Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Batu Purba Kemaluan Wanita

REP | 22 July 2011 | 04:32 Dibaca: 942   Komentar: 0   0

13112657701221114078

Batu Bergores monolit megalitik di Kampunh Cidaresi, Cipeucang, Kab. Pandeglang.

SETELAH beberapa waktu lalu berkunjung ke Menhir Cihunjuran yang terletak di sebuah kolam mata air, di Kecamatan Mandalawangi atau lereng utara Gunung Pulosari, saya semakin tertarik menelusuri situs-situs lainnya yang tersebar di sekitar Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang.
Alkisah dalam sejarah Banten dikatakan Sunan Gunung
Jati dan Hasanuddin melakukan perjalanan dengan tujuan ke Gunung Pulosari yang menurut Sunan Gunung Jati merupakan wilayah Brahmana Kandali. Di atas gunung itu hidup delapan ratus ajar-ajar yang dipimpin Pucuk Umun.
Hasanuddin diberitakan konon tinggal bersama mereka selama sepuluh tahun lebih. Keberadaan Gunung Pulosari yang dipercaya sebagai salah satu gunung keramat diperkirakan telah muncul jauh sebelum berdirinya Kerajaan Banten Girang yaitu kerajaan yang bercorak Hindu/Buddha sebelum berdirinya Kesultanan Banten Islam.
Berita-berita dari beberapa pakar kepurbakalaan seperti Pleyte mengisahkan Sanghyangdengdek
berdasarkan sumber cerita Ahmad Djayadiningrat pada tahun 1913 dan NJ Krom dalam Rapporten van der Oudheikundingen Diens in Nederlandsch Indie tahun 1914 menyatakan pula bahwa di seputar Kabupaten Pandeglang ada peninggalan arkeologi berupa arca nenek moyang. Salah satu arca yang dimaksud adalah patung tipe polinesia di Tenjo (Sanghyangdengdek).
Gunung Pulosari yang dikenal sebagai gunung keramat dapat dikatakan sebagai salah satu pusat peradaban masa lalu di daerah Banten. Pernyataan ini tentunya didukung bukti-bukti peninggalannya.
Salah satu bukti peninggalan yang saya datangi pada Rabu (20/07/2011) adalah Batu Bergores di Kampung Cidaresi, Desa Palanyar, Kecamatan Cipeucang (dulu Kecamatan Cimanuk). Lokasinya berada di lereng sebelah selatan Gunung Pulosari. Batu Bergores Cidaresi adalah sebuah batu monolit megalitik yang memiliki goresan-goresan sangat berlainan dari batu-batu bergores di tempat lain.
Goresan pada batu itu berbentuk segi tiga dengan lubang di tengah-tengah sehingga menyerupai kemaluan wanita. Karena itu, penduduk setempat menamakannya “batu tumbung” yang berarti kemaluan wanita. Diduga batu Cidaresi ini menggambarkan simbol kesuburan, atau sebagai lambang kesucian wanita. Batu Bergores Cidaresi saat ini sudah dilindungi oleh pagar agar terjaga kelestariannya.***

1311265882640514832

Batu Bergores tampak dari belakang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Terima Kasih Sunyi …

Syndi Nur Septian | | 25 July 2014 | 01:45

Rahasia Kecantikan Wanita Dayak Kalimantan …

Ayu Sintha | | 24 July 2014 | 20:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: