Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Iwa Sobara

Saat ini penulis sedang menempuh studi di Universitas Bern, Swiss. Anda juga dapat membaca tulisan selengkapnya

Naik Naik ke Puncak Gunung

HL | 04 May 2011 | 06:10 Dibaca: 628   Komentar: 20   30

13044780901324839702

Jungfraujoch

Mungkin Anda pernah mendengar „Jungfraujoch“. Ya, benar sekali. Jungfraujoch yang terletak di negara Swiss merupakan puncak gunung tertinggi di hamparan benua Eropa. Tempat ini merupakan obyek wisata yang sangat banyak dikunjungi oleh wisatawan khususnya dari Asia. Seperti halnya hari minggu ini (1/5/2011), tempat ini didominasi oleh wisatawan yang berasal dari India dan China, tidak ketinggalan pula dari Korea. Jika biasanya wisatawan dari negeri Matahari Terbit selalu terlihat di manapun kita berada, namun pasca Tsunami beberapa bulan yang lalu, tampak trend tersebut sedikit berubah.

Untuk menuju puncak tersebut tidaklah mudah. Dari stasiun kereta Lauterbrunnen wisatawan asing yang dikenakan biaya sekitar 160 Swiss Franc (sekitar Rp. 1.588.000,-) harus menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan kereta khusus. Jungfraujoch atau dikenal juga dengan sebutan „Top of Europe“ ini juga menjadi tempat yang sangat digemari wisatawan dari tanah air. Tak jarang kita dapat bertemu dengan saudara dari tanah air yang sedang melancong di Swiss. Gunung yang berselimutkan salju abadi ini memang tidak pernah sepi pengunjung, terlebih jika cuaca bagus.

Pada tanggal 13 Desember 2001 tempat ini menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Dari stasiun Lauterbrunnen kita akan melewati beberap stasiun yang lebih rendah seperti Kleine Scheidegg (2060 m), kemudian Eigergletscher (2329 m), Eigerwand (2865 m), Eismeer (3158 m), hingga akhirnya tiba di Jungfraujoch (3571 m). Di setiap stasiun kereta akan berhenti selama lima menit. Di sana para wisatawan dapat melihat pemandangan melalui kaca jendela menuju ke luar sana. Tahun 2012 mendatang kereta yang kini menjadi fasilitas transportasi satu-satunya menuju puncak gunung tertinggi ini genap akan berusia 100 tahun. Selama di perjalanan, saya hanya bisa terkagum-kagum dengan kehebatan orang-orang di sini membangun sarana transportasi sehebat ini. Bagaimana tidak, gunung batu yang keras dibelah dan dijadikan terowongan yang dapat menjadi jalur kereta dan membawa penumpang ke puncak sana.

13044461491347141920

Jungfraujoch: Top of Europe

Setibanya di stasiun terakhir, kita diberikan berbagai macam pilihan tempat yang dapat dikunjungi, di antaranya adalah Observatorium Sphinx, Aletsch Glacier, Gletscher Palast, dan lain-lain. Di pelataran Observatorium Sphinx kita bisa melihat hamparan gletser sepanjang 23,1 km. Ini merupakan gletser terbesar dan terpanjang di seluruh Pegunungan Alpen. Luas keseluruhan gletser tersebut pada tahun 1973  adalah sekitar 128 km persegi. Karena kita berada di ketinggian, maka jangan heran jika kita akan mengalami sedikit pusing karena lapisan oksigen yang cukup tipis. Saya melihat seorang wisatawan asal India yang merasakan hal tersebut. Sampai-sampai dia hanya bisa duduk terdiam saja selama berada di puncak gunung.

Mulai tahun 1931 Observatorium digunakan juga sebagai stasiun untuk berbagai macam penelitian disiplin ilmu, seperti meteorologi, glasiologi, penelitian radiasi , astronomi, fisiologi dan kedokteran. Tempat ini terbuka untuk para peneliti dari seluruh dunia. Pada tahun 1937, Observatorium Sphinx ini dilengkapi dengan teleskop yang memiliki panjang 76 cm dan dengan alat ini  orang dapat melihat pemandangan pegunungan, Glacier Aletsch dan  lembah-lembah. Stasiun ini merupakan salah satu stasiun pemantau cuaca paling modern di dunia dan juga yang paling tinggi di Eropa.

1304446095726762487

Istana Gletser

Setelah puas melihat hamparan luas gletser, saya kemudian beranjak meninggalkan tempat tersebut dan pergi menuju istana gletser atau Gletscher Palast. Di tempat ini wisatawan dapat melihat berbagai karya seni ukir-ukiran es. Mulai dari yang berbentuk penguin, rumah iglo beserta orang Eskimo, burung-burung yang biasa hidup di Kutub Utara dan masih banyak lagi bentuk lainnya. Masih di puncak gunung, kita bisa beristirahat sejenak dan makan siang di sebuah restoran. Antrian pengunjung restoran terlihat sangat panjang. Dua orang pria berwajah Asia tampak tidak sabar dan menerobos antrian. Ciri khas dari Negara yang tidak memiliki kedisiplinan dalam hal antri bisa kita lihat seperti halnya jika kita berada di Indonesia. Seorang perempuan tua berbahasa Jerman lalu dengan marah berkata “Das stimmt nicht!” (Itu tidak benar). Di dunia barat hal kecil seperti antri memang telah menjadi sebuah budaya yang dibuat dan disepakati bersama dan dipraktekkan dalam keseharian. Namun, wisatawan dari India sepertinya terlihat lebih santai. Karena kebanyakan dari mereka datang dengan biro perjalanan wisata, bahkan makanannya pun khusus disediakan dengan menu India. Tapi saya cukup menyayangkan, karena jauh-jauh berwisata ke negeri orang tetapi mereka tidak mencoba makanan daerah setempat. Berwisata di atas puncak gunung tertinggi di Eropa ini menghabiskan waktu kurang lebih satu hari penuh.

Setelah beberapa tempat dijelajahi, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke kota Bern dengan menggunakan kereta yang sama Jungfraubahn selama dua jam perjalanan dan pastinya akan sangat melelahkan. Pada saat di stasiun menuju Lauterbrunnen, ketika para penumpang meninggalkan kereta tiba-tiba wisatawan dari Cina dengan tergesa-gesa naik kereta tanpa menunggu terlebih dahulu dan membiarkan penumpang turun. Seorang petugas stasiun spontan memarahinya dan berkata „What is this? What is this? What did you learn from your school?”. Dengan bernada marah dan mendekati wisatawan tersebut petugas lalu memberi jalan pada penumpang seelumnya. Tata tertib semacam ini sepertinya masih belum juga terbiasa di Cina seperti halnya di negara kita.

13044460421871627651

Kereta khusus di Jungfrau

Dari ketinggian 3571 meter, kereta perlahan-lahan meninggalkan puncak gunung tertinggi tersebut. Sepanjang perjalanan yang saya perkirakan akan melelahkan ini, namun kenyataan berkata lain. Pemandangan di samping kanan dan kiri yang dilewati oleh kereta membuat kita akan terkagum-kagum. Dari pegunungan es kita kemudian melihat pegunungan bebatuan, selanjutnya lahan hijau dan perumahan-perumahan penduduk yang tidak begitu banyak dan keindahan alam lainnya yang sulit untuk dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Petrus Lengkong, Seniman Dayak, Pensiunan …

Emanuel Dapa Loka | | 20 September 2014 | 08:56

Menilik Kasus Eddies Adelia, Istri Memang …

Sahroha Lumbanraja | | 20 September 2014 | 11:51

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 10:24

Wow… Peringkat FIFA Indonesia Melorot Lagi …

Hery | | 20 September 2014 | 09:35

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 6 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 7 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Gas Elpiji 12 Kg dan Elpiji non subsidi …

Asep Wildan Firdaus | 8 jam lalu

Wow! Demi Cinta, Wanita Ini Tinggalkan …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Sempol, Desa Eropa di Kaki Gunung Ijen …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Memangnya di Sorga Ada Apa?? …

Fenusa As | 8 jam lalu

Menikmati Penyakit Hati …

Orang Bijak Palsu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: