Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Noni Nandini

Lahir di Jakarta, tumbuh di Kalimantan Timur, kuliah di Yogyakarta dan Solo, kerja di Jakarta…..(Koes selengkapnya

Safari Pantai Antara Anyer dan Carita, Sebuah Pencarian Surga Pantai Anyer

REP | 09 June 2011 | 11:22 Dibaca: 1048   Komentar: 6   0

Sejak pertama kali saya dengar lagu “Antara Anyer dan Jakarta” versi Sheila Majid, saya selalu ingin pergi melihat Anyer.  Saya membayangkan bagaimana pohon-pohon Nyiur seakan melambaikan tangan pada saya dan ombak berbuih putih bergulung ke pantai.  Serasa surga dunia.

Bagi saya, pantai dan laut adalah bagian hidup yang tidak terpisahkan.  Sejak umur saya 5 tahun saya tinggal di Bontang, Kalimantan Timur, sebuah kota kecil yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar.  Sehingga pemandangan pantai dan laut adalah pemandangan sehar-hari saya.  Bagi saya pemandangan Gunung dan Pegunungan bahkan sawah adalah pemandangan yang luar biasa.

Namun Anyer, tetap mempunyai daya tarik tersendiri bagi saya.  Sehingga waktu saya berkunjung ke Serang saya bela-belain untuk sekedar melihat Anyer, memuaskan rasa ingin tahu saya.

Jadilah saya berangkat dari Kota Serang pukul 06.00 pagi dengan perhitungan karena saya naik ojek sehingga cuaca masih bersahabat dengan saya, kalau siang sedikit maka cerahnya Provinsi Banten akan menjadi momok tersendiri bagi saya.

Karena perjalanannya menggunakan motor, maka ruang pandang saya tidak terbatas.  Sehingga saya menikmati ramai masyarakat Serang yang sedang berolah raga di Alun-Alun sampai melihat rapinya Kota Cilegon, dan juga pabrik-pabrik yang berbaris dipinggir jalan menuju Anyer.

Sayangnya jalan menuju Anyer tidak sehalus yang saya bayangkan.  Banyak sekali kerusakan jalan.  Yang amat saya sesalkan dalam perbaikan jalan hanya berkesan tambal jalan saja padahal yang melewati jalan tersebut adalah bis-bis pariwisata, truk-truk ukuran besar bahkan trailer.  Jadi bisa anda bayangkan beban jalan kecil menuju Anyer tersebut.

Setelah naik motor selama kurang lebih 1 jam, tanpa saya sadari saya sudah di Anyer tapi karena pantainya sudah ditutupi oleh Hotel, Wisma, Villa bahkan di kavling-kavling jadi pemandangan Pantai sudah sama sekali tidak kelihatan.  Sayang sekali, jika saya bisa membandingkan dengan Bali dimana Pantai-Pantainya dibiarkan menjadi tempat publik dan natural sehingga kami puas menikmati pemandangan dan bermain di Pantai.

Akhirnya kami berhenti di Karang Bolong, karena memang tujuan utama saya ke Anyer adalah berkunjung ke Pantai Karang Bolong yang memang menjadi landmark alam Banten.  Dengan tiket Rp. 5000 per orang kami bisa menikmati kekuatan air laut yang dapat membuat lubang di sebauh karang besar.  Sayangnya lokasi ini berkesan kumuh dengan hiasan sampah bertebaran.  Selain itu pengelola lokasi ini memaksakan diri dengan memasang gazebo, mainan anak-anak serta bangku-bangku semen yang menurut saya malah merusaka pemandangan Karang Bolong itu sendiri.

Yang lumayan bisa diacungin jempol adalah tersedianya kolam renang dan toilet yang lumayan bersih.  Yang lainnya mengecewakan sehingga membuat saya kecewa.

Saya juga sempat mampir sebentar ke Mercusuar Cikoneng, yang menurut saya adalah bangunan tertinggi di Banten.  Mercusuar buatan Belanda ini memang masih terlihat terawat dan cantik namun sayangnya daerah sekelilingnya mematikan hasrat saya untuk menikmati bangunan abad ke 19 ini.Disekelilingnya dibangun villa-villa sehingga kita tidak bisa membayangkan bagaimana Mercusuar itu ketika jaman penjajahan Belanda.  Bahkan ketika saya masuk, Mercusuar itu kosong melompong.

Kemudian saya melanjutkan perjalanan saya ke sebuah Pantai di Anyer yang dikelola oleh Pemda setempat.  Sekali lagi situasinya tidak beda jauh dengan Pantai Karang Bolong, sama-sama terlalu dipaksakan fasilitas hiburannya, seperti taman bermain anak-anak.  Menurut saya pantai seharusnya dibiarkan natural sehingga anak-anak bisa belajar dan dekat dengan pantai.  Belum lagi sampah dan penjual kaki lima yang agak-agak bikin suasana seperti pasar bukan Pantai.

Lanjut lagi saya menuju Pantai Matahari di Carita.  Untungnya saya datang ketika keadaan Pantai masih sepi sehingga sedikit banyak saya bisa menikmati pemandangan Gunung Anak Krakatau walaupun samar-samar.  Bahkan saya sempat bermain ombak yang luamayn tinggi sekitar 50 cm sampa dengan 1 meter.  Sayangnya lagi biaya Rp. 5000 perorang terasa mahal ketika sampah dan penjaja kaki lima masih berkeliaran, bahkan seakan mempersempit ruang gerak pengunjung.

Akhirnya saya dan tukang ojek yang sudah saya booking seharian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Pasir Putih Carita.  Kira-kira berjarak 20 menit dari Pantai Matahari.  Menurut orang-orang yang saya tanya, Pantai Putih mempunyai pasir putih berbeda dari Anyer yang mempunyai pasir berwarna coklat.

Perjuangan saya menuju Pasir Putih tidak terbayar dengan sesuai.  Memang Pasir Putih, pasirnya putih dengan pemandangan pantai yang lebih bagus, bahkan pemandangan Anak Krakatau tampak indah sekali dari Pantai ini.   Bahkan ombak dipantai ini cukup tinggi sehingga ada beberapa pengunjung bermain body surfing.  Kalaupun tidak bisa, memakai ban berenang pun terasa sangat menyenangkan.  Hanya saja sumpah ruwet seperti pasar.  Bayangkan saja di satu lokasi itu ada Kios-Kios penjaja makanan sampai soouvenir yang anehnya semua bertuliskan Bali.  Lalu ada pedagang asongan,pejaja makanan dan minuman yang harganya mahal sekali, ditambah dengan speed boat yang diparkir sesuka hati di pantai.  Lalu ada juga penyewaan ban-ban yang bertebaran di pantai, hingga sekali lagi sebagai pengunjung merasa sesak karena ruang geraknya sudah dikepung oleh hal-hal yang gak penting dan sama sekali tidak menunjang keindahan Pantai ini.

Yang saya heran, ketika saya tinggal di Bontang ada sebuah peraturan tidak tertulis bahwa jalur speed boat dan wilayah orang berenang harus dibedakan karena menyangkut keselamatan bagi pengunjung.  Di Pantai Pasir Putih semuanya sama, bahkan saya menyaksikan sendiri sebuah speed boat memarkirkan boatnya di Pantai dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan orang-orang yang sedang berenang.  Sungguh pemandangan yang membuat sport jantung.

Sepanjang perjalanan pulang, saya kok jadi agak menyesal percaya dengan lirik-lirik indahnya Odie Agam dalam Lagu Antara Anyer dan Jakarta.  Sedih rasanya ketika semua keindahan Pantai Anyer dirampas, dimonopoli bahkan diperkosa habis-habisan, sehingga tak bersisa sama sekali.

Pelan-pelan kami kembali ke Serang karena jalan dikuasai oleh Bis-Bis pariwisata yang membawa penumpangnya untuk menikmati secuil surga alam yang tersisa di Anyer.  Tiba-tiba mata saya tertuju di sebuah pantai sepi tanpa pagar apalagi bangunan yang merampas keindahan pemandangan.  Langsung saya minta Tukang Ojek untuk berhenti.

Menurut Tukang Ojek, Pantai ini tidak ada yang berminat untuk menguasai/ mengelola karena pantainya penuh dengan karang/ batu besar sehingga berbahaya untuk dijadikan lokasi berenang.  Bagi saya, inilah Pantai Anyer yang saya impikan, pemandangannya indah, ombak yang lumayan jinak, pohon kelapa yang subur tumbuh di tepian dan tidak ada orang yang mengganggu menawarkan dagangan.  Sempurna.  Seperti lukisan yan ada di pikiran saya tentang Pantai Anyer.

Setelah itu saya kembali ke Kota Serang dengan hati lega dan rasanya Pantai kecil itu sudah membayar semua usaha saya untuk mengunjungi Pantai Legendaris, yaitu Pantai Anyer.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek : Tablet Sebagai Pengganti …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Sebenarnya, Berapa Sih Jumlah Caleg Gagal di …

Politik 14 | | 23 April 2014 | 14:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 7 jam lalu

Capres Demokrat Tak Sehebat Jokowi, Itu …

Dini Ambarsari | 10 jam lalu

Salah Kasih Uang, Teller Bank Menangis di …

Jonatan Sara | 10 jam lalu

Salah Transfer di Internet Banking …

Ifani | 12 jam lalu

Hotman Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: