Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Alamsyah

Pria kelahirran Makassar, Mendapat Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia. Meminati isu-isu selengkapnya

The Beauty of Makassar (City Guide)

OPINI | 23 November 2011 | 03:24 Dibaca: 679   Komentar: 1   0

The Beauty of Makassar

(City Guide)

Artikel ini akan memberikan informasi atau pandauan perjalan wisata anda semacam City Guide bagi para Traveller dan Bagpacker yang suka jalan-jalan menikmati keindahan  panorama alam Indonesia, kali ini saya akan mengajak anda jalan-jalan dikota makassar wilayah bagian timur Indonesia. Tapi sebelum kita menelusuri jalan-jalan, dan tempat-tempat indah dikota makassar, saya akan mengajak anda untuk melihat dulu sejarah dan gambaran umum kota makassar, agar kita mendapatkan informasi seperti apa sih kota makassar itu,  bagaimana kehidupan kemasyarakatan , pemerintahannya dll. Miriplah semacam guide kalau kita mengunjungi museum atau tempat bersejarah, kita akan mendapat penjelasan tentang apa saja yang ada ditempat tersebut dari guidenya.

Anging mammiri kupassang, Natujui tontonganna,  Ritenayya takkaluppa

Eh aulee,  Namangurangi, Ritenayya…ritenayya.. parisi’na…

Sekarang mari kita lihat sejarah kota makassar yang biasa juga dijuluki  Kota Daeng, Kota Ruko dan Kota Anging Mammiri.

Asal Asul Nama Makassar

Menyambut usia ke-404 tahun (09 Nopember 2011), Kota Makassar masih terbilang muda jika dibandingkan sejarah nama Makassar yang jauh menembus masa lampau. Tapi tahukah Anda muasal dan nilai luhur makna nama Makassar itu?? Berikut ceritanya..! Dikisahkan bahwa Tiga hari berturut-turut Baginda Raja Tallo ke-VI Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Mannyonri Karaeng Katangka yang merangkap Tuma’bicara Butta ri Gowa (kepala agraria atau jabatan semacam kepala BPN (badan Pertanahan Nasional) kalau sekarang) (lahir tahun 1573), bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo (salah satu kecamatan dikota Makassar). Cahaya kemilau nan indah itu memancar keseluruh Butta Gowa (tanah gowa) lalu ke negeri sahabat lainnya.

Bersamaan di malam ketiga itu, yakni malam Jum’at tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H atau tanggal 22 September 1605 M. (Darwa rasyid MS. Peristiwa Tahun-tahun Bersejarah Sulawesi Selatan dari Abad ke XIV s/d XIX, hal.36), di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Layarnya terbuat dari sorban, berkibar kencang. Nampak sesosok lelaki menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Lelaki itu ternyata melakukan sholat. Cahaya yang terpancar dari tubuh Ielaki itu menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, yang sontak ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda Karaeng Katangka. Di pagi buta itu, Baginda bergegas ke pantai. Tapi tiba-tiba lelaki itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya.

Lelaki itu menjabat tangan Baginda Raja yang tengah kaku lantaran takjub. Digenggamnya tangan itu lalu menulis kalimat di telapak tangan Baginda “Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,” perintah lelaki itu lalu menghilang begitu saja. Baginda terperanjat. la meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda Karaeng Katangka lalu bergegas ke pantai. Betul saja, seorang lelaki tampak tengah menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau.  Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu. Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Baginda Nabi telah menampakkan diri di Negeri Baginda.

Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama “Makassar”, yakni diambil dari nama “Akkasaraki Nabbiya”, artinya Nabi menampakkan diri. Adapun lelaki yang mendarat di pantai Tallo itu adalah Abdul Ma’mur Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Dato’ ri Bandang, berasal dari Kota Tengah (Minangkabau, Sumatera Barat). Baginda Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka setelah memeluk Agama Islam kemudian bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awalul Islam Karaeng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.

Lebih jauh, penyusuran asal nama “Makassar” dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:

1. Makna. Untuk menjadi manusia sempurna perlu “Ampakasaraki”, yaitu menjelmakan (menjasmanikan) apa yang terkandung dalam bathin itu diwujudkan dengan perbuatan. “Mangkasarak” mewujudkan dirinya sebagai manusia sempurna dengan ajaran TAO atau TAU (ilmu keyakinan bathin). Bukan seperti yang dipahami sebagian orang bahwa “Mangkasarak” orang kasar yang mudah tersinggung. Sebenarnya orang yang mudah tersinggung itu adalah orang yang halus perasaannya.

2. Sejarah. Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16 telah mencatat nama “Makassar”. Abad ke-16 “Makassar” sudah menjadi ibu kota Kerajaan Gowa. Dan pada Abad itu pula, Makassar sebagai ibu kota sudah dikenal oleh bangsa asing. Bahkan dalam syair ke-14 Nagarakertagama karangan Prapanca (1365) nama Makassar telah tercantum.

3.  Bahasa. Dari segi Etimologi (Daeng Ngewa, 1972:1-2), Makassar berasal dati kata “Mangkasarak” yang terdiri atas dua morfem ikat “mang” dan morfem bebas “kasarak”. Morfem ikat “mang” mengandung arti: a). Memiliki sifat seperti yang terkandung dalam kata dasarnya. b). Menjadi atau menjelmakan diri seperti yang dinyatakan oleh kata dasarnya. ­Morfem bebas “kasarak” mengandung (arti: a). Terang, nyata, jelas, tegas. b). Nampak dari penjelasan. c). Besar (lawan kecil atau halus).

Jadi, kata “Mangkasarak” Mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (Jujur). Sebagai nama, orang yang memiliki sifat atau karakter “Mangkasarak” berarti orang tersebut besar (mulia), berterus terang (Jujur). Sebagaimana di bibir begitu pula di hati. John A.F. Schut dalam buku “De Volken van Nederlandsch lndie” jilid I yang mengatakan : De Makassaren en Boegineezen, menyatakan: “Angkuh bagaikan gunung-gunungnya, megah bagaikan alamnya, yang sungai-­sungainya di daerah-daerah nan tinggi mengalir cepat, garang tak tertundukkan, terutama pada musim hujan; air-air terjun tertumpah mendidih, membusa, bergelora, kerap menyala hingga amarah yang tak memandang apa-apa dan siapa-siapa. Tetapi sebagaimana juga sungai, gunung nan garang.

3. berakhir tenang semakin ia mendekati pantai. Demikian pulalah orang Bugis dan Makassar, dalam ketenangan dapat menerima apa yang baik dan indah”. Dalam ungkapan “Akkana Mangkasarak”, maksudnya berkata terus terang, meski pahit, dengan penuh keberanian dan rasa tanggung jawab. Dengan kata “Mangkasarak” ini dapatlah dikenal bahwa kalau dia diperlakukan baik, ia lebih baik. Kalau diperlakukan dengan halus, dia lebih halus, dan kalau dia dihormati, maka dia akan lebih hormat.

Kalau tadi kita sudah membicarakan asal-usul nama makassar sekarang kita akan mencari tahu bagaimana sejarah kota makassar.

Sejarah Kota Makassar

Awal Kota dan bandar makassar berada di muara sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil di wilayah itu pada penghujung abad XV. Sumber-sumber Portugis memberitakan, bahwa bandar Tallo itu awalnya berada dibawah Kerajaan Siang di sekitar Pangkajene, akan tetapi pada pertengahan abad XVI, Tallo bersatu dengan sebuah kerajaan kecil lainnya yang bernama Gowa, dan mulai melepaskan diri dari kerajaan Siang, yang bahkan menyerang dan menaklukan kerajaan-kerajaan sekitarnya.

Akibat semakin intensifnya kegiatan pertanian di hulu sungai Tallo, mengakibatkan pendangkalan sungai Tallo, sehingga bandarnya dipindahkan ke muara sungai Jeneberang, disinilah terjadi pembangunan kekuasaan kawasan istana oleh para ningrat Gowa-Tallo yang kemudian membangun pertahanan benteng Somba Opu, yang untuk selanjutnya seratus tahun kemudian menjadi wilayah inti Kota Makassar.

Pada masa pemerintahan Raja Gowa XVI ini didirikan pula Benteng Rotterdam di bagian utara, Pemerintahan Kerajaan masih dibawah kekuasaan Kerajaan Gowa, pada masa itu terjadi peningkatan aktifitas pada sektor perdagangan lokal, regional dan Internasional, sektor politik serta sektor pembangunan fisik oleh kerajaan. Masa ini merupakan puncak kejayaan Kerajaan Gowa, namun selanjutnya dengan adanya perjanjian Bungaya menghantarkan Kerajaan Gowa pada awal keruntuhan.

Komoditi ekspor utama Makassar adalah beras, yang dapat ditukar dengan rempah-rempah di Maluku maupun barang-barang manufaktur asal Timur Tengah, India dan Cina di Nusantara Barat. Dari laporan Saudagar Portugal maupun catatan-catatan lontara setempat, diketahui bahwa peranan penting Saudagar Melayu dalam perdagangannya yang berdasarkan pertukaran surplus pertanian dengan barang-barang impor itu.

Dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil disekitarnya, yang pada umumnya berbasis agraris pula, maka Makassar meningkatkan produksi komoditi itu dengan berarti, bahkan, dalam menyerang kerajaan-kerajaan kecil tainnya, para ningrat Makassar bukan hanya menguasai kawasan pertanian lawan-tawannya itu, akan tetapi berusaha pula untuk membujuk dan memaksa para saudagar setempat agar berpindah ke Makassar, sehingga kegiatan perdagangan semakin terkonsentrasi di bandar niaga baru itu.

Dalam hanya seabad saja, Makassar menjadi salah satu kota niaga terkemuka dunia yang dihuni lebih 100.000 orang (dan dengan ini termasuk ke-20 kota terbesar dunia Pada zaman itu jumlah penduduk Amsterdam, kota terbesar musuh utamanya, Belanda, baru mencapai sekitar 60.000 orang) yang bersifat kosmopolitan dan multikultural. Perkembangan bandar Makasar yang demikian pesat itu, berkat hubungannya dengan perubahan-perubahan pada tatanan perdagangan internasional masa itu. Pusat utama jaringan perdagangan di Malaka, ditaklukkan oleh Portugal pada tahun 1511, demikian di Jawa Utara semakin berkurang mengikuti kekalahan armada lautnya di tangan Portugal dan pengkotak-kotakan dengan kerajaan Mataram. Bahkan ketika Malaka diambil-alih oleh Kompeni Dagang Belanda VOC pada tahun 1641, sekian banyak pedagang Portugis ikut berpindah ke Makassar.

Sampai pada pertengahan pertama abad ke-17, Makassar berupaya merentangkan kekuasaannya ke sebagian besar Indonesia Timur dengan menaklukkan Pulau Selayar dan sekitarnya, kerajaan-kerajaan Wolio di Buton, Bima di Sumbawa, Banggai dan Gorontalo di Sulawesi bagian Timur dan Utara serta mengadakan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Seram dan pulau-pulau lain di Maluku. Secara internasional, sebagai salah satu bagian penting dalam Dunia Islam, Sultan Makassar menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik yang erat dengan kerajaan-kerajaan Banten dan Aceh di Indonesia Barat, Golconda di India dan Kekaisaran Otoman di TimurTengah.

Hubungan Makassar dengan Dunia Islam diawali dengan kehadiran Abdul Ma’mur Khatib Tunggal atau Dato’ Ri Bandang yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat yang tiba di Tallo (sekarang Makassar) pada bulan September 1605. Beliau mengislamkan Raja Gowa ke-XIV I¬MANGNGARANGI DAENG MANRABIA dengan gelar SULTAN ALAUDDIN (memerintah 1593-1639), dan dengan Mangkubumi I- MALLINGKAANG DAENG MANYONRI KARAENG KATANGKA yang juga sebagai Raja Tallo. Kedua raja ini, yang mulai memeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan.

Pada tanggal 9 Nopember 1607, tepatnya hari Jum’at, diadakanlah sembahyang Jum’at pertama di Mesjid Tallo dan dinyatakan secara resmi penduduk Kerajaan Gowa-Tallo tetah memeluk Agama Islam, pada waktu bersamaan pula, diadakan sembahyang Jum’at di Mesjid Mangallekana di Somba Opu. Tanggal inilah yang selanjutnya diperingati sebagai hari jadi kota Makassar sejak tahun 2000, yang sebelumnya hari jadi kota Makassar jatuh pada tanggal 1 April.

Para ningrat Makassar dan rakyatnya dengan giat ikut dalam jaringan perdagangan internasional, dan interaksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan itu menyebabkan sebuah “creative renaissance” yang menjadikan Bandar Makassar salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya. Koleksi buku dan peta, sesuatu yang pada zaman itu masih langkah di Eropa, yang terkumpul di Makassar, konon merupakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di dunia, dan para sultan tak segan-segan memesan barang-barang paling mutakhir dari seluruh pelosok bumi, termasuk bola dunia dan teropong terbesar pada waktunya, yang dipesan secara khusus dari Eropa.

Ambisi para pemimpin Kerajaan Gowa-Tallo untuk semakin memper-luas wilayah kekuasaan serta persaingan Bandar Makassar dengan Kompeni Dagang Belanda VOC berakhir dengan perang paling dahsyat dan sengit yang pernah dijalankan Kompeni. Pasukan Bugis, Belanda dan sekutunya dari Ternate, Buton dan Maluku memerlukan tiga tahun operasi militer di seluruh kawasan Indonesia Timur. Baru pada tahun 1669, akhirnya dapat merata-tanahkan kota Makassar dan benteng terbesarnya, Somba Opu.

Bagi Sulawesi Selatan, kejatuhan Makassar di tangan federasi itu merupakan sebuah titik balik yang berarti Bandar Niaga Makassar menjadi wilayah kekuasaan VOC, dan beberapa pasal perjanjian perdamaian membatasi dengan ketat kegiatan pelayaran antar-pulau Gowa-Tallo dan sekutunya. Pelabuhan Makassar ditutup bagi pedagang asing, sehingga komunitas saudagar hijrah ke pelabuhan-pelabuhan lain.

Pada beberapa dekade pertama setelah pemusnahan kota dan bandar Makassar, penduduk yang tersisa membangun sebuah pemukiman baru di sebelah utara bekas Benteng Ujung Pandang; benteng pertahanan pinggir utara kota lama itu pada tahun 1673 ditata ulang oleh VOC sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan dan diberi nama barunya Fort Rotterdam, dan ‘kota baru’ yang mulai tumbuh di sekelilingnya itu dinamakan ‘Vlaardingen’. Pemukiman itu jauh lebih kecil daripada Kota Raya Makassar yang telah dihancurkan. Pada dekade pertama seusai perang, seluruh kawasan itu dihuni tidak lebih 2.000 jiwa; pada pertengahan abad ke-18 jumlah itu meningkat menjadi sekitar 5.000 orang, setengah di antaranya sebagai budak.

Selama dikuasai VOC, Makassar menjadi sebuah kota yang tertupakan. “Jan Kompeni” maupun para penjajah kolonial pada abad ke-19 itu tak mampu menaklukkan jazirah Sulawesi Selatan yang sampai awal abad ke-20 masih terdiri dari selusinan kerajaan kecil yang independen dari pemerintahan asing, bahkan sering harus mempertahankan diri terhadap serangan militer yang ditancurkan kerajaan-kerajaan itu. Maka, ‘Kota Kompeni’ itu hanya berfungsi sebagai pos pengamanan di jalur utara perdagangan rempah-rempah tanpa hinterland - bentuknya pun bukan ‘bentuk kota’, tetapi suatu aglomerasi kampung-kampung di pesisir pantai sekeliling Fort Rotterdam.

Pada awalnya, kegiatan perdagangan utama di beras Bandar Dunia ini adalah pemasaran budak serta menyuplai beras kepada kapal-kapal VOC yang menukarkannya dengan rempah-rempah di Maluku. Pada tahun 30-an di abad ke-18, pelabuhan Makassar dibuka bagi kapal-kapal dagang Cina. Komoditi yang dicari para saudagar Tionghoa di Sulawesi, pada umumnya berupa hasil laut dan hutan seperti teripang, sisik penyu, kulit kerang, sarang burung dan kayu cendana, sehingga tidak dianggap sebagai langganan dan persaingan bagi monopoli jual-beli rempah-rempah dan kain yang didirikan VOC.

Sebaliknya, barang dagangan Cina, Terutama porselen dan kain sutera, dijual para saudagarnya dengan harga yang lebih murah di Makassar daripada yang bisa didapat oleh pedagang asing di Negeri Cina sendiri. Adanya pasaran baru itu, mendorong kembali aktivitas maritim penduduk kota dan kawasan Makassar. Terutama penduduk pulau-pulau di kawasan Spermonde mulai menspesialisasikan diri sebagai pencari teripang, komoditi utama yang dicari para pedagang Cina, dengan menjelajahi seluruh Kawasan Timur Nusantara untuk men¬carinya; bahkan, sejak pertengahan abad ke-18 para nelayan-pelaut Sulawesi secara rutin berlayar hingga pantai utara Australia, di mana mereka tiga sampai empat bulan lamanya membuka puluhan lokasi pengolahan teripang. Sampai sekarang, hasil laut masih merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi penduduk pulau-pulau dalam wilayah Kota Makassar.

Setetah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menggantikan kompeni perdagangan VOC yang bangkrut pada akhir abad ke-18, Makassar dihidupkan kembali dengan menjadikannya sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1846. Tahun-tahun berikutnya menyaksikan kenaikan volume perdagangan yang pesat, dan kota Makassar berkembang dari sebuah pelabuhan backwater menjadi kembali suatu bandar internasional. Dengan semakin berputarnya roda perekonornian Makassar, jumlah penduduknya meningkat dari sekitar 15.000 penduduk pada pertengahan abad ke-19 menjadi kurang lebih 30.000 jiwa pada awal abad berikutnya. Makassar abad ke-19 itu dijuluki “kota kecil terindah di seluruh Hindia-Belanda” (Joseph Conrad, seorang penulis Inggris-Potandia terkenal),dan menjadi salah satu port of call utama bagi baik para pelaut-pedagang Eropa, India dan Arab dalam pemburuan hasil-hasil hutan yang amat laku di pasaran dunia maupun perahu-perahu pribumi yang beroperasi di antara Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Pada awal abad ke-20, Belanda akhirnya menaklukkan daerah¬daerah independen di Sulawesi, Makassar dijadikan sebagai pusat pemerintahan kolonial Indonesia Timur. Tiga-setengah dasawarsa Neerlandica, kedamaian di bawah pemerintahan kolonial itu adalah masa tanpa perang paling lama yang pernah dialami Sulawesi Selatan, dan sebagai akibat ekonominya berkembang dengan pesat. Penduduk Makassar dalam kurun waktu itu meningkat sebanyak tiga kali lipat, dan wilayah kota diperluas ke semua penjuru. Dideklarasikan sebagai Kota Madya pada tahun 1906, Makassar tahun 1920-an adalah kota besar kedua di luar Jawa yang membanggakan dirinya dengan sembilan perwakilan asing, sederetan panjang toko di tengah kota yang menjual barang-barang mutakhir dari seluruh dunia dan kehidupan sosial-budaya yang dinamis dan kosmopolitan.

Perang Dunia Kedua dan pendirian Republik Indonesia sekali lagi mengubah wajah Makassar. Hengkangnya sebagian besar warga asingnya pada tahun 1949 dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing pada akhir tahun 1950-an menjadi¬kannya kembali sebuah kota provinsi. Bahkan, sifat asli Makassar-pun semakin menghilang dengan kedatangan warga baru dari daerah-daerah pedalaman yang berusaha menyelamatkan diri dari kekacauan akibat berbagai pergolakan pasca¬ revolusi. Antara tahun 1930-an sampai tahun 1961 jumlah penduduk meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000 orang, lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota. Hal ini dicerminkan dalam penggantian nama kota menjadi Ujung Pandang berdasarkan julukan ”Jumpandang” yang selama berabad-abad lamanya menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman pada tahun 1971. Baru pada tahun 1999 kota ini dinamakan kembali Makassar, tepatnya 13 Oktober berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999 Nama Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar dan sesuai Undang-Undang Pemerintahan Daerah luas wilayah bertambah kurang lebih 4 mil kearah laut 10.000 Ha, menjadi 27.577Ha. (dikutip dari www.makassar.go.id; sejarah kota makassar)

Gambaran tentang asal-usul nama dan sejarah kota makassar sudah sangat jelas digambarkan diatas, tentunya akan memperkaya pengetahuan kita tentang kota makassar sekarang saya akan menjelaskan  transportasi apa saja yang bisa anda gunakan jika anda ingin travelling atau Bagpakerran ke makassar.

Transportasi Udara :

Jika anda berangkat dari pulau jawa, sumatera, kalimantan dan papua anda dapat menggunakan pesawat: Garuda, Merpati, Lion Air, Sriwijaya Air, Batavia air hampir semua penerbangan dari luar selawesi memiliki tujuan terbang ke makassar maupun transit di kota makassar dan selanjutnya terbang kembali tempat tujuan.

Transportasi Laut :

Anda dapat menggunakan Kapal milik PT. Pelni dan PT. darma Lautan Nusantara kalau anda ingin membawa serta kendaran anda silahkan pilih kapal jenis RORO yang dapat mengangkut anda sekalian dengan kendaraan anda sampai ditujuan.

Setibanya di bandara Internasional Sultan Hasanuddin, atau pelabuhan Soekarno Hatta anda tinggal melanjutkan perjalanan menuju kota yang jaraknya tidak terlalu jauh. Untuk akomodasi bagi anda yang tidak memiliki keluarga atau kerabat di makassar anda dapat memilih akomodasi yang anda kehendaki.

Hotel :

Hotel Sahid Jaya Jl. Dr. Sam Ratulangi , Hotel Imperial arya Duta Jl. Penghibur  kategori Hotel bintang 5.

Hotel Quality jl. penghibur, Hotel Marannu Tower, Jl. Hasanuddin, Hotel Pantai Gapura, Jl. Penghibur, Hotel Makassar Golden Hotel, Hotel Clarion Jl. Pettarani (kategori Hotel Bintang 4)

Hotel Dinasty Jl. Timor, Hotel  Yasmin Jl. Jampea, Hotel Pena mas Jl. Pengayoman, Hotel Kenari Tower Jl.  Somba Opu, Hotel losari Beach Jl. Penghibur, Hotel Losari INN jl. Penghibur, Hotel Losari Metro Jl. Chairil anwar (kategori hotel bintang 3)

Masih banyak hotel- hotel Bintang 1 dan bintang 2,  hotel kelas melati yang ada di jalan-jalan kota makassar. Anda dapat juga memilih home stay yang ada di jalan lamadukelleng (harganya cukup terjangkau), Guest House dimakassar baru ada dua di jalan Boulevard dan Jl. Hertasning. Untuk apartemen anda bisa ke Jl. Pettarani lokasinya  di komplek IDI belakang Polres Makassar Timur, harga cukup terjangkau Rp. 250 permalam untuk apartemen 2 kamar tidur anda juga bisa memilih untuk menyewa satu kamar tidur saja. Nah buat anda yang bagpakkeran dan mau mengirit biaya akomodasi atau memang lagi cekkak duitnya untuk bayar akomodasi, ngak ada keluarga atau teman di makassar sekedar info saja anda bisa menginap gratis di beberapa masjid dikota makassar antara lain Masjid Kerung-kerung, dijl. Kerung kerung, masjid yasin dijalan Muh Tahir, dan masjid di Perumahan Kumala Permai jl. Muh tahir dan masjid muhajirin di jl. Muhajirin 2.

Makassar juga memiliki wisata sejarah dan Religi ada benteng somba opu yang dibangun oleh Raja Gowa ke IX Daeng Matanre tumaparisi Kallonna pada abad ke XVI (1550 1650),. Museum Balla Lompoa (rumah adat kerajaan Gowa masa lalu). Ada masjid Al markas al Islami, ada masjid tertua di sulsel yang terletak di katangka. Makam Pangeran diponegoro di Jl. diponegoro, Benteng Fort Roterdam jl. Penghibur, Makam Wali Syehk Yusuf di Perbatasan gowa makassar, Makam Raja-Raja Tallo di Kecamatan Tallo.

Untuk wisata pantai ada pantai losari yang sangat eksotik diwaktu senja, anda dapat menikmati sunset losari di anjungan pantainya (gratis) lengkap dengan jajalan kaki limanya, pantai losari kini  sudah direklamasi bibir pantainya dan dibangun space publik dan masjid untuk dinikmati masyarakat makassar. Anda juga bisa menikmati sunset losari dari pantai akkarena tanjung bunga, menikmati sunset disini anda harus merogoh kocek untuk masuk Rp. 10.000 rupiah per orang. Usnset juga bisa anda nikmati di pantai Tanjung Bayam tapi dilokasi ini Ramainya hanya di hari Minggu. Anda juga bisa menikmati sunset dari Hotel pantai gapura (contage di atas laut) tempatnya di café ballairate (café diatas laut) menikmati sunset disini sangat indah ditambah dengan contage yang sangat eksotik diatas laut  dan menu-menu café yang siap untuk dicicipi tentunya membuat suasana tambah romantic,

Setelah anda capek jalan jalan sekarang waktunya kita wisata kuliner, makassar terkenal dengan sea foodnya makanan laut ini melimpah dikota makassar anda bisa menikmatinya di Ratu Gurih jl. Lamadukelleng, RM. Lae-lae di jalan datumuseng, RM. Dinar jl. Lamadukkele,  RM. Turi jl. Penghibur, RM Nelayan  jl. Muhtar lutfi Restoran SURYA, Mall panakukang, warung pallukaloa jl. Tentara pelajar.  Apong jl. Diponegoro, Rm. Dinar jl.  Rusa, RM. Nelayan jl. Paotere dan masih banyak lagi pokeke manyuss deh seafood makassar.

Untuk makanan tradisional anda bisa mencoba Coto Makassar ini makanan khas makassar banyak terdapat warung coto dimakassar tapi saya akan memberitahu anda beberapa saja yang banyak dikunjungi oleh orang yang datang jalan-jalan dikota makassar, Coto di jl. Mappanyukki, coto jl. abdullah dg. sirua, coto gagak di jl. Gagak, Coto Paraikatte jl. Pettarani, Coto Nusantara jl. Nusantara dan ada satu warung coto paling bersejarah karena Presiden SBY (Susilo Bambang Yudoyono) pernah makan coto tempat itu.  anda bisa menikmatinya di jl. Ali Malaka. Tempatnya tidak seramai ke lima warung coto diatas. Saya juga sudah mencoba makan coto di tempat  SBY pernah makan coto itu. Bedanya SBY Presiden dan saya Bukan Presiden tapi saya pernah makan coto di tempat Presiden pernah makan coto..sexy kan..!!

Selain coto ada juga Pallubasa makanan mirip coto tapi dikasih kelapa goreng yang disangrai, trus dikasih kuning telur ayam kampung diatasnya dan disajikan dengan nasi putih, mantap deh pokoknya ngak usah lama- lama silahkan anda kunjungi Pallubasa jl. Srigala atau pallubasa jl. Onta lama.  Untuk menikmati jajanan tradisional lainnya bisa anda nikmati di sepanjang pantai losari, disana ada Pisang epe, es pallubutung, es pisang ijo dll.  Makassar juga punya 1 lagi makanan khas yakni Sop Kepala ikan kakap merah rasanya dijamin nambahhh deh, langsung aja anda kunjungi Sop Kepala Ikan di Jl. abdullah dg. Sirua  dan Kepala Ikan jl. Racing Center di tempat ini anda tidak hanya sekedar makan sop kepala ikan tapi lantai 3 nya ada tempat meeting dan tempat untuk anda bersantai sambil karaoke. Tempatnya cukup bagus apa lagi tempat ini diremikan oleh Jenderal TNI George Tousuta (KASAD TNI AD) jadi aman kan.

Satu lagi wisata kuliner yang harus anda kunjungi dimakassar yaitu warung kopi (warkop) , kota makassar dikenal juga dengan  julukan kota ruko hampir disetiap jalan-jalan Besar dikota makassaar ada ruku berjejer. Dan setiap bangunan ruko selalu ada warkopnya. Jadi anda tinggal memilih tapi saya rekomendasikan kepada untuk menikmati Kopi  di Warkop Phoenam jl. Ratulagi, jl. Boulevard, jl. Jampea ada juga warkop di jalan penghibur, warkop toddopuli, warkop 76, warkop aleta, King resto café, Café Boulevard, Warkop Daeng sija. dll. Semua warkop dimakassar memanjakan pengunjungnya dengan fasilitas free host spot wi fi jadi bagi anda yang suka berselancar didunia maya tentunya sangat mengasikkan.

Kalau anda ingin berbelanja dimakassar ada mall ratu indah di jl. Ratulangi , mall panakukng di jl. Boulevard, mall GTC tanjung bunga, mall MTC di jl. HOS Cokroaminoto , Mall Trans di tanjung bunga. Kalau pasar tradisionalnya anda bisa ke pasar sentral di jl. Hos cokroaminoto, dan pasar senggol diwaktu malam di jl. Cendrawasi.  Untuk oleh oleh khas makassar anda bisa cari di sepanjang jl. Somba opu dan jl. Penghibur.

Semua informasi tempat-tempat diatas itu dilalui oleh transportasi umum, seperti, becak, bentor (becak Motor) dan pete-pete (angkot), taxi apa lagi anda juga bisa menggunakan mobil Rental, Jadi ngak usah khawatir buat anda yang bagpakerran. Nah selamat menikmati deh jalan- jalan nya semoga informasi ini bisa menjadi City Guide buat anda.

Selamat menikmati keindahan Makassar.

Alamsyah

Daealami@yahoo.co.id

Facebook: alamsyah debani

Twitter : alamsyahdgbani

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Jalan, Super Admin Kompasiana! …

Nurul | | 27 August 2014 | 11:44

Menyambut Baik Undang-undang Panas Bumi …

Ikhsan Harahap | | 27 August 2014 | 10:03

Jokowi: Rekonsiliasi Itu Apa? …

Armin Mustamin Topu... | | 27 August 2014 | 05:58

Mengapa Turis Tiongkok Tidak Suka ke …

Leo Kusima | | 27 August 2014 | 11:46

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Buka Hubungan Diplomatik dengan …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Persaingan Para Istri Bersuamikan WNA …

Usi Saba Kota | 7 jam lalu

“Tuhan, Mengapa Saya Kaya?” …

Enny Soepardjono | 8 jam lalu

DPRD Jakarta Belum Keluar Keringat, tapi …

Febrialdi | 8 jam lalu

“Kelompok Busuk Menolak Ahok” …

Pakfigo Saja | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: