Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ninuk Setya

Beberapa bulan ini nyari uang segede koran di salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Barat. selengkapnya

Candi Muara Takus, Sejarah yang Dipenggal

HL | 16 May 2011 | 17:40 Dibaca: 3841   Komentar: 39   4

1305529232652572043

Gundukan di sebelah kiri ini tempat pembakaran mayat. Gugusan Candi Muara Takus (Foto-foto oleh Heri Tarmizi-KSLH Riau)

Aku bersikeras pada Rahmad Adi Ronsyah Batubara (Ucok) dan Heri Tarmizi. “Candi Muara Takus itu seingatku di Jambi, bukan Riau,” pada teman-teman dari Kelompok Studi Lingkungan Hidup-KSLH Riau itu.

Mereka tak kalah ngotot. Aku dikatakan ngawur oleh keduanya. Kataku lagi, “Aku ingat, ini pernah jadi pelajaran waktu SD. Guruku juga bilang gitu. Kan memang di buku pelajaran juga ditulis begitu.”

Demi membuktikan kengawuranku, Heri membawaku bermotor dari Pekanbaru ke Kampar. Yap, ke Candi Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau! Tiga jam kami melaju melalui jalan aspal arah Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Informasi dari Heri, jarak Pekanbaru menuju Desa Muara Takus sekitar 128 Km. Sesekali kuminta Heri berjalan berlahan atau bahkan berhenti.

1305523389174463087

Terus dikeruk. Demi apa?

Tentu, banyak hal memanjakan sekaligus membuat nanar. Pada satu dua lokasi di desa Merangin, Kecamatan Bangkinang Barat, tebing-tebing tinggi warna coklat kemerahan di pinggir jalan sebelah kiri –dari arah Pekanbaru- dikikis untuk dijual. ”Meski nyawa jadi taruhan, mereka tetap hidup miskin,” ujar Heri sambil menunjuk rumah-rumah para penambang tanah di sisi kanan jalan. Rumah-rumah tanpa listrik dan anak-anak yang memang terlihat kumuh. Di tempat lain, pengerukan tebing dilakukan dengan menggunakan eksavator. Padahal di tebing-tebing yang meski seperti gundul tanpa pohon, tumbuh tumbuhan seperti bunga kantong semar. Ukurannya kecil di kanan kiri jalan aspal. Cantik.

Tenggelam

Bendungan PLTA Koto Panjang menghampar elok dari ketinggian. Sayang, sudut-sudut lain menjadi sangat membosankan. Pohon rumah burung berganti pohon sawit tertata. Tanpa kendali sawit ditanam, hancurlah hutan!

1305523438368424256

keriting-keriting itu sawit

Heri berkisah padaku, tahun 1992 Tokyo Elektric Power Limited melakukan proyek Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Desa Koto Panjang, Kecamatan XIII Koto Kampar. Program kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Jepang akan membuat bendungan. Awalnya, air Sungai Kampar Kanan akan dinaikkan hingga 100 m sehingga bisa menghasilkan 140 megawatt.

”Persoalan ini sempat diributkan banyak kalangan. Air setinggi itu dipastikan menenggelamkan gugusan candi. Maka diturunkan lagi menjadi 85 m,” tutur Heri seraya mengambil gambar.

Gugusan Candi Muara Takus memang terselamatkan, tetapi penggalan kisahnya kini berada di bawah permukaan air waduk. Secuil kisah itu ada di Desa Pongkai, desa dimana tanah liat bahan candi diambil. Bekas-bekas lubang galian tanah di desa yang berjarak sekitar 8 Km di sebelah hilir kompleks Candi Muara Takus ini musnah tenggelam.

13055234761485779174

Dimana Desa Pongkai? Itu di dasar waduk!

Menurut cerita rakyat, desa Pongkai berasal dari bahasa Cina ’Pong’ berarti lubang, dan ’Kai’ yang berarti tanah. Dari Desa Pongkai awalnya batubata diangkut melalui jalur sungai. Tetapi kemudian pengangkutan dirubah melalui jalan darat karena lewat sungai dirasa lebih berat. Satu dua tiga dan seterusnya orang dibariskan dari desa sampai Muara Takus. Tentu saja butuh manusia berjumlah banyak. Sayang, desa ini tak dapat kita temui lagi kini. Atas nama pembangunan, satu per satu situs bersejarah di negeriku dihancurkan.

Masih di seputar waduk, persis di atas jembatan orang-orang tekun memanfaatkan air yang melimpah untuk beternak ikan. Koordinator KSLH-Riau itu menyarankan agar saat pulang saja berhenti untuk melihat ikan-ikan diberi makan. Huhu, ikan sebesar telapak kakiku berebut makan. Ribut juga ternyata.

1305523553541108382

Mari makan, Ikan

13055235881352030463

1305523620937837349

Memanjang…seperti ikan

Menuju Desa Muara Takus hanya dapat ditempuh dengan perjalanan darat. Dari Pekanbaru -arah Bukit Tinggi- ke Muara Mahar jalan aspal mulus. Baru ketika belok arah kanan, aspal hanya sesekali ditemui. Jalanan tak terlalu ramai itu melewati Desa Tanjung Alai, Gulamo, Batu Bersurat, Koto Tuo, lalu Muara Takus. Jarak kompleks candi dengan desa sekitar 1,5 Km dan tidak jauh dari Sungai Kampar Kanan.

Kaos rupa-rupa

Oh, rupanya betul, aku ngawur! Papan nama permanen tertulis ’Cagar Budaya Kompleks Candi Muara Takus’ (dengan huruf kapital) bla bla bla. Masih penasaran, saat itu juga kukirim pesan singkat ke beberapa kawan dengan pertanyaan ”Candi Muara Takus tuh ada di propinsi mana ya?” Hanya satu jawaban, ”Dimana ya?”, selebihnya menulis ”Jambi.” Akh kan, -pelajaran- sejarah yang diajarkan yang salah?

1305523698141545780

masih sepi

Sebab bukan hari Minggu atau hari libur, kompleks candi tertua di Sumatera ini sepi. Pengunjung hanya kami berdua. Aku juga lupa bahwa sebentar lagi libur Waisak. ”Beli kaosnya, Nak? Buat cenderamata,” sapa seorang nenek yang duduk di bangunan seperti loket di pintu masuk kompleks candi.

Aku mengira, T-shirt yang ditawarkan ’murni’ bergambar Candi Muara Takus. Ternyata kaos bergambar candi itu ada tulisan-tulisan atau gambar lain. Jika gambar candi terdapat di bagian belakang, gambar atau tulisan lain di bagian depan, juga sebaliknya. T-shirt ’jadi’ lalu disablon dengan gambar Candi Muara Takus.

Nenek juga menawariku ’buku’. Ia menyebutnya begitu. ”Dua puluh ribu saja. Ini tentang candi.” Heri cekatan menawar ‘buku’ fotocopy Hasil Penelitian Tahun 1960 yang ditulis oleh Ramli Dt. Rajo, Duo Balai. Rp 10 ribu dan ia berikan padaku.

Hindu atau Budha?

Seorang lelaki sekitar 35 tahun datang kepada kami. Rupanya Heri telah mengenalnya. ”Asril…,” kata dia seraya menyodorkan tangan kanan padaku. Bang Asril, begitu lalu kupanggil, merupakan petugas cagar budaya tersebut.

Kata dia, Muara Takus berasal dari sebuah nama anak sungai kecil bernama Takus. Sungai Takus bermuara di Barang Kampar Kanan. Ia juga mengatakan, seorang Duta Besar Singapura untuk Indonesia –aku lupa menanyakan namanya!- pernah menyebut bahwa Muara Takus berasal dari dua kata, Muara dan Takus. Muara ya akhir aliran sungai ke laut. Sedangkan Takus berasal dari bahasa Cina ’Ta’ berarti besar, ’Ku’ berarti tua, dan ’Se’ berarti ’Candi’. Muara Takus berarti candi tua yang berukuran besar yang terletak di muara sungai.

Candi Muara Takus terletak di garis khatulistiwa 0021 Lintang Utara dan 100039 Bujur Timur. Ukurannya 74 x 74 m dan dikelilingi tembok dari batu putih. Bang Asril mengungkapkan, ”Di bulan delapan pas siang hari, bayangan kita tidak ada.”

Jika dilihat adanya stupa yang merupakan lambang Budha Gautama, Candi Muara Takus menunjukkan ciri khas bangunan suci Agama Budha. Masih cerita Bang Asril padaku, menurut para ahli kepurbakalaan, keseluruhan candi berjumlah tujuh. Candi-candi tersebut di antaranya Candi Mahligai, Candi Palangka, Candi Bungsu, serta Candi Tua. ”Situs yang belum jelas bentuk dan namanya disebut dengan istilah ’bangunan’. Nah, bangunan I ini diperkirakan tempat pembakaran mayat,” jelas Bang Asril seraya menunjuk gundukan tanah yang berada di sisi kiri dari pintu masuk.

1305523751400174301

Gundukan di sebelah kiri ini tempat pembakaran mayat. Gugusan Candi Muara Takus (Foto-foto oleh Heri Tarmizi-KSLH Riau)

Lalu langkahnya mengantarku ke bangunan candi berukuran paling besarr yang berada si seberang ’jalan’ gundukan tanah. ”Candi ini dinamakan Candi Tua. Ukurannya lebih besar dibanding candi lain. Ukurannya 32,80 m x 21,80 m, punya 36 sisi,” tutur lelaki itu. Heri meninggalkanku dan asyik mengambil foto. Bang Asril juga menjelaskan bahwa di bagian dalam candi tidak ada ruang kosong.

1305523852476377755

Candi Tua…paling besar….

Setelah berkeliling candi terbesar yang kadang juga disebut Candi Sulung, Bang Asril mengantarku ke Candi Bungsu. Kisah Asril padaku, di tahun 1935 saat Dr. F.M. Schnitger, arkeolog asal Belanda, melakukan penggalian, pada batubatu berbentuk teratai di Candi Bungsu ditemukan abu dan lempengan emas yang bercampur tanah. ”Di lempengan emas itu ada gambar trisula dan tulisan berbentuk huruf Nagari.”

Di teras Candi Bungsu juga terdapat 20 stupa kecil dan Wajra-Wajra –aku lupa menanyakan apa itu Wajra- yang bertuliskan 3-9 huruf. Sedangkan di atas bangunan yang terbuat dari batubata merah terdapat 8 stupa kecil yang mengelilingi stupa besar. Candi Bungsu, kata Bang Asril, dipugar dari tahun 1988 hingga 1990.

13055239531065230658

Ada yang hanya tampak sedikit saja

”Kalau ini namanya Candi Mahligai. Seorang ahli bernama Cornet de Groot pernah berkunjung kemari pada tahun 1860 Masehi. Saat itu katanya dia menjumpai patung singa dalam posisi duduk di setiap sisinya, tapi sekarang sudah nggak ada lagi.”

Bentuk Candi Mahligai mengingatkanku pada menara pabrik di Colomadu. Menara silindrik berdiri di tengah bangunan, dengan 36 sisi berbentuk kelopak bunga pada bagian dasarnya. ”Ini biasa disebut astakoma atau segi delapan. Jika dihitung ada 28 buah sisi. Candi Mahligai mulai dipugar pada tahun 1978 hingga 1983,” lanjut Bang Asril..

Bangunan lainnya adalah Candi Palangka, candi dengan ukuran terkecil. Bangunan batubata merah ini letaknya 3,85 m sebelah timur Candi Mahligai. Sebelum dipugar tahun 1987 sampai 1989, kaki candi terbenam hingga satu meter. Di bagian utara, tangga ditemukan dalam keadaan rusak. Kaki candi berbentuk segi delapan dengan sudut banyak. Ukurannya hanya 6,60 m, dengan lebar 5,85 m dan tinggi 1,45 m dari permukaan tanah. ”Ini hanya dipugar kakinya saja. Bentuk aslinya belum diketahui. Saat ditemukan tahun 1860, puncaknya sudah tidak ada,” Asril menjelaskan.

1305524042236720844

lilin-lilin peribadatan…

Bangunan-bangunan lain adalah tanggul kuno sepanjang 4 Km, serta bangunan keliling. Bang Asril mengatakan, setiap Hari Raya Tri Suci Waisak, kompleks candi ini dipadati penganut Agama Budha, juga para turis. ”Nggak hanya orang Riau, tetapi juga banyak datang dari Malaysia, Singapura, Kamboja. Orang-orang luar negeri lah.” Sedangkan di hari-hari biasa, ada juga orang-orang Budha yang datang untuk melaksanakan ibadah di Candi Muara Takus. Yap, lilin-lilin ini mungkin bisa menjadi bukti…

Satu hal lagi yang harus kukatakan. Saat kudatang, toilet di sana bersih dan wangi. Kotak yang disediakan, kata Bang Asril tidak wajib diisi. ”Seikhlasnya saja…” Rumput di seputaran candi pun rapi usai dicukur. ”Bukan karena mau Waisak, tapi memang biasanya rapi dan bersih begini,” tegas Heri.

Pro kontra Kedatuan Sriwijaya

Menurut hikayat, penduduk hulu Sungai Kampar berasal dari keturunan Putri Sri Dunia yang datang dengan keluarganya dari Pariangan Padang Panjang. Seorang raja Hindu bermaksud meminangnya, lalu mendirikan kerajaan di Muara Takus. Tetapi tak lama kemudian, sang istri ditinggalkannya.

Sang Putri kemudian menikah dengan seorang Datuk dari Minangkabau. Mereka memperoleh anak laki-laki yang diberi nama Induk Dunia. Si Induk Dunia suatu hari menjadi raja di Muara Takus yang menurunkan Raja Pamuncak Datuk di Balai. Raja terakhir di Muara Takus adalah Raja Bicau.

Sebagian peneliti mengungkapkan bahwa gugusan Candi Muara Takus terkait erat dengan Kedatuan Sriwijaya. Salah satunya I’Tsing. Ia menyebut, pada abad VII seorang berkebangsaan Cina mengadakan perjalanan dari India ke pusat Agama Budha di Muara Takus untuk belajar agama. Disebutkan bahwa setiap bulan delapan, bayangan tongkat diwalacakra tidak menjadi lebih panjang atau pendek. Pada tengah hari, orang berdiri tanpa bayangan. Selain sebagai pusat Agama Hindu, Muara Takus juga merupakan pusat perdagangan yang ramai di Selat Malaka.

13055242411273040445

Disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta (dari wikipedia)

Sedangkan menurut Ir. J.L Moens, Tapomim Yava, Yavadvipa, dan Chopo semula hanya digunakan untuk menyebut Semenanjung Malaysia. Taponim Javadvipa dalam Prasasti Cangal 732 merupakan nama kerajaan leluhur Sanjaya yang berasal dari India Selatan. Ia mendirikan kerajaan di Kedah Semenanjung Malaysia yang kemudian berhasil diusir oleh Raja Sriwijaya. Sanjaya lalu mendirikan kerajaan di Pulau Jawa. Pusat Kedatuan Sriwijaya, menurut Moens, terbentuk di pantai Timur Semenanjung, bukan di Palembang. Sedangkan Palembang menurutnya merupakan ibukota Kerajaan Melayu. Setelah mengalahkan Palembang, Raja Sriwijaya berpindah ke Muara Takus. Alasan Moens, karena gugusan candi berada di Sungai Kampar Kanan dan Batang Mahat.

Soal benar tidaknya, aku –masih- hanya mendengar kisahnya….

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Intip SDM Kesehatan era JKN : Antara …

Deasy Febriyanty | 7 jam lalu

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Saya …

Andri Yunarko | 8 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | 8 jam lalu

Jangan Jadikan NKRI Menjadi Dua Kubu [II] …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: