Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Agung Sugiarto

Manusia yang ingin terus belajar...

Ranu Kumbolo, “Oleh-Oleh” dari Langit

REP | 04 October 2011 | 20:31 Dibaca: 911   Komentar: 3   0

1317798466776762460

Mendaki, melintas bukit…

Berjalan letih menahan berat beban…

Bertahan di dalam dingin….

Berselimut kabut Ranu Kumbolo…

Menatap jalan setapak….

Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir….

Mereguk nikmat cokelat susu….

Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda….

(Mahameru, Dewa 19)

Lagu berjudul Mahameru yang dipopulerkan oleh grup band Dewa 19 (saat itu, sekarang Dewa) pada medio 1990-an, dalam salah satu syairnya menyebut nama sebuah tempat, Ranu Kumbolo. Bagi sebagian orang, nama tempat ini terdengar asing. Namun, bagi sebagian orang lagi, khususnya mereka yang gemar mendaki gunung, nama tersebut mungkin sudah terdengar akrab di telinga mereka. Wajar saja, karena Ranu Kumbolo merupakan sebuah danau (ranu=danau, jawa) yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Tengger Semeru, Jawa Timur. Tepatnya berada di jalur pendakian Gunung Semeru (3676 Mdpl), gunung tertinggi di pulau Jawa.

Seperti Danau Kawah Ijen, Segara Anak Rinjani, dan Danau Toba; Ranu Kumbolo merupakan salah satu danau indah yang berada di ketinggian, dan menjadi bagian dari gunung berapi yang termasuk bagian dari Ring of Fire Indonesia. Danau-danau indah ini seakan menjadi “oleh-oleh” dari langit, juga bukti bahwa Tuhan Mahaadil. Selain menciptakan “neraka”, Dia juga menyediakan “surga” di bumi ini.

Ranu Kumbolo, atau ada sebagian orang menyebutnya Ranu Gumbolo berada di ketinggian ±2400 Mdpl dan memiliki luas 14 hektar ini merupakan salah satu pos peristirahatan favorit bagi mereka yang sedang mendaki Gunung Semeru. Tempat ini memang sangat layak dijadikan lokasi melepas lelah setelah berjam-jam berjalan mendaki jalur pendakian yang menguras tenaga.

Tanah lapang yang luas di pinggiran danau, suasana yang tenang, dan keindahan alam yang tersaji di sekitarnya merupakan alasan utama para pendaki membuka tenda di tempat ini sebelum kembali melanjutkan perjalanan panjang mencapai puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru, Kawah Jonggring Saloka). Namun, keindahan pemandangan di Ranu Kumbolo terkadang membuat mereka yang beristirahat enggan untuk melanjutkan perjalanan. Sampai-sampai, ada juga pendaki yang memang berniat mendaki Semeru hanya sampai ke Ranu Kumbolo dan bermalam berhari-hari di tempat ini tanpa ada keinginan sedikit pun menuju ke puncak Mahameru.

Memang, untuk mencapai Ranu Kumbolo diperlukan perjuangan yang lumayan berat. Berjarak ± 13 KM dari Ranu Pane, pintu masuk yang juga merupakan desa terakhir di kaki Gunung Semeru, Ranu Kumbolo dapat ditempuh berjalan kaki selama 3—4 jam. Perjalanan ke tempat ini boleh dibilang susah-susah gampang, tetapi jelas melelahkan. Jalur setapak yang mendaki, naik turun, jelas cukup menguras tenaga, terlebih dengan beban berat yang harus dibawa. Bahkan, pada musim hujan, tidak jarang dibutuhkan tenaga ekstra untuk berjalan di jalur yang basah dan licin, sembari merunduk atau melompat akibat jalan yang tertutup batang pohon yang tumbang.

Tapi, yakinlah, semua keringat yang menetes dan rasa lelah yang mendera, pasti terbayarkan lunas ketika jejak kaki sudah menapak di depannya. Berada di Ranu Kumbolo kita seakan-akan diajak berfantasi bahwa inilah tempat terindah di dunia. Bagaimana tidak, di tengah ketinggian, dalam suasana yang sunyi, dan udara dingin yang menusuk kulit, adakah yang lebih indah daripada memandangi hamparan luas air danau berwarna kehijauan yang kadang beriak tenang saat permukaannya “tertampar” halus tiup angin? Belum lagi saat tiupan angin gunung menerpa daun-daun cemara hutan (Casuarina jungjuhniana) yang tumbuh berjejer rapi di sekelilingnya menimbulkan suara bak nyaian alam yang menggetarkan jiwa. Syahdu. Sangat.

Jika semua itu belum cukup, bermalamlah di tempat ini, lalu bangunlah pagi-pagi sekali, dan tunggu matahari terbit. Sinar jingga kemerahan sang mentari ketika mulai menerangi bumi menembus melalui celah perbukitan di salah satu sudut Ranu Kumbolo, memantulkan cahaya keemasan, menyorot indah siluet pemandangan alam sekitar yang memantul di permukaannya. Sebuah momen yang membuat siapa pun menyaksikannya pasti sangat bersyukur bahwa Sang Pencipta telah menaruh tempat yang sangat indah ini di bumi khatulistiwa, negeri kita tercinta, Indonesia….

Tanjakan Cinta di Danaunya Para Bidadari

Di Ranu Kumbolo, yang karena keindahannya, menurut cerita masyarakat sekitar diyakini sebagai lokasi pemandian para bidadari ini, banyak kegiatan yang bisa dilakukan, dari sekedar bermalas-malasan dalam tenda sambil menikmati keindahan alam sekitar, berkeliling di sekitar pinggirannya untuk menghirup segarnya udara, mandi di tepiannya, atau bahkan memancing. Ya, Ranu Kumbolo merupakan habitat beberapa jenis ikan. Ikan-ikan ini ada yang tumbuh secara alami, ada juga yang bibitnya sengaja ditebar oleh penduduk dan pendaki. Jika beruntung, seekor ikan bisa dijadikan menjadi tambahan lezatnya menu makan malam! Oleh karena itu, pastikan juga membawa juga peralatan memancing jika ingin datang ke danau ini.

Sementara itu, bagi yang ingin menguji keberuntungan terutama dalam masalah percintaan, tidak ada salahnya menguji sebuah mitos yang ada di sini. Tidak jauh dari Ranu Kumbolo terdapat sebuah tanjakan yang di beri nama tanjakan cinta. Nama tanjakan cinta diberikan karena selain letaknya memang berada hampir di tengah dua buah bukit yang secara sekilas menyerupai bentuk hati, jalur menanjak ini juga dipercaya sebagian orang merupakan media untuk terkabulnya permintaan, terutama yang berkaitan dengan asmara.

Mitos ini mengatakan bahwa mereka yang mendaki tanjakan cinta akan mendapatkan wanita yang diidam-idamkannya jika bisa melewati tanjakan ini dengan sekali jalan dan tidak sekalipun berhenti atau menengok ke belakang. Walaupun tidak ada yang menjamin kebenarannya, tapi setidaknya mitos ini bisa menjadi motivasi, membuat mereka yang sedang menjalankan “ritual” lupa akan rasa lelah akibat mendaki tanjakan dengan kemiringan hampir 45° ini.

Saat malam tiba, ketika kegelapan sudah menyelimuti alam sekitar, jangan kuatir kehilangan semua keindahan yang telah dinikmati di Ranu Kumbolo. Semua belum berakhir. Jika beruntung dan waktunya tepat, sang ratu malam, bulan purnama beserta ribuan kilau bintang akan menyempurnakan hari kita menikmati semua keindahan Ranu Kumbolo, sambil mereguk nikmatnya secangkir kopi atau cokelat susu, seperti apa yang dinyanyikan oleh Dewa 19…. (Agung Sugiarto)

*Sumber foto: diambil secara sah dari http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1026216715388&set=a.1026208435181.4376.1824410208&type=3&theater, seizin pemilik foto dan FB tersebut.

Tags: cincinapi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa yang Kau Dapat dari Kompasianival 2014 …

Hendi Setiawan | | 22 November 2014 | 22:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


Subscribe and Follow Kompasiana: