Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Irfawati Tahir

Pelajar seumur hidup yang senang mengamati kehidupan dan prosesnya dari tempat berdirinya di salah satu selengkapnya

Jangan Menunjuk Pakai Tangan Kiri!!

OPINI | 24 June 2011 | 00:38 Dibaca: 496   Komentar: 11   0

Ternyata bukan hanya makan saja yang tidak membutuhkan tangan kiri, menunjuk pun demikian. Pelajaran ini begitu terekam kuat di kepalaku dengan memori yang lebih erat rekatannya dibanding lem Alteco sebab peristiwanya pun belum lama berselang

Ini terjadi kemarin sore ketika aku hendak membeli buah-buahan untuk calon parcel yang akan ku rangkai. Pertama aku membeli 2 kg pear, 1kg apel manalagi dan 2 kg apel fuji. Lumayan banyak memang karena kandidat parcelku berjumlah 4 paket. Lalu kulanjutkanlah penelusuranku di pasar besar Malang untuk melengkapi dengan bebuahan (mengikuti pola ‘dedaunan’) yang lain. Tak lama bertualang sampailah aku di penjual anggur. Karena beban yang berat di tangan kanan (5 kg buah-buahan tadi) maka dengan refleks aku menunjuk menggunakan tangan kiri serta dengan lugunya bertanya: “Bu, anggur berapa?” . Ibu penjual buah itu menjawab: “empat pulluh rebu dek”. Aku manggut-manggut saja. Tiba-tiba datanglah temanku yang sebelumnya sudah janjian untuk bertemu disana. Lalu ia mengajakku mencari buah di bagian depan. Maka lalu kukatakan ke penjual buah itu: ”Bu, maaf tidak jadi.”. dia kemudian menimpali: ”tawar berappa dek?”. “nggak bu, gak jadi” sambil aku berlalu pergi. Tiba-tiba ibarat mesiu yang melesat dari sarangnya aku mendengar omelan penjual anggur itu (dengan nada cepat dan intonasi yang tinggi diatas kecepatan rata-rata pula):”gak jadi kok tanya2, menunjuk pake tangan kiri lagi..” (dan seruntun ungkapan yang aku sudah tidak mengerti maknanya)

Wot?? Dalam hati rada kesal juga, apa kalau bertanya harga harus membeli?…kalau penjual itu protes kenapa aku menunjuk pakai tangan kiri, sebenarnya jawabannya juga ada. Yaitu karena tangan kananku lagi menenteng 5 kg buah-buahan. Tapi ini yang menjadi perhatianku, ternyata tangan kiri itu fungsinya banyak, diantaranya: boleh dipakai buat membersihkan kotoran, gak boleh dipakai makan, gak boleh dipakai memberi, gak boleh dipakai menerima dan yang paling penting gak boleh dipakai menunjuk apalagi untuk menunjuk buah dipasar besar Malang.

Pelajaran yang lain adalah saya jadi agak parno untuk belanja dengan penjual yang berdialek madura, melirik barangnya pun jadi gak berani kalau niatnya hanya window shopping. Sumpah! trauma dicecar omelan kalau gak jadi beli, serasa kayak maling saja kita diteriaki. Meski sampai sekarang saya masih penasaran apakah itu adalah memang tabiat orang-orang yang berdialek madura (saya tidak menyebut suku madura karena saya yakin tidak semua orang madura bertabiat keras dan tidak semua orang yang berdialek madura adalah orang madura, bukan?) ataukah saya yang tidak terbiasa dengan intonasi suara dan gaya bicara yang seperti itu. I still dunno even im still in curiosity.

Jadi kepikiran, gimana nanti saat bulan Ramadhan yah? Apakah mereka masih akan ‘ngomel’ seperti itu? sementara puasa kan salah satu fungsinya untuk mengendalikan nafsu amarah. Semoga saja benar demikian (amin…amin…amin!!!) so nanti saat belanja dibulan puasa jadi bebas deh bertanya-tanya harga tanpa khawatir ‘diceramahin’ kalau tidak jadi beli.

But ‘Ala kulli hal, Alhamdulillah, Thanks God, Kau memberiku pelajaran Cross Cultural Understanding yang sangat berharga hari itu.

Terusan Surabaya

230611

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ini Curhat Saya dan Curhat Pak Ganjar …

Ratih Purnamasari | | 28 November 2014 | 07:28

Golkar Pecah, Diprediksi Ical Akan Kalah, …

Prayitno Ramelan | | 28 November 2014 | 06:14

Ditangkapnya Nelayan Asing Bukti Prestasi …

Felix | | 28 November 2014 | 00:44

Masih Perlukah Pemain Naturalisasi? …

Cut Ayu | | 28 November 2014 | 08:26

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08



HIGHLIGHT

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 7 jam lalu

Undangan Kopdar di Mataram dan Jambi …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Bias Patriakhi Wacana Pemotongan Jam Kerja …

Felix | 8 jam lalu

Anomali Tabiat Politik Aburizal Bakrie …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Catatan Lumpur dan Buku Potret Lumpur …

Kembang_jagung | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: