Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Alas Purwo, Sepercik Surga di Ujung Timur Jawa

REP | 07 January 2012 | 10:18 Dibaca: 3045   Komentar: 23   3

“Biarkan darah mudahmu mengalir bersama petualangan tak terlupakan, sebab sensasi itu takkan lagi sama ketika kau tak lagi muda” (4 the positif thing)

1325902389266160371

jalan utama masuk alas purwo

Alas purwo, I’m comiiiiiiiiiiiing, again

Seperti terpelet dengan indahnya alas purwo beberapa tahun lalu, saya akan kembali, dan inilah saya, berdiri lagi di taman nasional alas purwo, hutan di Banyuwangi yang memiliki daya magis dan tentunya cerita mistis yang masih kerap kudengar dari teman yang pernah mengunjungi tempat ini, khususnya bagi para pecinta alam yang bermalam disana. Tapi saya nggak akan cerita tentang mistis mistis itu, saya hanya ingin berbagi pesona alam alas purwo, ya alas purwo yang kalau di Indonesiakan berarti hutan kawitan atau pertama, hutan yang menyelimuti surga bagi para petualang dan pecinta keindahan alam.

45 km ke selatan dari kota Banyuwangi, mengikuti petunjuk jalan, sampailah saya di pasar anyar, desa penutup sebelum masuk hutan alas purwo. Disini terdapat peta alas purwo yang terdiri dari 4 obyek yaitu trianggulasi (tempat penangkaran penyu), sadengan (tempat suaka banteng), pancur (tempat yang diizinkan mendirikan tenda, sudah terdapat masjid dan toilet), dan plengkung (pantai dengan ombak tinggi yang disukai peselancar, merupakan pantai surfing terindah kedua di dunia setelah Hawaii).

Mulailah saya berpetualang, untuk masuk alas puwo, semua kendaraan pelancong dilarang masuk, disini sudah disediakan mobil sewaan khusus yang layak melewati medan yang sulit, seperti mengikuti safari road crosser rasanya, badan terguncang-guncang akibat jalan yang berlumpur, lubang-lubang dan ya…kayak mbajak sawaah gitu, fantastis abis.

13259026311806242882

medan yang sulit

Ditengah perjalanan, tiba-tiba mobil di rem mendadak, saya kaget ada apa, ternyata segerombolan celeng (babi hutan) sedang lewat pas didepan kami, saking terpananya sampai nggak sempat ngambil gambar mereka, Cuma terekam di otak, dibayangin aza ya. Mobil berjalan kembali, dan mata saya masih mengawasi babi-babi itu sampai kepala memutar kebelakang, dan apa itu? saya melihat buaya di rawa-rawa dekat jalan yang saya lalui, begitu cepat momen itu, karena mobil begitu cepat meninggalkan mereka, pemandangan yang mungkin tak kan pernah saya alami lagi. Saya terdiam dan wow….saya bangga banget bisa lihat buaya dialam bebas, dengan mata kepala sendiri, kereeen (kalo di tipi2 sih sering, di bonbin juga pernah), tapi yang ini lain coy, lihat buaya di alam bebas gitu, bangga karena di tanah jawa masih ada buaya hidup di alam bebas, kudoakan semoga engkau tetap lestari ya bu, see you again.

Sepanjang perjalanan, saya melihat banyak tumbuhan hutan yang masih sangat asli dan rimbun, seperti pohon jati, sawu kecik, bambu, bambu manggong, pohon yamplung, kepuh, dan keben. Obyek pertama yang paling dekat adalah Sadengan, tempat  pengamatan satwa banteng, untuk melihat banteng di alam liar, saya menaiki sebuah menara dan melakukan pengamatan dengan teropong, terlihat padang rumput luas dengan kehidupan ratusan banteng, dengan terdapat pagar mengelilingi padang rumput. Karena hanya berbekal kamera hp, tidak tampaklah gambar itu, sad. Tak apalah…

Saya pun bergegas melanjutkan perjalanan menelusuri alas purwo, jalanan masih tetap bergeronjal? dan kanan kiri pepohonan diselingi rawa-rawa, beberapa saat sampailah pada obyek kedua yaitu Trianggulasi dengan persimpangan kekanan. Karena sudah pernah kesana, saya meneruskan perjalanan terus menuju obyek pantai Plengkung yang sebelumnya terdapat obyek ketiga yaitu Pancur. Disini dinamakan pancur mungkin karena terdapat air terjun kecil atau pancuran, saya istirahat sebentar disini. Di pancur merupakan tempat perkemahan yang juga dekat dengan pantai selatan, tapi ombaknya tak sedahsyat di Plengkung.

13259045981224287659

Pancur, air mancur ditengah alas purwo

Perjalanan pun berlanjut, dan sampailah saya ditempat tujuan terakhir, pantai Plengkung, pantai paling pucuk dari area alas purwo, berjarak 34 km dari pintu plang selamat datang.

Saya berlari menuju pantai, pantai dengan pasir berwarna putih, menyembul diantara sampah-sampah laut yang berserakan terbawa arus, butuh pembersihan rupanya. Saya menyusuri pantai kearah timur, disana sudah banyak pelancong yang mandi-mandi dan berselancar, banyak pelancong burkulit putih, tinggi,mancung, eh bule ternyata, ada gak yah I yang mau kenalan sama saya, hi hi, hitung-hitung memperbaiki keturunan, apalagi yang suka travelling, cucok banget, eits…kok ngayal sih! Kebawa suasana pantai yang romantic nih, apalagi mau sunset, tapi kata orang sih romantic gak harus sunset, gitu ya…

Tapi kebanyakan pelancong yang bule, mengunjungi plengkung tidak lewat jalur darat seperti saya, mereka menyewa boat langsung dari Bali, karena letak pantai di Bali dengan Plengkung relative dekat, sama dengan Bali dan Lombok.

Setelah puas menikmati keindahan pantai plengkung, dan waktu sudah hampir senja, dengan berat hati saya harus meninggalkan daerah indah ini dan berroad crosser ria lagi dech..

13259058221986391654

ombak plengkung di bulan januari

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 12 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: