Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Air Soda Tarutung Teka-teki Cincin Lingkaran Api

REP | 20 October 2011 | 14:26 Dibaca: 1450   Komentar: 0   1

Kota Tarutung Lembah bercawan atau disebut dengan istilah Orang Batak “Rura Silindung” terletak di daerah Kabupaten Tapanuli Utara Propinsi Sumatera Utara. Banyak orang mengatakan bahwa kota Tarutung hanya tinggal selapis lagi dari permukaan bumi. Anggapan masyarakat itu lahir karena permukaan tanah yang sangat dangkal serta penuh dengan bebatuan.

Kota Lembah ini sering di gunjang gempa. Kejadian terakhir yang melanda kota ini dengan gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter pada bulan Juni 2011 lalu. Di sisi lain kota ini sering terkena banjir karena permukaan tanahnya di bawah permukaan aliran sungai. Banyak tanggul dibangun untuk menangkal luapan aliran sungai Sigeaon. Namun tetap saja bila aliran sungainya deras sebagian dari kota ini akan terkena banjir.

Disertai barisan pegunungan yang mengitari kota lembah ini membuat suasana di sekitar daerah ini terlihat berkabut dan seakan dekat dengan langit. Tarutung merupakan daerah yang menyimpan banyak keindahan alam. Di daerah ini dikenal dengan adanya mata Air Soda, dan Mata Air Panas Sipoholon lepasan panas Gunung Martimbang.

Perjalanan saya yang sangat berkesan di kota ini, ketika saya dapat menikmati pemandian Air Soda di daerah Desa Parbubu dan Air Panas Sipoholon. Selama ini saya tidak pernah terpikir bahwa saya telah mandi di sebuah mata air yang ternyata hanya ada dua di dunia dan hanya satu di Indonesia di pemandian mata Air Soda Tarutung.

Mata Air Soda Tarutung terletak di kaki bukit daerah Tarutung Desa Parbubu I Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara. Mata air soda ini hanya berjarak satu kilometer dari pusat kota Tarutung. Namun karena kurangnya publikasi dari pemerintah setempat, banyak pelancong tidak mengetahui tempat pemandian ini. Beruntung saya punya teman di kota Tarutung sehingga saya dapat mengenal daerah pemandian ini.

Pemandian Air Soda Tarutung kurang mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerahnya untuk dijadikan sebagai objek wisata utama di daerah tersebut karena dana APBD tidak cukup. Masalah keuangan APBD PEMKAB Tapanuli Utara menjadi kendala besar untuk pengembangan Wisata Air Soda Tarutung.

Ketika saya mandi bersama teman saya di kolam soda. Teman saya mengatakan yang mandi disekitar kami kebanyakan para penduduk daerah Tarutung. Masih sangat jarang ditemukan para wisatawan untuk mandi di daerah itu. Padahal seandainya air soda itu dikembangkan dan dibangun dengan pelayanan yang lebih baik. Maka kemungkinan besar tempat pemandian itu akan menjadi great icon wisata penting bagi Masyarakat Tarutung dan bahkan Indonesia. Seharusnya bukan hanya pemerintah daerah yang harus memperhatikan daerah pemandian mata air soda ini. Namun Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pariwisata sudah seharusnya turut memperhatikan dan mengembangkan objek wisata ini dengan baik.

Mungkin banyak yang bertanya apa bedanya air soda dengan air biasa bila digunakan untuk mandi. Ketika saya mandi di kolam soda tubuh saya berbusa dan mata saya perih terkena percikan airnya. Airnya tidak lengket dibadan seperti minuman bersoda dan air soda ini seperti membuat badan kita halus dan terasa ringan. Bila diecap airnya terasa ada asinnya. Saya tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi dan saya masih penasaran kenapa air ini bisa bersoda. Namun sampai saat ini saya belum mendapat jawaban yang pasti tentang hal itu. Dan saya juga sempat berpikiran apakah air soda ini merupakan proses alam dari dalam bumi yang terjadi pada lingkaran cincin api di dunia? Dan kenapa hanya ada dua di dunia? Semoga para peneliti geologist bisa memecahkan pertanyaan ini dengan memberikan jawaban secara ilmiah.

Di tempat yang berbeda namun di daerah yang sama. Tidak jauh dari kota Tarutung ada disebut sebagai Pemandian Air Panas Sipoholon di daerah Kecamatan Sipoholon. Menurut Masyarakat Sipoholon, Pemandian Air Panas Sipoholon merupakan lepasan panas dari Gunung Martimbang yang terletak tiga kilometer dari pusat kota Tarutung. Air panas ini sudah menjadi icon penting bagi masyarakat Sipoholon. Banyak invertor menanam modalnya di daerah itu untuk membuat kolam pemandian dan penginapan bagi para wisatawan.

Air Panas Sipoholon bisa hampir sama dengan air panas yang berada di Cipanas. Namun bedanya bila di Sipoholon kita dapat melihat langsung sepasang sumber mata air panasnya. Ada dua buah mata air panas yang masing-masing besar lubangnnya sebesar lubang drum aspal. Kita dapat melihat langsung bagaimana air panas itu mengalir keluar dari dalam tanah. Sehingga moment itu bisa menjadi tour yang menyenangkan bagi para pengunjung. Selain hanya bisa mandi pengunjung bisa secara langsung melihat dari mana sumber air panas itu mengalir.

Pernah suatu kali terjadi gempa di Sumatera Barat yang mengakibatkan Mata Air Panas Sipoholon berhenti mengalir. Seluruh masyarakat Tarutung dan Sipoholon cemas. Masyarakat Tarutung dan Sipoholon beranggapan bila air panas Sipoholon tidak lagi mengalir maka akan ditakutkan Gunung Martimbang akan meletus. Berita itu banyak menggegerkan kalangan masyarakat Tarutung dan Sipoholon. Sehingga pemerintah turut menenangkan dan meyakinkan masyarakat bahwa Gunung Martimbang tidak akan meletus. Selang satu minggu dari kejadian itu, Air Panas Sipoholon tiba-tiba mengalir kembali. Mengetahui berita itu kerisauan masyarakat yang selama ini terjadi telah kembali normal seperti semula.

Masyarakat Tarutung dan Sipoholon masih meyakini bahwa Gunung Martimbang adalah gunung berapi yang masih tertidur dan suatu saat akan terbangun. Walaupun para peneliti mengatakan Gunung Martimbang bukan salah satu dari gunung berapi. Masalah ini mesti harus diteliti lebih lanjut untuk memproleh jawaban yang pasti dan ilmiah. Tarutung dan Sipoholon masih merupakan bagian dari kota misteri Lingkaran Cincin Api yang harus di teliti alamnya dan di ikuti terus ceritanya. Kota Lembah Rura Silindung Kota Misteri Lingkaran Cincin Api.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Learning by Doing, Efektifitas Mendidik ala …

Muhammad | | 16 September 2014 | 10:24

Autoethnografi: Dari Pengalaman ke Teks …

Sehat Ihsan Shadiqi... | | 16 September 2014 | 11:06

Dua Teknologi Penyelamat Kehidupan Menulis …

Necholas David | | 16 September 2014 | 10:03

Jika (Calon) Istri Menyembunyikan Status …

Syaiful W. Harahap | | 16 September 2014 | 08:57

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 4 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 6 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

[Fiksi Fantasi] Menolak Tua …

Myrna Hasibuan | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Sayap Hitam Angella …

Desy Desol | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi: Yang Barunya Mana, Ya? …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Aktor di Balik Alotnya Pengusutan Kasus …

Bagja Siregar | 8 jam lalu

Tentang Palu Pemecah Kaca yang Kehilangan …

Ayudhia Virga Basta... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: