Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Bisyri

Santri Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi dan Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir. Seorang yang kagum dengan Mesir selengkapnya

Foto Copy Al-Azhar

HL | 09 November 2010 | 23:50 Dibaca: 363   Komentar: 22   5

1289346365223380160

Foto Copy belakang kampus Al-Azhar yang tampak antri mencari talhisan untuk ujian semester nanti (Foto : Bisyri)

“Gimana, udah dapat talhisan belum?”, pertanyaan ini mulai sering terdengar ketika masa-masa mendekati ujian semester di Al-Azhar. Mata kuliah yang banyak dan konsekuensi lulus yang berat, menjadikan talhisan mata kuliah menjadi sangat diminati, tidak hanya oleh para mahasiswa asing, tetapi juga mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Mesir sendiri. Paling tidak mata kuliah yang diajarkan di fakultas ushuluddin saja, misalnya, ada 17 mata kuliah dan itu maksimal jika ingin naik ke tingkat selanjutnya harus ada 14 yang memenuhi nilai standard, kalo tidak, bisa alamat mengulang satu tahun di tingkat yang sama dengan doktor yang juga sama.

Talhisan. Kata ini berarti rangkuman mata kuliah. Kadang saya berfikir, dari mana tempat foto copy yang berada di belakang kampus Al-Azhar itu mendapatkan talhisan itu, apalagi talhisannya lengkap dan sudah diuji coba, walaupun kadang kala juga meleset dari mata ujian yang diujikan alias tidak ada yang keluar waktu ujian semester. Ketika pertama kali masuk kuliah beberapa minggu lalu, saya mencoba mengintip di salah satu tempat foto copy talhisan di belakang kampus dan ternyata ada beberapa talhisan yang sudah beredar. Aneh, padahal mata kuliah baru diajarkan dan bahkan buku mata kuliah sendiri belum keluar. Pertanyaan itu keluar lagi, dari mana talhisan didapatkan ?

Salah satu talhisan mata kuliah yang beredar adalah pelajaran mata kuliah tauhid dan ulumul qur’an. Penasaran saya berujung pada pertanyaan kepada salah seorang teman dan katanya, “sudah maklum, dua pelajaran itu hampir bisa dipastikan sama tiap tahun, jadi wajar kalau talhisan sudah keluar sebelum mata kuliah diajar oleh doktor”. Sambil makan dua tho’miyah yang dicampur dengan telur, saya sedikit membenarkan perkataannya, tapi muncul pertanyaan lagi, mungkinkah foto copy itu bekerja sama dengan salah satu doktor Al-Azhar untuk membuat talhisan itu atau yang buat adalah teman-teman Al-Azhar sendiri ?

Pertanyaan ini sampai sekarang belum saya temukan, yang jelas, talhisan di belakang Al-Azhar ini sangat digemari ketika mendekati masa-masa ujian semester. Sekedar berbagi saja. Saya termasuk salah satu orang yang takut dengan sistem pengajaran Al-Azhar. Saking banyaknya mahasiswa yang berada di bawah naungan Al-Azhar dengan sistem kenaikan dan kelulusan yang sangat ketat, menjadikan kami harus benar-benar bisa faham (dengan segala cara) dengan soal yang nantinya diujikan ketika ujian semester tiba.

Dengan doktor yang mengajar kebanyakan kenal saja tidak. Boro-boro kenal, lebih sering malah tidak tahu namanya. Sistem Muhadoroh, yakni doktor menerangkan hampir seratus persen tanpa melibatkan peran mahasiswa menjadikan saya dan para mahasiswa hanya melongo dan berusaha menyerap keterangan dari sang doktor dan yang terpenting adalah nilai ujian bagus, itu saja. Makanya benar saja kalau adanya penjual talhisan yang ada di belakang Al-Azhar tidak pernah sepi peminat. Ya paling tidak sebagai salah satu penunjang selain dari buku muqorror yang telah disediakan oleh pihak kampus Al-Azhar.

Selain talhisan yang sering diburu oleh para teman-teman mahasiswa adalah tahdid. Secara bahasa kata ini berarti batasan. Ceritanya  seperti ini kenapa ada tahdid. Di awal saya sudah menjelaskan bahwa mata pelajaran yang harus lulus dalam satu tahun adalah paling tidak harus tidak kurang dari 14 mata kuliah dari 17 mata kuliah yang diajarkan, jika tidak ingin mengulang satu tahun lagi, sementara satu buku pelajaran mata kuliah paling tidak sekitar ada 300 halaman, sementara masa aktif kuliah kebanyakan hanya 2 bulan, kalaupun lebih palingan cuma sedikit.

Dari sinilah tahdid juga diburu oleh para mahasiswa. Tahdid berasal dari doktor yang mengajar karena beliaulah yang nantinya akan membuat soal dalam ujian semester. Misalkan, satu buku yang diajarkan oleh sang doktor akan ditahdid (dibatasi) mana yang diperkirakan masuk dalam ujian dan mana yang tidak. Dan tahu sendiri, Al-Azhar tidak mewajibkan mahasiswanya masuk kuliah, sehingga adanya tahdid dari sang doktor menjadi perburuan mereka-mereka yang kadangkala malas untuk membaca buku mata kuliah yang tebal-tebal itu, pakek bahasa arab pula.

Tidak hanya fenomena foto copy talhisan dan perburuan atas tahdid yang menarik untuk diketahui dari Al-Azhar yang sering dikenal sebagai lembaga kampus tertua di dunia ini, seringkali buku mata kuliah yang tebal-tebal itu ketika ujian tiba palingan soal yang diujikan hanya tiga pertanyaan saja, tetapi lembar jawaban yang diberikan ada 8 lembar dengan waktu yang diberikan hanya 2 jam saja.

Tidak hanya itu, hampir ditiap pojokan banyak para penjaga yang entah dari mana pihak Al-Azhar mendapatkankan para penjaga itu yang jumlahnya tidak sedikit yang sama sekali tidak memungkinkan kami-kami untuk mencontek. Bahkan, jika ‘ngeyel’ nyontek dan ketahuan sang doktor, alamat satu mata kuliah yang ketahuan ini bakalan tidak lulus dan harus mengulang satu tahun lagi. Al-Azhar tidak kenal sistem SKS dan masih menggunakan sistem paket, jadi wajar-wajar saja jika satu mata kuliah tidak lulus sekarang, maka harus mengulangi ujian lagi di tahun depan.

Obrolan saya dengan teman akrab saya di depan foto copy yang menjual talhisan mata kuliah sambil makan tho’miyah yang dicampur dengan telur masih tidak menemukan jawabannya kenapa talhisan itu selalu ada setiap kali ujian semester tiba, dan itu tadi siapa kira-kira yang membuat talhisan itu. Seandainya saya bisa tahu siapa yang membuatnya, itu bisa jadi lampu hijau untuk belajar kepadanya, karena saya menyadari, saya adalah salah satu orang yang takut tidak lulus sehingga mencari segala cara agar lulus, asal cara itu baik. Itu saja.

—————————————————————–

Catatan kecil ini terinspirasi dengan ucapan salah satu doktor Al-Azhar, “Al-Azhar membuka selebar-selebarnya pendaftaran dari berbagai negara dan ‘mudah’, tapi untuk meluluskannya berbeda. Kalau S1 yang penting faham, tapi kalau untuk S2, sebelum dia lebih pintar dari saya, maka tidak akan pernah saya luluskan karena Al-Azhar memegang tanggung jawab yang sudah dikenal dunia”. Makanya S2 di Al-Azhar banyak yang baru lulus setelah 8 tahun, salah satu faktornya karena seperti ucapan doktor itu.

Salam Kompasiana

Bisyri Ichwan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: