Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Paramadina

Lahir di Semarang, kuliah di Surabaya. Jalan jalan adalah hobi yang mengasikkan seperti menulis. Selain selengkapnya

Ludruk 5000an

REP | 17 April 2011 | 05:22 Dibaca: 608   Komentar: 0   1

Cerita apa hari ini??

Namanya Sunaryo. Lelaki berusia 58 tahun ini merupakan pendiri dari Ludruk Irama Budaya Surabaya. Ludruk ini merupakan satu satunya Ludruk asli Surabaya yang masih eksis sampai sekarang. Mak Yah, sapaan akrab Sunaryo sejak kelas 2 SD memang sudah akrab dengan dunia Ludruk dari salah seorang saudaranya. Tak heran bila melihat antusiasme penonton yang makin berkurang saat ini Mak Yah tetap tak mau berpindah kelain hati. “Mau rame, mau sepi penonton saya harus terus main mbak, wong jiwa saya memang disini,” ujar beliau ketika saya temui malam itu (14/04).
Pentas setiap malam jumat dan malam minggu tak membuat Mak Yah kehabisan ide cerita. Seperti yang dipentaskan malam itu, Gendruwo Gandrung. Banyak ide cerita yang memang dibolak balik dari pementasan sebelumnya. “Kalo dulu lakonnya cewek, sekarang ganti cowoknya trus tinggal ganti judul, gak onok sing ngerti wes”, terang Mak Yah sambil tertawa. Kretifitas tinggi memang dibutuhkan dalam dunia Ludruk. Hal ini bisa saya buktikan dengan pengakuan Mak Yah bahwa tidak pernah ada skrip yang diberikan pada pemain. Pemain harus benar benar improvisasi sesuai judul dan tema yang akan dipentaskan. Bahkan pemilihan peran dan arahan sutradara baru diberikan 10 menit sebelum pentas dimulai. Hebat bukan??!
Malam itu saya mendapat kesempatan untuk mengintip backstage Ludruk Irama Budaya. Tepat pukul 19.00 beberapa pemain ludruk sudah berdatangan untuk persiapan merias diri. Kondisi backstage yang seadanya bahkan bersebelahan dengan toilet tak meyurutkan semangat para pemain untuk persiapan. Jangan salah, para pemain ludruk yang rata rata pria ini, dengan terampil merias diri memakai kondedan make up layaknya perempuan cantik dengan ketampilan mereka sendiri.
BACKSTAGE: Punya cara sendiri merias diri
Semua selesai pukul 21.00. Kursi penonton yang berjumlah kurang lebih 100 buah memang tak tampak dipadti penonton. Namun, ketika tirai panggung mulai dibuka satu persatu penonton berdatangan. Riuh suara gamelan dan suara sinden menyanyikan lagu lagu jawa yang saya juga tak begitu mengerti artinya. Pertunjukan awal mempertunjukkan seorang wanita dan laki laki yang bergantian menari diikuti dengan suara gamelan. Begitulah seterusnya hingga sembilan wanita wanita cantik muncul.
Sulit dipercaya mereka adalah laki laki yang cantik sekali….

Ada juga parikan yang populer pas jaman saya SD dulu. Para pemain membawakan parikan Briptu Norman yang lagi booming sekarang. Hahaha…dan berhasil membuat saya tertawa bersama penonton yang lain. Pertunjukan ini belum selesai hingga pukul 11 malam itu malah makin malam makin asyik berhaha hihi. Hanya dengan 5000 rupiah sajian ludruk ini mampu memberikan sensasi yang luar biasa menarik ditengah hiruk pikuk mall Surabaya. Dengan bayaran yang tak bisa dibilang cukup mereka tetap bisa membuat penonton tertawa.
*Berminat kemari. Langsung saja datang di THR bagian belakang HI-Tech Mall Surabaya. Selain sajian Ludruk Irama Budaya ada juga pertunjukan Ketoprak Budaya dan Wayang Orang.
Katanya gak mau ditiru Malaysia, siapa lagi yang mau nonton kalo bukan kita ??!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: