Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dian Onasis

Dian mulai belajar ngeblog tahun 2003. Sekarang menikmati passionnya di dunia menulis buku, terutama novel selengkapnya

[@Guangzhou]: Mesjid, Makanan dan Pengemis…

REP | 22 July 2010 | 10:54 Dibaca: 457   Komentar: 8   1









Pertama kali Dian ikut abang ke mesjid di Guangzhou  adalah ke mesjid dekat kawasan YueXiu Park. Nama mesjidnya Mesjid  Sa’d ibn Waqqas. Posisinya di tengah taman kota. Sewaktu Dian kesana, tengah dibangun mesjid baru yang lebih besar ketimbang yang Dian kunjungi. Lokasinya hanya beberapa meter saja dari mesjid lama. Sepertinya perkembangan umat islam di China cukup pesat, sehingga dibutuhkan bangunan mesjid yang
lebih besar lagi…
.

Bentuk mesjidnya jauuuuh berbeda dari mesjid-mesjid di Indonesia.  Cenderung mirip kuil dan terdiri dari beberapa bangunan. Tempat sholatnya juga kecil, namun ada lapangan besar untuk menampung jamaah sholat jumat. Bahkan sewaktu dian datang di hari jumat tersebut, yang sholat hingga memenuhi jalan-jalan setapak di kawasan taman kota tersebut. Rame nya minta ampun.

Sebelum ke mesjid ini, minggu2 sebelumnya ayah Billa sholat jumat di mesjid Guangta Lu. Mesjid tertua di Guang zhou. Nama lainnya adalah Masjid Huaisheng. Mesjid ini didirikan masa Dynasti Tang, era tahun 618-907.  Sayang foto-fotonya kurang bagus, karena terlalu ramai kata bang asis. Sehingga sulit mengambil foto mesjid tersebut dari jarak dekat.

.

Namun kali ini di mesjid Sa’d ibn Waqqas yang tak jauh dari taman anggrek ini, kami punya banyak waktu untuk berfoto-foto di dalam mesjid. Sepertinya ada makam disana. Namun dian gak pergi  berziarah. Agak-agak gimana gitu dengan bau-bau wewangian nya. Hehehe

Perempuan juga ada yang sholat Jum’at. Dan mereka tidak mengenakan mukena seperti yang biasa orang Indonesia atau Malaysia lakukan. Mereka menggunakan pakaian yang mereka pakai itu saja. Makanya Dian sempat heran dengan seorang jemaah perempuan  dari afrika yang tengkuknya terbuka ketika sholat. Serta aneh melihat ibu-ibu dari China yang urutan sholatnya tidak pas. Kebetulan Dian berada di dekat mereka, ketika mereka melakukan sholat Jum’at.

.

Dian sendiri melaksanakan sholat dzuhur selepas para jemaah sholat Jum’at selesai. Sholat  Jum’at disini agak berbeda dari Indonesia. Karena ceramah yang diberikan jauh sebelum waktu dzuhur masuk. Bisa satu jam lebih, termasuk membacakan informasi keuangan masjid kali ya ? ^_^. Setelah masuk dzuhur, khotbah Jum’atnya tidak sampai 10 menit. Benar-benar seperti kultum, baru kemudian sholat. Makanya masih banyak orang berjualan, makan dan jalan-jalan didekat mesjid selama ceramah diluar sholat tersebut.  Mereka baru berbondong-bondong ke mesjid ketika adzan berkumandang.

Ketika Dian sholat Dzuhur, banyak juga yang memperhatikan Dian. Soalnya setelah selesai sholat, banyak mata yang beralih tiba-tiba dari diri Dian. Mungkin mereka aneh melihat Dian sholat menggunakan mukena kali ya ? hehehe

Dian sempat terharu dalam sholat Dian. Tidak menyangka dapat melakukan sholat di sebuah mesjid di sebuah Negara yang minoritas islamnya. Tidak pernah menduga akan sujud kehadapan Allah pada sebuah mesjid yang jauh dari kampong halaman. Menetes airmata ini karenanya.

Allah Maha Pengatur. Hidup jadi penuh kejutan karenaNya.

Dua link yang dapat memberikan banyak informasi mengenai mesjid ini dapat dilihat disini :

-    http://www.islamichina.com/mosques/mosquesinchina.asp?cityid=22

-    http://berita.liputan6.com/luarnegeri/200307/58733/class=%27vidico%27

Kalau hari jumat ini, makanan halal banyak. Penjualnya datang dari segala penjuru. Dan kita tak perlu khawatir karena dijamin halal. Biasanya  Dian memesan abang untuk membeli mie khas china, ikan goreng, ayam potong dan kecap atau sambal botol. Kebetulan ada yang buatan Indonesia, seperti merek ABC…hehehe import dari hongkong… made in Indonesia. Keren ya.. ^_^

Beragam makanan khas timur tengah, pakistan dan china dapat kita temui disini. Meskipun dian tak begitu menyukai rasanya, karena memang beda, namun karena dijamin kehalalannya, maka Dian pun makan dengan lahap. Billa juga suka. Tapi Dian tak berani kasih banyak, khawatir perut Billa tidak kuat.

Pengemis juga banyak nih disini. Kalau sudah hari Jum’at, dijamin ramai oleh pengemis. Baik mereka yang memang miskin, maupun berprofesi pengemis. Dian perhatikan ada yang membawa anak-anak kecil. Entah anak mereka atau bukan. Lalu modusnya, anak-anak itu disuruh gelayutan sama satu orang untuk meminta uang. Merengek-rengek hingga orang tersebut capek sendiri dan memberikan sejumlah uang. Nanti uangnya diberikan ke “ibu” mereka yang menunggu tak jauh dari lokasi operasi.

.

Bahkan kalau kita memotret  mereka, mereka akan minta bayaran jasa sebagai “foto model”. Inilah yang dialami Ayah Billa ketika memotres seorang pengemis usia 40an. Ia merengsek mendekati Ayah Billa minta ganti upah jasa jadi fotomodel tersebut…hehehe

Bicara tentang makanan, Dian memang kurang persiapan. Seharusnya tidak sekedar membawa mie instant aja ke Guangzhou. Dian harusnya membawa bumbu jadi yang halal dari Indonesia.

Namun Dian termasuk bersyukur membawa stok abon dari mas tian. Karena abon itulah yang menolong Billa ketika nafsu makannya menurun. Ia tak mau makan telur ataupun ayam. Sementara ikan tidak mudah mendapatkannya, belum lagi Dian tak pintar membersihkan ikan. Walhasil jika mau jalan-jalan agak lama, Dian akan membawa bekal abon dan telur orak arik untuk Billa. Sementara Dian dan bang Asis berbekal roti sudah lebih dari cukup.

InsyaAllah, jika diberikan kesempatan lagi untuk ke Guangzhou, Dian akan lebih mempersiapkan diri masalah “dapur” ini. Karena sudah bisa membaca situasi dan kondisi wilayah tersebut.

InsyaAllah. Amin.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 9 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 10 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 8 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 8 jam lalu

Rinni Wulandari Lebih Melesat… …

Raynadi Salam | 9 jam lalu

Kecardasan Tradisional …

Ihya Ulumuddin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: