Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dian Onasis

Dian mulai belajar ngeblog tahun 2003. Sekarang menikmati passionnya di dunia menulis buku, terutama novel selengkapnya

@Guang zhou : Sholat ied di mesjid tertua di China

REP | 10 September 2010 | 22:45 Dibaca: 801   Komentar: 17   2

Meskipun sempat nyaris kecewa karena mengira tidak bisa sholat ied di mesjid Guangta LU, kami bertiga sempat berfoto di depan aula mesjid.

Meskipun sempat nyaris kecewa karena mengira tidak bisa sholat ied di mesjid Guangta LU, kami bertiga sempat berfoto di depan aula mesjid.


Ini merupakan kali pertama bagi aku untuk merasakan suasana sholat ied di luar Indonesia. Pagi-pagi subuh aku sudah menyiapkan semua perbekalan, karena rencananya dari hotel akan dijemput oleh pihak shipyard dan pergi bersama rombongan pagi hari

Jam 7 kurang, aku dan keluarga telah siap menunggu. Ternyata telah terjadi salah komunikasi antara pihak shipyard dengan rombongan, walhasil kamipun berangkat jam 7.30 lebih. Wah bakalan macet nih, mengingat di guangzhou kan tidak libur hari raya idul fitri ini ?

Dan benar dugaan kami, ternyata perjalanan ke mesjid tertua di Guangzhou inipun terhambat oleh macet. Baru kali ini aku melihat kemacetan di kota Guangzhou, padahal jalan rayanya sudah cukup lebar dan besar, serta tak ada motor sama sekali. Semua kendaraan bermotor roda dua dan tiga, dilarang masuk kawasan jalan protokol.

Putriku yang harus bangun pagi, alhamdulillah tetap tertidur lelap sepanjang perjalanan. Aku perempuan sendiri di bus tersebut, berdua sih ama putriku. Yang lain adalah krew kapal Lentera bangsa dan beberapa orang kontraktor.

Jam 9.00 akhirnya kami sampai di jalan Guang ta, atau orang guangzhou nulisnya Guang ta Lu. Dan ternyata sholat ied sudah selesai dan para jemaah sudah pulang. Keadaan mesjid sudah berkurang jemaahnya. Kami sempat merasa sedih dan pasrah juga. Namun ada harapan, akan adanya kebenaran kabar dari pihak Konsulat RI bahwa kalau sholat ied di Guangta Lu dilakukan dua kali.

Sempat ingin tanya, tapi bingung nanya ke mana. Beruntung ada seseorang dari Indonesia, namanya pak Soleh. Ia tinggal di Guangzhou sudah 6 tahun, dan dari dialah kami mendapatkan informasi bahwa memang akan ada sholat ied yang kedua -shift ke dua- pada jam 9.30 lebih. Alhamdulillah akhirnya kami lega juga, karena masih punya kesempatan sholat di mesjid yang dibangun 1300 tahun lalu oleh sahabat nabi Saad bin Abi Waqqas. Mesjid ini diberi nama mesjid Huaisheng. Namun juga terkenal dengan sebutan mesjid Guangta Lu. Karena lokasinya di jalan Guang ta.

Jam 9.30, aku pergi kebagian shaft perempuan, lokasinya agak jauh dari lokasi laki-laki sholat. Ada sekitar 2 shaft perempuan yang juga menunggu giliran sholat ied yang kedua. Beragam suku bangsa ada disana. Ada Cina, ada campuran Cina Turki, ada dari Afrika, dan dari Malaysia serta Indonesia aku tandai dengan mukena yang mereka kenakan. Karena kalau jemaah dari negara lain tidak menggunakan Mukena. Mereka sholat dengan pakaian yang mereka pakai saat itu juga.

Aku pasangkan mukena pada putriku, namun ia hanya bertahan sebentar menggunakannya. Cuaca Guangzhou hari itu memang panas minta ampun deh. Akupun mengobrol bersama beberapa perempuan dari Indonesia. Ada yang bekerja sebagai pembantu di konsulat RI sudah 3 tahun di Guangzhou. Ada juga yang berasal dari PJTKI, artinya memang tenaga kerja yang dikirim untuk kerja dengan orang Guangzhou, serta beberapa mahasiswi indonesia.

Salah seorang diantaranya bernama Dian, asal Papua. Aku sempat ngobrol dengan dia. Ternyata pemerintah Papua banyak memberikan beasiswa kepada anak-anak papua untuk sekolah ke Guangzhou. Hebat sekali pemda Papua ya… ada banyak anak-anak Papua yang dikirim dengan beasiswa tanpa ada keharusan ikatan dinas. Kalaulah semua pemda memiliki kebijakan yang sama, akan banyak anak-anak daerah yang memiliki kesempatan besar sekolah keluar negeri.

Singkat cerita, sholat Iedpun dilaksanakan sekitar pukul 10 lewat. Aku tadinya agak khawatir Billa putriku akan bermain jauh dari tempat sholat. Alhamdulillah, hari ini dia bersikap manis, selain sibuk dengan kartu ajar huruf hijaiyah yang aku bawa dari hotel, ia juga mengikuti sholat dua rakaat tersebut dengan caranya.

Sholatnya sendiri juga cepat sekali. Aku merasa agak aneh karena takbir yang dilakukan, tidak seperti takbir ketika sholat ied di Indonesia. Takbir dirakaat pertama hanya 5 kali, -semoga aku tidak salah hitung, karena cepat sekali takbir demi takbir dilakukan-, kemudian baru alfatihah dan surat an naas. Pada rakaat kedua, langsung surat alfatiha dan surat al alaq, aku bingung disini. Kemudian baru takbir 4 kali. Huaaaaah kenapa beda dengan yang biasa di Indonesia ya ?

Meskipun demikian tetap aku lakoni.

Oh iya, suamiku cerita, ketika dilakukan takbiran sebelum sholat, ternyata yang melakukan nya adalah beberapa pemuda Cina yang berdiri agak jauh dari mimbar. Mereka bertakbiran, sambil juga tetap memegang dupa. Hehehe, ternyata kalau sudah begini, tak bisa dielakkan ya… budaya akan masuk ke dalam agama.

Sholat ied dilanjutkan dengan ceramah atau khotbah dalam bahasa Cina. Aku tak begitu mengerti. Sebelum sholat juga tadi ada seperti pemberitahuan, dalam bahasa Cina. Lagi-lagi aku tak mengerti. Aku hanya mendengar ada kalimat surat an Naas yang disebutkan oleh penceramah tadi. Akupun menyibukkan diri mengajar putriku Billa bermain tebak-tebakkan huruf hijaiyah. Alhamdulillah di usianya yang baru menginjak 2 tahun, putriku telah berhasil menghapal dan mengetahui huruf-huruf hijaiyah meskipun masih ada kesulitan sedikit dalam penyebutan beberapa huruf. Aku kemana-mana membawa sebuah papan magnet kecil, sehingga bisa membantu menghilangkan bosan putriku dengan menggambar banyak gambar serta huruf hijaiyah.

Jam10.30 akhirnya selesai sholat ied. Kami bertemu dengan pak Soleh lagi. Beliau mengajak untuk ikut kumpul di Konsulat RI. Dan darisana nanti akan ada bus-bus yang mengantar warga negara Indonesia yang ingin silaturahim dan makan ketupat di rumah Konsulat Jenderal RI. Waaah tentu saja kami mau ikut. Selain memang ingin tahu silaturahim di sini, juga karena mendengar akan adanya ketupat atau lontong. Hehehe. Maklum saja, orang Indonesia selalu menganggap lebaran juga identik dengan makan ketupat kan ya ?

Pak Soleh yang baik ini -Semoga Allah memberi limpahan kebaikan pada dirinya- menunggu kami untuk mengantarkan rombongan kami menuju kantor Konsulat RI di Dongfung Hotel. Padahal ia sudah sholat ied yang giliran pagi hari. Kamipun diajaknya jalan kaki terlebih dahulu menuju stasiun kereta terdekat dari situ.

Keluar dari mesjid Guang ta lu -aku sempat foto-foto dulu donk-, kami keluar ke arah kiri jalan. Suasana di jalan waktu itu masih ramai dengan orang bersalam-salaman dari berbagai bangsa, kemudian orang-orang jualan makanan halal dan pengemis tentunya. Dari arah kiri jalan, kami terus dan belok kanan. Sekitar 50 meter, menyebrang ke kanan dan memasuki sebuah lorong,sayang sekali aku lupa nama lorong itu. Ini pertama kali juga aku memasuki lorong diantara apartemen dan rusun di Guangzhou. Sepertinya lorong inipun mengarah ke jalan raya besar. Di lorong inipun kami berjalan lurus, kemudian ketika ada simpangan ambil ke kanan, jalan dikit terus ke kiri, dari kejauhan akan tampak jalan besar. Kami keluar dari lorong sebelah kiri sebuah gedung bercat kuning terang dan ada tulisan Cina nya. Disekitar terdapat banyak toko-toko yang menjual keperluan alat-alat elektronik dan sound system.

Dari sana aku melihat tanda arah menuju stasiun metro. Kami memasuki sebuah gedung dan turun terus ke bawah -khas kalau mau ke kereta bawah tanah- dan menyusuri pertokoan menuju stasiun metro. Ternyata kami masuk dari pintu A dan berada di Stasiun Gongyuanqian. Stasiun pertukaran line 1 dan 2. Dari sini kami mengambil metro line 2 arah ke Yue xiu park.

Pak Soleh dengan telaten terus menemani kami. Sempat ada accident kecil, dimana salah seorang rombongan kapal -pak Nana- yang tak pernah pergi keluar kapal, tertinggal. Ia spertinya keasyikan beli sate di dekat mesjid Guangta lu. Terpaksalah rombongan dibagi dua. Separo ikut pak Saleh ke Konsulat Ri [ini alamatnya dari websitenya] http://www.deplu.go.id/guangzhou/Pages/Map.aspx?IDP=2&l=id

Yakni : 2/F, Room 1201-1223, West Building, Dong Fang Hotel, 120 Liu Hua Lu, Guangzhou 510016 (广州市流花路120号东方宾馆西楼2楼)

Tel: +86 20 8601 8772 Fax: +86 20 8601 8773.

Sebagian lagi mencari Pak Nana kembali ke mesjid Guangta lu.

Ketika sampai di stasiun Yue xiu Park, kami mengambil arah pintu keluar D1, ke arah China Hotel, dan memang pintu keluarnya tepat di depan China Hotel. Berjalan kaki sekitar 100 meter, sampai lah kami di hotel Dongfang. Disitu kami disambut panitia, salah satunya Bayu,mahasiswa Guangzhou asal medan, orang melayu dan fasih sekali bahasa Cina.

Kamipun menunggu bus yang mengantar datang. Aku sempatkan mengganti baju Billa dengan pakaian yang lebih ringkas, agar ia nyaman berlari-lari. Tak lama aku dan keluarga telah duduk manis di bus yang mengantarkan kami ke wisma tempat tinggal Konsulat Jenderal RI. Bapak Edi Yusup yang baru saja dilantik menjadi Konjen di KJRI Guangzhou pada tanggal 1 September 2010 kemaren. Kami bertemu beliau dan salam-salaman. Juga bertemu keluarga beliau. Rumah wisma yang ditempati berada di kawasan perumahan Konjen-Konjen berbagai negara asing lainnya.

Rumah Konjen sudah sangat ramai dengan masyarakat Indonesia juga Cina. Berbaur dengan bahasa, kulit dan pakaian yang beraneka ragam.

Aku langsung antri makan saja, karena harus menyuapi putriku makan siang. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Alhamdulilah, rejeki makannya berlimpah. Ada lontong, kuah ayah opor putih, ada udang, ada daging, ada hati rempela, dan banyak lagi yang lainnya. Aku jadi tidak terlalu sedih lagi akibat kangen makanan Indonesia…

Putriku pun makan dengan lahap. Sampai menambah dua kali. Alhamdulillah. Jam 1 lewat, kami mendengar kabar ada bus yang akan mengantarkan kembali ke hotel, bagi mereka yang mungkin hendak sholat jumat kembali atau sekedar ingin duluan pulang. Sebagian rombongan sudah gak tahan dengan kondisi yang ada. Cuaca panas dan keramaian di rumah Konjen bikin sebagian ingin segera pulang dan melanjutkan perjalanan sendiri. Akhirnya hanya sempat diwakili oleh Kapten Kapal -senior suami- untuk pamitan dengan konjen karena yang lain sudah pada kabur ke bus yang akan mengantar.

Walhasil, semua rombongan dari shipyard naik ke bus, sempat juga pamitan dengan pak Soleh yang baru datang kembali dengan keluarganya dengan kendaraan pribadi. Wah jadi salut apa pak Soleh. Beliau tahan meninggalkan keluarga dan mobil pribadinya untuk mengantarkan kami rombongan yang tak tahu jalan ini menuju KJRI. Terima kasih banyak ya Pak Soleh…

Aku dan keluarga kecilku pun mengikuti perjalanan bus tersebut ke arah Yue xiu Park lagi. Kami minta diturunkan di depan jalan menuju mesjid di kawasan tersebut. Nama mesjid ini adalah mesjid Saad bin Abi Waqqas. Ada dua tempat sholat disini. Yang pertama yang sudah cukup tua, didirikan untuk menghormati sebuah makam yang diyakini masyarakat Cina sebagai makan Saad bin abi Waqqas. Dan sebuah lagi mesjid yang baru sebulan diresmikan, untuk menghormati Saad bin Abi Waqqas juga.

Aku sholat di mesjid lama. Sayang sekali mesjid ini tidak begitu seterawat mesjid Guang ta lu. Kamar mandi dan tempat berwudhunya jorok minta ampun, aku kasihan sama orang yang bertugas membersihkan kamar mandi. Sepertinya tidak ada subsitank kali ya disana, kog ya semuanya terlihat jelas kotoran manusia dan benda-benda lain. Hiiiiii aku jadi mual jika ingat kotornya.

Setelah selesai sholat kami pun mampir ke lokasi makam seseorang yang diyakini merupakan makam Saad bin Abi Waqqas. Sebenarnya ada dua pendapat berbeda mengenai lokasi dimakamkannya sahabat nabi tersebut. Meskipun memang sahabat nabi tersebut menetap di Guangzhou pada tahun 600an masehi dan mendirikan masjid Huaisheng, namun keyakinan mengenai dimana ia menghabiskan sisa hidupnya masih terdapat perbedaan.

Sebagian percaya bahwa Saad bin Abi Waqqas menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di Guangzhou Cina, namun sebagian lagi, menyatakan beliau meninggal di Madinah dan dimakamkan di pemakanan para sahabat nabi di Baqi.

Meskipun demikian, tetap saja pengunjung mesjid Saat bin Abi Waqqas akan tetap berziarah ke makam yang diyakini milik sahabat nabi tersebut.

Aku pribadi termasuk jarang berziarah kubur. Namun rasa ingin tahuku pun membuat aku memasuki ruang makam. Sebuah ruang kecil yang ditengahnya terdapat makam sahabat nabi tersebut. Banyak peziarah, sebagian besar laki-laki, tengah membaca ayat-ayat suci mendoakan sahabat nabi. Aku pribadi hanya membacakan surah alfatiha dan duduk menyaksikan beberapa peziarah yang mencium bahkan memeluk makam tersebut. Ada seseorang yang sampai menangis memeluk makam.

Aku awalnya tidak terpengaruh, namun ntah mengapa, tahu-tahu di hati ini menjalar rasa kangen pada Rasulullah yang tak pernah dapat diketahui wajahnya. Aku bangga berada di dekat makam sahabat rasul yang jelas dekat dengan rasul. Aaah baru makam sahabatnya rasul saja aku sudah berlinang air mata haru, apalagi jika suatu hari nanti aku diberi kesempatan ke mekkah dan mengunjungi makam laki-laki penyempurna agama manusia itu ya. Subhanallah… bahagianya para sahabat nabi yang bertemu dan berjuang bersama beliau.

Aku tak tahan, sambil mengusap air mata yang tak berhenti mengalir ini, aku buru-buru keluar. Suamiku masih bertahan beberapa menit lebih lama dari aku. Tak lama ia keluar sambil memegang uang 5 yuan. Dengan tersenyum ia bercerita ternyata tadi setiap peziarah makam diberi uang 5 yuan oleh penjaga makam.

Waaah sebuah pembauran budaya dengan agama kembali terjadi ya ? karena memang budaya cina, jika menangis dan berziarah kubur suka memberi uang, tapi aku gak menyangka bahwa itu terjadi juga untuk makam orang islam. Akhirnya uang 5 yuan itu aku sumbangkan kembali ke kotak infak mesjid.

Keluar dari mesjid dekat makam, karena cuaca panas sekali kami berpindah dan masuk ke mesjid yang baru. Adem banget subhanallah. Ada kipas besar dan AC yang ditarok didalam mesjid. Sehingga cuaca panas diluar berkurang jauh. Ayah Billa dan Billa sibuk bermain dan foto-foto di dalam mesjid yang ada beberapa orang yang juga asyik beribadah dan berfoto juga.

Kami sempat beristirahat satu jam disini, menunggu matahari lebih condong ke arah barat. Berharap panasnya dapat berkurang.

Jam 3 lewat, kamipun keluar mesjid, dan menuju stasiun kereta api bawah tanah. Kami menuju Yuexiu park dan berniat mengunjungi satu tempat wisata terdekat dari situ. Kami menuju stasiun Sun Yat Set Hall dan keluar ke pintu C menuju lokasi wisata tersebut.

Sebuah Gedung megah dengan arsitektur Cina kuno yang disebut Sun Yat Set Hall berdiri gagah di samping kanan pintu keluar C dari statiun yang hanya berjarak 1 stasiun saja dari Yue xiu park. Kami berfoto-foto sebentar di lokasi tersebut. Berdasarkan info dari link website ini : http://www.travelchinaguide.com/attraction/guangdong/guangzhou/sun.htm

Diketahui bahwa gedung yang didirikan untuk memperingati kehebatan seorang tokoh Revolusi Demokrasi Cina bernama Sun Yat Set ini dibangun pada tahun 1929 hingga 1931.  Gedung ini merupakan tipikal arsitektur Cina, yang sempat direkonstruksi pada tahun1998.

Aku dan suami hanya sempat berfoto saja dan tak begitu berminat masuk, karena jam telah menunjukkan jam 4 sore. Putriku sudah tertidur dalam gendonganku dan cuaca masih sangat panas. Aku pikir pulang sajalah, daripada pusing kepala karena panasnya cuaca. Oh iya, jika ingin masuk ke dalam ada tiket masuknya sebesar 10 yuan. insyaAllah lain waktu aku akan coba masuk ke dalam.

Kami buru-buru ke arah stasiun Yue xiu park. Perjalanan pulang kali ini lumayan jauh. Aku mencoba menghindari jadwal pulang kerja orang guangzhou, karena dijamin pasti akan ramai sekali kereta sub way dan bus way nya.

Kami mengambil tiket arah wenchong, dan sempat bertukar kereta dari line 2 ke line 5 di stasiun Guangzhou Railway. Selanjutnya perjalanan lancar. Putriku masih tertidur lelap, akupun sempat tidur-tidur ayam menjalani kereta yang melewati lebih dari 12 stasiun sub way. Sampai di Wenchong jam 5 sore, dan kami menunggu bus 29B yang akan mengantarkan kami ke arah hotel tempat menginap.

Alhamdulilah jam 5 lewat sedikit kami sudah berada di kamar hotel yang nyaman dan dingin. Cuaca panas di luar benar-benar bikin capek dan pusing kepala. Putriku terbangun dan langsung minum susu. Alhamdulilah hari ini ia dalam kondisi kesehatan yang maksimal. Saat aku mengetik tulisan ini, ia tengah tertidur dengan lelapnya.

Terima kasih ya Allah atas kefitrian hari raya hari ini. Atas ied yang berkah ini.

Mohon maaf lahir batin pada semua keluarga besar dan rekan sekalian.


@Huangpu, 10 September 2010.






 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 13 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 15 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 16 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 17 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 14 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 14 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 14 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 15 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: