Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Sjarifuddin Josuf

Tamat ABA thn. 1978, kemudian mengajar bhs.Inggris di Surabaya, Jakarta dan Tangerang. Sekarang berdiam di New selengkapnya

Menaiki Patung “Liberty” di New York City

HL | 04 June 2010 | 01:55 Dibaca: 492   Komentar: 16   4

Seminggu setelah tiba di New York City saya dibawa ipar saya , Budy Lodewijk almarhum mengunjugi patung “liberty” yang letaknya agak ditengah sungai Hudson. Jadi harus naik motor boat kalau

Mau kesana, tentunya antri dulu yang kadang-kadang memakan waktu ber-jam-jam baru bisa naik ke boat.

Kesempatan ini biasanya dipergunakan oleh orang hitam buat cari uang, dengan cari mempertunjukkan kebolehannya main akrobat, jungkir balik gitu. Ngeri juga melihatnya.

Tapi bule-bulenya mah acuh aja, mereka terus tepuk tangan.Kalau saya lihat mah biasa2 aja, kalau dibandingkan dengan atraksi ketangkasan diIndonesia, masih kalah jauh.

Perjalanan ke tengah sungai memakan waktu sekitar 30 menit (kalau tidak salah).Setelah sampai di sana kita buru-buru lagi ngantri untuk bisa masuk ke dalam (di Amerika sini, di-mana-mana ngantri, jadi jangan heran kalau mau ke W.C juga ngantri). Waktu ngantri di sini relative, karena banyak juga pengunjung yang datang cuman lihat-lihat di sekeliling patung, tidak naik keatas. Cuman duduk melepas lelah atau makan di cafetaria. Saya sendiri masuk waktu itu, ditunggui ipar saya diluar karena dianya sudah pernah coba.

Liberty/Admin (shutterstock)

Liberty/Admin (shutterstock)

Setelah dapat giliran, kita memasuki elevattor yang cukup besar, sampai ditingkat berapa saya sendiri lupah (mungkin pak Joeseph bisa mengingatkan). Yang pasti kita tiba di lobby tempat jual cendera mata, dan foto-foto tentang patung Liberti dan kota Manhattan dan sekitarnya.

Nah, dari sini kita mulai naik tangga, yang kalau saya tahu, tidak mau saya naiki. Kenapa? Karena tangganya panjang banget, lalu tempatnya makin lama, makin mengecil, sesuai dengan ukuran tubuh dari patung tersebut. Jadi kita di dalam naik tangga persis untuk satu orang saja, tidak ada ruang lagi.

Kemudian, makin ke atas, udara di dalam makin pengap. Nasehat saya kalau anda punya penyakit jantung dsb.nya pikir dua kali aja, soalnya kalau mau turun tidak mungkin lagi, karena harus berpapasan dengan orang dibawah. Syukurlah saya sampai juga di atas (di puncak) dimana kita bisa melihat perahu-perahu dan pulau Manhattan dari ujung kepala patung Liberti (yang berbentuk mahkota). Nah, kita nongolnya di situ setelah bersusah payah.

Diatas kita tidak boleh ber-lama-lama karena orang dari bawah juga akan sampai ke atas. Sedang tempatnya tidak begitu luas.

Jadi belum hilang penatnya, sudah harus turun lagi.

Kita balas saja dengan makan makanan Amerika di kantin sepuasnya.
Sekian

Salam kompak kompasiana

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kurikulum 2013: Buku, Seminggu Dibagikan …

Khoeri Abdul Muid | | 20 August 2014 | 17:25

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Keluarga Pasien BPJS: Kenapa Dokter Tulis …

Posma Siahaan | | 20 August 2014 | 12:48

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 7 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 11 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 11 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: