Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ade Kumalasari

Mother of two cuties, novelist, translator, editor and I-want-to-go-around-the-world-in-80-days Sagittarius. Write from Surabaya. http://www.travelingprecils.com selengkapnya

Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat

REP | 13 July 2011 | 06:32 Dibaca: 10286   Komentar: 13   1

131053868655472862

Little A (3 bulan) di Garuda Indonesia

Usia berapa bayi boleh dibawa terbang?

Kalau menurut website perusahaan penerbangan sih, bayi usia 7 hari-asal sehat-sudah boleh naik pesawat.

Little A lahir di Sydney. Ketika dia berusia tiga bulan, Ayahnya selesai tugas belajar dan harus kembali ke Indonesia. Saya, seperti juga Ibu-Ibu lainnya cukup was-was membawa si mungil Little A naik pesawat. Mulailah saya mencari informasi di sana sini tentang tips membawa bayi terbang.

Pertama, kami ke dokter. Eh ternyata dokter di sini santai-santai aja. Tidak perlu ada persiapan atau perlakuan khusus untuk membawa bayi terbang. Yang harus diperhatikan ada perbedaan tekanan udara ketika lepas landas dan mendarat nanti. Perbedaan tekanan ini kadang membuat telinga kita sakit. Rasa sakit atau tidak nyaman pada telinga ini bisa dikurangi dengan menelan sesuatu (itulah mengapa kita diberi permen ketika lepas landas). Dokter menyarankan untuk menyusui Little A dengan ASI saat lepas landas/mendarat. Masih kata dokter, suara bising pesawat tidak terlalu berpengaruh ke bayi.

Soal tiket pesawat juga tidak masalah. Kami memesan tiket Sydney - Denpasar di agen perjalanan. Bayi cukup membayar 10% dari harga tiket. Bayi/Infant (di bawah usia 2 tahun) tidak mendapat tempat duduk sendiri, tapi otomatis dipesankan bassinet (tempat tidur lipat berbentuk kotak yang ditempelkan di dinding depan tempat duduk kita). Pastikan Anda cek in awal agar mendapat tempat duduk dengan basinet di paling depan. Atau, kalau tidak bisa cek in awal, telponlah kantor perusahaan penerbangan sebelum hari terbang untuk memastikan bassinet sudah confirmed.

Dalam perjalanan kami pulang ke tanah air, kami membawa baby car seat atau keranjang bayi yang bisa ditenteng. Kata petugas Garuda, keranjang bayi kami boleh masuk kabin, tapi harus diamankan ketika lepas landas dan mendarat. Jadi ketika lepas landas, Little A duduk di pangkuan saya, memakai sabuk pengaman tambahan khusus untuk bayi. Setelah sabuk pengaman boleh dilepas, petugas Garuda ‘mengembalikan’ keranjang bayi kami dan saya menaruh Little A di situ. Keranjang kami letakkan di depan tempat duduk (terdepan di kelas ekonomi).

Alhamdulillah Little A nggak rewel sepanjang perjalanan dan kami sampai di Denpasar dengan selamat. Kami melanjutkan dengan perjalanan domestik dari Denpasar ke Surabaya, masih dengan keranjang bayi. Perjalanan dengan pesawat domestik yang kecil lebih tidak nyaman, untungnya perjalanan kurang dari satu jam.

Kami kembali ke Australia ketika Little A berusia 9 bulan. Kali ini saya hanya bertiga dengan Big A dan Little A. Si Ayah sudah berada (kembali) ke Sydney waktu itu. Kami kembali memilih naik Garuda Indonesia. Mengapa? Coba baca alasan kami terbang dengan Garuda, di sini. Perjalanan pertama adalah domestik dari Yogyakarta ke Denpasar. Di pesawat domestik, tidak terdapat basinet, dan bahkan kami tidak mendapat tempat duduk paling depan. Saya tidak protes waktu itu karena tidak ingin emosi saya naik dan membuat Big A cemas. Untungnya perjalanan domestik hanya 1 jam dan Little A baik-baik saja di pangkuan saya sepanjang perjalanan.

Perjalanan dari Denpasar ke Sydney juga berlangsung mulus. Kami tidak lagi membawa keranjang bayi. Little A saya gendong depan dengan gendongan koala. Dari Denpasar, kami berangkat tengah malam dan Little A tidur nyenyak. Di pesawat, Little A hanya terbangun dua kali meminta ASI. Selebihnya, dia tidur nyenyak di bassinet yang menggantung di depan tempat duduk saya. Emaknya pun bisa tidur nyenyak dan baru bangun ketika sarapan akan dihidangkan :)

Ini rangkuman tips membawa bayi naik pesawat:

1. Cek in awal. Pastikan duduk di depan dan mendapat bassinet.

2. Pakaikan baju yang nyaman, bawa selimut dan mainan kesayangan

3. Beri susu dan dekap erat telinga ketika lepas landas dan mendarat

4. Kalau bayi tertidur saat lepas landas/mendarat, biarkan saja - bonus untuk Emaknya :)

5. Emak harus rileks, kenyang dan jangan segan meminta bantuan pasangan/petugas

Gitu aja kok. Nggak repot kan?

~ The Emak

Originally posted at http://thetravelingprecils.blogspot.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 3 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 5 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 7 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 8 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: