Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Marten

I'am a simple man

Benteng Somba Opu; Riwayatmu Kini

REP | 03 August 2011 | 16:28 Dibaca: 487   Komentar: 2   0

Akhir bulan Juli 2011 kemaren saya sempatkan berkunjung kesalah satu situs sejarah Makassar Sulawesi Selatan, Benteng Somba Opu. Benteng Somba Opu adalah benteng yang didirikan pada awal abad ke-16 atas usaha Sultan Gowa ke-IX yang bernama Daeng Matanre Karaeng Tumapa‘risi‘ Kallonna tepatnya pada tahun 1525. Pada pertengahan abad ke-16, benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa. Pada tanggal 24 Juni 1669, benteng ini dikuasai oleh VOC dan kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak pasang. Pada tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuwan. Pada tahun 1990, bangunan benteng yang sudah rusak direkonstruksi sehingga tampak lebih indah. Kini, Benteng Somba Opu menjadi sebuah obyek wisata yang sangat menarik, yaitu sebagai sebuah museum bersejarah.


Gambar 1. Informasi Seputar Benteng Somba Opu



Gambar 2. Coretan-coretan di dinding Benteng


Gambar 3. Salah Satu Bagian Benteng yang Tidak Terawat

Gambar 4. Salah Satu Bagian Rumah Adat yang Tidak Terawat


Tapi sayang benteng yang dahulu kelihatan indah dan menarik dipandang mata, sekarang sudah tidak lagi. Keindahan itu dikotori oleh banyaknya coretan-coretan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan perhatian pemerintah setempat untuk melestarikan situs sejarah ini. Bahkan perkembangan terbaru justru pemerintah setempat memberikan izin pembangunan sebuah objek wisata air atau sering disebut water boom di sekitar benteng tersebut. Pembangunan objek wisata air ini memperoleh penentangan dari berbagai kalangan termasuk masyarakat di sekitar lokasi benteng karena otomatis bisa merusak keaslian Benteng Somba Opu. Tapi perkembangan terbaru saat saya di sana pembangunannya terus berjalan dan mulai memasuki tahapan pembenahan area.

Gambar 5. Pembangunan Water Boom

Gambar 6. Pembangunan Water Boom

Gambar 7. Salah Satu Rumah Adat di dalam Benteng

Kembali ke pembahasan benteng. Seperti yang ditulis di Portal Bugis, Benteng Somba Opu dibangun dari tanah liat dan putih telur sebagai pengganti semen. Secara arsitekturial, benteng ini berbentuk persegi empat, dengan panjang sekitar 2 kilometer, tinggi 7 hingga 8 meter, dan luasnya sekitar 1.500 hektar. Seluruh bangunan benteng dipagari dengan dinding yang cukup tebal. Di dalam benteng, terdapat beberapa bangunan rumah adat Sulawesi Selatan (yang mewakili suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Kajang), sebuah meriam bernama “Baluwara Agung” sepanjang 9 meter dengan berat 9.500 kg, dan sebuah museum yang berisi benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Gowa. Dengan mengunjungi benteng ini para pengunjung dapat memperoleh sejumlah informasi mengenai sejarah dan kebudayaan dari berbagai suku-bangsa yang ada di Sulawesi Selatan.

Gambar 8. Dinding Benteng


Gambar 9. Bagian Depan Benteng


Gambar 10. Salah Satu Bagian di dalam Benteng -1


Gambar 11. Salah Satu Bagian di dalam Benteng-2


Gambar 10. Rumah Adat Ujung Pandang


Harapan kita mudah-mudahan pemeritah setempat bisa kembali memperhatikan situs sejarah Benteng Somba Opu ini. Selain menjadi salah satu objek wisata, kehadiran benteng ini penting untuk menunjukkan kepada kita bahwa semangat perlawanan Kesultanan Gowa saat itu kepada para penjajah sangatlah dahsyat. Sekedar informasi Kesultanan Gowa adalah salah satu Kesultanan Islam Nusantara yang menjadi kesultanan terbesar di Sulawesi Selatan. [Marten]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kapan Kota di Indonesia Jadi World Book …

Benny Rhamdani | | 23 April 2014 | 09:29

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 3 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 4 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 5 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: