Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Pramudya Arif Dwijanarko

Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro UGM Penerima program pembinaan PPSDMS Nurul Fikri Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa selengkapnya

Ayo ke Blora

REP | 23 June 2011 | 01:27 Dibaca: 1936   Komentar: 1   0

Telat rasanya kalo baru sekarang saya membuat tulisan ini. Sebenarnya judul ini agak kurang tepat, mengingat rumah saya terlalu jauh dari kota Blora. Meski masih satu kabupaten, masih perlu menempuh jarak 46 kilometer sebelum menuju kota Blora. Oleh karena itu, jangan heran kalau saya sering ditanya asli mana, saya juga sering menjawab Cepu, karena lebih dekat ke Cepu daripada Blora.

Itulah Blora. Kabupaten paling timur di Propinsi Jawa Tengah. Blora merupakan kabupaten terluas ketiga di Jawa Tengah. 50% lebih wilayah Blora adalah hutan, dan mayoritas adalah Hutan Jati. Selain itu di Blora, khususnya Cepu terdapat tambang minyak yang cukup besar. Pasti dalam benak kita langsung terbayang kalau Blira itu kabupaten yang kaya. Mungkin benar jika dari segi SDA nya. Namun kekayaan tersebut belum tersalurkan secara adil. Hanya beberapa golongan tertentu saja yang sanggup menikmati kekayaan Blora. Oleh karena itu, salah satu cita-cita saya adalah bagaimana membuat agar semua masyarakat bisa menikmati kekayaan yang harusnya menjadi hak mereka.

Kembali ke topik. Rumah saya berada di ujung timur kabupaten Blora, sekaligus Jawa Tengah. Dari Jawa Timur hanya berjarak sekitar 8km bila ditarik garis lurus. Oleh karena itu, ketika ke Jogja saya memiliki rute yang sedikit berbeda.

  • Jogja-Klaten-Solo-Gemolong-Purwodadi-Blora-Rumah= + 230km = garis hitam
  • Jogja-Klaten-Solo-Gemolong-Purwodadi-Kuwu-Rumah=?(belum pernah nyoba.tapi sekitar 210km.) garis kuning
  • Jogja-Klaten-Solo-Sragen-Kuwu-Rumah = + 197 km = garis hijau
  • Jogja-Klaten-Solo-Sragen-Ngawi-Cepu-Rumah = + 210 km = garis biru

Rute pertama dan kedua merupakan rute yang paling jarang saya lewati, selain jauh, jalan di daerah perbatas Purwodadi-Blora sangatlah jelek. Rute ketiga merupaka rute yang sering saya lewati di tahun pertama kuliah. Selain rute paling singkat, juga jalan yang dilewati adalah jalan alternatif. Sehingga tergolong sepi jalannya. Ketika rute Kuwu-Cepu juga semakin memburuk, otomatis saya harus mencari rute lain. Rute keempat menjadi pilihan saya. Meski agak jauh, namun jalannya masih tergolong baik. Selaih itu di rute ini saya bisa balapan sama bus Sumber *encono.

Di waktu yang hampir sama, menurut beberapa warga, ada jalan pintas untuk langsung menuju ke Jawa Timur, namun harus naik gethek karena harus menyeberang Bengawan Solo. Mengapa naik gethek, karena belum dibangun jembatan di situ. Jembatan terdekat ada di Cepu. Dengan kata lain, harus melewati jalur normal dan harus menempuh 210km menuju Jogja. Pertama saya agak malas, karena harus lewat sawah-sawah, bukan jalan beraspal. Namun seiring berjalannya waktu, karena penasaran, dicoba saja. Dan ternyata benar, sawah-sawah yang dilewati tidak begitu jauh.

Hanya sekitar 2km. sisanya jalan beraspal. selain itu, jalan ke Jogja terpangkas sekitar 15 km. dan sampai sekarang jasa gethek tersebut masih sering saya pakai.

Garis hitam adalah rute normal dari rumah menuju Ngawi, sedangkan garis hijau adalah jalan pintas menyebrang Bengawan Solo menggunakan gethek.

Sudah hampir dua tahun saya menikmati jasa gethek ini. Dengan gethek ini, saya bisa memotong jalan sekitar 15km lebih. Jarak default rumah ke Jogja sekitar 210an km. Saya tulis sekitar karena sering berubah. Mungkin berjalan zig-zag berpengaruh cukup banyak. Namun dengan gethek menjadi “hanya” sekitar 195 km. meski kalau dibuat persentasi tidsak begitu signifikan, tapi tetap saja. Bagi saya jarak=bensin=uang..hehehe..

Untuk foto-fotonya, bisa dilihat di http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1484465923239.2063728.1581616305

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 4 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 6 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 18 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 19 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: