Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dari Pangalengan Ke Bungbulang Garut

REP | 20 December 2010 | 20:27 Dibaca: 2121   Komentar: 6   0

12928762351333918665

dari pangalengan ke Bungbulang

Bagi mereka yang ingin mencoba bertualang, cobalah melewati jalan ini. Memutari kaki gunung Malabar dan Gunung Papandayan. entah dengan sepeda motor atau naik mobil sebaiknya mencoba traveling melintasi jalur ini. Jalan aspal yang berkelok kelok mengitari gunung, naik dan menuruni lembah. Dengan lebar jalan rata-rata hanya 4 sampai 5 meter. Kebayang khan lebar satu buah mobil aja berapa. Tanpa trotoar jalan , apalagi pedestrian. Dikiri adalah jurang. Dikanan gunung tinggi yang seperti tembok tebal. Licin dan terjal. Belum lagi sering longsor lantaran tanahnya sangat gembur. Jika sudah mendekati Cisewu Ada turunan yang cukup menakutkan, karena selain tajam, sekitar30derajat. Di ujungnya adalah kelokan tajam sekaligus naik lagi 30 derajat. Mantap.. Meleng sedikit cilaka pasti.

12929011971909045785

pemandangan di talegong

Nikmatnya adalah melihat pemandangan indah. Hutan gunung, sawah bahkan kalau sudah menjelang bungbulang lautannya, samudera Indonesia terlihat. Dinginnya udara pasti kerasa. Karena disini adalah hutan hujan. /suara monyet hutan dan terbang elang akan terlihat, kadang-kadang.

Untuk rincinya dan rutenya ini saya gambarkan, Di pangalengan minum susu dan makan dulu yang banyak. Bekal dan bensin isi penuh. Sebaiknya pagi berangkat. Sebagai catatan pom bensin satu satunya Cuma di Pangalengan. Ngantri sudah pasti. Dari Pangalengan sampai Bungbulang tidak ada SPBU. Catatan disini belokannya pendek-pendek, dan tanjakan2 nya yg cukup unik, rata2 kecepatan sebaiknya 20-30 km/jam saja. Hati-hati kabut tebal cepat turun disini. pandangan bisa cuman 2 meter kedepan. kalau sudah begini siap-siap menggigil diperjalanan, dan melambatkan jalannya kendaraan.

Di Pangalengan bisa mampir di Situ Cileunca, Danau buatan ini dibangun oleh Belanda.
Air dari danau ini menggerakkan beberapa turbin pembangkit tenaga listrik di tiga tempat.
Air inilah yang jadi konsumsi penduduk di daerah selatan.
Buat yang belum tahu, Situ dalam bahasa Sunda artinya Danau.
Jadi Situ Cileunca adalah Danau Cileunca. Ada tempat berumput untuk gelar tiker.
Berikut tarif tiket dari berapa aktivitas yang bisa dilakukan di sana adalah:
  • Tiket masuk – Rp. 2.500 / orang (ada charge tambahan untuk mobil, tapi di nego aja)
  • Taman bermain anak – Rp. 2.000 / orang
  • Flying Fox – Rp. 5.000/orang
  • Berperahu ke seberang – Rp. 10.000/orang (di nego aja, rombongan saya berhasil menego 1 perahu isi 13 orang seharga Rp. 60.000 + tip Rp. 5.000)
  • Memetik strawberry di seberang danau – Rp. 5.000/orang
  • Arung jeram – Rp. 150.000 / orang.
  • Jet Ski – Rp. 150.000 / orang
Situ Cileunca pangalengan

Situ Cileunca pangalengan

Ada banyak kisah mistis di Situ Cileunca. Satu yang sering didengar orang adalah ”pertunjukan wayang”. Asep Jabog membenarkan hal tersebut. ”Tapi, sekarang, sudah jarang terdengar. Dulu, berdasarkan cerita, ada sekelompok penabuh wayang (dalang berikut para sinden dan nayaga,- red.) yang tenggelam di Situ Cileunca. Sejak itu, masyarakat sering mendengar raramean.

Situ Cilenca lewat,  masuk area perkebunan teh Cukul milik Teh Sosro.
Perkebunan di ketinggian sekitar 1600 meter di atas permukaan laut
ini cukup cantik kareana ada rumah jaman Belanda.
Rumah Jerman, sebuah rumah dengan gaya arsitektur Eropa dan
berada di antara hamparan kebun teh yang ada di pintu gerbang
perkebunan Cukul yang masih terawat, juga perumahan karyawannya
yang tertata rapi lengkap dengan halaman luas seluas lapangan bola.
Disebut Rumah Jerman karena gaya arsitekturnya yang menyerupai
rumah-rumah di Jerman sana.

Langsung ke Talegong. Pemandangan gunung dan lembahnya menggetarkan hati. Awas meleng langsung nyemplung di jurang setinggi 250meter. Di Talegong tidak banyak yg dijumpai. Semua sepi. Mobil dan motor sangat jarang melewatijalur sini. Wilayah Kecamatan Talegong di kabupaten garut, Jawa Barat, yang berbatasan dengan Cidaun kabupaten Cianjur dan Pangalengan kabupaten Bandung, ternyata hingga kini masih jauh tertinggal dalam segala bidang dibandingkan dengan kawasan Garut lainnya, terutama selain terbatasnya sarana transportasi dan komunikasi juga selama ini nyaris tidak memiliki akses informasi terhadap perkembangan dunia luar.

Talegong lewat langsung ke Cisewu. Dinamakan Cisewu karena di Cisewu ini terdapat Situ yang mempunya Jumlah Mata Air Seribu namun letaknya agak tersembunyi. Juga Lebih parah jalannya karena Semakin kecil lebar jalanya juga area yang sering longsor lebih banyak. Semakin sepi penduduk dan semakin tajam tikungannya. Naik turunnya jalan ujubillah deh.. Rem siapin.

Temuan terbaik disini adalah air terjun dan jembatan sungai Cilayu.


Cisewu lewat langsung ke Sukarame Caringin. Mulai lumayan banyak penduduk dan jalannya terpelihara,

walau di beberapa tempat longsor ada, tetapi resiko tertimpa batuan dari atas gunung sedikit berkurang.

Sukarame lewat baru bisa ke Bungbulang. Kota kecil yang jauh darimana-mana. Bungbulang terletak sekurangnya 75 kilometer arah selatan dari pusat kota Garut, Jalannya disini lebar. Sekitar 8-10 meter, namun aspalnya sering terkelupas akibat air hujan dan air gunung yang mengalir di jalan. Maklum drainase tidak ada yang ngurus. Dan ketika sampai di Bungbulang akan sedikit terasa kotanya, karena ada 1 buah supermarket Indomaret. Hiburannnya ? nonton TV aja. Dingin di luar . Obyek wisatanya Cuma Pantai Cijayana di Rancabuaya. Lumayan jauh.. dan kapan-kapan aja ceritain..

O iya nambahin sekalian.. ini dari website garut: s

1292875515818383529

jalan poros pangalengan - cisewu

aat ini sedang dibangun ruas jalan yang melintas dari Cukul Pangalengan Bandung hingga Sukarame, Cisewu dan Rancabuaya di Kabupaten Garut, Jawa Barat, untuk  memacu pengembangan denyut perekonomian warga “Garut Selatan” (Gasela). Pembangunan tersebut, berkonstruksi hotmix sepanjang 6 km dengan lebar jalan 6-8 meter, yang semula 3,5 meter, ungkap Kabag Informatika Setda Garut, Dik Dik Hendrajaya, M.Si kepada Garut News, Jumat juga mengemukakan, dikerjakan sejak Juli 2010..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Tifatul Sembiring di Balik Hilangnya …

Daniel H.t. | 8 jam lalu

Skenario Menjatuhkan Jokowi, Rekayasa Merah …

Imam Kodri | 10 jam lalu

SBY Hentikan Koalisi Merah Putih …

Zen Muttaqin | 10 jam lalu

Dari Semua Calon Menteri, Cuma Rizal Ramli …

Abdul Muis Syam | 10 jam lalu

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

(H-8) Jelang Piala Asia U-19 : Skuad …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Saat Impian Negara Menjadi Aksi Keluarga …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 8 jam lalu

Misteri Coban Lawe di Lereng Gunung Wilis …

Nanang Diyanto | 8 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: