Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Syaripudin Zuhri

Saya senang bersahabat dan suka perdamaian. Moto hidup :" Jika kau mati tak meninggalkan apa-apa, selengkapnya

Belajar Menghargai Sejarah dari Rusia

HL | 19 January 2011 | 16:58 Dibaca: 841   Komentar: 26   3

1295406590819176626

Coba lihat itu, ini bekas kandang kuda di jaman Tsar Rusia, sekarang menjadi gedung pameran. Foto by Syaripudin Zuhri.

Menghargai sejarah belajarlah pada Rusia, banyak anda temukan peninggalan sejarah yang ada di Rusia dan tetap terpilahara sampai saat ini. Terkadang saya tak habis pikir melihat pembangunan di negara kita, khususnya di ibu kota Jakarta, karena alasan pembangunan betapa banyak peninggalan-peninggalan sejarah masa lalu hilang lenyap begitu saja, tanpa ba bi bu dan sukar dicari lagi penggantinya.

Mungkin anda masih ingat, kejadian surat sakti Supersemar( Surat perintah sebelas maret ) entah ada di mana surat tersebut yang aslinya berada? Bayangkan surat yang begitu penting bagi sejarah modern Indonesia sampai saat ini pihak negara, dalam hal ini pemerintah, tak ada yang tahu di mana surat itu berada? Padahal Supersemar itu menjadi alat bukti yang paling otentik adanya peralihan sejarah, dari masa Orde Lama(Soekarno) ke masa Orde Baru(Soeharto), tapi anehnya belum sampai setengah abad surat itu tak tahu ada di mana, para ahli sejarah juga kebingungan di buatnya.

12954070571756610354

Idiologi boleh berubah, pemerintah boleh berganti, tapi gedung tidak dihancurkan. Gedung KGB di Moskow. Foto by Syaripudin Zuhri.

Itu baru satu sisi, sudahan bangunan-bangunan yang terletak pada awalnya dipinggir jalan yang bernilai sejarah, bisa saja disingkirkan begitu saja demi dibangunya mall-mall atau pusat-pusat pertokoan. Cagar budaya yang dulunya di jaga dengan baik, namun karena lagi-lagi alasan pembangunan bisa tergerus dan tergusur. Mungkin anda bila ke Eropa atau ke Rusia sampai saat ini masih bisa menemukan tremway, namun coba lihat di Indonesia, jangan-jangan relnya juga sudah tak ada, kalau tak salah di Jakarta jaman dulu ada tremway. Dan itu sebenarnya bisa dijadikan obyek wisata yang menarik bagi generasi dibelakangnya dan jangan-jangan mereka ingin naik dan merasakan bagaimana rasanya naik tremway, bukan kereta, kereta lain lagi ceritanya!

Ingat sepeda ontel, nah coba itu, itu sudah menjadi nilai sejarah sendiri. Jadi jangan karena alasan pembangunan gedung-gedung bersejarah, masjid-masjid tua di berhangus begitu saja. Saya jadi teringat masjid tua di Marunda, masih adakah? Ituloh yang berada di dekat rumah Si Pitung, si Banteng Betawi, masih ada tidak? Jangan- jangan habis tergerus oleh erosi pantai dan diamkan begitu saja oleh pemerintah Jakarta, tak ada usaha untuk mempertahankannya dengan di buat semacam “benteng”  agar  tetap tegak berdiri! Itu peninggalan sejarah yang harus dipelihara, agar generasi mendatang tahu bahwa di situ ada peninggalan mesjid bersejarah yang sudah berabad-abad! Jangan dibiarkan saja sampai sang ombak  laut menelannya mentah-mentah!

12954077511575099727

Nah lihat yang ini, benteng kecil di depan Kremlin tetap berdiri kokoh dan terjaga, walau sekarang berfungsi sebagai ruang untuk menjual tiket masuk ke Kremlin. Foto by Syaripudin Zuhri.

Masih ingat kasus masjid “embah priok” yang entah alasan perluasan pelabuhan, mau seenaknya saja di gusur dan dihilangkan begitu saja, tak menghargai bahwa di situ ada masjid dan pesantern! Untung masyarakat bertindak dan berani melawan petugas yang tak ngerti sejarah, mereka seperti robot, yang tak mau berpikir bahwa itu bukti sejarah, mau main menghancurkan saja. Yang jadi atasnyapun main perintah saja, tak mikir bahwa itu tempat bersejarah bagi ummat Islam yang ada di tanjung Priok khusunya dan pada masyarkat Betawi umumnya! Apa yang terjadi? Korban jiwa, untungnya pemerintah pusat cepat tanggap dan akhirnya dapat direda.

Hal tersebut mestinya tidak terjadi, kalau semua pihak menghargai sejarahnya sendiri, sejarah bangsanya sendiri, sejarah masa lalu! Makanya Bung Karno sampai mengatakan” Jangan sekali-kali melupakan sejarah(Jasmerah)!” Orang sering melupakan sejarah tidak akan menghargai sejarah dan akan dimakana oleh sejarah, karena sejarah akan berulang! Begitu juga kasus Jogyakarta yang sedang hangat-hangatnya sekarang ini, gimana rakyat Jogyakarta tidak marah, kalau pemerintah pusat dengan alasan Undang-undang mau “melenyapkan” begitu saja sejarah masa lalu. Makanya jangan main-main dengan sejarah, ingat,  sejarah bisa “menelan” peradaban manusia yang tidak menghargainya.

12954082121014633428

Nah ini perpustakaan di dalam hutan konversi di Moskow, namun tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Foto by Syaripudin Zuhri.

Makanya saya suka malu melihat Rusia, walau pembangunan berjalan pesat, namun gedung-gedung masa lalu/kuno tetap dijaga, dipelihara dengan baik. Maka bila anda ke Moskow, Rusia,  anda dapat menemukan banyak segala gereja-gereja tua yang  tetap berdiri tegak ditengah-tengah gedung yang modern dan itu sering terdapat di tempat-tempat yang strategis, di perempatan jalan misalnya. Jadi anda bisa menemukan bangunan tua yang terbuat masih dari kayu dua lantai di tengah-tengah gedung yang modern di Rusia! Coba itu.

Ada lagi, komuniskan sudah hancur, yang dihancurkan hanya patung pendiri KGB, lambang-lambang komunis tetap terpilahara dan tetap terjaga, bahkan di dekat WDNH ada patungnya yang besar sekali malah dipugar dan direnovasi menjadi lebih bagus lagi dengan lambangnya lengkap, mereka tidak takut dengan simbol! Bandingkan dengan Indonesia, dengan simbolpun takutnya bukan main! Padahal komunisnya sudah hancur dan tak laku di jual di masyarkat modern sekarang. Oya gedung KGB tegak tetap berdiri dengan kokohnya, walau di jaman komunis gedung itu adalah sarang “macan” yang sangat buas! Yang tak segan-segan membantai rakyatnya sendiri! Tapi gedung ini tetap dipertahankan dan dipelihara dengan baik, walau komunisnya sudah ditelan sejarah! Lagi pula siapa yang mau jadi komunis? Sebuah idiologi yang tak menghargai hak milik individu, semuanya milik negara, siapa mau? Saya yakin tak ada.

Jadi jangan karena alasan pembangunan tempat-tempat atau gedung bersejarah dihancurkan begitu saja, pembangunan bisa kok berjalan terus tanpa mengganggu gedung-gedung bersejarah, negara-negara Eropa, termasuk Rusia bisa melakukan itu, mengapa Indonesia tidak? Ayolah, Indonesia kaya dengan sejarah masa lalu, pertahankan itu, agar generasi mendatang bisa membanggakan karya bangsanya di masa lalu. Semoga kasus yang di Priok itu tak terjadi lagi,semoga kasus Supersemar tak terulang lagi, semoga masjid di  pantai Marunda tetap berdiri walaupun ada pembanguna perluasan pelabuhan Tanjung Priok, semoga masjid Pangeran Jayakarta tetap terpilihara dan berdiri kokoh, karena semua itu peninggalan sejarah. Mari kita jaga bersama.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai peninggalan sejarahnya dan manusia bisa selamat dari kerusakan budaya karena belajar dari sejarah dan suatu bangsa bisa selamat dari bahaya kehancuran juga dari sejarah! Ah omong kosong, nah yang bicara begitu, tak ngerti sejarah!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Taufik Mihardja dalam Sepenggal Kenangan …

Pepih Nugraha | | 27 August 2014 | 22:34

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 9 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 11 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: