Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Nilam Sari Saputri

Manusia biasa seperti manusia-manusia lainnya yang ingin terus belajar, berbagi dan mencoba memaksimalkan hasil dari selengkapnya

The Hidden Paradise Lampung Barat

HL | 03 August 2010 | 06:49 Dibaca: 960   Komentar: 96   11

Setelah hampir sebulan lalu sejak perjalanan ini akhirnya bisa menyempatkan menuliskannya di Kompasiana :). Kabupaten Lampung Barat memiliki kondisi alam yang beragam mulai dari alam pegunungan, danau, dan pantai. Semua potensi itu dapat dikembangkan untuk menunjang Kepariwisataan Lampung Barat. Tanggal 8-11 Juli lalu saya dan teman-teman Pecinta Fotografi Lampung atas undangan Dinas Pariwasata Kabupaten Lampung Barat mengadakan perjalanan ke Lampung Barat untuk menyaksikan “Semarak Wisata Tanjung Setia III” dan “Festival Teluk Stabas XIII”. Pesona Lampung Barat memukau mata kami, mulai dari indahnya kondisi alam, adat dan nilai budaya yang masih asli berjalan beriringan dengan peradaban modern (ini yang saya suka dari penduduknya, selain ramah mereka tetap menjunjung tinggi adat istiadat di tengah modernisasi peradaban). Semarak Wisata Tanjung Setia merupakan acara yang diadakan pemerintah setempat untuk memperkenalkan wisata di Tanjung Setia terutama mempromosikan daerah tersebut sebagai lokasi surfing . Pada Festival Teluk Stabas diadakan berbagai lomba yaitu :

  1. Lomba Bedikikh
  2. Lomba Butetah
  3. Lomba Hahiwang
  4. Lomba Gambus Tunggal
  5. Lomba Ngehahaddo/Mahafan
  6. Lomba Lagu Pop Lampung
  7. Lomba Tari Kreasi Lampung
  8. Lomba Volly Pantai
  9. Lomba Layang-layang
  10. Lomba Foto Pariwisata dan Budaya

Setibanya kami di Lampung Barat kami awali dengan mengunjungi Pantai Tanjung Setia (untuk hunting foto tentunya :p). Tak kalah dengan Bali, pantai yang berada di Kecamatan Pesisir Selatan berjarak 52 Km dari Ibu Kota Liwa atau sekitar 293 Km dari Bandar Lampung ini menjadi lokasi surfing bagi wisatawan mancanegara (wisman) dari Australia, Amerika dan negara Eropa lainnya, selain itu pantai di Kawasan Tanjung Setia juga dikenal sebagai tempat berwisata memancing yang kaya ikan laut mulai tuna hingga blue marlin. Juga, sebagai tempat berkemah, apalagi ada cottage yang representatif bahkan alami lantaran bangunannya menyatu dengan alam. Rata-rata wisatawan asing yang memilih surfing sini beralasan di Bali sudah terlalu ramai/padat, dan masyarakat di Lampung Barat masih natural (penduduk asli).

Keesokan paginya 10 Juli 2010 usai adzan subuh kami (rombongan pecinta fotografi) menuju daerah Pasar Ulu Krui untuk berburu foto kegiatan penduduk/nelayan di kawasan pesisir. Pasar Ulu Krui memiliki karakter pantai dengan pasir hitam, berbeda dengan Tanjung setia dengan pasirnya yang putih. Landscape dan Human Interest sangat menarik di daerah ini (tidak sia-sia saya pergi jauh dari kota untuk berburu foto :P) apalagi bagi para pecinta fotografi seperti kami.

Waktu menunjukkan pukul 08.30 saatnya kami kembali ke homestay masing-masing untuk mandi dan sarapan (maklum karena bangun pagi sekali kami belum sempat mandi & sarapan karena takut ketinggalan sunrise :-D). Lalu kami lanjutkan kembali menuju pantai Tanjung Setia untuk melihat Opening Ceremony Semarak Wisata Tanjung Setia III 2010 (saya hampir telat di acara ini karena menunggu teman yang antri untuk mandi). Acaranya begitu meriah tari Sekura yang disuguhkan begitu meriah dan penuh warna. Rangkaian acara dilanjutkan dengan Pelepasan Tukik ke laut (Tukik = anak penyu) sebagai kegiatan simbolis untuk pelestarian penyu. Kebetulan bertemu dengan penjual Kopi Luwak yang berasal dari Liwa saya dan beberapa teman dapat bonus dari penjual untuk mencicipi kopi Luwak asli Liwa (tapi setelah saya membeli seperempat kilogram kopi tersebut dengan harga Rp.150.000,- tentunya). jauh lebih murah ketimbang kalau sudah dijual di Starbucks :p.

Mumpung kami masih berada di Lampung Barat, kamipun menjelajah sampai ke Pesisir Utara. Sampailah kami di daerah yang bernama Tebakak. Pantai di Tebakak memiliki karakter berbatu karang yang besar dan tajam (tidak seperti Belitong yang bulat dan sangat besar). Tentunya kami tidak melewatkan kesempatan untuk hunting foto (lagi) :p. Setelah hari hampir gelap kami kembali menuju Cottage Karang Nyimbor di Pantai Tanjung Setia untuk makan malam dan menghadiri Beach Party (tapi saya memilih kembali ke homestay untuk istirahat tidak ikut Beach Party, maklum tidak biasa begadang :D)

Keesokan harinya, Minggu 11 Juli 2010 kami berangkat menuju penginapan berikutnya (Wisma Sindalapai) di Liwa yang merupakan Ibukota Lampung Barat sekitar 2 (dua) jam dari Tanjung Setia. Tak lama mampir di wisma untuk istirahat sebentar dan meletakkan tas pakaian, kami menuju Seminung Lumbok Resort di Danau Ranau. Mulanya tidak ada renacana ke Danau Ranau tapi karena salah satu teman kami belum pernah kesana maka kami putuskan untuk menuju Danau Ranau dengan menempuh sekitar 1 jam lebih perjalanan. Salah satu yang membuat saya kangen untuk datang kembali ke Danau Ranau yaitu udara sejuknya dan pemandangan saat perjalanan menuju danau diantara Pegunungan dan puncak Seminung yang menjulang tinggi dengan indah dan megah.

Hari hampir gelap, kami bergegas kembali ke Liwa karena takut ketinggalan acara Grand Closing Festival Teluk Stabas XIII di halaman depan Islamic Centre Liwa. Acaranya begitu meriah dengan suguhan tari kreasi Payah Duakha. Tari ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung pada zaman generasi ke-20, sekitar tahun 1899. Kemudian dimeriahkan juga oleh Inka Mamamia (Juara Mamamia 2010) yang kebetulan berasal dari Lampung.

Senin 12 Juli 2010 matahari belum terbit, saatnya kami harus kembali ke kota Bandar Lampung. Satu-satunya alasan kami berangkat di pagi buta yaitu berburu foto di lembah Pekon Batubrak (desa yang akan kami lewati di jalur perjalanan pulang). Kalau ingin dapat foto bagus di lembah ini ya harus bangun pagi sekali jangan sampai didahului matahari :). Ini kedatangan saya yang ketiga kalinya di Batubrak.

Tetap saja saya jauh dari kata bosan dengan pemandangan ngarai dan sawahnya yang begitu indah (benar-benar The Hidden Paradise) diselimuti kabut tipis yang berpadu dengan semburat cahaya matahari pagi, saya bisa benar-benar lupa kalau harus pulang di hari itu untuk kembali bekerja di kota Bandar Lampung :p.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 8 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 8 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 10 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 10 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: