Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dian Onasis

Dian mulai belajar ngeblog tahun 2003. Sekarang menikmati passionnya di dunia menulis buku, terutama novel selengkapnya

[Jalan-Jalan] Kebun Binatang Ragunan, Binatangnya Mannnnaaa?

REP | 02 April 2011 | 00:00 Dibaca: 3911   Komentar: 8   1

13017018831609463450

Plang Kawsan Children Zoo, ada tulisan Freefortnya…

Sudah Diniatkan.

Sejak dua kali ke Zoo Guangzhou, China beberapa bulan lalu, aku sudah meniatkan dalam hati, bahwa kelak jika pulang ke Jakarta, Indonesia, aku akan mengajak putriku melihat kebun binatang Ragunan. Terakhir aku ke sana ketika usiaku 4 tahun, itu berarti puluhan tahun yang lalu. Ada kutitipkan sedikit harapan, bahwa bonbin Ragunan nantinya tak kalah keren dari bonbin Guangzhou.

Petunjuk Arah.

Sebagai orang yang tak begitu hapal jalan di Jakarta, penggunaan GPS lumayan membantu. Ketika kami sudah sampai di dekat pintu barat Ragunan, kami ternyata salah ambil belokan. Benar-benar di kawasan dekat Cilandak itu membingungkan. Walhasil kami harus memutar balik lagi. Baru yang ke dua kalinya kami mengambil belokan kanan yang benar ke arah Ragunan.

Petunjuk arah mengenai tiket dan penjelasan tempat parkirnya juga sedikit membingungkan. Aku kira, mobil bisa masuk. *Berharap seperti Taman Safari di Puncak, ternyata tak sama. Kamipun membayar sejumlah uang masuk tiket yang ternyata terbilang murah sekali. Setelah selesai parkir, kamipun masuk ke pintu di Utara III. Tak ada kejelasan apakah bisa langsung atau membeli tiket lagi. Sialnya, aku tak bertanya lagi. Main beli tiket lagi aja. Ketika nyampe di rumah, aku baru ngeh kalau aku sudah bayar tiket masuk dua kali. Hehehe…

Begitu melewati pintu masuk, “paparazzi” amatiran yang memotret dan seringkali “memaksa” menjual fotonya, memotret kami bertiga tanpa ijin. Aku jadi ingat masa-masa wisuda jika sudah demikian. Aku berharap tidak berjumpa dengan si tukang potret itu lagi nanti. Aku dengar dari satu dua pengunjung di sana, satu foto bisa dihargai mahal, apalagi kalau kita menunjukkan wajah tertarik membelinya.

1301702008682472624

gendong tinggi sama ayah, melihat binatang yang minim jumlahnya

Taman Bermainnya Banyak.

Ya… kesan pertama adalah lokasinya adem serta taman bermainnya banyak. Ketika kami masuk, aku dan keluarga kecilku mencari tempat makan dulu. Kebetulan dekat pintu masuk itu ada sebuah rumah makan kecil dan lauknya cukup enak. Minimal cukup mengenyangkan perutku, suami dan putriku Billa.

Suamiku sempat melirik tempat penyewaan sepeda, namun gak ada yang memiliki boncengan untuk batita, sehingga ragu untuk menyewa sepeda Polygon yang ada di dekat pintu masuk Utara I. Akhirnya kami memilih jalan kaki.

Beberapa meter dari pintu masuk itu terdapat Children Zoo… Logikaku berpikir bahwa mungkin ini semacam kebun binatang untuk anak-anak. Sepertinya memang demikian, ada kawasan bermainnya, kemudian ada penyewaan kuda poni, beberapa kandang burung dan monyet. Sayangnya kawasan ini terasa kurang diperhatikan, karena tempat orang berjalannya untuk melihat binatang yang ada gak begitu jelas. Tahu-tahu kami sekeluarga sudah mentok di satu kawasan berpagar dan tak bisa kemana-mana, harus puter balik. Billa putriku sempat mengira kami akan pulang karena keluar pagar. Akhirnya kami memilih kembali ke pintu masuk children zoo nya untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Oh iya, memasuki children zoo harus membayar uang tiket masuk lagi. Tiket itu bisa digunakan berulang-ulang selama satu hari itu. Jadi jika sudah bosen, terus jalan-jalan keluar, dan mau nyoba masuk lagi, tak perlu beli tiket lagi.

Binatangnya Mana?

Mengingat kami tidak tahu seberapa luas bonbin Ragunan ini, maka kami memilih untuk mengikuti tour dari kereta keliling. Aku berharap bisa melihat banyak binatang dengan menggunakan kereta ini tanpa harus capai jalan kaki keliling bonbin. Setelah membayar sejumlah uang untuk tiketnya, kami menunggu sebentar. Tak lama kereta keliling yang memiliki 4 gerbong mini itu datang.

Aku dan keluargaku memilih duduk di depan sekali supaya nyaman. Perjalanan dimulai. Lokasi yang dilewati mulai terasa aneh buatku. Karena hingga 2 menit pertama, aku hanya melihat pohon, orang piknik di rumput dan dibawah pohon dan banyak tempat jual makanan. Aku sampai berpikir, ternyata orang Indonesia ini memang suka makan banget ya, tempat seperti kebun binatang begini aja, tempat makannya banyaaaaak banget.

Perjalanan berlanjut, aku hanya sempat melihat sebuah kawasan burung-burung dan adegan pemandian gajah yang sangat sebentar terlihat, karena kereta kelilingnya cepat sekali berjalannya. Aku membandingkan dengan kereta keliling milik zoo di Guangzhou, betapa mereka sekali-sekali melambat ketika melewati kandang binatang yang khusus agar penumpang bisa melihat binatangnya lebih jelas atau mengambil foto. Sementara kereta keliling ini benar-benar berkeliling tanpa berhenti sebentar-sebentar.

Aku menarik nafas sedih, karena hingga akhir tour kereta keliling itu, aku tak melihat binatang apapun. Yang aku lihat hanya pohon, tempat piknik, tempat orang jual boneka, tempat makan dan banyak orang pacaran. Lho jadi binatangnya mana?

Ketika tour selesai, aku dan suami saling pandang dan menaikkan bahu. Aku tak mengerti sama sekali, untuk apa kereta keliling itu dilakukan, jika tak bisa melihat binatang apapun? *sigh…

13017021881817398900

Kecapekan Jalan, Duduk sebentar ngobrol bareng Billa.

Sigh Seeing By Walking

Akhirnya kami putuskan untuk melihat-lihat binatang-binatangnya dengan berjalan kaki. Aku bersyukur sekali, putriku sangat menikmati suasana bonbin. Ia berlari-lari, sekali-sekali minta gendong, sekali-sekali minta bekal minum atau snack yang sengaja aku bawa dari rumah.

Aku senang di bonbin ini banyak tong sampah. Mudah sekali menemukan tong sampah setiap beberapa meter. Sayangnya para pengunjung banyak yang “tidak melihat” tong sampah itu. Sehingga yang namanya sampah tetap saja ada dimana-mana. Hiks.

Aku juga suka area danau, anginnya kencang, cukup bersih, meskipun aku merasa kurang maksimal pemanfaatnya area danau tersebut. Aku ingat kawasan danau kecil di salah satu taman di Guangzhou, yang dimanfaatkan oleh orang-orang di sana untuk hunting foto, untuk taichi, serta untuk taman bermain keluarga.

Perjalanan kami cukup memberikan kepuasan tersendiri. Akhirnya aku dan keluarga kecilku berhasil menemukan kawasan burung-burung. Meskipun tidak banyak jenisnya, namun lokasinya bagus. Aku juga melihat sekumpulan anak-anak muda pencinta lukisan, “ngejogrok” di depan masing-masing kandang burung itu untuk melukis burung-burung tersebut.

Perjalanan berlanjut. Aku dan keluargaku sempat kebingungan, lagi-lagi soal petunjuk arah. Ada sih petunjuk arahnya, tapi tidak ada petunjuk arah yang kecil yang mengarahkan ke kandang mana saja. Kami akhirnya mencoba meminta peta bonbin di pusat informasi dekat pemberhentian kereta keliling. Aku diberikan selembar kertas print out mengenai lokasi binatang. Kalau melihat petanya sih, buanyaaaak banget binatangnya. Tapi aku tak menemukan sebanyak itu binatang di sana.

Putriku berteriak-teriak memanggil kuda nil. Ia ingin melihat kuda nil secara langsung. “Kuda Nil… ! KUda Niiiil ! Kamu Dimana?” Demikian teriak putri kecilku. Mengingatkanku pada teriakan memanggil seorang teman yang tengah bersembunyi. Hehehe.

Sayangnya hingga akhir perjalanan keliling bonbin, aku tak berhasil menemukan Kuda Nil. Aku juga tak berhasil menemukan Jerapah. Kebetulan semalam sebelum pergi ke bonbin, putriku yang berusia 2 tahun 7 bulan itu menonton film Madagaskar. Sehingga ia tertarik untuk melihat Kuda Nil, Jerapah, Singa dan Zebra. Kalau Zebra aku yakin tak ada. Karena di petunjuk arah juga tak ada keterangan zebra. Hingga akhir perjalanan, putriku hanya bisa puas dengan melihat onta,  singa, harimau Sumatra dan harimau putih saja.

Kami sempat melihat orang utan, berbagai jenis monyet, beberapa jenis binatang air, seperti berang-berang dan buaya (lokasi buaya ini jorok bangeeeeeet). Hanya itu rasanya yang kami lihat. Sempat melewati venue Gorilla, ternyata ditutup. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, jadi kawasan yang baru tersebut ditutup. Mengapa aku yakin itu kawasan baru? Karena catnya masih terang, tamannya masih rapi dan lokasinya lumayan jauuuh masuk ke dalam.

Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang. Sebelumnya sempat sholat ashar di lokasi mushola dekat rumah makan yang ada di pinggir danau. Alhamdulillah tempatnya bersih, air wudhunya juga banyak. Ini yang sangat aku sukai  tinggal di Indonesia tercinta ini. Tidak pernah sulit mencari tempat sholat.

1301702921535525749

Kakak Billa, kenapa melihat ke sini? Lihat ontanya yaaa ^_^

13017029921516320281

Nyaris saja pipi mulus Billa ditowel monyet nih… Hiks…

Kesimpulannya …

Setelah keliling bonbin kurang lebih 2-3 jam, karena kami tiba jam 1 siang, jam 4.30 kami berencana pulang. Aku sampai pada kesimpulan, bahwa bonbin Ragunan ini nyaris sama luasnya dengan bonbin Guangzhou. Pohon-pohonnya juga mungkin sama banyak meskipun di bonbin Ragunan, lebih terasa seperti hutan, karena tidak terlalu beraturan pohon yang tumbuhnya. Lebat dan kalau lewat jam 5 sore, rasanya tak nyaman untuk keliling ke bagian terdalam dari bonbin.

Biaya masuk bonbin ini juga jauh lebih murah daripada bonbin Guangzhou, tempat bermainnya juga banyak. Malah kecenderungan yang aku lihat sih, anak-anak terlihat lebih antusias bermain bom-bom car, dan berbagai jenis mesin permainan yang sebenarnya bisa di dapat di tempat bermain umumnya. Aku merasa agak aneh saja, karena setiap venue memiliki tempat bermain dengan mesin-mesin tersebut. Mengapa tidak disatukan dalam satu venue saja ya, sehingga lokasi tempat bermain yang ada, bisa dimaksimalkan untuk kandang binatang?

Lokasi satu kandang ke tempat lain, jauh-jauh bangeeeet. Kog ya jadi kecapekan gitu ya, tanpa banyak bisa melihat binatang. Di bonbin Guangzhou dulu, meskipun jauuuh masuk ke dalam, namun lokasi kandang binatangnya berdekatan. Sehingga kita sangat mudah melihat-lihat berbagai jenis binatang dalam waktu berdekatan. Di bonbin Ragunan, kita sudah kecapekan duluan untuk melihat kandang binatang satu dengan binatang lainnya.

Tempat makannya banyak. Kekhawatiran kami ketika mau makan, takut gak ada tempat makan terjawab sudah. Orang Indonesia emang hobby makan banget. Berbagai jenis kuliner bisa ditemukan disini. Banyak juga orang-orang yang berjualan makanan tradisional, minuman serta penjual-penjual liar. Kenapa aku bilang liar, karena mereka hanya menggunakan lapak-lapak kecil di berbagai tempat yang banyak tempat orang pikniknya.

Bicara tentang orang piknik, kebun binatang di Ragunan ini ternyata memang dimanfaatkan juga untuk tempat berpiknik. Tempat keluarga makan-makan, atau sepasang manusia pacaran maupun segerombolan anak-anak remaja kumpul bareng dan bercengkrama. Aku perhatikan di petanya, kurang lebih ada 3 venue besar yang bertanda Picnic Area. Waaah ternyata memang diakomodasikan menjadi areal piknik. ^_^V  Hal seperti ini tidak aku temukan di zoo Guangzhou. Kawasan makan-makannya juga tidak banyak. Mereka sepertinya buka tipikal suka makan kali ya, karena tidak sebanyak di Ragunan tempat makan dan pikniknya.

Tiga hal yang paling aku sesalkan terhadap bonbin Ragunan ini adalah, pertama masalah kereta keliling yang tak jelas juntrungannya, karena tak membuat pengunjung jadi tahu lokasi-lokasi kandang binatangnya, kemudian coretan-coretan di berbagai dinding, mulai dari dinding tempat duduk hingga tiang besi atap lokasi jalan bagi pejalan kaki. Bener-bener deh anak-anak remaja pengunjung bonbin ini tidak tahu bahwa kesenian grafis atau coret moret itu tak layak dilakukan di fasilitas umum. Hal terakhir yaaaach standar banget sih. Masalah kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya. Ini gak dimana-mana ya. Kalau alasannya gak ada tong sampah sih aku coba maklum. Tapi ini, tong sampah ada dimana-mana, masih juga membuang sampah sembarangan.

Ada beberapa pemulung aku perhatikan cukup ampuh mengurangi sampah plastic yang bisa daur ulang. Sayangnya penampilan si pemulungnya sama dengan penampilan pemulung di perumahan. ^_^V *lho kenapa pengen beda? Iya aku sih berharap pemulungnya dikasih seragam gitu, buat bantuin para petugas kebersihan yang sepertinya jumlahnya sangat sedikit, sehingga sempat kumelihat seorang petugas yang keteteran melaksanak tugas kebersihan di bonbin tersebut.

Oh iya, di luar lokasi Bonbin, juga banyak para penjual boneka dan buah-buahan. Aku sempat membeli belimbing dan sawo asal Depok. Manis dan enak. Harganya relative terjangkau. Ada juga beberapa tempat orang menjual souvenir lainnya, seperti perhiasan ataupun permainan anak-anak. Seru banget lihatnya.

Baiklah, apapun itu. Aku tetap suka pergi ke bonbin Ragunan. Besar harapanku pemerintah DKI bisa memaksimalkan kebun binatang ini ke asalnya yaitu sebagai sebuah KEBUN BINATANG, bukan sekedar TEMPAT PIKNIK  belaka.

Budget Yang Keluar

Ongkos Masuk Dewasa Rp. 4.000 (beli untuk dua orang) = Rp. 8.000 (Berhubung rajin banget beli ampe dua kali, total keluar uang jadinya Rp. 16.000)

Ongkos Mobil Rp. 5.000. Sementara anak-anak di bawah umur 3 tahun, GRATIS.

Perlindungan Asuransi Rp. 500 per orang. (berhubung bayar dua kali, total uangnya menjadi Rp. 2.000)

Ongkos Kereta keliling Rp. 5.000 per orang (total menjadi Rp. 10.000)

Tiket Masuk Children Zoo Rp. 1.500/ orang dan anak-anak dihitung bayarnya. (total menjadi Rp. 4.500)

Biaya Makan, Untuk bertiga dengan lauk sop iga, gado-gado, nasi 3 piring, teh manis 3 gelas adalah hampir 50rb.

Belanja Buah untuk Oleh-Oleh adalah 2 kilo Sawo seharga Rp. 25.000 dan 1 kilo Belimbing seharga Rp. 13.000.

Dengan demikian, total uang yang dikeluarkan selama ke Kebun Binatang Ragunan adalah : kurang lebih Rp. 125.000 saja.

***

Pamulang Maret 2011, sebuah catatan untuk membandingkannya lagi, jika suatu hari ke Kebun Binatang lainnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 3 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 4 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 4 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

So-SIAL Media: Interaksi tanpa Intonasi …

Zulkifli Taher | 8 jam lalu

Inovasi, Kunci Indonesia Jaya …

Anugrah Balwa | 8 jam lalu

Hak Prerogatif Presiden dan Wakil Presiden, …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | 8 jam lalu

Kebohongan Itu Slalu Ada! …

Wira Dharma Purwalo... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: