Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Santorry Saad

Pemikir, Budget Analyst, Esais dan Calon Penulis, Pendidik, cukup mahir dlm beberapa cabang olahraga: Tenis, selengkapnya

Kapal ‘Sangkut’ Gampong Lampulo, Bukti Kedahsyatan Tsunami di Bumi Serambi Mekah

REP | 30 March 2011 | 12:40 Dibaca: 735   Komentar: 13   1

Tak terasa…air mataku menetes, merembes membasahi pipi, walaupun aku seorang lelaki sejati, seorang ayah yang dikaruniai 2 jagoan lelaki, tak sanggup hati ini teruskan menatap tayangan di laptop-ku, cukuplah sudah…sudahi saja, hati ini seperti ter-iris dan tertusuk sembilu, seperti dapat rasakan kesedihan dan perasaan kehilangan manakala seorang ayah dengan tegar menggendong anaknya yang telah tiada akibat musibah tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

DVD yang kubeli seharga Rp35 ribu di lokasi obyek wisata rohani “Kapal Sangkut” di Gampong Lampulo NAD, menjadi refleksi diri bahwa hanya pada-Nya kita berserah diri dan memohon pertolongan, sebagaimana firman-Nya : Cukuplah Allah SWT menjadi Penolong dan Allah SWT adalah sebaik-baik Penolong, maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari-Nya, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan-Nya. Dan Allah SWT mempunyai karunia yang besar (QS. Ali-Imran : 173-174).

Kapal nelayan yang ‘nangkring’ di atas rumah Ibu Abasiah (salah seorang korban yang terselamatkan), merupakan salah satu bukti kedahsyatan gempa yang diikuti tsunami yang melanda NAD pada minggu pagi 26 Desember 2004.

13016471691596975132

Kapal

Ibu Abasiah mengisahkan, dari jendela depan rumahnya yang berlantai 2, Beliau melihat banyak kapal ikan yang hanyut dengan kecepatan tinggi, seperti mobil-mobilan yang ditarik mundur, lalu dilepaskan. “Sesaat saya teringat cerita air bah di masa Nabi Nuh. Demi Allah, pada saat itu, bibir ini tak lepas mengucap dzikir, dan berdo’a : ‘ya Allah, ternyata kami bukanlah termasuk ke dalam para hamba-Mu yang beriman sehingga Engkau perlihatkan bencana dan kiamat ini pada kami’ (sambil teringat perkataan Ustad, bahwa orang-orang yang beriman tidak akan diperlihatkan kiamat).

Sesaat Beliau teringat kembali dengan tausiyah dari Ustad yang kerapkali terucap, “hasbunallahu wani’mal wakiil” (cukuplah Allah SWT sebagai pelindung), dan dengan lirih lanjutkan berdo’a : “…Namun ya Allah, bila Engkau ridha kami mati dengan cara seperti ini, sesungguhnya aku lebih ridha lagi ya Allah. Namun kalau boleh ya Allah, berikan kami kesempatan lagi untuk hidup agar dapat memperbaiki kesalahan dan dosa-dosa kami. Tolong hentikan musibah ini…ya Allah.” Dan keajaiban pun terjadi, seakan-akan ada suara malaikat yang membisikkan agar Beliau dan anak-anaknya naik ke atas kapal, yang dengan izin-Nya, ‘tersangkut’ di atas rumah Beliau (Kesaksian Ibu Abasiah, dalam buku saku “Mereka Bersaksi”, Peringatan 6 tahun tsunami di Gampong Lampulo, 2010).

Gampong Lampulo Kec. Kuta Alam Kota Banda Aceh, merupakan salah satu gampong (kampong) terparah saat peristiwa gempa dan tsunami itu terjadi. “Kapal itu menjadi salah satu objek wisata rohani, karena dengan melihatnya akan timbul kesadaran bahwa Allah SWT memperingatkan hamba-Nya melalui cobaan berupa gempa bumi dan tsunami, untuk selanjutnya semakin meningkatkan amal-ibadah dan ketakwaan kepada-Nya dan semakin yakin dengan kekuasaan Sang Maha Pencipta yang tiada tara,” demikian kata Keuchik (Kades) Gampong Lampulo, Alta Zaini.

13125137681171846528

Bersama rekan dari Unsyiah.

Selanjutnya Beliau, berpesan bahwa warganya sudah siap menerima wisatawan yang akan berkunjung ke situs tsunami tersebut sebagai bagian dari rangkaian kegiatan “Visit Banda Aceh tahun 2011”. Kapal ‘Sangkut’ sepanjang 18 m itu, kini ‘nangkring’ di lantai 2 kediaman Ibu Abasiah, dan untuk kepentingan pelestariannya… masyarakat sekitar rela dan ikhlas membebaskan lahannya untuk pembangunan semacam ‘musium’ pengingat kedahsyatan tsunami di NAD.

Selain ketabahan, sikap rela berkorban dan semangat juang yang tinggi, satu lagi kearifan lokal yang patut kita teladani dari masyarakat NAD yang sungguh sangat memuliakan/menghormati tamunya. Peumelia jamee adat geutanyoe (memuliakan tamu adalah bagian dari adat masyarakat Aceh), demikian prinsip yang teguh dipegang masyarakat NAD. So, jangan ragu Kawan, jangan khawatir akan keselamatan dan keamanan diri di Bumi Serambi Mekah…Mari kunjungi NAD, berwisata rohani ‘tuk tingkatkan kualitas dan keimanan diri.

13016477521175319909
Tampak Depan, Kapal

Akhirnya, postingan ini penulis tutup dengan mengutip petikan syair dalam Tari Rapai Geleng, yang begitu bersemangat, optimis ‘tuk bangkit dan membangun kehidupan yang lebih baik :

“Meu nyo ka hana raseuki, yang bak bibi roh u lua Bek susah sare bek sedeh hatee, tapie kee laen ta mita (Kalau sudah tak ada rezeki, yang sudah di bibirpun jatuh ke luar, janganlah bersusah-hati, janganlah bersedih-hati, mari kita pikirkan yang lain untuk dicari).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 8 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 8 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 8 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 8 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: