kayaknya dia melapor ke petugas dirumah makan tadi, dan dinaikkanlah si ibu ke bis yang menyusul tadi, dengan harapan akan ketemu lagi dengan bis ini ditempat peristirahatan berikutnya. Pihak petugas di rumah makan tadi juga sudah menghubungi petugas yang akan ditemui ditempat peristirahatan nanti, begitulah skenarionya. Tapi beruntung bis kita masih bisa disusul oleh bis yang ditumpangi ibu ini barusan. Sehingga nggak perlu harus menunggu sampai ke peristirahatan berikutnya.

Lalu pertanyaan pun timbul. Lho, berarti penumpang kita kelebihan satu orang dong? Nah lo…. Kontan aja si kenek dan pak sopir dibuat bingung. Dalam kebingungan dan kekalutannya (dramatis banget sih…..) si bapak aparat yang tadinya berseteru denganku (hehehehe….) tiba-tiba angkat bicara.

“Sebentar…. ini bis mau kemana toh…??… ke Yogya ya….???” tanyanya sambil celingukan.

Koor beberapa penumpang menjawab “ya……..”

“Waduh, gawat iki… piye toh, aku kan mau ke Jakarta….” mulai panik nih si bapak sambil berjalan kearah pintu depan. Usut punya usut, ternyata si bapak ini dari Solo mau ke Jakarta.

“Tadi bapak naik bisnya apaan….” kali ini pak sopir yang nanya.

“Rosalia Indah pak, dari Solo mau ke Jakarta…” jawab si bapak.

“Oala… piye toh pak?? ini kan Putra Remaja, bukannya Rosalia Indah… wong warnanya aja beda…” pak sopir menjelaskan, si bapak cuma bengong.

“Sampean gimana sih? kok ndak di cek dulu penumpangnya…?” tambah marah deh pak sopir, tapi marahnya ke si kenek, bukan ke bapak aparat. Si kenek kayaknya berusaha membela diri, tapi percuma sih, kan ada istilah atasan selalu benar….

Akhirnya diputuskan untuk kembali lagi ke rumah makan tadi, karena menurut pak sopir bis Rosalia Indah yang ditumpangi si bapak kemungkinan masih ada di rumah makan. Apalagi karena jumlah penumpang yang kurang, kemungkinan bis Rosalia Indah akan terlambat berangkatnya. Juga mengingat jarak dengan rumah makan tadi belum terlalu jauh. Ya udah deh, atas dasar rasa senasib sepenanggungan, dan suka tidak suka semua penumpang mengiyakan, nurut apa kata pak sopir.

Tiba dirumah makan tadi, benar saja bis Rosalia Indah masih parkir disitu tapi dengan posisi siap jalan. Langsung aja si bapak tadi loncat keluar dan lari menuju bis nya diiringi gerutuan orang satu bis. Hehehehehe…. selamat jalan bapak…

Dalam hati aku sedikit terhibur tapi sekaligus merasa kasihan dengan insiden ini, lagian si bapak juga sih, masak nggak ngerasa aneh dengan keadaan sekitar. Sewaktu aku mengambil buku TTS tadi harusnya si bapak sudah merasa aneh dan berusaha mencari tahu apa keanehan itu.

Jadi pelajaran dari cerita ini adalah untuk selalu peka dengan keadaan sekitar. Jangan menutup diri dan merasa dirinya selalu benar dengan keadaannya. Kalau mengadakan perjalanan jarak jauh, dengan menggunakan fasilitas angkutan umum, usahakan mengenal atau setidaknya mengingat ciri-ciri orang yang berpergian bersama-sama dengan kita.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Kami Hadir di Kompasianival …

Hibah Buku | | 21 November 2014 | 17:54

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 8 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 9 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: