Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Olive Bendon

penikmat alam ciptaan Tuhan, senang berjalan kaki & menyesap senyap saat mutar-mutar di kuburan tua. selengkapnya

Benteng Somba Opu, Potensi Wisata Sejarah Yang Diabaikan

REP | 27 December 2011 | 22:16 Dibaca: 1523   Komentar: 2   1

Rintik hujan berlomba menapakkan jejaknya di permukaan tanah ketika kendaraan yang saya tumpangi memasuki kawasan benteng Somba Opu, Makassar. Beberapa pelajar berseragam pramuka meliuk dengan sepeda motornya berboncengan melaju ke arah yang sama. Sebelum rasa bangga saya membuncah melihat kesadaran mereka berkunjung ke tempat wisata sejarah selepas jam sekolah, pemandangan siswa mojok di sekitar pohon dan reruntuhan benteng meredam rasa itu. Sebelum melewati gerbang, tampak menara seluncur waterboom dan bangunan berbentuk kandang burung di dalam kawasan Gowa Discovery Park (GDP) yang pembangunannya sempat mengundang protes keras dari para mahasiswa di akhir 2010 dan awal 2011 lalu. Spanduk sisa demo pun masih terlihat menggantung dijadikan penutup warung di salah satu rumah adat. Konon pembangunan GDP bertujuan untuk pelestarian kawasan cagar budaya benteng Somba Opu. Dari beberapa informasi di media online yang sempat saya unduh disebutkan GDP akan mulai beroperasi di 2012, namun hari itu tak nampak aktifitas layaknya mengejar target di sana mungkin pekerjanya sedang libur. Kendaraan pun melewati gerbang dengan bebas karena tidak ada pos penjagaan hingga sampai di depan Baruga Somba Opu; lalu berputar arah kembali ke depan. Maksud hati hendak bertanya kepada beberapa pemuda yang sebelumnya berkumpul di dekat rumah adat Mamasa, namun begitu sampai di sana mereka sudah tidak ada. Tak adanya petugas yang bisa ditanyai tentang benteng dan sekitarnya, membuat saya menikmati sendiri kunjungan ini. Museum Pattingalloang yang konon menyimpan barang-barang peninggalan kesultanan Gowa pintunya tertutup rapat sehingga saya tidak punya kesempatan untuk melihat koleksinya. Apakah saya salah memilih jadwal berkunjung?

13249770511560762625

sisa kejayaan benteng Somba Opu dengan latar pagar Gowa Discovery Park (gambar: koleksi pribadi)

Benteng Somba Opu dibangun pada masa pemerintahan Sultan Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallona pada tahun 1525 untuk menjaga pertahanan dari serangan VOC dan Portugis. Benteng Somba Opu adalah benteng pertahanan terakhir Sultan Hasanuddin dalam perang Makassar (1666-1669) melawan Belanda. Benteng Somba Opu jatuh ke tangan Belanda pada 22 Juni 1669, tapi Hasanuddin tetap tidak mau menyerah hingga akhir hayatnya. Pada 1669 benteng dihancurkan oleh Cornelis Speelmen-Gubernur Jenderal Belanda yang berkuasa saat itu. Awal tahun 1990-an di kawasan ini dibangun miniatur rumah adat dari berbagai etnis yang ada di Sulawesi Selatan dengan tujuan manjadikan kawasan ini lebih hidup sebagai kawasan wisata budaya. Dari yang saya tangkap masa itu, nantinya kawasan tersebut akan menjadi pusat kebudayaan dimana tiap-tiap daerah akan bergantian menampilkan kesenian daerahnya.

Setelah menyusuri sisa-sisa kejayaan kesultanan Gowa, saya kembali ke kompleks rumah adat Toraja yang di dalamnya terdapat 3 (tiga) bangunan rumah adat yang disebut tongkonan dan 3 (tiga) buah lumbung atau alang. Sebuah bangunan permanen berbentuk panggung berada di sisi kanan sebagai tempat pertunjukan kesenian dibiarkan terbengkalai, di atasnya terdapat poster berukuran besar Zaenal Tayeb investor yang membangun GDP berpose dengan Yassin Limpo ditemani burung-burung. Pada spanduk itu tertulis,”Selamat Datang, Mohon Doa Restu” disisinya master plan GDP ikut dipajang. Saya berdiri cukup lama memandangi rumah adat Toraja yang nasibnya tak jauh berbeda dengan rumah adat lainnya: tak terurus. Di depannya rumah adat Bugis telah menjadi warung indomie dan di sisi kanannya rumah adat Mamasa diselimuti rerumputan yang cukup tinggi. Sayang, jika investornya ingin memelihara kawasan Somba Opu dana yang ada bisa dimanfaatkan untuk membenahi kawasan miniatur Sulawesi Selatan yang sebelumnya telah ada.

1324977166571994720

rumah adat Mamasa, salah satu rumah adat di kawasan benteng Somba Opu yang terbengkalai (gambar: koleksi pribadi)

1324977242754210130

bastion yang tersisa di benteng Somba Opu (gambar: koleksi pribadi)

1324977302403761983

kokoh, susunan bata benteng Somba Opu (gambar: koleksi pribadi)

Bebeberapa catatan yang perlu menjadi perhatian pemprov jika ingin mengembangkan kawasan benteng Somba Opu menjadi kawasan wisata yang potensial adalah:

  • Denah lokasi, hal kecil tapi cukup penting menurut saya. Ditempatkan di kiri gerbang masuk dengan posisi terbalik membingungkan pengunjung untuk mengurutkan lokasi yang tergambar di denah. Jika melihat denah di papan petunjuk berikut, seharusnya papan diletakkan di sisi kanan gerbang.

1324976921956772904

denah kawasan wisata benteng Somba Opu, Makassar (gambar : koleksi pribadi)

  • Tujuan pembangunan Taman Mini Sulawesi Selatan pada masa Ahmad Amiruddin tentulah untuk mendayagunakan kawasan benteng Somba Opu, sayangnya tidak berjalan sesuai rencana. Bahkan saat ini di kawasan tersebut juga dibangun GDP dengan tujuan untuk menjaga kelestarian kawasan benteng. Dimana korelasinya?
  • Menetapkan dengan jelas biaya perawatan rumah adat menjadi beban pemprov apakah masing-masing daerah? Sejauh mana kewajiban dari pemegang mandat untuk melakukan tugas perawatan dan pemeliharaan sarana yang ada?
  • Menghidupkan kembali kawasan yang lama mati suri dan menggelar kegiatan yang bermutu dan berkelas seperti : pameran, konser musik, sendratari dan lain sebagainya sehingga menarik pengunjung untuk datang.
  • Jika Zaenal Tayeb ingin membangun satu kawasan wisata bermain yang bermanfaat bagi masyarakat Sulawesi Selatan (menandingi Trans Studio?) mungkin bisa melihat apa yang dilakukan oleh Sastro Sendjojo dengan Jatim Park-nya di Batu, Malang. Di lahan seluas 15ha Jatim Park 2 tidak hanya sebagai kawasan wisata edukasi tapi pengelola juga menyediakan pelayanan kesehatan berupa poli gigi gratis untuk masyarakat sekitar dan taman bacaan.

Mengingat GDP akan menggunakan lahan di sekitar kawasan cagar budaya Somba Opu selama 30 tahun, semoga nasibnya tidak seperti benteng Vastenburg di Solo yang rata dengan tanah untuk pembangunan hotel namun sampai hari ini tidak ada kejelasannya. [oli3ve]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Live Streaming dan Selfie Berhadiah di …

Yayat | | 21 November 2014 | 20:43

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 13 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 13 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Review “Supernova: Gelombang” : Kisah …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Guru Destiani, Menulis dan Menginspirasi …

Adian Saputra | 8 jam lalu

Karya Arek ITATS: Game Tooth Kid “Sang …

Xserver Indonesia | 8 jam lalu

Dua Ribu Rasa …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Guru Menulis Berdiri, Siswa Menulis Berlari …

Muhammad Irsani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: