Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Abanggeutanyo

Pengamat sosial ini lahir pada 1 Nopember 1965, di RI. Sekarang menetap (kembali) di garis selengkapnya

Api Asmara Bandung - Kualalumpur

REP | 21 July 2010 | 23:20 Dibaca: 1366   Komentar: 9   5

Seorang rekan berprofesi sebagai pemandu wisatawan menyampaikan bahwa ia sering menerima order tamu dari Malaysia minta perlakuan khusus, yaitu antar jemput khusus, hotel atau penginapan khusus, jalan-jalan ke tempat yang khusus dan minta “ditemani” secara khusus juga.

Mereka menyukai wisata belanja ke berbagai tempat dan wisata kuliner bahkan ada juga wisata minat khusus misalnya melihat peluang bisnis dengan penduduk lokal.  Selain itu mereka juga senang berkeliling di seputar Bandung yang mereka istilahkan dengan “pusing-pusing” kota Bandung.

Masalah minta Jalan-jalan ke tempat khusus maksudnya mereka minta ditemani ke tempat-tempat plesiran seperti diskotik, pub, panti pijat dan cafe gaul, factory Outlet, wisata belanja, wisata kuliner, dan wisata alam. Selama di di Bandung.

Masalah minta ditemani secara khusus maksudnya disediakan wanita penghibur selama mereka stay in Bandung (rata-rata) 3 hari. Mereka  mengatakan menyukai gadis-gadis Bandung khususnya dari Sunda yang terkenal samlohay, bohay dan Aduhai.. Mengapa demikian karena menurut mereka  (pengalkuan wisatawan kepada rekan saya tersebut) di negeri mereka jarang sekali menemukan wanita-wanita cantik, ramah, supel dan service memuaskan seperti di Bandung.

Interaksi yang tadinya  hanya iseng-iseng berhadiah, tidak jarang menjadi keterusan, misalnya dengan kesepakatan kawin kontrak atau nikah siri. Biasanya jika sudah 2 atau 3 kali berkunjung ke Bandung dan terus menerima service dari wanita langganannya mereka sepakat  untuk nikah siri atau kawin kontrak.

Apakah karena jalur atau rute penerbangan langsung Kualalumpur - Bandung telah tersedia  dengan bebasnya sehingga berjubel dan membanjir warga Malaysia ke Indonesia khususnya ke Bandung menjadi salah satu faktor penyebabnya,? Entahlah.. Yang jelas dibukanya rute tersebut tujuan utamanya untuk meningkatkan parawisata Indonesia khususnya  Jawa Barat dan menambah pendapatan asli daerah dari sektor parawisata serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya sektor informal.

Jika timbul dampak lainnya akibat dibukanya route tersebut tentu ini adalah dampak sosial yang memang tidak dapat dihindari walaupun sebetulnya sangat kita sesali. Tidak dapat dihindari karena antara ke dua insan dilanda asmara tersebut saing membutuhkan. Yang satu membutuhkan teman ptenghibur selama berada di Bandung yang satu lagi kesempatan memperoleh penghasilan dalam jumlah yang lumayan bersama wisatawan luar negeri (Malysia).

Wisatawan Malaysia yang berkunjung memang sangat meningkat pesat, hingga semester-1 2010 saja pertumbuhannya mencapai 25% dibanding periode sama tahun lalu.

Rata-rata wisatawan asal Malaysia yang datang ke Bandung melalui Bandara Husein sebanyak 7.200 orang per bulan, atau sekitar 90 persen dari wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bandung,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Barat, Herdiwan Iing Suranta di Bandung, Rabu (7/7).

Saat ini IAA (Indonesia Air Asia) melayani rute Bandung-Kualalumpur PP dengan frekuensi 7x seminggu. “Rute itu kami yang pertama kali buka. Sekarang komposisi load factornya 75% diisi turis Malaysia. Sehingga sekarang timbul fenomena kaitan bisnis antara Bandung dan Kualalumpur

Bertambahnya kunjungan wisatawan  di satu sisi semakin bertambah juga manfaat terhadap perekonomian daerah dan masyarakat. Akan tetapi, di sisi lainnya masalah “lautan api asmara “antara Kuala Lumpur dan Bandung kira-kira apa dampaknya beberapa tahun nanti..?  Apakah perlu kita pikirkan dan antisipasi dari sekarang sebelum menjadi masalah sosial nanti..

Masalahnya adalah ketika mereka pulang atau kembali ke tanah airnya, bukan keindahan alam Jawa barat yang mereka promosikan, tapi keindahan wanita-wanita penghibur Jawa Barat. Walau  pun itu hanya dilakoni oleh segelintir saja dari jutaan wanita lainnya yang masih kuat memiliki norma-nirma adat, budaya dan nilai agama, tapi informasi yang sampai di negeri mereka  adalah kebalikannya.

Melihat situasi ini, rekan tersebut mengatakan dia tidak bersedia lagi membawa turis Malaysia yang datang sendiri-sendiri atau rombongan kecil 2-3 laki-laki, kecuali wisatawan Malaysia yang datang bersama keluarganya  (suami, anak dan isteri). Mereka yang datang dengan keluarganya pasti tidak minta yang “berat-berat” seperti lainnya.  “Saya tidak tega dan kurang sreg melihat nya, bang” katanya serius, sambil memperlihatkan photo di HP nya kepada saya.  Photo wisatawan tersebut sedang bermesraan dengan seorang gadis di salah satu  lokasi wisata  sudut kota Bandung  beberapa waktu lalu.

Tentu tidak menguntungkan bagi kita yang memiliki adik atau keluarga wanita bukan?. Oleh karenanya apakah ada sebuah cara untuk mengatasi promosi tentang Bandung atau jawa Barat yang dapat mengeliminir terjangkitnya promosi lautan asmara Bandung di Malaysia secepatnya. Apakah kita yakin bisa mengatasinya?. ..

salam kompasiana

abanggeutanyo.-

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghitung Peluang Jokowi …

Goenawan | | 16 April 2014 | 04:38

Hamil Ikut UN, Boleh? …

Khoeri Abdul Muid | | 15 April 2014 | 21:42

Mengapa Pembunuhan Kennedy Tak Pernah …

Mas Isharyanto | | 16 April 2014 | 06:25

Menilik Macan Putih, Pahlawan Superhero …

Rokhmah Nurhayati S... | | 15 April 2014 | 21:51

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 9 jam lalu

Yess, Jokowi Berani Menantang 10 Partai …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Inikah Pemimpin yang Kalian Inginkan? …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

The Jakarta Post, The Washington Post dan …

Ira Oemar | 18 jam lalu

Nama Jokowi Muncul di Soal UN, Pencitraan? …

Pical Gadi | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: