Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Agoeng Widodo

Seseorang yang sedang belajar, dan sangat memimpikan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto selengkapnya

Yogyakarta “Kota Budaya”

REP | 13 December 2011 | 13:22 Dibaca: 5219   Komentar: 13   2

Yogyakarta. . . .

Mendengar kata “Yogyakarta“, angan kita pasti segera melayang ke sebuah Daerah Istimewa yang mempunyai berbagai keunikan budaya, kuliner, wisata, dan kota tujuan untuk menimba ilmu. Tak salah jika Yogyakarta dijuluki kota budaya, kota gudeg, atau kota pelajar. Ciri khas yang paling utama dari kota Yogyakarta adalah adanya Keraton Yogyakarta Hadiningrat . Hampir setiap kejadian penting yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dianggap sebagai ritual yang selalu diiringi dengan pertunjukan seni.

1323779736934237124

Keraton tak ubahnya sebagai pusat dari kebudayaan yang ada. Karena di dalam keraton terdapat benda-benda pusaka yang tidak hanya mempunyai nilai seni yang tinggi, tetapi juga mempunyai nilai sejarah terkait perjalanan Keraton ataupun Sultan.  Benda-benda pusaka yang ada di dalam keraton diantaranya berupa senjata dan peralatan perang, bendera, berbagai kitab kuno, perangkat alat musik, wayang, kareta, dan tari-tarian.

13237801731568161088

Di Keraton Yogyakarta sendiri juga memiliki beberapa perangkat alat musik gamelan. Namun hanya 3 saja yang dianggap paling sakral/keramat. Ketiganya adalah :

1. Kyahi Guntur Laut

Sering disebut gamelan Monggang. Merupakan gamelan warisan turun temurun dari kerajaan Majapahit. Gamelan ini dianggap gamelan yang paling sakral. Disimpan di Bangsal kori sebelah timur, kompleks sitihinggil. Kyahi Guntur Laut hanya dimainkan dalam upacara kenegaraan yang sangat penting semisal upacara pelantikan Sultan, pernikahan kerajaan, dan upacara pemakaman Sultan.

13237810201386048636

2. Kyahi Kebo Ganggang

Merupakan seperangkat gamelan kuno, yang konon juga berasal dari kerajaan Majapahit.  Merupakan gamelan ke 2 setelah Kyahi Guntur Laut.  Biasa disebut Kodhok Ngorek atau Mahesa Ganggang. Gamelan ini dipercayai memiliki melodi yang “aneh” seperti pada gendhing kodhok ngorek ayam sepenan. Gamelan yang terletak di Bangsal Kori sebelah barat kompleks sitihinggil ini dimainkan pada acara resmi kenegaraan seperti upacara sunatan, atau upacara ulang tahun Sultan, dan untuk mengiringi prosesi gunungan di masjid agung.

13237816661695649743

3. Gamelan Sekati

Terdiri dari 2 buah gamelan, yakni Kyahi Guntur Madu dan Kyahi Naga Wilaga. Keduanya biasanya dimainkan di dalam masjid agung selama perayaan sekaten pada grebeg Maulid.

Selain perangkat gamelan, keraton Yogyakarta juga memiliki tarian sakral diantaranya beksan bedhaya, dan beksan lawung ageng. Beksan bedhaya dianggap sangat sakral karena konon diciptakan langsung oleh  Sultan Agung (penguasa Mataram). Tarian ini dimainkan oleh 9 penari lelaki yang menyimbolkan 9 lubang pada manusia, dan juga 9 gerbang utama keraton, dan 9 struktur pada tubuh manusia.

Dengan berbagai ragam budaya yang ada, sudah sepantasnya jika Yogyakarta disebut juga Kota Budaya. Meskipun di era globalisasi, ternyata Yogyakarta tetap bisa mempertahankan “ciri khas” nya sebagai kota budaya yang selalu menarik minat wisatawan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 11 jam lalu

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 12 jam lalu

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 16 jam lalu

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemeran Film Dokumenter Act of Killing Haram …

Handy Fernandy | 9 jam lalu

Asyiknya Wisata di TRMS Serulingmas …

Banyumas Maya | 11 jam lalu

Ajang Kompasianival Melengkapi Pertemanan …

Thamrin Dahlan | 11 jam lalu

Generasi Sandwich …

Sitti Fathimah Herd... | 11 jam lalu

Eh, Susi Nongol Lagi! …

Mbah Mupeang | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: