Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Yoyon Pujo Utomo

Saya ada penulis di sebuah majalah bulanan di Ibukota. saat ini saya ingin mengembangkan bakat selengkapnya

Pengalaman Ke Kampung Gajah, Bandung

REP | 25 October 2011 | 02:35 Dibaca: 2942   Komentar: 1   0

Liburan saat hati sedang gembira, kumpul keluarga menjadi awal terbentuknya keluarga. Ternyata tanggal tua bagi orang pekerja, yang giat dilakoni setiap hari dengan rutinitas kesibukan, tidak menyurutkan untuk berlibur bersama keluarga.

Hari minggu lalu, tanggal 23 Oktober 2011, saya dan keluarga sehabis berkunjung ke sanak keluarga di Bandung dan bersilahturahmi, timbul dalam benak untuk bermain ke Kampung Gajah. Sepintas mendengar Kampung Gajah ada suatu hal yang istimewa. Ibarat sebuah Gajah tentunya disana ada sekumpulan Gajah yang hidup dan menetap.

Ternyata, Kampung Gajah memang masih baru di publikasikan sebagai tempat wisata baru di Kota Bandung, Jawa Barat. Melintasi perjalanan dari rumah saudara di Cipaganti menuju Kampung Gajah, banyak hal menarik. Selain disuguhkan pemandangan alam yang sejuk dan menarik, indahnya bunga dan pepohonan menambah liburan minggu kali ini menjadi bermakna.

Kampung Gajah, terletak berada di dataran tinggi, sehingga udara disana terasa dingin dan sejuk. Sesampai disana, pintu masuk wahana tampak megah dan dihiasi oleh beberapa patung Gajah menambah rasa penasaran kami sekeluarga. Karcis masuk pengunjung dan parkir mobil yang tergolong sewajarnya. Belum membuat kami gundah akan kunjungan ke Kampung Gajah.

Akan tetapi saat langkah menuju tempat arena-arena permainan seperti fly fox, adanya dokar/delman nan mewah ala kerajaan, kendaraan ATV, arena permainan anak dan lain sebagainya. Hati kami terketuk kaget, ternyata biaya per-arena permainan lumayan mahal buat kalangan ekonomi menengah seperti kami sekeluarga. Bayangkan saja, untuk naik dokar/delman satu kelliling putaran untuk satu kuda dikenakan biaya 40 ribu rupiah.

Terbenak dalam hati kami sekeluarga, Kampung Gajah,  Bandung memang tidak pantas buat kami sekeluarga karena biaya tiap arena memang tergolong mahal dan pantas hanya untuk kalangan orang-orang mampu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 8 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 8 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 9 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 11 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: