Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ika Maya Susanti

Saya seorang penulis yang saat ini tinggal di Lamongan, Jawa Timur.

Sampah Dapur Prasejarah di Kawal, Bintan

REP | 26 September 2010 | 03:54 Dibaca: 811   Komentar: 2   0

Bukan Tumpukan Sembarang Sampah

Jika Anda menemukan sesuatu yang janggal di area lahan sekitar rumah Anda, lebih baik janganlah terburu-buru untuk menyingkirkannya. Karena, bisa jadi itu justru merupakan sesuatu yang sangat bernilai.

Namun sayangnya, hal tersebut tidak berlaku di kalangan masyarakat Kawal, Kabupaten Bintan yang memang awam tentang masalah sejarah. Apalagi tentang sejarah purbakala.

Bagi saya sendiri yang sudah diberitahu dalam pelajaran sejarah saat sekolah dulu, bahwa ada jenis peninggalan zaman purbakala yang bernama sampah dapur, mungkin juga akan berlaku hal yang sama. Siapa yang mengira, jika ternyata tumpukan kerang yang menyerupai sampah adalah sebuah hasil perbuatan manusia dari zaman sebelum masehi?! Hehe, soalnya dulu zaman sekolah, tidak diberitahu bagaimana rupanya sampah dapur sih!

Bukit Kerang yang Tinggi

Dan tanpa masyarakat di daerah Kawal menyangka-nyangka, tiga gundukan kulit kerang yang ada di area lahan mereka, telah mereka abaikan bahkan ada yang telah disingkirkan. Tak dinyana, itulah sebuah gundukan Kjokkenmoddinger dalam istilah ilmu sejarah, atau yang disebut dengan istilah biasanya adalah sampah dapur.

Namun kini, dari sebuah papan yang dibuat oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bintan, masyarakat jadi bisa mengetahui bahwa ongokan tumpukan kerang yang ada di belakang papan pengumuman tersebut adalah sesuatu yang berharga.

Dari papan tersebut, tertulis bahwasanya sampah dapur merupakan peninggalan zaman prasejarah mesolithikum atau zaman batu pertengahan atau zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut yang berasal dari sekitar 3000 tahun sebelum masehi.

Pengumunan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bintan

Pak Amirudin dan Abang di belakang papan pengumuman

Begitu berharga! Meski sekilas jika melihatnya, kita akan mengira sebagai tumpukan sampah kerang yang sepertinya sengaja ditumpuk orang. Padahal jika dinalar, mana ada sih orang zaman sekarang yang mau-maunya iseng menumpuk kerang hingga menjulang menjadi bukit setelah makan?! Apalagi dengan gundukan setinggi itu. Seandainya ada, mungkin hanya terjadi jika dilakukan oleh orang sekampung yang seluruh keluarganya makan kerang setiap hari!

Akhirnya, efek dari keawaman itupun berujung pada musnahnya satu dari tiga gundukan sampah dapur yang ada di wilayah tersebut. “Yang sudah disingkirkan oleh PT Tirta Madu itu dulunya lebih besar dari yang ini, tapi tingginya memang tetap tinggi yang ini. Ya, dulu orang kan tidak tahu ini itu sebetulnya apa,” ujar Pak Amirudin, Ketua RT di wilayah tersebut yang kebetulan ketika saya ke sana, ia sedang membersihkan area di sekitar sampah dapur.

Menurutnya, satu bukit yang lain bentuknya lebih kecil dari sampah dapur yang kami kunjungi. Sedangkan bukit sampah dapur yang kami kunjungi saat itu, memang tampak tinggi sekitar empat meter lebih. Namun sayangnya, gundukan inipun telah rusak.

Pada bukit tersebut, terlihat bekas galian berupa potongan ke arah dalam yang telah sengaja dilakukan oleh orang lain. Karena bentuk tersebut kemudian menyerupai sebauh benteng, maka masyarakat di sekitar itupun menjulukinya dengan benteng batak.

Bekas galian yang menyerupai benteng pertahanan

Bekas galian yang menyerupai benteng pertahanan

Bekas galian yang menyerupai benteng pertahanan

Tak hanya itu saja, kerusakan yang lain pun tampak juga mendera gundukan sampah dapur tersebut. Akibat seringnya masyarakat yang naik turun di bukit itu untuk sekedar melihat, ternyata hal tersebut membuat beberapa bagian bukit itu yang rapuh menjadi serpihan.

“Mungkin ini yang terakhir bukit ini boleh dinaiki orang yang melihat. Besok lagi sepertinya kalau ada orang yang datang, cukup melihat saja dari bawah, tidak boleh naik,” ujar Pak RT yang akhirnya menyadari efek dari pijakan kaki orang-orang yang naik turun di bukit tersebut. Itu pun setelah saya yang menyelutuk tentang rapuhnya kerang-kerang yang membentuk jalan setapak menuju atas bukit kerang tersebut. Hohoho, untung saya masih sempat menaiki dan berfoto-foto di bagian atasnya.

Pengunjung yang sewaktu saya datang masih bisa duduk di atas  bukit

Saya di atas bukit sampah dapur

Saya di atas tumpukan sampah dapur

Sementara itu jika Anda sempat berkujung ke sana, Anda akan menemukan beberapa keunikan. Misalnya, adanya pohon pisang dan pohon kelapa yang bisa tumbuh di atas gundukan tersebut. Menurut Pak Amirudin sendiri, karena dulunya gundukan tersebut dikira hanya berupa gundukan tanah biasa, maka ditanamlah pohon kelapa di atasnya.

Pohon kelapa yang tumbuh di atas bukit sampah dapur

Sampah dapur tersebut memang berada di area perkebunan kelapa rakyat. Sedangkan sebelumnya, gundukan ini tertutup tanah dan rerumputan. Tumpukan kerang-kerang yang ada di bawahnya pun tidak terlihat.

Jadi ketika Anda berkunjung ke sana dan melihatnya, mungkin Anda akan bingung, kok bisa ya ada tumpukan kerang yang begitu tinggi namun bisa ditanami pohon kelapa dan pisang di atasnya?!

Selain itu ketika saya dan Abang mencermati tumpukan kerang yang ada, kerang-kerang yang ada di sana tampak seperti lempengan yang ditata secara horisontal, tidak acak asal membuang.

Lempengan-lempengan kerang yang seakan sengaja ditata

Sayangnya, ada analisis yang kurang tepat menurut para peneliti dari Medan dan Jakarta. Menurut mereka, jenis kerang yang berupa lempengan tipis itu hanya ada di perariran laut dalam. Padahal jika menurut Abang saya yang dulunya ketika kecil sering berkarang, istilah untuk mereka yang mencari kerang di saat laut surut, kerang-kerang itu bisa dijumpai di sekitar laut di Pulau Bintan.

Hanya saja kerang-kerang itu memang banyak di waktu dulu saja, tidak di saat sekarang. “Kalau dulu waktu saya kecil, sering kok ketika saya berkarang menemukan kerang seperti ini,” ujar Abang.

Walhasil, penemuan adanya sampah dapur ini p-un bisa membuat nama daerah Bintan jadi terhitung di dunia sejarah nasional maupun internasional. Karena di nasional sendiri, sampah dapur itu selama ini hanya ada di daerah Aceh dan Medan, serta beberapa daerah lain di luar negeri.

Rajin Bertanya, Bertemulah Jalan

Pepatah malu bertanya sesat di jalan menjadi patokan bagi para masyarakat yang penasaran dan ingin mencoba menuju area sampah dapur di Kawal ini. Maklum saja, meski sampah dapur ini sudah diberi papan pengumuman oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bintan, kita tidak akan menemukan satu pun petunjuk untuk bisa mengarah ke sana.

Maka ketika saya dan Abang saya penasaran ingin menuju ke tempat tersebut setelah membaca beritanya di koran Batam Pos, kami pun hanya mendapat petunjuk seadanya saja. Selebihnya, setiap orang pun akan berkata, “Banyak tanya orang lah di sana!” demikian petunjuk yang mau tak mau harus kami turuti.

Akhirnya setelah mendapatkan bekal petunjuk dari Aji, kawan kami yang ada di Tribun Batam yang dulunya juga pernah meliput tempat ini, berita dari Batam Pos, dan hasil bertanya orang di pinggir jalan sebelum jembatan Kawal, berangkatlah kami menuju medan pencarian peninggalan purbakala yang belum berarah tersebut.

“Pintar-pintarlah bertanya, karena banyak simpang di sana. Kalau tidak, banyak putar-putar, jadi bisa kehabisan bensin kalian di sana,” ujar seorang Bapak yang kami temui di pinggir jalan sebelum jembatan Kawal dan saya balas dengan senyum terimakasih. Namun dalam hati waktu itu agak khawatir juga, ehm, ini sudah sore, kalau sampai tersesat bagaimana ya?!

Nah, bagi Anda yang ingin menuju ke sana, setidaknya kali ini saya bisa menunjukkan arah jalan yang mungkin bisa sedikit membantu. Untuk menuju area sampah dapur tersebut, jika Anda berangkat dari arah Tanjungpinang menuju Pantai Trikora, pergilah menuju daerah Kawal hingga melewati jembatan besar. Setelah itu carilah di sebelah kiri jalan, sebuah jalan yang bernama Wakatobi.

Konon, nama Wakatobi ini merupakan nama dari sebuah daerah di Sulawesi Tenggara. Jika Anda mengamati keberadaan orang-orang di sepanjang jalan ini, memang banyak sekali masyarakat asli Buton yang mendiami daerah tersebut. Mereka ini cukup ramah, dan sangat berkenan kok memberitahukan arah jalan kepada Anda jika Anda membutuhkan petunjuk.

Di sepanjang Jalan Wakatobi itu, Anda akan masih menapaki jalan beraspal hingga sekitar 100 meter. Selebihnya, jalan tanah yang harus Anda tempuh. Ikuti saja terus jalan tersebut hingga Anda menemukan papan bertuliskan PT Tirta Madu. Atau jika Anda bingung, tanya saja kepada para penduduk di sekitar jalan, ke mana arah jalan menuju bukit kerang, atau benteng batak, atau kantor Tirta Madu.

Bila Anda adalah tipe orang yang menyukai tantangan menjelajah tempat dengan petunjuk  seadanya, atau menyukai area terjal dengan daun-daun pohon sawit yang menjuntai sehingga membuat Anda sesekali harus merunduk untuk melewatinya jika Anda memilih menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi, tak salah lagi, inilah pilihan tantangan yang bisa Anda dapatkan sepanjang jalan menuju sampah dapur.

Setelah Anda berjalan terus di area perkebunan sawit yang berada di sepajang kiri dan kanan jalan, jalan itu pun akan membawa Anda ke arah penunjuk akhir PT Tirta Madu yang belok menuju kiri jalan. Setelah belok, tunggu hingga simpang ke dua, lalu beloklah lagi ke arah kiri. Ikuti terus jalan tersebut hingga Anda akan mendapati perkebunan karet. Hingga penghujung jalan, beloklah ke kiri, dan Anda akan mendapati tumpukan sampah dapur yang di depannya terdapat papan bertuliskan keterangan tentang riwayat sampah dapur tersebut oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Ada baiknya jika Anda ingin menuju ke sana, datanglah di hari Sabtu dan Minggu. Karena menurut Pak Amirudin, ketua RT di daerah tersebut, area sampah dapur yang kini sudah dikelilingi oleh pagar kawat berduri ini, hanya akan dibuka pada hari Sabtu dan Minggu saja.

Tapi ya itu tadi, dengan catatan pengunjung kini hanya bisa melihat tapi tidak untuk menaikinya. Soalnya ya gara-gara usulan saya kemarin. Kan kasihan kalau akhirnya tumpukan kerang itu makin menyerpih karena bekas pijakan orang-orang yang naik ke atasnya…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 3 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 3 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 6 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Harus Wanita yang Jadi Objek Kalian?? …

Dilis Indah | 8 jam lalu

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Jack Ma: Gagal Ujian Matematika, Menjadi …

Hanny Setiawan | 8 jam lalu

Fabel : Monyet dan Penguasa Pohon Jambu …

Syam Jr | 8 jam lalu

Sunyi …

Yufrizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: