Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ica Pala

senang baca tulisan dan komentar di kompasiana khususnya edukasi dan wisata

Kerajaan Monyet di Plangon

REP | 08 October 2010 | 18:08 Dibaca: 4701   Komentar: 10   3

Kawasan Cirebon ternyata memiliki obyek wisata yang cukup banyak dan menarik. Ada Gua Sunyaragi, Kraton Kasepuhan, Kraton Kanoman, Makam Sunan Gunungjati, Plangon dan masih banyak lagi. Ketika saya mengunjungi Saudara-saudara orang tuaku yg berasal dari Cirebon, saya sempatkan pula mengunjungi obyek2 wisata di Cirebon. Namun demikian kesempatan ini saya hanya ingin menulis tentang obyek wisata Plangon. Adapun obyek wisata lainnya di Cirebon saya mengharapkan kepada kompasianer Cirebon yang banyak menulis, seligus mempromosikan obyek2 wisata di daerah ini.

Obyek wisata Plangon merupakan perpaduan antara nilai-nilai sejarah, kesejukan alam dan adanya komunitas monyet (kera)dengan jumlah yang cukup banyak di tempat tersebut. Dengan potensi tersebut, tempat ini sangat layak untuk dijadikan salah satu tujuan wisata.Tepatnya, lokasi ini berada di desa Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.

Plangon sendiri berasal dari kata tegal klangenan yang berarti sebuah tempat atau bukit untuk menenangkan diri. Menurut kisah yang dipercaya msyarakat sekitar 4 abad yang silam ada dua orang pangeran yang bernama Pangeran Panjunan dan Pangeran Kajaksan mencari tempat yang tenang untuk memecahkan permasalahan-permasalahan kehidupan yang sedang dihadapi. Akhirnya kedua orang tersebut menemukan sebuah bukit yang terletak di sebelah barat kota Cirebon yang dianggap sebagai tempat yang paling cocok untuk melaksanakan maksud tersebut. Kedua orang pangeran tersebut naik ke atas bukit. Dalam perjalanan ke atas bukit, keduanya dihadang oleh penjaga hutan Plangon yang bernama Pangeran Arya Jumeneng. Kedua pangeran dapat memenangkan pertarungan, dan akhirnya ketika sampai di atas bukit kedua Pangeran itu membuat tempat peristirahatan, yang akhirnya sampai sekarang menjadi tempat makam kedua Pangeran tersebut.

Bagi orang yang baru berkunjung ke sini, kesan seram memang terasa. Selain karena memang hutannya yang cukup lebat, juga setiap gerak kita akan diikuti oleh monyet-monyet yang terkadang sedikit jahil. Untuk itu, ketika naik bukit , pawang setempat setidaknya menyertai kita untuk membantu jikalau monyet-monyet tersebut menjadi nakal terhadap para pengunjung. Untuk sampai ke puncak bukit Plangon kita harus menaiki banyak tangga , tidak ada yang tahu tentang jumlah tangga tersebut, bahkan pawangnya sendiri. Tapi dengan berjalan santai kita memerlukan waktu kira2 setengah jam untuk sampai puncak Plangon.

Menurut ceritera yang dipercayai masyarakat disekitar,”bahwa di hutan ini ada beberapa kerajaan monyet, dimana masing-masing wilayah dipimpin oleh satu jawara monyet”. Wilayah satu adalah wilayah paling bawah, yang dipimpin oleh Jawara monyet, wilayah dua sampai enam adalah semakin ke atas sampai puncak, yang dipimpin oleh masing-masing jawara monyet..

Dari mana asal monyet-monyet itu.>Tidak ada yang tahu pasti, darimana asal monyet tersebut, apakah memang sudah ada dari dulunya, atau hewan peliharaan Pangeran Panjunan dan Pangeran Kajaksan. Yang jelas, monyet-monyet tersebut telah berada di hutan Plangon dan berkembang biak dengan baik. Mereka setiap saat menunggu kedatangan pengunjung yang membawa makanan, biasanya kacang-kacangan yang juga banyak dijual oleh penduduk setempat, monyet-monyet itu sering tidak sabar menunggu makanan diberikan, mereka tidak segan2 menyerobot makanan yg dibawa pengunjung atau bahkan masuk mobil dan ngambil apasaja yang ada didalam mobil.

Plangon layak dikembangkan menjadi obyek wisata yang menarik, tentusaja harus dengan pengelolaan yang serius, membangun fasilitas yang memadai, menghindarkan hal-hal negative seperti misalnya pengunjung yang datang mencari pesugihan, meminta kepada penghuni makam agar terkabul keinginan(cita2nya) dll. Hal-hal seperti ini bila dibiarkan akan mengurangi nilai wisata serta mengganggu pengunjung lainnya. Kita datang menikmati kesejukan dan keasrian alam sekitar Plangon memiliki kesan tersendiri, apalagi kita selalu dikerubuti oleh monyet-monyet yang kadang usil, jahil dan nakal mengganggu pengunjung.

Selamat menikmati indahnya Plangon bersama gerombolan monyet usil.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Logika aneh PKS soal FPI dan Ahok …

Maijen Nurisitara | 5 jam lalu

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Warga Menolak Mantan Napi Korupsi Menjadi …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah untuk …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

PKS Membuat Banyak yang Panas Dingin …

Pecel Tempe | 9 jam lalu

Waktu, Maafkan Aku.. …

Syndi Nur Septian | 9 jam lalu

The Comment…Siapa yang Nanya? …

Iwan Permadi | 9 jam lalu

Cerpen Remaja: Pak Polisi yang Kukagumi …

Didik Sedyadi | 9 jam lalu

TNI AL dalam Konstelasi Kekuatan Laut Asia …

Mudy | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: