Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Qodhiel Muhammad

Liberal dan Pluralis

Bersantap Sego “Kucing” sambil Nyruput Kopi Joss !!

REP | 21 April 2011 | 02:07 Dibaca: 272   Komentar: 3   0

Bersantap Sego Kucing” sambil Nyruput Kopi Joss !!

Jika berkunjung ke Jogja, tundalah makan malam hingga tiba di sana. Kesempatan pertama disarankan jika tiba di Stasiun Tugu Jogja, jangan lupa untuk pergi mampir ke warung makan “angkringan” di kawasan stasiun Tugu, sebelah utara rel kereta api.

Anda tidak akan rugi. Bukan saja bisa menikmati anekan masakan gorengan yang relatif murah, tetapi banyangkan asiknya menyantap nasi kucing dengan menyedu kopi joss sambil lmenikmati indahnya malam kota Jogja di bawah lampu merkuri dan bising deru lalu-lalag kereta api.

Suasana kehidupan malam di Jogja dalam beberapa tahun terakhir ini kelihatan semakin marak. Hal ini dikarenakan banyak bermunculan penjaja makanan warung “angkringan” yang telah merebak ke setiap sudut jalan, teureama pada tempat-tempat yang strategis. Namun hanya satu-satunya tempat warung makan “angkringan” yang ramai sekali dikunjungi hingga malam sampai dini hari, yaitu angkringan mbah Wagino (65). Begitu turun dari Stasiun Tugu di Jogja, lokasi warung angkringan itu bisa dicapai tak sampai 20 menit jika ditempuh dengan jalan kaki.

Di kawasan ini setidaknya ada lima warung angkringan, namun yang sangat terkenal dan dikenal banyak orang adalah warung angkringan milik mbah Wagino dari Bayat Klaten, karena dianggap merupakan pelopor dari warung angkringan di Jogja. Kelima warung tersebut berdekatan, sama-sama berada di tepi jalan di sela-sela pinggir jalan trotoar. Tetapi warung angkringan mbah Wagino lebih ramai di kunjungi pembeli dari berbagai kalangan baik itu orang biasa, tukang becak, mahasiswa, pelajar, para seniman, hingga para elit politik.

Warung angkringan itu bukan sekedar menyediakan aneka hidangan gorengan dan nasi kucing. Dia jelas-jelas “menjual” suasana hangatnya malam dengan sedapnya aroma kopi joss.

Berdiri di warung angkringan itu, pandangan mata akan menyapu suasana bising stasiun Tugu Jogja dan ramai lalu-lalang kendaraan maupun pejalan kaki yang melintas yang terkadang diiringi dengan ritme suara klakson kereta api yang berkoar.

Dari kursi panjang tempat kita duduk, atau kita duduk lesehan di tepi jalan, terlihat pula alat transportasi penduduk berupa becak, andong atau dokar dan kerata api khususnya yang hilir-mudik mengatar penumpang.

Tentang santapannya, ada sate jeroan ayam: sate usus, sate rempelo ati, sate telur puyuh, cakar ayam, kepala ayam, aneka gorengan mulai dari bakwan, mendoan atau tempe, tahu, pisang goreng, aneka kemilan dari kacang goreng,, kerupuk, aneka nasi dari nasi jangan tempe, nasi goreng, nasi sambal bakmi dan yang tak kalah menarik yaitu nasi kucing yang berisi nasi dan sambal ikan teri laut, dan masih banyak lagi aneka hidangan makanan yang disajikan di warung angkringan. Tak perlu khawatir, daging ayam maupun jeroan ayam baik itu berupa sate usus, sate rempelo ati, ceker ayam, kepala ayam tidak mengidap virus H5N1 atau flu burun. Dijamin amat halal Karena mbah amat membikin sendiri makanan tersebut.

Kalau mau menambah selera makan yang tidak ketinggalan dan ditunggu-tunggu banyak pembeli adalah kopi jossnya mbah Wagino. Kopi yang panas diisi dengan arang yang masih menganga yang diambil dari tungku bakardan dicelupkan ke dalam kopi. Suara yang muncul mak joss dan nyes itulah kemudian kopi tersebut dijuluki kopi joss. Dijamin rasa hangatnya akan menggoyang tubuh dan mata kita.

Karena ukurannya cukup bervariasi, kopi disajikan dalam bentuk gelas berukuran besar dan kecil. Setiap segelas kopi joss harganya hanya Rp 1500,- begitu juga dengan gorengan harga persatuanya Rp 300,- dan nasi Rp 700,-.

“Disinilah bila ingin makan sambil menikmati pemandangan hingar bingar dan kehangatan malam Jogja dengan melihat purnama malam” kata Djaduk Ferianto, pentolan musik keroncong Sinten Remen.

Berbeda dengan suasana siang hari yang sibuk dengan aktivitas masyarakat, tapi lampu merkuri yang berwarna kekuningan dengan lampu neon lima watt dan suara bising kerta api dan lalu-lalang kehidupan malam menjadi pemandangan yang mungkin akan memberi suasana lain.

Kopi Joss

Sebenarnya mereka yang berdatang dan mampir ke warung angkringan mbah Wagino rata-rata memburu kopi joss karena rasanya yang khas dan nikmat.

“Semua tamu banyak yang minta kopi joss,” kata mbah Wagino pemilik warung angkringan. Meskipun ada juga minuman lain selain kopi joss yang disajikan seperti es teh, teh hangat, es jeruk, jeruk hangat, susu, kopi mix, dan wedang jahe.

Karena menjadi minuman faforit harga pun cukup murah, harga pergelasnya hanya Rp 1000,- hingga Rp 1500,- ada yang gelas besar dan gelas kecil terserah keinginan pembeli. Dan bisa juga disedu sambil menongkrong dipinggir jalan yang sudah disediakan tikar ataupun ngangkring di kursi panjang.

Menurut pengakuan mbah wagino, ternyata arang yang dimasukkan ke dalam kopi juga bisa mengangkat racun-racun yang terdapat dalam kopi dan juga dapat memisahkan endapan kopi dalam gelas. Kopi tersebut merupakan kopi buatan sendiri yang ditumbuk tanpa menggunakan campuran tambahan apapun sehingga keaslian rasa dan nikmatnya kopi memiliki aroma yang khas.

Nasi Kucing

Jangan lupa melewatkan makanan khas setempat. Orang menyebutnya nasi kucing. Makanan ini sepintas memang mirip makanan hewan kucing karena disajikan hanya nasi dan teri namun nasi kucing ini diberi sambal yang dicampur ikan terilaut. Dengan bahan cabe rawit, cabe besar, garam, bawang putih, dan tomat dan ikan teri.

Sambal yang sudah dihaluskan itui kemudian dicampur dengan ikan teri. Kemudian nasi yang sudah diberi sambel teri tersebut dibungkus dengan menggunakan sehelai daun pisang. Harga per per bungkuspun relative murah hanya Rp 500,-. Lebih asyik lagi bila makan nasi kucing detemani dengan sate usus ayam atau sate rempelo ati dengan minuman special kopi joss. Bila ingin merasakan nikmatnya kopi joss dan nasi kucing sebaiknya makan gorengan jangan terlalu banyak agar tidak ngantuk saat menikmati indahnya malam kota Jogja.

“Makan nasi kucing dan minum kopi joss ini merupakan perpaduan yang tidak dapat dipisahkan”, ujar mbah Wagino.

Nikmatnya nasi kucing terasa lebih nikmat ketika diteguk dengan hangatnya kopi joss saat malam menjelang pagi ketika angin malam bertiup sepoi-sepoi, udara mulai dingin, dan kedip bintang-bintang malam.

*Ehm…guyiih!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 3 jam lalu

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 12 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 13 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Florence, Anda Ditahan untuk 20 Hari …

Farida Chandra | 8 jam lalu

Deddy Corbuzier Bikin Soimah Walkout di IMB …

Samandayu | 8 jam lalu

Semua Gara-gara Air Asia …

Rinaldi | 8 jam lalu

Negeri Berutang …

Yufrizal | 8 jam lalu

Dua Wajah Manusia dalam Antologi Cerpen dan …

Alexander Aur | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: