Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Modern Artefak

Menyusuri Keping-keping jejak tradisi

Mengarak Barong di Kemiren, Banyuwangi

REP | 14 September 2011 | 06:50 Dibaca: 738   Komentar: 0   0

13159395682044202125

sumber foto: banyuwangikab.go.id

Bila mendengar kata ‘Barong’, mungkin yang pertama kali muncul dalam benak adalah sebuah pertunjukkan tari spektakuler dari Bali. Barong memang dikenal luas sebagai salah satu karakter dalam mitologi Bali. Barong dalam mitologi Bali adalah perlambang kebaikan, roh pelindung. Musuhnya ialah Rangda si tukang sihir jahat. Seni drama tari yang mengisahkan pertempuran Barong melawan Rangda, lazim disuguhkan sebagai atraksi wisata, dan sudah dikenal oleh banyak kalangan.

Wujud yang paling populer dari karakter Barong ini adalah singa. Tapi, wujud barong tidak melulu singa. Setidaknya, ada lima wujud barong yang umum ditemui di Bali, yakni: babi hutan, harimau, naga, dan tentu saja, singa.

Selain di Bali, ada wilayah lain di Indonesia yang memiliki kesenian sejenis. Di jawa tengah, misalnya, ada kalangan yang memakai ‘Barongan’ dalam pertunjukan ‘Jathilan’. Bedanya, Barongan ini tidak mengenakan kostum yang megah sebagaimana Barong Bali, ataupun Barongsai. Ia tampil dengan seadanya, karena yang biasanya menjadi pusat perhatian dalam pertunjukkan Jathilan adalah saat para penari kuda kepang mengalami trance, atau disebut ndadi.

Beda lagi dengan di Banyuwangi, Jawa Timur. Disana, ada Ritual Upacara adat yang bernama barong Ider Bumi, yang Baru-baru ini dilangsungkan di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Barong Ider Bumi merupakan ritual upacara bersih desa di hari ke – 2 setelah lebaran yang dilakukan oleh masyarakat suku osing di desa tersebut. Acara ini merupakan agenda tahunan yang rutin di gelar dengan swadaya masyarakat.

Dalam ritual Barong Ider Bumi tersebut, barong wajib diarak keliling desa dengan diiringi nyanyian macapat (tembang Jawa) yang berisi doa dan pemujaan terhadap Tuhan. Kata ider bumi merupakan penggabungan dari dua kata yaitu ider dan  bumi. Ider berarti berkeliling kemana-mana, dan bumi artinya jagat atau tempat berpijak. Dari arti kedua kata tersebut dapat dimengerti bahwa Ider Bumi dimaksudkan adalah kegiatan mengeliling tempat berpijak atau bumi.

Jadi, sesuai dengan namanya, inti dari ritual Barong Ider Bumi adalah mengarak barong memutari desa.

13159396301227607022

sumber foto: banyuwangikab.go.id

Sebelum Barong diarak keliling desa, para sesepuh memainkan angklung di balai desa untuk memulai ritual. Setelah itu, orang-orang mulai berbaris mengarak barong, sambil menabur beras kuning bercampur uang receh di sepanjang perjalanan. Barong diarak dari pintu masuk desa sampai pintu keluar desa sepanjang kurang lebih 3 kilometer, dan kemudian arak-arakan pun berakhir. Ibu-ibu menyiapkan tumpeng dan pecel pitik (pecel ayam) untuk selamatan yang digelar di sepanjang jalan desa.

Upacara Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, Banyuwangi ini memang unik. Seru juga rasanya berjalan kaki sepanjang tiga kilometer, sambil menyanyi tembang jawa, menyaksikan anak-anak berebut koin, lalu ketika acara berakhir, makan-makan di sepanjang jalan desa. Suasana festivalnya terasa sangat menyenangkan.

——————————————————————

Modern Artefak

“Telusur Jejak Tradisi”
modernartefak.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah Bantuan Sangat Mendesak yang …

Siwi Sang | | 18 December 2014 | 09:08

Bunga KPR Turun, Saatnya Beli Rumah? …

Rizky Febriana | | 18 December 2014 | 11:44

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Cerdik Pemerintah: Dualisme Pimpinan Golkar …

Petra | 7 jam lalu

Jalan Menuju Kampung Sejuta Internet …

Wahyuddin Al Mandar... | 8 jam lalu

(Hendaknya) Kita Berbagi Masalah, juga …

Wiendra Perdana | 8 jam lalu

Penemu Logo “OSIS “ …

Resti Anugrah | 8 jam lalu

Melihat Peternakan Nyamuk di Loka Litbang …

Nurlaila Yusuf | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: