Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ardian Cahyo Nugroho

Mahluk Allah yang terberkati oleh bidadari cantik dan dua malaikat kecil

Menagih Keindahan Tanjung Lesung

REP | 03 February 2012 | 21:54 Dibaca: 564   Komentar: 4   0

13282622081620158772

gazebo di tepian kolam

1328261809158928502

diajeng iie
1328261861223327113

kami kan kembaliiiii

13282617001583624082

kemesraan ini, janganlah cepat berlalu
1328261622190245049
uti ono dan cucunda

13282615431350914249

1328261337948058964

mari menggenzots…

13282611091307826715

bercengkrama bersama indy

1328260960575400189

13282600951262498973
jalan setapak menuju laut

Whuaah, seneng banget, datang juga waktunya saya liburan sekeluarga ke Tanjung Lesung.  Mana lagi klo bukan Villa Kalicaa yang katanya legend di daerah itu ane jadiin sasaran untuk tinggal.  Jadilah hari Sabtu cerah itu saya dan keluarga tetapkan tekad untuk menuju lokasi yang konon kecantikan pantainya sebanding dengan yang ada di Bali dan Lombok..

Perjalanan sendiri sudah saya persiapkan dengan baik.  Maklum aja, selain saya bawa anak bini, namun ga ketinggalan aa, teteh, aki, nini, om, tante semuanya ikut saya berangkatin.  Alhasil dengan menunggang Inova, Avanza dan Xenia kami bertekad menuju kesana dengan nyaman.  Waktu keberangkatan saya ambil waktu agak pagi, karena emang meeting point kita di daerah Ciledug masih terhitung sangat jauh untuk mencapai Tanjung Lesung.  Setelah gedubrakan dari jam ½ 5 pagi – bahkan anak-anak saya ga bisa tidur karena udah ga sabar mo liburan… (hehehe, mirip banget dah sama ayahnya dulu waktu bocah), tepat pukul 6 pagi kita injek gas perlahan menuju serpong untuk bergabung dengan jalur tol Merak.  Berhubung hari yang terbilang masih sangat pagi, jalanan yang sehari-hari macet sangat lancar kita lewati. Masuk pintu tol, dengan mantap kami memacu 1 kijang bongsor dan 2 kijang mini tersebut untuk menyusuri jalanan campuran aspal dan beton tersebut dengan sasaran keluar di pintu Serang Timur.

Hanya satu jam kita telah mencapai Serang Timur.  Nah di sini agak membingungkan, karena ternyata kami masuk ke dalam kota Serang, dimana banyak terdapat perempatan khas lay out jalan-jalan di perkotaan.  Jadi saran saya, mendingan bertanya aja deh sama orang-orang yang sedang berada di pinggir jalan untuk memastikan arah ke Pandeglang, daripada muter-muter ga karuan.  Nah berbekal informasi itulah kami terus melahap jalur menuju Tanjung Lesung tanpa ada salah mengambil jalan.  Pengalaman dari membaca blog-blog teman-teman, katanya jalan kesana terbilang jelek.  Namun alhamdulillah kami tidak menemuinya.  Bahkan di tengah-tengah kebosanan pemandangan kota Pandeglang yang datar-datar saja, mata kami dengan jeli menangkap papan bertuliskan ”Durian Jatuhan H. Arief”, kontan deh BB dan HP di tiga mobil itu saling mengirimkan pesan ancaman, ”Awwaaassss lu ya, kita pulang nanti, gua belah, gua makan looo, sampe tinggal kulit sama bijinyaaa….”, hahahahaha……!!!!

Beberapa kali kita berhenti di pom bensin atau mini market.  Ada yang mau pipis, atau juga membeli camilan untuk menambah semarak suasana di mobil.  Saya sendiri karena kebagian menjadi supir, cukup anteng duduk di belakang kemudi.  Namun soal pasokan ke dalam perut, jangan khawatir deh, karena co driver yang ga lain adalah bini ane sendiri rajin menyuplai camilan lemper isi ayam yang ukurannya gede-gede… hehehehe…!!!

Setelah berjarak 3½  jam dari saat keluar di Serang Timur, kami pun mulai memasuki kawasan villa yang ada di Tanjung Lesung.  Rasa penat yang kami rasakan sepanjang perjalanan seolah terbayar tuntas dengan sambutan kanopi alam berupa barisan pohon trembesi yang saling berhadapan.  Hijau, alami, dan sangat indah.  Bagi kami penyuka fotografi, sudah barang tentu objek menawan ini tidak kami lewatkan.  Setelah puas jepret sana-sini, kembali kami masuk ke dalam mobil untuk menuju Villa Kalicaa.

Tanpa perlu berlama-lama di resepsionis untuk melakukan reservasi ulang, setelahnya langsung kami menuju 2 villa bora-bora 3 with pool yang telah kami sewa jauh-jauh hari.  Harganya memang cukup mahal, namun sesuai dengan yang kami dapatkan.  Suasana Villa dengan dekorasi Bali membuat mata ini semakin nyaman.  Belum lagi dengan genangan air di tengah – tengah villa yang disebut kolam renang, menambah kemewahan tempat ini.  Selesai berbagi kamar, anak-anak yang sejak semula melihat air ingin langsung melompat ke dalamnya dengan pakaian lengkap, langsung menceburkan diri di kolam yang tidak terlalu dalam dan luas tersebut, tentu saja setelah kami berhasil menggantikan pakaian mereka dengan pakaian renang.

Saya sendiri lebih memilih bermalas-malasan sejenak di bale bengong sambil memperhatikan anak-anak bercengkarama di kolam. Sejujurnya perhatian saya pun tak lepas dari dapur tempat para wanita tengah mempersiapkan makan siang.  Abisan lemper yang saya makan sewaktu perjalanan tadi kok sepertinya kurang nendang gitu yaaa…!! (muka bingung).  Kami memang memilih melengkapi logistik sendiri ketimbang membeli di restaurant yang ada di sini.  Kurang dari ½ jam, hidangan makan siang telah siap.  Entah aba-aba dari siapa, kok tiba-tiba ruangan makan telah penuh ya dengan saudara-saudara sayaaa…,  hadeeeh… kalah cepet deh…!  Emang dasar tukang makan semua, ga pake basa-basi, tentunya setelah berdoa terlebih dahulu, hidangan yang dimasak dengan keahlian setara Farah Queen lenyap tanpa sisa, padahal sumpah saya ga ngajak Dedy Corbuzer… hehehe…

Sore harinya, dengan berjalan kaki, kami menuju pantai.  Anak saya indy dan Attar, masing-masing berusia 5 dan 2½ tahun tampak bersemangat sekali.  Ga lupa mereka memakai kacamata hitam dan topi hawai biar semakin menegaskan busana pantai.  Padahal waktu itu agak mendung loh, jadi pasti tambah gelap kaan… Duuuh…, anak siapa sih neh mendung-mendung kok pake kacamata item….?!?#$%&* hihihihi

Pantai Tanjung Lesung memang sangat bersih.  Terlebih kerang-kerang yang berserakan di bibir pantai memiliki bentuk-bentuk yang unik dan bagus.  Dan ini menarik minat kaum hawa di keluarga saya untuk memungutinya dan bergegas memasukkan dalam plastik.  Emang enak ya kaya gituan digoreng? Hehehe….  Sementara anak-anak terlihat lebih asyik bermain pasir sambil sekali-kali menceburkan diri di pinggiran pantai.  Sedangkan saya, ayah saya, dan beberapa orang sepupu lebih memilih memancing sambil bertengger di atas batu karang yang seolah setia menahan gelombang laut, entah sampai kapan.  Sebelum Maghrib, aktivitas itu selesai.  Sebetulnya saya kurang puas, karena tidak satu ekor ikan pun sudi menjadi tangkapan kami sore hari itu, sehingga sempat berpikir untuk meneruskan memancing.    Namun, karena ini adalah acara keluarga, tentunya kesenangan bersama merupakan prioritas.  Satu lagi yang hilang sore hari ini, karena mendung, sunset pun tak jadi memamerkan keindahannya kepada kami.

Selepas Maghrib, setelah selesai dengan santap malam, sambil mempersiapkan aneka barbeque, kami mengajak anak-anak bermain kembang api di depan villa.  Cipratan cahaya di Tanjung Lesung pada malam yang gelap agak mendung itu benar-benar memberikan keceriaan di hati anak-anak kami.  Setidak-tidaknya kami telah menghadirkan cahaya bintang di mata mereka yang malam hari ini menghilang.  Puas bermain kembang api, kabar baik datang dari dalam rumah, areng barbeque telah merah membara siap memanggang ayam, ikan, sosis, bakso, dan jagung yang kita bawa dari rumah.  Dari dulu saya selalu mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tukang kipas pada acara panggang memanggang, padahal sejatinya saya bukan provokator yang hobinya ngipas-ngipasi orang loh!   Nah, pada kesempatan kali ini pun tidak ada yang cukup PD untuk menggantikan saya, yaaah…ga papalah, mungkin kebasan tangan saya memang membuat makanan berasa lebih mantab….! (menghibur diri) J

Korban pertama tentu saja aneka sosis dan bakso yang menjadi sasaran empuk, apalagi jenis makanan itu memang kami persiapkan untuk anak-anak.  Mereka menikmatinya dengan riang gembira di pinggiran kolam renang.  Sesekali terdengar peringatan kepada mereka untuk hati-hati dengan tusuk barbeque nya.  Maklum saja, anak-anak yang ikut dalam rombongan ini terhitung masih kecil-kecil.  Yang paling besar adalah anak sepupu saya berusia 10 tahun, sementara yang masih kecil adalah anak sepupu saya yang lain dan baru berusia 2,3 bulan.

Bakar-bakaran masih berlangsung,  namun waktu yang beranjak semakin larut membuat anak-anak terserang kantuk, pukul 9 malam lebih sedikit, saya ijin masuk kamar sebentar untuk menemani diajeng iie, istri saya untuk ngelonin anak-anak.  Ini beneran ngelonin anak-anak loh… hihihii…. Setengah jam kemudian indy dan attar pules dipelukan mama papanya.  Saya lihat istri saya pun agak terlelap, namun saya pikir, kok sayang ya jauh-jauh sampai di sini cuma dihabiskan dengan bobo saja… ”Ma, kita lanjut bakar-bakaran yuk, sambil ngopi di luar”, ajak saya sambil membangunkan istri… Dia pun setuju.

Kembali ke pinggiran kolam renang, ternyata sepupu-sepupu yang lain masih berada di dalam kamar.  Saya hanya melihat ayah dan ibu saya yang tengah asyik memperhatikan acara bincang-bincang di ruangan keluarga.  Ya sudah, saya sendiri kembali menuju tempat bakar-bakaran sambil menenteng beberapa buah jagung.  Sementara istri saya memilih membuatkan Capuccino. Tak berapa lama, bau jagung bakar yang dioles oleh mentega, sedikit saos sambal, dan juga keju menyapa hidung saya pertanda jagung bakar telah siap untuk dinikmati.  Istri saya pun telah kembali dengan bawaannya berupa dua cangkir cappucino panas untuk kita nikmati.  Menikmati malam hari di pantai, berdua saja dengan istri membawa ingatan kami beberapa tahun ke belakang sebelum indy dan attar dilahirkan.  Rasanya romantiiiiiiiiisss bangeeet (duile, panjang amat ”i” nyaaaa)  Sayangnya sebelum kami berdua semakin dalam pada keberduaan kami, kami dengar pintu dari salah satu kamar sepupu kami terbuka.  Yyaaaahh ga berduaan lagi deh… ;p

Jadilah sisa malam itu kami habiskan dengan obrolan ringan ditemani oleh aneka minuman hangat dan jagung bakar.  Maksud hati sih pengen lanjut maen gaple, tapi apa daya, empuknya kasur Kalicaa membimbing kita kembali ke kamar masing-masing.  Sebelum masuk ke kamar, saya sekilas melirik ke ruang keluarga tempat dimana ayah dan ibu saya tadi berada.  Mereka pun sudah tidak tampak.  Aaah, rupanya mereka pun telah beristirahat dikamar.  Tepat pukul satu dinihari, kami semua telah terbuai dengan kehangatan keluarga masing-masing di villa yang terletak paling ujung di jajaran komplek  pervilaan kawasan Tanjung Lesung ini.

Bangun-bangun, bukan lengkingan alarm seperti hari-hari biasanya yang saya dengar, melainkan rengekan indy yang konstan merajuk sambil menarik-narik hidung saya meminta diantar ke pantai.  Sementara attar punya cara tersendiri untuk membangunkan saya.  Ia memilih menduduki perut saya, sambil menggelitiki iga saya kuat-kuat… Duuuh, ampun deh…. Ya sudah setelah selesai menyikat gigi saya dan anak-anak (mandinya ntar aja), saya beranjak ke pantai.  Di luar kamar, istri saya telah selesai membantu ibu dan bude saya mempersiapkan bahan-bahan pengganan yang dapat dinikmati sepulangnya dari pantai.

Ketika berjalan ke pantai, kami menjumpai beberapa tamu lainnya tengah asyik bersepeda, saya pikir seru juga ya bersepeda tandem bersama istri dan anak-anak.  Rupanya pikiran itu pun ada di benak anak-anak saya.  Mereka lebih memilih bersepeda, karena kemarin sore sudah ke pantai katanya.  Ya sudah, kami bersepeda sepuasnya di area Villa Kalicaa.  Biayanya lumayanlah.  Untuk tandem Rp. 40 ribu, sementara dua sepeda anak-anak, masing-masing Rp. 20 ribu.  Villa Kalicaa sendiri kami lihat terus berbenah.  Mereka bahkan menawarkan kepada kami untuk menaruh dana sebesar Rp. 2 miliar untuk membangun villa seperti yang tengah kami tempati.  Setelahnya akan dikelola oleh mereka dengan keuntungan bagi hasil.  Duuuh, Rp. 2 miliar itu boleh dicampur dedek, beras, sama daun ga yaaa?? Banyak ammaaaattt….!!

Selesai bersepeda, karena masih ada spare waktu 2 jam menuju waktu check out, anak-anak kembali melakukan aktivitas renang (demen amat sih, apa karena di rumah ga punya yaaa…?!? hehehe…), sementara para wanita mempersiapkan makan siang.  Ya, karena memang kita tidak ingin berhenti lagi di jalan untuk makan siang.  Maklum, besok anak-anak harus sekolah. Jadi bisa menghemat waktu.

Selesai makan kami pun berkemas dengan rapi.  Rombongan ini perlahan meninggalkan Villa Kalicaa – Tanjung Lesung.  Suasana di dalam mobil tetaplah meriah oleh celoteh dan nyanyian anak-anak.  Heran saya, makan apa sih mereka kok ga ada capeknya yaaa… Namun sebagai driver pada perjalanan itu, saya sangat bersyukur, karena ”keributan” yang mereka buat mampu menjaga mata untuk tidak terlelap.

Kira-kira sejam lebih perjalanan menuju Jakarta, bb istri saya – selaku komunikator di tempat saya (tiap-tiap mobil ada komunikator nya) mulai nyaring menyalak.  Isinya sih cuma satu, jangan sampai dendam kita pada H. Arief tidak terbalas.  Siapa suruh punya duren-duren segede kepala yang enak, hehehe… Prinsip kita gagal ngehajar pas berangkat, jangan sampe deh pulang juga ga kesampaian. Whuiiih, sadiiiizzz…..!!!

Sampai di Duren Jatuhan H. Arief, suasana cukup penuh, namun demikian kami masih mendapatkan bale-bale untuk segera membuat perhitungan pada buah bulat jabrik tersebut.  Hargaaa?? Hadeeeh jangan di tanya deh, mahal.  Mulai dari sebutir 50 ribu, 75 ribu, sampai dengan 100 ribu…  Setelah memilih beberap buah, dengan harga campuran, langsung deh kita khusuk pada ritual belah duren (ini belah duren beneran loh…)  Warna buahnya cakep, kuning artis kalo kata yang jual.  Sementara aromanya, wanginya pooll…. Soal rasa, waahh ga kuciwa deh, manis, legit, pokoknya buah dewa banget dah…!! Kalo udah begini ga papa beli agak mahal juga. Rupanya prinsip ”you pay more and you get more” benar-benar terbukti.  Alhasil dendam kami lunas dengan menebus sebesar Rp 750 ribu untuk seluruh duren yang telah kami belah tadi.

Kembali kami masuk ke mobil, untuk melanjutkan perjalanan.  Janji untuk tidak berhenti lagi agar cepat sampai, terpaksa harus dilanggar kembali.  Kali ini biang keladinya berupa plang besar Sate Bandeng di salah satu rumah makan di daerah Serang, yang terasa amat sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.  Dengan menebus sebesar Rp. 25 ribu untuk satu tusuknya, saya memilih 6 tusuk untuk konsumsi sendiri dan oleh-oleh keluarga yang tidak ikut.

Hari semakin sore dan anak-anak pun mulai meredup sehingga lebih banyak diam, walaupun tidak tertidur.  Iseng-iseng saya bertanya pada indy, ”mbak, kita balik lagi yuk ke tanjung lesung…” lah kok ga cuma indy yang jawab, namun attar juga ikut-ikutan bersuara, ”ayooooook….”, jawab meraka kompakan… Aaah puas juga pengalaman liburan kali ini.  Istri dan anak-anak terlihat senang dengan pengalaman mereka.  Demikian juga dengan keluarga saya yang lain, yang belum sampai rumah saja sudah ribut merencanakan kemana lagi liburan setelah ini.  Saya pun dengan antusias menawarkan beberapa tempat sambil mengingat keras sisa saldo di rekening tabungan…., hehehe!

Diiringi oleh hujan yang sangat lebat, dengan berhati-hati saya mengemudi di jalan tol Merak – Jakarta yang cukup padat ini.  Aaaaah…, terima kasih ya Allah atas satu surga di bumi Mu yang bernama Tanjung Lesung.  Tempat itu telah memberikan pengalaman dan kebersamaan yang menyenangkan bagi kami dan keluarga…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

REGISTRASI | MASUK

HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Potret Kemiskinan ditengah Glamornya Pejabat …

Ifani | 8 jam lalu

Refleksi Budaya di Yogya Gamelan Festival …

Arif L Hakim | 8 jam lalu

Pesona Dansa Bersama Sirkus Air di Macau …

Taufikuieks | 8 jam lalu

Semua Orang Plagiat …

Transformers | 8 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: