Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Makam Sunan Tembayat

REP | 14 July 2010 | 05:32 Dibaca: 1829   Komentar: 13   2

Bayat merupakan salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Selain terkenal dengan penghasil gerabah dan obyek wisata Rawa Jombor , terdapat juga makam yang namanya sama dengan daerah ini yaitu makam Sunan Tembayat atau Sunan Pandanarang. Rawa Jombor atau lebih dikenal dengan Warung Apung karena warung makan dengan sajian aneka ikan ini mengapung di atas air, sudah beberapa kali saya kunjungi dan menjadi agenda wajib buka bersama dengan teman-teman SMA setiap kali Ramadhan. Sedangkan untuk berbelanja aneka kerajinan gerabah tidak perlu bersusah ria karena di sepanjang jalan Bayat- Cawas banyak toko yang menjual produk gerabah. Dan di jalan Bayat-Cawas yang setiap kali berangkat ke Jogja saya melewatinya, terdapat makam Sunan Tembayat. Ketika melewati jalan ini saya sering berpapasan dengan rombongan bus-bus besar dari luar kota seperti Bandung, Jombang, Gresik, Surabaya dan lain-lain. Hal ini lah yang membuat saya penasaran dengan makam ini karena sekalipun saya belum pernah ke sana.

Pada hari Minggu (11/07/2010) saya bersama adik mengunjungi makam Sunan Tembayat di desa Paseban, Bayat. Perjalanan ke makam ini dari rumah kurang lebih 15 menit. Setelah mencari tempat parkir kami menuju komplek makam. Setiap peziarah hanya dikenakan biaya retribusi Rp 750, 00, sangat murah. Untuk masuk ke areal makam kami harus menaiki tangga kerana letak makam berada di sebuah bukit yang bernama Bukit Jabalkat. Dan baru menaiki beberapa tangga saya sudah ngos-ngosan. Setelah sampai di areal makam rasanya lega tetapi rasa haus dan capek mulai terasa apalagi cuaca cukup panas dan kami tidak membawa minum.

Sebelum masuk ke makam, peziarah diharuskan melepaskan alas kakinya. Dan tidak perlu khawatir sepatu atau sandalnya akan hilang karena di sana disediakan tempat penitipan sandal dan sepatu dan ada penjaganya. Begitu masuk areal makam ini kita dapat melihat masjid. Bangunan masjid ini tidak terlalu luas dan bentuk bangunannya seperti rumah Joglo. Di Serambi masjid terdapat dua bedug. Di depan masjid ini juga terdapat papan informasi mengenai makam ini. Penjelasan secara singkatnya makam ini adalah makam seorang adipati dari Semarang yang bernama Ki Ageng Pandanarang. Beliau ditugaskan oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah di daerah pegunungan bagian selatan. Setelah sampai di Bayat, beliau menetap dan dikenal dengan nama Sunan Bayat atau Sunan Tembayat.

Komplek makam Sunan Tembayat terbagi atas enam halaman, masing-masing dipisahkan oleh tembok keliling dan pintu masuk. Cungkup makam Sunan Tembayat terletak pada halaman terakhir yang merupakan halaman terakhir dan tersuci. Bagian- bagian yang dianggap kuno dari komplek makam ini dari kaki hingga puncak bukit yaitu:

  1. Gapura Segara Muncar yang berbentuk candi bentar
  2. Gapura Dhudha berbentuk candi bentar. Disebut demikian karena pada saat ditemukan tinggal bagian kiri dan dipugar pada tahun 1978.
  3. Gapura Pangrantunan berbentuk paduraksa tanpa pintu
  4. Gapura Panemut berbentuk candi bentar
  5. Gapura Pamuncar berbentuk candi bentar seperti Gapura Panemut
  6. Gapura Bale Kencur berbentuk paduraksa dengan daun pintu
  7. Bangunan-bangunan makam keluarga dan pengikut Sunan Tembayat
  8. Dua padasan bernama Kyai Naga
  9. Bangunan cungkup dan makam Sunan Tembayat

Selain bangunan di atas yang sudah ada sejak dulu, terdapat pula bangunan baru seperti makam, bangsal dan pintu masuk.

Saya kagum dengan arsitektur areal makam ini. Bentuk gapura yang memisahkan antara halaman satu dengan lainnya sangat unik. Dan komplek makam ini terawat dengan baik sehingga terlihat asri. Hal yang menarik di sini adalah adanya padasan atau tempat menampung air yang biasanya digunakan untuk berwudhu. Dua padasan yang diberi nama Kyai Naga ini memang berisi air dan peziarah menggunakan air ini untuk membasuh muka dan ada yang meminumnya bahkan banyak yang membawa botol air untuk membawa pulang air dari padasan ini. Saya tidak tahu khasiatnya, kemungkinan peziarah berharap mendapat berkah dari air ini. Terbukti banyaknya peziarah dari lur kota yang sudah mempersiapkan botol air minum. Kami pun juga mencobanya karena cuaca sangat panas rasanya cukup segar membasuh muka dengan air. Penasaran, saya pun merasakan air dari padasan ini. Rasanya ya seperti air putih biasa.

Bangunan cungkup dan makam Sunan Tembayat yang rasanya sangat berbeda dengan halaman luar tadi. Di halaman luarnya ada dua penjaga makam yang sudah cukup tua. Kami pun dipersilakan masuk oleh beliau. Karena hanya berdua rasanya jadi agak mengerikan. Di dalam makam tersebut terdapat juga makam lainnya tetapi saya tidak tahu makam siapa dan makam tersebut ditutupi dengan kain putih. Sedangkan makam Sunan Tembayat terdapat di dalam cungkup sehingga kami tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aroma kematian dan bayangan kakek saya yang sudah meninggal menari-nari di pikiran saya. Setelah berdoa kamipun keluar dari makam tersebut. Di luar makam yang ditunggui oleh penjaga ini juga disediakan kotak amal.

Saat kami keluar, penjaga makam mendoakan kami agar diberi kelancaran dalam menuntut ilmu. Saya juga sempat berbincang sebentar dengan salah satu penjaga makam. Dan hal yang menarik bagi saya adalah ketika beliau menanyakan status saya sebgai pelajar. Beliau mengira saya masih SMA. Saya pun menjawab bahwa saya sudah kuliah. Pertanyaan berikutnya adalah jurusan apa yang saya ambil. Berhubung banyak orang yang kurang tahu dengan jurusan saya jadi saya jawab yang umum saja yaitu di jurusan kesehatan. ”Owh, pantesan ada tanda palang merah di bajunya,” komentar beliau. Kebetulan saya memakai kaos kelas yang dibuat waktu saya dan teman-teman kuliah akan mengadakan kunjungan ilmiah ke Surabaya dan Bali. Ada sesuatu yang menyentuh saya sebagai calon tenaga kesehatan. Belaiu pun mendoakan agar saya segera lulus dan mendapat suami yang ganteng… Aminnnn…….matur nuwun donganipun!!!

Setelah berziarah ke makam kita juga bisa membeli oleh-oleh. Banyak pedagang di sisi kanan-kiri tangga masuk tadi yang menawarkan makanan intip goreng, jenang jadi, melon maupun kerajinan gerabah dan batik. Di aeal parkir uga banyak toko yang menjual oleh-oleh.

Akhirnya rasa penasaran saya terbayar sudah dan ziarah kali ini membuat saya bererima kasih kepada Sunan Tembayat yang telah menyiarkan agama Islam hingga ke daerah ini sehingga ALHAMDULILLAH keluarga saya adalah muslim dan tentunya mengingatkan saya akan begitu dekatnya kematian. Semoga saya bisa mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih kekal nantinya dengan sebaik-baiknya.

Salam Kompasiana!!!

Semoga bermanfaat…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 16 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 18 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 19 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 19 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: