Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dedy Zulkifli

perpaduan tukang ojek dan foto keliling

Mutiara Terpendam di Pantai Pasir Putih Parbaba

REP | 02 January 2012 | 20:45 Dibaca: 2705   Komentar: 0   0

1325490051385651550

Senja di Pantai Pasir Putih Parbaba, Samosir.

Teks dan Foto: Dedy Zulkifli T

Danau Toba tak pernah habis oleh cerita tentang keindahan alamnya. Inilah yang saya alami. Setelah berjalan-jalan menyusuri Pulau Samosir tak henti-hentinya decak kagum keluar dari mulut saya. Salah satunya adalah Pasir Putih Parbaba.

Pasir Putih Parbaba pertama kali saya ketahui dari internet. Tergelitik dengan sebuah pantai di tepian Pulau Samosir yang konon pasirnya bersih dan pemandangan nya yang indah membuat saya jadi tertarik ingin membuktikan sendiri. Maka saat perhelelatan Pesta Danau Toba baru-baru ini, tepatnya di hari keduanya, saya dan kedua teman datang berkunjung kesana. Kami masuk dari Parapat menuju Tomok dengan menaiki boat penyebrangan yang tarifnya hanya lima ribu rupiah per orang. Ini tentu cukup murah, apalagi saya membawa sepeda motor yang tarifnya sama dengan penumpang biasa, jadinya saya cukup menambah lima ribu rupiah lagi. Jauh dari bayangan saya, dimana ongkos angkutan boat bakal mahal hingga puluhan ribu rupiah.

Namun sayang, kami ternyata harus menunggu lama. Ini karena boat menanti penumpang lainnya. Saya berharap pihak kapal tidak menunggu hingga penumpang berjubel dan mengabaikan keselamatan. Dan syukurnya harapan saya terkabul dan boat berjalan dengan jumlah penumpang yang tidak sampai berdesakan.

Kira-kira empat lima menit perjalanan, boat sudah bersandar di Tomok. Berhubung saya membawa sepeda motor maka saya turun di sebuah dermaga yang tidak jauh dari dermaga resminya. Hal ini agar tidak terlalu merepotkan saat keluar dari dermaga yang sudah padat oleh aktifitas pedagang souvenir.

Untuk menuju Parbaba kami sebagian naik angkutan umum yang tarifnya sejumlah dua belas ribu rupiah. Dan bisa di bilang masalah angkutan di sini tidak susah untuk menuju ke Parbaba karena pastinya dilewati oleh angkutan umum yang menuju Pangururan yang merupakan pusat administrasi Kabupaten Samosir. Saya sendiri menggunakan sepeda motor menuju kesana. Dengan jalannya yang mulus (hanya ada beberapa ruas yang tidak terlalu rusak) waktu tempuhnya kira-kira satu jam.

Parbaba adalah sebuah desa yang merupakan bagian dari Kecamatan Pangururan, Samosir. Sementara itu Pasir Putih Parbaba tidak jauh dari jalan raya lintas Tomok-Pangururan, kira-kira seratus meter. Untuk masuk lokasi ini pengunjung hanya di kenakan retribusi dua ribu rupiah per orang.

Sesaat masuk lokasi pantai , tak menyangka akan seterbuka ini, ya mirip pantai di pinggir laut. Namun yang ini beda, tidak ada aroma khas laut yang amis dengan garamnya yang pekat. Udara yang bertiup pun rasanya menyegarkan. Dengan suka cita saya menyongsong pantai pasir putih yang indah ini. Seperti tidak percaya bahwa ini bukan laut saya berlari dan mengambil setangkup air dengan tangan dan merasakan airnya. Sungguh luar biasa segarnya. Ingin rasanya langsung menceburkan diri namun kami harus mencari tempat untuk beristirahat dan meletakkan barang-barang.

1325491249159033459

Tidak jauh dari batas air danau kami menggelar matras. Kemudian mulai memasak air untuk minum kopi. Tidak jauh dari sini, saya melihat seorang gembala kerbau menuntun ternaknya menjauh dari danau untuk di tarik pulang. Disekitarnya beberapa anjing berkejaran di atas rumput hijau dekat pantai. Seorang pemancing terlihat berdiri di tepian danau yang sesekali menarik ulur seperti bermain layang-layang. Saya seperti menyaksikan sebuah drama kehidupan, ya sekeping kehidupan masyarakat samosir dengan danaunya yang selalu memberi berkah.

Saat hari mulai sore kami sepakat untuk merenangi danau yang berair jernih ini. Namun saat mencari ruang ganti, kami hanya menemukan sebuah toilet yang tidak terurus dangan aroma yang sangat bau. Padahal fasilitas ini sangat penting bagi pengunjung di pantai pasir putih. Mungkin disinilah pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan pasir putih menjadi primadona wisata di samosir. Beberapa pasilitas pendukung seharusnya di bangun dan di rawat dengan baik. Tidak hanya masalah sanitasi namun juga kamar ganti dan tempat ibadah (musolah).

Kami akhirnya tetap menganti pakaian di toilet tersebut dengan sambil menahan napas. Dan setelah itu tanpa basa-basi langsung saja menceburkan diri di danau. Ternyata airnya tidak dalam, hingga jarak hampir seratus meter ke tengah danau pun ketinggiannya hanya sepinggang. Tentu ini sangat aman bagi orang dewasa yang tidak bisa berenang. Bagi saya sendiri saya mencoba agak lebih jauh lagi hingga kaki tidak terjejak dan berenang dengan nikmatnya di sore hari itu. Ini pengalaman yang sangat luar biasa. Jika di bandingkan berenang di laut maka di danau ini saya tidak perlu khawatir bahwa badan saya akan lengket-lengket karena garam. Air danau yang tawar ini memberikan kesejukan dan kesegaran yang luar biasa. Layaknya kolam renang raksasa, saya mondar-mandir hingga sepuasnya.

Usai berenang kami tidak langsung beranjak menjauh dari pantai. Kami masih ingin tetap menikmati keindahan danau dengan duduk di atas batu yang di susun sebagai pembatas. Sambil menikmati hangat nya kopi perlahan-lahan langit di danau toba memerah. “Luar biasa!” bisik saya tertahan. Saya rasa inilah puncak keindahan di Parbaba. Saya sampai terbius hingga nyaris lupa mengabdikan moment ini. Maka dengan cepat mengambil kamera dan memasangkan dudukannya (tripot). Hanya dalam beberapa menit mega-mega merah itu menggelap dan hilang. Kini yang terlihat hanya bayangan pusuk buhit dan dinding-dinding tepian danau toba yang berada di seberangnya. Wah, sayang sekali saya hanya mampu menjepret beberapa frame saja. Rasanya belum puas dan ingin memutar ulang mesin waktu hingga keindahan senja di pantai parbaba bisa saya nikmati tanpa terburu-buru.

13254906891902919237

Akhirnya, bagi saya Pantai Pasir Putih Parbaba ini seperti mutiara yang terpendam di sela sela lekukan Danau Toba. Jika pandai mengurusnya bukan tidak mungkin akan menjadi alternatif destinasi yang bakal ramai di kunjungi turis hingga mendatangkan keuntungan ekonomi bagi masyarakat. Namun begitu yang agak kurang adalah kebiasaan warga yang mencuci piring dan pakaian di pinggir pantai. Mereka melakukannya saat pagi dimana pengunjung belum datang dan sore hari saat pengunjung pulang. Memang tidak terlihat oleh pengunjung. Namun sampai kapan seperti ini. Bagaimana jika ada pengunjung yang menginap dan melihat aktifitas seperti ini? Kalau memang berniat untuk mengembangkan tempat ini menjadi wisata yang menarik minat tidak hanya turis lokal tapi juga turis manca negara sudah barang tentu kebiasaan ini jangan lagi di lakukan. Nah disinilah pemerintah harusnya kreatif bagaimana melibatkan masyarakat setempat untuk turut menjaga. Disamping memberikan penyadaran tentu juga memberi alternatif pasilitas bagi masyarakat setempat. Jangan sampai objek wisata ini malah menyengsarakan masyarakatnya. Semoga saja tidak.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 4 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 5 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 6 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 7 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 8 jam lalu

ATM Susu …

Gaganawati | 8 jam lalu

Perjamuan Akhir di Bali …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 9 jam lalu

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: