Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Diella Dachlan

"When the message gets across, it can change the world"

Situ Cisanti: Di Sini Citarum Berawal

REP | 15 July 2011 | 08:36 Dibaca: 6190   Komentar: 9   2

13107158712111028789

Situ Cisanti di pagi hari. Photo: Diella Dachlan

13107163331897855388

Berperahu di Situ Cisanti. Photo by Diella Dachlan

Situ Cisanti, yang terletak di kaki Gunung Wayang,sekitar 60 kilometer sebelah selatan Kota Bandung dapat ditempuh oleh kendaraan sekitar 2-3 jam.

Jika Anda termasuk salah satu yang mulai kehilangan harapan akan pulihnya Sungai Citarum, sungai terbesar dengan panjang 269 kilometer yang membelah 12 kabupaten dan kota di Propinsi Jawa Barat ini, maka datanglah berkunjung ke Situ Cisanti. Ibarat mata air yang terus mengalir, harapan akan pulihnya Sungai Citarum berangsur-angsur pulih kembali di sini.Tentu saja, hal ini juga berlaku bagi Anda yang ingin berwisata melepas kepenatan di akhir pekan.

Situ Cisanti termasuk ke dalam area Perum Perhutani di kampung Pejaten Desa Tarumajaya, kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Di kawasan terdapat tujuh mata air yaitu Pangsiraman, Cikoleberes, Cikawedukan, Cikahuripan, Cisadane, Cihaniwung dan Cisanti. Tujuh mata air ini mengalir ke Situ Cisanti sebelum mengalir ke Sungai Citarum dan berakhir di Laut Utara Jawa, yaitu di Muara Gembong Bekasi.

Berjalan mengitari Situ Cisanti seluas sekitar 10 hektar di kaki Gunung Wayang (1800 meter) menghirup udara sejuk dan menikmati kehijauan di sekeliling adalah kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan di kawasan ini. Selain itu, duduk-duduk di pinggir situ, atau kalau Anda berani dan tahan dingin, maka Anda dapat bergabung dengan para pencari lumut, ikan, remis atau kijing yang hidup di situ Cisanti, menceburkan diri ke air situ yang dingin.

1310722962295552990

Situ Cisanti di sore hari. Untuk penggemar fotografi, pagi dan senja di daerah ini menarik untuk objek foto. Photo by Diella Dachlan/Dok.Cita-Citarum


1310716413562448041

Mata air Pangsiraman. Photo by veronica Wijaya/Dok.Cita-Citarum

Mata Air Pangsiraman

Dari tujuh mata air yang ada di Situ Cisanti, yang paling sering dikunjungi pengunjung adalah mata air Pangsiraman. Mata air Pangsiraman ini dikelilingi oleh pagar besi dan terdapat bangunan bagi mereka yang ingin melakukan “ziarah” di kawasan ini.

Di kawasan mata air Pangsiraman, air kebiruan, sangat jernih dan sangat sejuk ini, sulit rasanya menahan godaan untuk tidak segera terjun ke air. Meskipun hal ini kurang disarankan. Di mata air dimana Anda menyaksikan air keluar dari perut bumi di dasar mata air, membentuk pusaran-pusaran pasir, ada semacam tata krama untuk melakukan mandi, jadi tidak bisa asal hantam kromo langsung terjun.

Terdapat dua bagian yaitu bagian untuk laki-laki dan perempuan. Biasanya hal ini berlaku di malam-malam yang dianggap baik untuk melakukan ziarah, seperti pada Kamis malam. Ada pula juru kunci yang siap menolong untuk “memandikan” Anda seperti layaknya melakukan siraman dimana seluruh tubuh akan dibasahi oleh air guyuran dari mata air. Menurut salah satu juru kunci Pangsiraman, tujuan orang berziarah bermacam-macam, tetapi yang lazim ditemui adalah mereka yang ingin mencari ketenangan, jodoh, kekayaaan atau jabatan.

Jika tidak ingin “mandi ziarah”, Anda masih boleh kok untuk sekedar mencuci muka, membasuh badan atau bahkan berendam di mata air ini.

13107180441764225318

Yang ditemukan di Situ Cisanti. (kiri atas) Ikan Arar (kanan atas) lumut (kiri dan kanan tengah) mencari remis. konon kabarnya bisa untuk obat sakit kuning. (kiri dan kanan bawah) Kijing, sejenis kerang. Photo by Diella Dachlan

Petilasan

Sekitar 300 meter di belakang mata air Pangsiraman, terdapat pula sebuah makam. Menurut juru kunci, makam ini bukanlah makam sesungguhnya, melainkan menjadi semacam situs untuk petilasan.

Menurut kabar, kawasan ini pernah didatangi oleh Dipatiukur, yang merupakan wedana para bupati Priangan abad ke-17. Dipatiukur memimpin pasukan untuk menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1628. Disebutkan bahwa kekalahan Dipatiukur dikarenakan adanya pengkhianatan oleh pemimpin masyarakat Sunda lain, sehingga Dipatiukur dan pengikutnya kemudian dihancurkan.
(Cisanti, Menerangi Peradaban Pulau Jawa,Kompas 29 April 2011)

Catatan lain juga menyebutkan bahwa Bujangga Manik, putra Raja Padjajaran, pada abad ke-5 mengunjungi daerah ini, pada perjalanannya mengunjungi tempat-tempat suci di Pulau Jawa dan Bali, berjalan kaki seorang diri. (Ci Tarum Mengalir Sampai ke Hati, T.Bachtiar)

Karena keindahannya, tidak heran jika kawasan ini masih terus dikunjungi oleh banyak pengunjung hingga ber-abad-abad kemudian.

1310719931119024707

Sampai tahun 1997 kawasan di seputar Gunung Wayang dan Situ Cisanti masih gelap karena rapatnya hutan. Sekarang hutan hilang, suasana terang benderang. Photo by Agung Widjanako/Dok.Cita-Citarum

Gunung Wayang dan Pengalengan

Bagi para peminat olahraga alam bebas, mendaki Gunung Wayang, yang tingginya sekitar 1800 meter di atas permukaan laut itu menjadi salah satu agenda kegiatan. Meskipun puncak gunung sudah tampak dekat dilihat dari arah Situ Cisanti, menurut Iwang, dari kelompok pencinta alam Wanapasa, mendaki hingga ke puncak Gunung Wayang membutuhkan waktu sekitar 4-6 jam.

“Harus membawa persiapan cadangan air yang banyak, karena di atas tidak ada sumber air. Selain itu jangan lupa membawa perlengkapan makanan dan perlengkapan lain seperti jas hujan, menggunakan sepatu trekking yang baik, peraturan standar dalam melakukan kegiatan alam bebas” kata Iwang.

Membuka tenda dan berkemah dapat dilakukan di seputar Situ Cisanti, Anda memerlukan ijin di pos Kehutanan di pintu masuk ke kawasan Situ Cisanti ini. Bagi Anda yang ingin bermalam di kawasan ini, ada semacam rumah panggung di dekat pos Kehutanan yang disewa dengan harga sekitar Rp 300-400 ribu per malam. Alternatif lain adalah bermalam di rumah penduduk. Jangan lupa meminta ijin kepala desa setempat.

Menjelajah kawasan ini juga mengasyikkan, meskipun jalan raya berlubang di sana-sini dan membuat kendaraan dan waktu tempuh menjadi lebih lambat. Ada ruas jalan yang sudah dibeton, tapi “kemewahan” ini hanya sebentar, selanjutnya silahkan menikmati goncangan berkendara.

Keluar dari kawasan Situ Cisanti, Anda bisa menjelajah dan sampai ke Pengalengan, suatu kawasan wisata yang terkenal akan industri susu, perkebunan teh dan wisata danau Situ Cileunca serta arung jeram Sungai Panglayangan. Namun, karena jalan yang berlubang dan di berbagai bagian nyaris menjadi jalan tanah sepenuhnya, maka sebaiknya Anda menggunakan mobil 4 wheel drive. Menggunakan sepeda motor juga bisa dilakukan, tapi harus ekstra hati-hati karena jalan yang rusak dan licin. Waktu tempuh bervariasi antara dua-empat jam karena faktor jalan rusak ini.

131071916612352107

Lereng ini dulunya hutan. Sekarang digunakan untuk pertanian sayur. Photo by Diella Dachlan

1310718645268569931

Kotoran sapi yang umumnya digelontorkan langsung ke aliran sungai, 700 meter dari Situ Cisanti. Photo by Diella Dachlan

Pergulatan Masalah dan Inisiatif

Mengunjungi Cisanti, mata dimanjakan oleh keindahan alam yang menghampar di sepanjang perjalanan. Meskipun demikian, jika kita mengamati lebih lanjut, maka bukit dan lereng-lereng gunung yang seyogyanya ditutupi oleh hamparan hutan tergantikan oleh perladangan yang dilakukan di lereng-lereng bukit dan gunung.

Kenikmatan menikmati alam terinsterupsi dan berganti pertanyaan. Apakah aman bagi masyarakat dan lingkungan jika akar-akar kuat pohon yang dulunya mencengkram tanah dan menahannya agar tidak terjadi longsor, kini berganti dengan akar-akar tanaman sayuran yang kita tahu jika panen, tanaman ini akan dicabut dan akarnya terlepas dari tanah. Lalu, siapa yang akan mampu menahan tanah agar tidak terjun menuruni lereng-lereng, yang kemudian akan masuk ke dalam sungai yang mengalir di bawah kaki-kaki bukit ini?

Setelah puas menikmati sejuknya mata air Pangsiraman, lagi-lagi nafas terhenyak ketika mendapati sekitar 700 meter dari mata air jernih itu, kandang-kandang sapi dibangun di pinggir aliran sungai. Sebenarnya tidak masalah, karena sapi baik susu, daging dan kotorannya jika diolah dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, tetapi yang membuat miris adalah ketika kotoran sapi dari kandang-kandang ini dieglontorkan langsung ke aliran sungai berair jernih. Sekejap saluran air bening berubah menjadi hijau tua.

Menurut data Kompas, April 2011, disebutkan ada sekitar 1,500 peternak di Kecamatan Kertasari ini dan sekitar 5,500 sapi. Dalam hitungan kasar, jika satu sapi mengeluarkan kotoran 15 kilogram per harinya, maka setidaknya akan ada 82,5 ton limbah sapi yang dibuang dan ikut mewarnai sungai.

Berbicara mengenai lingkungan memang tidak akan ada habisnya. Kadang kita mendengar masalah, tapi kadang kita akan mendengar inisiatif dan upaya perbaikan. Yang terakhir itu akan dapat menyejukkan batin sejenak.

Di desa-desa seputaran Cisanti ini, ada beberapa warga yang berinisiatif diawali dengan upaya sendiri. Misalnya usaha untuk menghutankan kembali petak 73 milik perhutani yang sempat dirambah dan dijadikan lahan pertanian. Upaya ini dilakukan oleh Agus Derajat dengan rekan-rekannya. Atau Dede Jauhari, yang nekat membuat sekitar 1,800 embung-embung atau kolam penampung air di kawasan Kertasari. Menurut Dede, sekitar 400 embung-embung kini berubah kembali menjadi lahan yang dipakai warga berladang. Atau Saiful dan Parman, warga desa Cibeureum dan Cikembang yang memanfaatkan kotoran sapi menjadi pupuk organik. Kesulitan mereka masih sama, bagaimana cara membuat hubungan antara upaya dan inisiatif konservasi yang juga bernilai ekonomis dan dapat meningkatkan penghasilan warga, sehingga upaya dan inisiatif konservasi ini tidak steril dari keterlibatan warga, namun menjadi bagian kehidupan yang dapat terus dikembangkan.

1310718919400624557

Contoh embung-embung atau kolam penampung air. Photo by Diella Dachlan

Bagaimana Menuju Ke Situ Cisanti?

Jalur yang saya tempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi adalah dari jalan belakang RS. Al Islam yang terletak di Jl Soekarno-Hatta Bandung. Dari Jl Inspeksi Cidurian ambil arah menuju Sapan, dan terus ke arah Ciparay menuju Pacet.

Rute lain adalah Bandung-Ciwastra-Ciparay-Pacet-Cibeureum dan Kertasari
(http://hdmessa.wordpress.com/2007/04/18/kisah-riak-air-sungai-citarum/)

Saya perhatikan ada angkot di Sapan, Ciparay dan Pacet. Lalu dari Pacet ke Kertasari atau desa Tarumajaya ada pangkalan-pangkalan ojek. Tetapi belum da kesempatan untuk menanyakan harga trayek angkot dari Bandung ke Cisanti.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 18 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 8 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: