Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Wisata Malam Melintas Jejak Sejarah Tanjung Pandan

HL | 08 December 2011 | 10:54 Dibaca: 886   Komentar: 5   1

Rumah Kapiten Phang Tjong Toen (sumber:koleksi pribadi)

Rasanya tak ingin membuang waktu dan menikmati malam terakhir di Belitung, malam ini sayan kembali menjelajah pusat kota Tanjung Pandan. Setelah terbangun dari mimpi indah pendek, tepat pukul 22:00 WIB saya keluar dari hotel  berjalan ke arah pelabuhan menjauhi pusat kota. Hingar bingar dan keramaian kota sudah nyaris tidak terasa di sini.

Gang Kim Ting - kawasan Pecinan (sumber:koleksi pribadi)

Gang Kim Ting adalah sebuah kawasan jalan kecil di kawasan pecinan Tanjung Pandan merupakan sentra penjualan ikan asin dan terasi. Menjelang sore hari , kios penjual makanan awetan hasi laut ini berubah menjadi tempat mangkal penjual makanan . Sebuah gapura bergaya oriental dengan huruf kanji mempertegas bahwa ini adalah kawasan pecinan.

Kelenteng Hok Teh Ce - bukti akulturasi budaya di Tanjung Pandang (sumber: koleksi pribadi)

Tidak jauh dari Gang Kim Ting terdapat sebuah bangunan berwarna merah jambu dengan halaman yang luas, yaitu Kelenteng Hok Teh Ce. Kelenteng sederhana yang dibangun pada tahun 1868 merupakan salah satu bentuk alkuturasi budaya cina dengan penduduk setempat.

Pada masa lalu banyak bangsa cina didatangkan di Tanjung Pandan untuk bekerja di tambang timah di bawah kepemimpinan Kapten Ho A Jun. Bangunan yang dikenal dengan Kelenteng Pasar Ikan ini telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Cagar Budaya.

Aura Mistis - Rumah Kapiten Phang Tjong Toen (sumber: koleksi pribadi)

Tepat di depan hotel Surya tempat saya menginap ada sebuah bangunan bergaya Belanda dengan tujuh pilar di depannya. Kesan bangunan tua dan angker sangat terasa di sini. Ketika mengambil gambar ditengah malam ada perasaan bergidik di bulu kuduk saya. Tapi ini adalah bagian dari sensasi wisata malam. Setelah membaca sebuah papan putih di depannya akhirnya saya tahu ini adalah kediaman  Kapiten Phang Tjong Toen. Seorang juru tulis tambang yang bekerja pada  John F. Loudon  tahun 1853.

Rumah yang dibangun pada 1868 ini dimiliki oleh keturunan sang kapten yaitu Ny Ester Lena. Sayang sekali sepertinya bangunan ini tidak terbuka untuk umum. Mungkin jika terbuka bagi umum bisa menjadi salah satu objek wisata malam seperti Lawang Sewu untuk mengguji nyali.

Ikon simpang lima -Boulevard Simpang Lima Tanjungpandan (sumber: koleksi pribadi)

Untuk menetralisir suasana mistis sayapun berjalan menuju simpang lima mencari suasana yang lebih ramai. Berdiri sebuah  Boulevard Simpang Lima Tanjungpandan (BSLT) yang khas dengan batu Satam dan air mancur. Taman kota yang dibangun pada tahun 2010 dan diproyeksikan menjadi ikon Belitung ini ternyata sempat menimbulkan reaksi kontra pada masa pembangunan.

Bangunan yang diprakasai oleh Bupati Belitung Ir.H.Darmansyah Husein dituding akan mengilangkan unsur sejarah. Karena membuat Tugu Pahlawan di areal taman kota harus dibongkar dan membuat beberapa ikon buah nanas dan lambang Belitung Parang-Ikan Tenggiri dipindahkan. Namun kini masyarakat bisa menerima kehadiran batu satam raksasa di tengah kota sebagai ikon yang mempercantik kota Tanjung Pandan.

Peninggalan Sejarah - Eks. Kantor Billition (sumber:koleksi pribadi)

Menjelang tengah malam kota ini semakin sepi, toko toko sudah tutup yang tinggal hanya kedai kopi dan dua gerobak makanan berjajar di dekat simpang lima. Sayapun kembali menyusuri tiap sudut jalan di sini, tapi yang ada hanya kesunyian. Di salah satu ujung jalan saya menemukan sebuah bangunan bertuliskan Eks. Kantor Billiton Mij. Tak banyak informasi dan gambar yang saya bisa saya dapatkan karena bangunan ini tepat di samping kantor polisi. Dan saya  menjaga sikap karena  aparat memperkatat pengamanan Belitung ,  dijadwalkan esok  presiden akan berkunjung untuk membuka acara Sail Wakatobi Belitung Sail 2011.

Menikmati malam sambil menyusuri saksi sejarah sebuah kota memberikan satu sensasi perjalanan yang berbeda. Malam ini saya bisa benar-benar menikmati kota Tanjung Pandan dari sisi yang lain. Wisata tidak harus identik dengan sesuatu yang indah, gemerlap dan mahal. Terimakasih malam, Tanjung Pandan dan bulan yang telah menemani penjelajahan kali ini….

sumber: blog pribadi penulis

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Tifatul Sembiring di Balik Hilangnya …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Skenario Menjatuhkan Jokowi, Rekayasa Merah …

Imam Kodri | 8 jam lalu

SBY Hentikan Koalisi Merah Putih …

Zen Muttaqin | 8 jam lalu

Dari Semua Calon Menteri, Cuma Rizal Ramli …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Rayhaneh Jabbari Membunuh Intelejen Coba …

Febrialdi | 7 jam lalu

Penumpang KA Minim Empati …

Agung Han | 7 jam lalu

Enam Belas Tahun yang Lalu …

Muhakam -laugi | 8 jam lalu

Ada Cinta di Minggu Ke-13 …

Rian Johanes | 8 jam lalu

Ayo Muliakan Petani Indonesia …

Robert Parlaungan S... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: